
"Lusa? Dan ...." Flora meneliti ruangan yang sedang ia tempati ini. Ia merasa asing dengan tempat ini.
"Ini di mana?" lanjutnya.
"Iya lusa. Aku sudah menghubungi orang-orang yang memiliki tanggung jawab untuk mengurus pernikahan kita."
"Dan ini adalah mansion kita, tempat tinggal kita. Setelah kita menikah, kita akan tinggal di sini. Aku sudah mempersiapkan ini semua dari jauh-jauh hari," lanjutnya.
Namun, tiba-tiba Flora menundukkan kepalanya. Ia teringat akan sesuatu.
"Kamu kenapa? Apa kamu tidak suka dengan mansion ini?" tanya Charles menarik dagu Flora agar menatapnya.
"Ta-tapi aku kotor Charles, Rog-Rogan menyentuhku. Dia menciumku. Aku merasa jijik pada tubuhku sendiri!" isak Flora.
Rahang Charles mengeras. Rasanya ingin sekali ia membunuh pria itu.
Saat pertama kali ia mendengar Ayah Rogan menelepon Chandra untuk memberitahu jika pria itu berada di New York, Charles sudah sangat ingin untuk memusnahkannya. Di sanalah ia menebak jika Roganlah yang sudah menculik Flora, karena ia tahu jika Rogan sangat terobsesi pada Flora. Itu juga yang membuat Ayah Rogan menelepon Chandra, karena ia takut Rogan akan melakukan hal nekat kepada Flora. Dan mereka pun diberi alamat tempat tinggal Rogan di New York, dan seperti dugaannya. Jika Flora memang bersama pria itu.
"Kamu tidak kotor, Flo!" ucap Charles mengelus pipi Flora yang sudah dibanjiri oleh air mata.
"Dia bilang, kamu akan meninggalkanku."
Charles semakin naik pitam. Rasanya ia ingin sekali menemui pria itu dan menghajarnya lagi.
"Tidak. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Kamu jangan mendengarkan apa yang pria itu ucapkan! Aku di sini, ada untuk mencintaimu dan menjagamu!"
"Tapi aku kotor! Aku kotor!" Tubuh Flora bergetar hebat, ia bergidik mengingat kejadian tadi.
"Apa dia memperkosamu?" tanya Charles.
Flora segera menggelengkan kepalanya. Ia ingin meyakinkan Charles, jika Rogan tidak sempat melakukan hal itu.
Charles segera mengikis jaraknya dan memagut bibir gadis itu dengan penuh kelembutan. Dia sangat mencintai gadisnya, dan akan selalu seperti itu. Entahlah apa yang Flora perbuat kepadanya hingga dirinya begitu tergila-gila pada gadis itu.
***
Waktupun berjalan dengan sangat cepat. Hari ini adalah hari yang sangat bahagia bagi Charles dan Flora. Kebahagiaan mereka yang sempat tertunda. Ternyata di balik masalah yang selalu mereka hadapi terdapat kebahagiaan yang sempurna yang sedang menunggunya. Seperti saat ini, mereka sudah resmi menjadi suami istri.
Pesta pernikahan mewah yang dipenuhi oleh banyak bunga dan pernak-pernik bernuansa peach yang sangat cantik, membuat suasana pesta ini menjadi sangat indah.
Pesta ini dihadiri oleh banyak orang yang mereka kenal. Terutama dari Charles, ia mengundang semua rekan bisnisnya. Sedangkan dari Flora, telah hadir teman-teman dekat dan keluarganya dari Indonesia. Dan tentu saja itu tanpa sepengetahuan Flora, karena diam-diam Charles yang mengundang mereka semua. Hal itu membuat Flora terkejut. Ia tidak menyangka teman-teman dan keluarga yang sangat ia rindukan bisa hadir di acara paling penting dalam hidupnya. Walaupun Flora sempat merasa sedih, karena di hari spesialya, Renatta tidak bisa datang.
Aku sudah sangat jahat kepadamu, Re! Maafkan aku!
