
Charles menendang dengan keras pintu yang ada di hadapannya, sehingga membuat pintu itu terbuka dengan lebar. Charles segera memasuki ruangan itu. Terlihat beberapa orang di dalam sana terkejut melihat kedatangan Charles.
"Mr.Alamo," sapa mereka.
Namun, Charles segera melayangkan pukulan keras kepada semua orang yang berada di dalam sana. Tidak puas dengan itu, Charles menendang perut orang-orang itu secara membabi buta.
Chandra yang terkejut dengan sikap Charles, mencoba untuk menahan pria itu. Namun, Charles tidak menghentikan aksinya, ia semakin murka.
"Charles. Stop!" teriak Chandra sambil menahan tubuh tegap Charles.
"KALIAN SEMUA MEMANG SAMPAH! SIAPA YANG TIDAK MENGIZINKAN MEREKA UNTUK MELIHAT REKAMAN CCTV HAH? SIAPA?!" bentak Charles. Membuat orang-orang itu menunduk karena takut.
"Kau tahu, mereka kehilangan anaknya di apartemen ini. Dan gadis itu adalah kekasihku! Calon istriku!" geram Charles yang mencoba untuk menahan amarahnya.
Orang-orang tersebut pun segera mengalihkan tatapannya untuk menatap Charles. "Ma-maaf ta-tapi ka-kami." Ucapan salah satu orang itu terpotong karena Charles segera menendang perut orang tersebut. Sehingga pria yang terlihat masih muda itu harus tersungkur ke lantai.
"Aku bersumpah, akan aku habisi kalian semua jika terjadi apa-apa dengan calon istriku!“ ancam Charles dengan berteriak.
Orang-orang itu terbengong menatap satu sama lain. Mereka sadar jika mereka sedang berada dalam masalah besar saat ini. Begitupun dengan Renatta yang sedang berada di ambang pintu. Ia dengan sangat jelas mendengar perkataan Charles. Oleh karena itu, ia terlihat sangat shock saat ini, bahkan ia tidak mampu untuk mengeluarkan satu katapun dari bibirnya. Terlihat tubuhnya bergetar menahan isakan yang dari tadi ia tahan. Ternyata hal yang ia takutkan itu terjadi.
"Kalian semua, jangan pernah memunculkan wajah kalian di hadapanku lagi!" teriak Charles.
"Ka-kami minta maaf, Sir! Kami mohon, maafkan kami!" Mereka bersimpuh di hadapan Charles.
Namun, Charles tidak peduli dengan itu semua.
"Ken, urusi mereka semua! Dan pecat juga petugas keamanan apartemen ini. Mereka semua tidak becus dalam bekerja!" perintah Charles kepada Ken. Yang diangguki oleh Ken, sebelum ia membawa orang-orang tersebut keluar dari ruangan tersebut.
Chandra menatap pria di hadapannya itu. Charles hanya tersenyum kecil. Lalu, Charles segera mengecek semua rekaman cctv.
1 menit kemudian ia sudah bisa menemukan rekaman cctv saat Flora sedang berada di depan pintu masuk apartemen. Ia menatap layar monitor dengan sangat tajam, tangannya mengepal saat terdapat mobil hitam berhenti di hadapan Flora. la merasa sesak ketika melihat ada 2 orang bertopi yang tiba-tiba membekap mulut Flora hingga gadis itu tidak sadarkan diri.
"Sial!" Charles menggebrak meja dengan sangat keras. Begitupun juga dengan Chandra, pria itu benar-benar sudah kehabisan kesabarannya. la sangat khawatir dengan keadaan putrinya saat ini.
"Akan aku habisi mereka semua jika terjadi sesuatu dengan Putriku! Akan aku pastikan, aku akan segera menemukan mereka semua!" geram Chandra dengan tangannya yang mengepal. Dan matanya yang masih setia menatap layar monitor.
"Chan, bagaimana ini? Kita harus segera menemukan Flora!" kata Nadia sambil terisak.
Charles beranjak dari duduknya, ia mengelus punggung Nadia penuh dengan kelembutan.
"Aku berjanji padamu, aku akan segera menemukan Flora dengan kondisi selamat. Jangan khawatir Mom, percayakan padaku!" janji Charles, yang diangguki oleh Nadia.
Nadia, Chandra dan Anin pun keluar dari ruangan. Kali ini hanya ada Charles dan Renatta di ruangan tersebut.
Charles sibuk mengetikkan sesuatu di ponselnya, mengabaikan tatapan tajam dari Renatta.
__ADS_1
"Apa maksudmu dengan mengatakan jika Flora adalah calon istrimu?" tanya Renatta dengan nada rendah.
