Suamiku Jenderal

Suamiku Jenderal
Extra BAB 13


__ADS_3

Bayi dengan kelahiran prematur hasil pernikahan Nadia dan suami Jenderalnya itu hanya memiliki bobot 1,7 kilogram. Bayi perempuan dengan prosesi kelahiran sesar itu terpaksa harus tidur di dalam inkubator sampai berat badannya berada dibatas normal, yakni 2,2 kilogram. Mungkin butuh waktu beberapa hari sampai si bayi bisa tidur bersama mamanya.


Chandra mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya ke atas kaca tempat di mana bayi tertidur dengan suhu hangat di dalamnya. Derai air mata mulai turun, Chandra menangis lagi saat dia tidak kuasa menahan haru yang menguasai perasaannya. Pria itu mengusap wajahnya buru-buru ketika seorang suster memintanya untuk keluar dari ruangan bayi.


Pagi yang cerah menyambut pandangan Nadia, jendela kamar tempatnya dirawat dibiarkan terbuka sehingga angin sejuk yang segar dapat memasuki ruangan. Nadia tersenyum meskipun tubuhnya benar-benar lelah dan rasa sakit masih tersisa pada bagian perut bawahnya. Di sampingnya, Chandra tidur dengan posisi kepala menelungkup di atas tempat tidur, tangan kanan milik pria itu dengan solid menggenggam erat tangan Nadia. Nadia melihat cincin pernikahan masih begitu lekat di jari manis milik suaminya.


"Sayang ...," panggil Nadia pelan, Nadia sedikit meremat genggaman Chandra agar pria itu bangun.


Chandra mendongak, wajahnya bengkak dan kedua matanya nampak sembab. Namun, Chandra sempatkan untuk tersenyum begitu hangat menyapa istrinya yang sudah berjuang seorang diri.


"Hei ...."

__ADS_1


"Sudah sembuh flunya?" tanya Nadia pada suaminya. Seingat Nadia semalam Chandra mengeluh terserang flu dan demam.


Chandra mengangguk, hidung mancungnya sedikit memerah dan pria itu kembali menangis, bedanya kini di hadapan Nadia yang memperhatikan dengan gemas.


"Sudah ... saya sudah sehat," kata Chandra susah payah, Nadia mengelus lembut kepala Chandra, pria itu memeluk Nadia dengan erat seperti takut akan dipisahkan. Nadia tertawa kecil mendengar Chandra menangis dan melihat cucuran air mata di kedua pipi suaminya. Chandra tidak habis pikir, bagaimana mungkin Nadia masih bisa bertanya tentang keadaannya, sedangkan Nadia sendiri bertaruh nyawa untuk melahirkan bayinya ke dunia.


Kalau saja Ong atau Johnny tahu dan Alif mengetahui sikap jenderalnya sekarang, pasti anak-anak itu akan tertawa terpingkal apalagi kalau Danil ada di sini, mungkin tangisan Chandra akan diabadikan lewat kamera handphone-nya.


Chandra menggelengkan kepalanya. "Saya takut kehilangan kamu, Nad. Saya tidak bisa berpikir dengan jernih saat melihat kamu menangis kesakitan. Maafkan saya, untuk apa pun itu maafkan saya," ucap Chandra dengan tulus.


Nadia tersenyum tipis, menyambut kalimat permintaan maaf dari Chandra yang terdengar begitu tulus. Chandra selalu menghargai segala hal yang Nadia lakukan, Chandra selalu berterima kasih atas apa yang Nadia berikan untuknya, dan Chandra selalu mengartikan perjuangan kecil dengan penghargaan yang amat besar. Pria itu tidak pernah hitung-hitungan, tidak juga meminta balasan, tetapi Chandra benar-benar sosok yang sangat tulus dan memberikan segala sesuatu dengan segenap hati, raga, dan jiwanya. Kemudian yang terpenting, yang selalu membuat Nadia luluh adalah ... Chandra selalu meminta maaf bahkan tanpa membuat kesalahan.

__ADS_1


"Kamu sudah memberikan saya peringkat terbaik di dunia ini. Sebagai ayah dari seorang bayi perempuan yang sangat-sangat cantik sekali. Terima kasih banyak."


Nadia tertawa kecil, Chandra tampak begitu senang dan bangga dengan status barunya sekarang.


"Humm," balas Nadia singkat. Chandra mengecup kedua punggung tangan Nadia secara bergantian. Nadia yang sudah mewujudkan mimpi menjadi kenyataan padanya.


"Sayang, boleh ya, saya jatuh cinta lagi? Sekarang bukan kepada kamu. Namun, kepada bayi kita?"


"Sayang, saya cemburu." Beritahu Nadia dengan kekehan kecil. Chandra tertawa mendengar protes itu.


Bersambung ...

__ADS_1


give me a gift


__ADS_2