Frans pun tidak menghadiri acara pernikahan ini, walaupun sudah diberitahu oleh Charles, tetapi tetap saja pria itu dengan keras menentang pernikahan ini. Namun, hal itu tidak dipedulikan oleh Charles.
Sore ini, Charles dan Flora menjadi pasangan yang sangat serasi. Mereka bagaikan Raja dan Ratu, Charles yang terlihat sangat tampan dengan tuxedo hitam yang melekat pada tubuhnya yang kokoh itu menambah kesan seksi pada pria itu.
Sedangkan Flora yang memakai gaun berwarna putih yang memiliki ekor dengan panjang 2 meter itu terlihat sangat cantik dan anggun di tubuhnya. Ditambah dengan aksesoris bunga yang melingkar pada kepalanya dengan rambutnya yang dibiarkan terurai. Hal itu membuat Charles tidak henti-hentinya untuk menatap gadis yang saat ini telah resmi menjadi istrinya. Charles selalu terhipnotis oleh kecantikan yang terpancar dari diri Flora. Charles sangat menyukai dengan semua yang ada pada diri gadis itu.
Terlihat raut wajah kebahagiaan dari Charles dan Flora yang tidak habis-habisnya terukir di wajah tampan dan cantik mereka.
"Hai, Princess!" sapa seorang pria yang baru saja menghampiri Flora dan Charles.
"Kau ingin mulutmu aku robek?" geram Charles. Menatap tajam pria di hadapannya.
Sontak membuat pria tersebut tertawa terbahak. "C'mon Dude, Istrimu sangat cantik sekali. Aku hampir saja jatuh cinta kepadanya sore ini!" goda Pria itu.
"Ternyata kau sudah bosan untuk hidup, Glen." Charles memberikan tatapan yang sangat menusuk kepada pria itu.
Sedangkan kedua wanita di samping para pria itu hanya terkekeh geli. "Kamu sangat cantik sekali, Flo. Aku senang melihatmu bahagia seperti ini!" ucap Anin memeluk tubuh temannya itu.
"Terima kasih Anin, kamu selalu ada untukku. Aku harap, kamu akan selalu menjadi teman terbaikku. Di saat orang-orang menjauhiku suatu saat nanti!" balas Flora.
__ADS_1
"Aku akan selalu ada untukmu, Flo, kamu tenang saja. Dan selain aku, di sisimu akan selalu ada Charles. Dia lah orang yang pertama yang akan selalu ada untukmu. Berbahagialah. Ini harimu! Jangan pikirkan apa pun!" kata Anin, mengelus punggung Flora.
Anin pun melepaskan pelukannya pada tubuh Flora. Lalu ia menatap pria yang dari tadi tidak pernah melepaskan rangkulannya dari pinggang Flora.
"Charles, aku percayakan Flora padamu. Jaga dia, jangan buat dia bersedih!" ucap Anin.
"Of course. Itu kewajibanku!" balas Charles tersenyum.
"By the way, kapan kamu meresmikan hubungan kalian?" tanya Charles kepada Glen. Sekilas melirik ke arah Anin. Yang membuat Glen, Anin dan Flora terlihat bingung.
"Apa maksudmu, Charles?" tanya Flora.
Charles menatap istrinya. "Kamu belum tahu, Sayang? Selama ini, Glen mencintai Anin, temanm-"
"Charles! Berhentilah untuk mengada-ngada. Lebih baik kau pikirkan malam pertamamu nanti dengan Flora!" potong Glen, gemas. Menepuk-nepuk bahu Charles.
Charles mengernyit. "Oh, kamu tenang saja. Masalah itu sudah aku pikirkan dari pertama kali aku bertemu dengannya!" ucap Charles menyeringai sebelum mengecup pipi Flora.
"Kamu dengar, Flo? Pria ini ternyata sudah mesum sejak sekian lama terhadapmu. Apa kamu tidak menyesal menikah dengannya? Jika kamu menyesal, ceraikan saja dia sekarang jug—Argghhhhh...." ucapan Glen terpotong. Karena Charles menendang tulang kering pria itu.
