
Chandra baru saja selesai memasang kembali kamera pengawas di wilayah perbukitan, setelah beberapa kamera dinyatakan rusak akibat babi hutan yang menerjang masuk pemukiman warga. Sebenarnya, hari ini adalah hari Ahad dan tidak ada jadwal kerja maupun jaga untuk Komandan Jenderal sepertinya, tetapi Chandra sedang bosan berada terus di rumah tanpa berkomunikasi dengan Nadia, maka dari itu dia memutuskan untuk mengerjakan hal lainnya sendirian.
Chandra tersenyum kecil saat dirinya menyadari betapa kikuknya dia sekarang, banyak sekali perubahan yang terjadi pada dirinya. Dulu Chandra sangat suka bekerja, dia benar-benar mengabdi pada negara dengan seluruh jiwa dan raganya. Chandra juga tidak pernah mengambil cuti kerja selama dia menjadi seorang abdinegara. Dan yang terpenting adalah, Chandra tidak pernah memakai moisturizer pada wajahnya. Namun sekarang, saat Chandra bersiap di pagi hari untuk upacara dia akan mengoleskan terlebih dahulu moisturizer yang mengandung spf 30 ke wajahnya yang tampan.
"Sayaaaang!" Nadia berteriak sangat kencang dari atas bukit saat kedua matanya menangkap sosok sang suami yang tengah melamun di tengah rerumputan ilalang.
Chandra seketika menolehkan wajahnya ke arah bukit, saat samar-samar suara lembut nan merdu memasuki gendang telinganya. Chandra melihat tubuh mungil Nadia setengah berlari menuruni bukit, dan sedetik kemudian saat pria itu sadar Chandra tersenyum hangat.
Kaki panjang Chandra pun berlari untuk menyambut Nadia yang juga berlari ke arahnya. Chandra sangat terkejut, tetapi juga tak sabar untuk segera bergenggaman tangan serta berpelukan dengan Nadia.
"Awas jatuh!" peringat Chandra sembari menghalau ilalang yang tingginya nyaris sebatas dadanya. Nadia akhirnya berada di hadapannya, napasnya sedikit terengah ketika Chandra meraih tubuhnya ke dalam pelukan.
Nadia membenamkan wajahnya pada dada bidang Chandra yang hanya terbalut kaus putih andalannya, Nadia juga mengelus lembut punggung tegap suaminya untuk menyalurkan rasa rindu berlebihan yang selama ini ia tahan.
Sementara itu, Chandra memeluk Nadia dan berulang kali menjatuhkan kecupan di puncak kepala istrinya, rambut Nadia menyimpan wangi yang amat Chandra sukai. "Kenapa tidak mengatakan kalau kamu akan ke sini?"
Nadia mendongak, tersenyum manis.
"Kejutan!" serunya lembut.
Chandra tertawa kecil, tatapan Nadia yang kembali dia saksikan masih saja membuat jantungnya berdegup amat kencang.
"Pantas saja, kamu tidak bisa saya hubungi. Saya pikir ada masalah dengan sambungan telepon di sini."
Nadia agak berjinjit dan menjatuhkan ciuman tipis pada bibir suaminya, membuat Chandra tersenyum.
"Kamu jangan protes terus ... saya masih kangen," omel Nadia mempererat pelukannya.
"Kalau saya protes lagi, kamu akan cium saya lagi?" tanya Chandra bak anak kecil.
Nadia terkikik mendengarnya. "Tergantung ... kalau ngomelnya gemes."
Chandra manggut-manggut, ia segera melepas pelukannya dan menuntun Nadia untuk menuju tempat yang lebih tenang. Tangan mereka saling menggenggam satu sama lain dan berjalan ke arah lahan kosong di bawah bukit.
__ADS_1
Daun ilalang tersapu oleh angin, menandakan bahwa udara menjelang sore cukup dingin. Nadia duduk di sebuah bangku panjang berdampingan dengan Chandra. Pemandangan di bawah bukit tampak sangat indah, seperti lukisan yang dipamerkan. Langit biru yang cerah serta awan putih yang tampak sangat gagah di angkasa.
Chandra meraih tangan Nadia dan mengecup punggung tangan gadis itu dalam-dalam.
"Kedatangan kamu hari ini mengingatkan saya pada kejadian saat kita di awal menikah. Kamu turun dari bukit dan menghampiri saya. Saat itu saya sangat takut kehilangan kamu Nad, saya tidak bisa berpikir dengan jernih setiap melakukan tugas kerja. Yang saya pikirkan adalah keadaan kamu di Jakarta."
Nadia tersenyum, lalu mengubah posisinya menjadi semakin rapat dengan Chandra, wanita itu menyandarkan kepalanya pada lengan kanan Chandra yang kokoh.
"Waktu kamu kembali pergi tugas ke Flores, itu pertama kalinya saya menangisi kepergian seseorang. Tanpa saya sadari, saya sangat membutuhkan kamu. Lalu ... saya menyusul kamu ke sini, hehe." Nadia menolehkan wajahnya pada Chandra dan memberikan kecupan kecil di pipi suaminya.