Charles tidak mempedulikan perkataan wanita itu, ia sibuk menerima informasi dari anak buahnya.
"Charles!" teriak Renatta mencengkeram kerah baju pria itu.
Charles pun mengalihkan tatapannya kepada Renatta. Ia menatap wanita itu dengan tatapan yang menusuk.
"Apa masalahmu?" tanya Charles dingin. Teramat dingin.
"Katakan. Apa maksudmu menyebut Flora adalah calon istrimu? Dan kenapa kamu bisa datang ke sini dengan raut wajah yang begitu panik?" geram Renatta.
"Karena dia adalah calon istriku! Aku akan menikah dengannya. Sekarang kamu sudah puas? Pergi dari hadapanku sekarang juga!" bentak Charles. Penuh penekanan dalam setiap katanya.
Plakk!
Renatta menampar pipi Charles dengan begitu keras, tetapi pria itu tidak merasa sakit sedikitpun.
"Apa maksudmu, hah? Kamu adalah tunanganku! Dan kamu akan menikah denganku, Charles!" teriak Renatta memukul dada bidang pria itu. Dengan matanya yang sudah memerah, bersiap untuk mengeluarkan air matanya.
"Mimpi!" gumam Charles singkat, sebelum ia keluar dari ruangan tersebut. Yang membuat Renatta tidak bisa lagi menahan air matanya. Ia tidak menyangka dengan kenyataan ini, mana mungkin Charles akan menikah dengan teman dekatnya sendiri. Ya Tuhan... Ini sangat menyakitkan.
***
"Wanita itu telah diculik oleh orang lain, Sir!" ucap salah satu anak buahnya.
Frans terdiam. Dia sedang berpikir, siapakah orang itu? Kenapa orang tersebut berniat untuk menculik gadis itu juga?
"Apa kau yakin, wanita itu benar-benar diculik?" tanya Frans.
"Iya, kami yakin Sir. Sebab mobil kita tepat di belakang mobil yang menculik gadis itu. Kita kalah cepat olehnya."
Frans menyeringai. "Tidak masalah jika dia benar diculik. Aku harap gadis itu tidak kembali ke dunia ini, karena aku tidak akan sudi melihat Charles menikahi gadis itu!" kata Frans.
la sangat senang hari ini, karena niatnya yang akan menculik Flora agar pernikahannya dengan Charles bisa batal, ternyata berjalan dengan mulus. Bahkan ia tidak perlu repot-repot untuk mengatasi gadis itu. Ia harus berterima kasih kepada penculik itu.
***
Charles menggila. Pria itu benar-benar murka, karena sampai saat ini ia belum bisa menemukan Flora. Dia bisa saja bersikap tegar di hadapan Nadia dan Chandra, bahkan dia selalu menguatkan mereka. Namun, dibalik itu semua dirinyalah yang paling hancur, cemas, dan tidak tenang.
Rasa khawatirnya yang sangat berlebihan, membuat dia berprasangka buruk terhadap orang lain. Tadi ia menemui Morgan di apartemen pria itu. Ia hampir saja membuat Morgan babak belur seperti waktu itu. Benar, waktu itu yang menghajar Morgan adalah anak buah Charles. Itu semua dia lakukan karena Morgan sudah berani menyentuh gadisnya. Dan tentu saja Charles sangat tidak terima dengan hal itu.
Namun, saat ini. Ia yakin jika Morgan bukan dalang dari semua ini, karena pria itu memang masih dalam tahap pemulihan. Dan untuk berjalan pun, pria itu sedikit kesulitan karena tulang kaki kirinya yang patah. Charles pun sempat memeriksa ponsel Morgan, karena dia pikir pria itu memiliki kaki tangan untuk menculik Flora. Namun, itu semua nihil. Charles tidak mendapatkan bukti apa pun.
Charles menatap langit malam yang penuh dengan bintang. Sangat indah. Namun, itu semua tidak bisa mengobati hatinya yang sangat hancur dan terluka.
__ADS_1
Saat ini ia berada di salah satu tempat di kota New York, Charles terduduk di jalan, dengan tubuh yang bersandar pada body mobil miliknya. la benar-benar tersiksa. Ia sangat tidak menginginkan Flora pergi darinya. Charles meremas rambutnya dengan sangat kencang, mencurahkan rasa kesal yang ada pada dirinya. Bagaimana bisa ia teledor dalam menjaga Flora.