"Kau ingin mati, hah?" geram Charles.
"Anin, lebih baik kita makan. Aku tidak kuat terus menerus dianiaya oleh pria mesum ini!" ucap Glen meringis, dan segera menarik tangan Anin untuk pergi.
Charles merasa kesal kepada teman bodohnya itu, tetapi ia tidak bisa membenci Glen. Karena, bagaimanapun pria itu telah ikut andil dalam lancarnya pernikahan ini.
"Charles! Kamu mau membawaku ke mana?" tanya Flora terkejut, ketika tiba-tiba Charles menarik tangan gadis itu ke tengah ballroom dansa.
"I want you to dance with me!" ucap Charles.
"Tapi di sini tidak ada yang berdansa, Charles. Dan a-aku tidak bisa berdansa." Flora menundukkan kepalanya karena malu.
"Kita yang akan memulainya. Kamu tenang saja, ikuti saja aku. Dan kamu pasti akan bisa, Flo!" Charles menatap intens mata Flora. Hingga membuat Flora serasa terhipnotis, dan ia tidak sadar sudah menempatkan kedua tangannya di bahu Charles. Sedangkan tangan Charles melingkar pada pinggang ramping Flora.
"I wish I knew you earlier!" lirih Charles.
Flora hanya terdiam, menatap wajah tampan pria yang ada di hadapannya ini. Pria yang dulu secara mati-matian ia hindari. Namun sekarang, rasanya ia tidak ingin berjauhan dengan pria ini.
***
Acara pesta pun sudah selesai. Flora sedang menyisir rambutnya di depan cermin meja riasnya. Setelah ia membersihkan tubuhnya.
Tiba-tiba ia merasakan sebuah kecupan di bahunya. Tidak perlu ditanya, ia sudah tahu pelaku tersebut.
"Charles, aku lelah!" ucap Flora. Dia sudah bisa menebak dengan apa yang akan Charles lakukan. Jujur saja, saat ia memasuki kamar, ia sudah merasa jantungnya berdegup dengan kencang. karena ia tidak tahu apa yang akan terjadi dengannya dan Charles setelah ini.
Charles pun menghentikan kecupannya. Terlihat sedikit rasa kecewa di wajah tampan itu, tetapi ekspresi itu langsung ia rubah dengan senyuman.
"Setelah ini, kita istirahat ya!" kata Charles, yang sudah mengambil alih sisir Flora. Pria itu dengan sangat lembut menyisir rambut Flora. Flora benar-benar beruntung mendapatkan pria seperti Charles.
***
Saat ini Flora sudah berada di dapur. Sebenarnya dia sudah bangun dari beberapa menit yang lalu. Meninggalkan Charles yang masih tertidur lelap. Ia ingin memulai tugasnya sebagai seorang istri yang baik, dengan menyiapkan sarapan untuk suaminya. Rasanya masih terasa aneh jika dia menyebut Charles adalah suaminya.
Flora melangkahkan kakinya ke arah lemari pendingin, mengambil beberapa bahan untuk pasakannya.
Keningnya tiba-tiba berkerut. Ia mendapati sebuah cheesecake yang masih utuh, kue siapa kah itu? Untuk menghilangkan rasa penasarannya, ia segera menanyakan hal tersebut kepada Rose, yang berada tidak jauh dengannya.
"Bi, aku ingin bertanya. Kue ini milik siapa?" tanya Flora menatap Rose.
Rose pun segera menghampiri gadis itu.
"Itu milik Tuan muda. Beberapa hari yang lalu Mrs. Alamo membawakan kue itu, untuk memperingati hari lahir Tuan," ungkap Rose.
__ADS_1
Flora melebarkan kedua matanya. kenapa dia tidak tahu sama sekali tentang hal itu? Dia membodohi dirinya sendiri. Karena memang selama beberapa hari Flora tinggal di mansion ini, gadis itu tidak pernah masuk ke dapur. Karena Charles, melarangnya. Bahkan untuk mengambil air pun, Flora selalu diambilkan oleh para pelayan. Dan itu adalah perintah dari Charles. Oleh karena itu, Rose beserta beberapa pelayan lainnya tadi tidak mengizinkan Flora untuk menyiapkan sarapan, karena mereka takut Charles akan memarahinya. Namun, Flora bersikeras untuk membuatkan sarapan dengan tangannya sendiri. Karena ini sudah tugasnya.