"Emm, sepertinya kita harus pulang. Bermesraan di sini tidak baik," ujar Chandra sembari tertawa kecil.
"Tunggu dulu ... saya masih capek, kita diam di sini sampai sunset. Boleh, ya?" kata Nadia dengan sedikit memohon.
Chandra menggelengkan kepalanya. "Tidak boleh. Kalau kamu capek, sini ... naik ke punggung saya," perintah Chandra.
Chandra langsung berjongkok dan menghadapkan punggung tegapnya ke arah Nadia. Nadia tersenyum sembari menutup bibirnya, tanpa pikir panjang ia langsung memeluk punggung Chandra dan pria itu berdiri dengan tegak seolah tubuh Nadia seringan kapas.
Saat berada di puncak bukit Nadia mengeluarkan sebuah kotak dari tas ranselnya dengan susah payah, lalu menyerahkannya pada Chandra.
"Apa ini?" tanya Chandra heran, dia menghentikan langkah kakinya saat Nadia turun dari punggungnya.
"Buka dong ... itu hadiah buat kamu." Nadia bicara dengan senyumnya yang sangat menawan.
Chandra lalu membuka kotak yang terbungkus oleh pita merah itu. "Kamu bungkus sendiri kadonya?"
Nadia mengangguk. "Emm, bungkus kadonya iya ... tapi kalau isinya kamu juga yang buat."
Chandra makin bingung dan tentu saja penasaran dengan isi kotak kecil itu, Nadia yang membungkusnya, tetapi Chandra yang membuatnya.
Chandra terdiam, dia melihat ke dalam isi kotak dan ke arah Nadia secara bergantian selama beberapa detik. Namun, tatapan mata pria itu perlahan meredup dengan sudutnya yang berair. Chandra menangis saat melihat sepasang sepatu bayi yang mungil berwarna biru langit diselipkan sebuah alat tes kehamilan yang menampakkan dua garis merah.
Nadia tertawa kecil, tawa bahagia dan juga gemas dengan tingkah Chandra yang kini berlutut di hadapannya.
__ADS_1
"Selamat. Sebentar lagi Jenderal ganti gelar jadi Ayah," ujar Nadia dengan ceria.
Chandra menarik pinggang ramping Nadia dengan posisi masih berjongkok. Pria bertubuh jangkung itu menjatuhkan kecupan berulang kali pada perut Nadia yang belum menunjukkan perubahan ukuran. Nadia mengusap rambut tebal suaminya yang tak kuasa mengatakan satu kata pun sebagai alasan. Chandra terlalu senang dan terharu hingga dia hanya menangis.
Nadia agak menunduk dan menghapus bulir air mata suaminya dengan kedua ibu jarinya.
"Terima kasih banyak Sayang. Saya tidak bisa berkata apa pun ... terima kasih." Lagi, pria itu memeluk tubuh mungil istrinya, sekarang semakin erat seakan-akan takut ada yang memisahkan.
"Chan ... saya sayang banget sama kamu. Kamu banyak mengubah hidup saya. Kamu juga mewujudkan impian saya untuk menjadi seorang ibu ... jangan bosan ya, untuk mengajari saya. Mengingatkan saya dan menjaga saya juga anak kita kelak."
"Sekalipun kamu sibuk dengan tugas negara, kamu harus memprioritaskan keluarga, ya?"
Chandra mengangguk pasti. "Saya akan melaksanakannya Nadia. Apa pun, asalkan itu untuk kamu!"
Bukit diselimuti oleh awan yang perlahan berubah menjadi gelap, Chandra yang terhanyut dengan kebahagiaannya pun segera menyadari bahwa waktu sore akan terganti dengan malam. Pria itu langsung membawa istrinya ke dalam gendongan bridal style menuju rumah. Nadia agak menjerit kecil ketika ia diperlakukan seperti ini.
"Perempuan hamil tidak boleh berada di tempat terbuka seperti ini kalau maghrib."
"Itu takhayul. Kamu percaya takhayul?" tanya Nadia dengan nada mengejek. Chandra itu orangnya selalu bermain dengan logika, dia tidak percaya hal mistis.
Chandra agak berpikir, gemas sekali melihat lesung pipinya sampai Nadia mengusap-usap pipi suaminya.
"Karena kamu istri saya, dan saya tidak mau sesuatu menimpa apa yang paling saya cintai di dunia ini. Saya sedang berusaha melindungi kamu."
"Hihi ... apasih. Saya kangen gombalan kamu. Sebelum tidur kamu ngegombal yang banyak. Mau, ya?"
"Siap, laksanakan!" balas Chandra dengan tegas, hal itu mengundang tawa kecil untuk mereka berdua.
Vidi melihat siluet Nadia dan suaminya yang berada di atas bukit. Vidi hanya dapat tersenyum hangat melihatnya. Vidi kemudian melihat pada telapak tangannya yang putih bersih, dia merenung selama beberapa detik bahwa dulu tangan itu tak cukup kuat untuk menggenggam apa yang ia miliki, dan tak cukup bersabar pula untuk melepaskan ego, hingga kini Nadia berbahagia dengan yang lain.
Bersambung ...
cuma mau kasih tahu, besok hari Sabtu
__ADS_1