Seharusnya ia mengabaikan keinginan Flora yang memintanya untuk tidak diawasi oleh anak buah Charles. Memang benar, awalnya Charles mengirimkan 5 orang bodyguard untuk menjaga gadisnya. Namun, Flora sangat menolak hal itu. Bahkan dia mengancam, jika Charles melakukan hal itu, Flora akan membatalkan pernikahannya. Oleh karena itu, Charles terpaksa untuk menuruti gadisnya. Dan pada akhirnya, dirinyalah yang menyesal.
***
Embusan angin menyapu wajah tampan yang terlihat sangat lelah itu. Tepat di hari ini, di mana seharusnya Charles dan Flora menikah, hari di mana seharusnya mereka berdua bahagia. Namun, kenyataannya hari ini berubah menjadi hari yang buruk, yang tidak pernah dibayangkan oleh pasangan itu.
Sampai saat ini, Charles belum bisa mendapatkan kabar tentang Flora. Dia tidak pernah putus asa untuk mencari gadis itu, bahkan ia rela mengorbankan tenaga dan waktu istirahatnya. Sudah dua hari ini, Charles tidak bisa tidur nyenyak. Terlihat jelas dari kantung matanya yang menghitam, wajahnya yang terlihat lelah dan rapuh.
"Happy Birthday to you, happy birthday to you, happy birthday, happy birthday, happy birthday to you..." Terdengar suara beberapa orang yang sedang menyanyikan sebuah lagu, yang membuat Charles sadar dari lamunannya yang dari tadi berdiri di balkon kamarnya. la segera membalikkan tubuh untuk menatap orang-orang yang ada di belakang tubuhnya.
"Happy Birthday, Charles!" ucap Marline tersenyum manis, yang sedang membawa sebuah chessecake, kesukaan Charles. Tidak hanya ada Marline, tetapi di sana juga ada Anin dan Glen yang juga sedang tersenyum manis kepadanya.
Charles melupakan hari pentingnya. Dia lupa jika dirinya memang sengaja ingin menikah dengan Flora bertepatan dengan hari lahirnya. Itulah yang menjadi alasan Charles yang keras kepala ingin menikahi Flora tepat pada hari ini.
Namun, semua itu hancur, harapannya musnah. Sehingga ia melupakan hari lahirnya ke dunia ini. Dunia yang penuh dengan masalah.
Marline melihat Charles yang hanya terdiam menatap kosong pada kue yang sedang ia bawa. Marline memberikan kue itu kepada Anin, sebelum ia melangkahkan kakinya menghampiri Charles dan segera memeluk putranya itu. Marline tidak tega melihat Charles yang seperti ini, dia sangat mengetahui anaknya itu. Marline terus mengelus punggung Charles yang kaku.
"Thanks, Mom," lirih Charles. Membalas pelukan Marline dengan tidak kalah erat. Seakan-akan ia ingin mengadu kepada ibunya tentang apa yang ia rasakan saat ini.
***
"DON'T TOUCH ME!" teriak Flora. Mencoba untuk menghindar dari sentuhan pria yang ada di hadapannya.
"Kenapa aku tidak boleh menyentuhmu? Kamu milikku Flora. Hanya milikku! Tidak akan pernah kubiarkan kamu menikah dengan siapapun selain aku!" geram pria muda itu. Yang sedang duduk di tepi ranjang.
"Kenapa kamu lakukan ini padaku? Dengan sangat jelas aku mengatakan, jika aku tidak mencintaimu! Tidak mencintaimu!"
Plakkk!
Tamparan keras jatuh di pipi mulus Flora, hingga membuat tanda kemerahan pada pipi gadis itu.
"Ma-maafkan aku Sayang, aku tidak sengaja. Apa itu sangat sakit?" tanya pria itu khawatir. Ia menangkup wajah Flora, pria itu sangat menyesal karena telah menamparnya.
Flora mencoba untuk menghindar dari pria itu. Namun ia tidak bisa, karena tangan dan kakinya yang diborgol dan diikat di ranjang. Hingga membuat dirinya terlentang. Pergelangan tangan dan kakinya terasa sangat sakit dan perih akibat borgolan itu.
"Aku sudah sabar padamu Flo, kamu pikir kamu akan bebas dariku? Walaupun selama ini kamu mencoba menjauh dariku, tapi kamu tidak lepas dari pengawasanku. Dan di saat aku tahu, jika kamu akan menikah, aku tidak bisa berdiam diri lagi. Aku tidak sudi, jika kamu menjadi milik orang lain!" ungkap pria itu.
"Kamu memang sangat brengsek, Rogan!" teriak Flora sambil mengumpati Rogan.
Bersambung ....
Aku akan usahain buat double up besok. See you ....
__ADS_1