"Tepatnya kapan Charles ulang tahun, Bi?" tanya Flora kembali.
"Di hari yang seharusnya Nona dan Tuan menikah."
Flora kembali membulatkan matanya. Ia tidak menyangka tepat di hari lahir Charles, pria itu harus mendapatkan kado terburuk. Selain kehilangan Flora, ia juga telah kehilangan pesta pernikahannya.
"Sayang, kamu sedang apa di sini?"
Flora sadar dari lamunannya ketika seseorang memeluk tubuhnya dari belakang. Dan ia pun baru sadar jika Rose sudah menghilang. Pasti itu karena Charles.
"A-ahh, aku mau membuat sarapan untukmu!” ucap Flora. Tersenyum.
"Kamu tidak perlu melakukan hal itu. Di sini kan aku sudah menyiapkan banyak pelayan. Jadi kamu tidak perlu repot-repot seperti itu!" kata Charles. Mengecup puncak kepala Flora.
Flora pun melepaskan tangan Charles dari pinggangnya. Dan bersiap untuk memulai aksinya.
"Berhentilah berbicara. Aku ingin fokus untuk membuat sarapan!"
Charles pun terdiam. Namun, ia masih saja memeluk tubuh Flora dari belakang. Sebenarnya Flora sangat terganggu, tetapi Charles dengan sangat keras kepala tidak ingin melepaskan pelukannya.
***
Waktu sudah menjelang sore. Flora merasa sedikit kesal kepada Charles, karena pria itu tidak mengizinkannya untuk keluar dari mansion. Padahal dirinya hanya ingin membeli sebuah kue ulang tahun untuk pria itu.
Oleh karena itu, terpaksa Flora menyuruh Thomas untuk membelikan sebuah kue ulang tahun untuknya. Dan saat ini, Flora sedang berada di depan pintu kamarnya.
Secara perlahan ia membuka pintunya. Dan menyanyikan sebuah lagu happy birthday untuk Charles yang sedang duduk di atas tempat tidurnya.
Charles yang awalnya sedang fokus terhadap laptopnya yang berada di pangkuannya pun segera teralihkan oleh kedatangan Flora.
Charles tersenyum lebar melihat istri tercintanya yang sedang membawa kue untuknya. Pria itu segera menutup laptopnya, dan menyimpan benda itu ke nakas yang berada di samping tempat tidurnya.
Saat ini Flora berada di samping ranjang, menatap pria itu dengan penuh cinta.
"Happy birthday, my husband."
Charles pun segera menarik tubuh Flora agar duduk di pangkuannya.
"Thank you so much, my wife, my love, my everything!' balas Charles, mencium pipi kiri Flora dengan begitu dalam.
"Tiup lilinnya. And make a wish!" pinta Flora.
"Semua yang terbaik untuk Flora." Doa Charles. Sebelum meniup lilinnya.
Flora menaikkan kedua alisnya. "Untukku? Lalu untukmu?"
Charles mengambil kue itu dari tangan Flora, dan menyimpannya di atas nakas.
"Untukku itu ya kamu. Jika kamu dikelilingi oleh kebaikan, maka sudah dipastikan aku akan bahagia. Karena, bahagiaku itu adalah kamu, kamu harapanku! Dan kamu satu-satunya yang aku inginkan. Aku tidak menginginkan apa-apa lagi."
Flora terenyuh. Lagi-lagi Charles berhasil membuat Flora seperti ini.
"Maafkan aku, karena telat memberikan surprise." Flora menundukkan kepalanya.
"No problem. I love you. I love you so much!' ungkap Charles.
Flora tersenyum manis. "I love you too!' Gadis itu segera memeluk tubuh suaminya itu.
END ....
Hmm ... gimana-gimana?
__ADS_1