Suamiku Jenderal

Suamiku Jenderal
BAB 12


__ADS_3

Dia begitu tinggi, dan tampan sekali.


Dia begitu nakal tapi nakalnya manis sekali.


Akhirnya bisa kulihat saat baru dimulai.


Satu syaratku adalah ....


Katakan kau kan mengingatku.


Berdiri kenakan gaun indah, menatap mentari tenggelam.


Bibir merah dan pipi merona.


Katakan kau 'kan bertemu denganku lagi meski hanya dalam mimpi-mimpi. terliarmu


Mimpi-mimpi terliarmu.


(Original songs below to Taylor Swift, title : Wildest dreams. Indonesian translation).


Sepenggal lagu Nadia bagikan dilaman instagram pribadinya, hanya ada lirik dan suara petikan gitar akustik saja yang tertuang dalam postingan berdurasi 30 detik tersebut. Namun banyak sekali komentar netizen yang memenuhi postingan ini dalam waktu kurang dari satu jam.


Liza yang pada saat itu bersama Nadia langsung saja menyerbu artisnya itu dengan wajah menggoda.


"Ciee, bagiin lagu nih. Kapan mau rilis? Kok nggak bilang-bilang, malah diposting diinstagram segala," ucap Liza sambil menyenggol lengan sahabatnya itu.


Nadia terkikik. "Ck, baru sedikit. Itu juga liriknya mandet banget, kalau instrumennya sih sudah beres." beritahu Nadia sambil mengotak-atik laptopnya.


"Eh, tapi postingan lo yang ini, banyak yang baper Nad. Katanya itu lagu lo buat, pas lo masih pacaran sama Vidi?"


Seketika senyum Nadia pudar, dan kegiatan tangannya dalam memperhatikan laptop pun berhenti.


"Btw, suami lo gimana? Dia nggak sampe 'kan baca komenan netizen di IG lo?"


"Hm. Chandra nggak punya instagram. Dia nggak main sosmed. Di sana juga susah sinyal, hehe. Tenang saja, lagian ... siapa juga yang bikin lagu buat Vidi. Emang iya sih instrumennya gue bikin pas masih sama Vidi. Tapi liriknya baru belakangan ini kok!" jelas Nadia dengan wajah tegang yang tak bisa ia sembunyikan dari Liza.


Liza manggut-manggut dengan wajah yang tampak berpikir keras. "Jadi, inspirasi lagu lo ini siapa? Vidi atau suami lo?" gertak Liza lagi.


Nadia menghela napasnya. "Lo baca kek, liriknya. Lo manager gue tapi malah bikin spekulasi aneh. Sebel banget." Nadia ngambek, dan Liza tertawa kecil.


"Hehe. Ya, nggak gitu Nad. 'Kan nanti kalau gue diwawancara sama media perihal postingan lo, seenggaknya gue bisa dapat jawaban yang aslinya. Unch, baperan banget sih jadi orang."


•••


Ong datang tergopoh-gopoh menuruni bukit dengan keringat deras menuruni keningnya, ia membuka baret di kepala sambil bernapas ngos-ngosan menghadap pada sang jenderal.


"Ong! Kenapa kamu lari-lari, seperti Tsubasa saja?!" tanya Chandra dengan wajah tegas dan datar, tapi berhasil membuat anak-anaknya mengembungkan pipi menahan tawa.


Ya, Ong masih mengatur napas sambil memegangi handphone-nya dengan lemas.

__ADS_1


Hari ini latihan di bawah bukit dan melakukan patroli di wilayah demiliterisasi atau wilayah perbatasan antar negara. Sudah hampir tiga bulan lamanya Chandra tinggal di Flores setelah cuti satu bulannya berakhir.


"Fuuuh, Ayah harus lihat!" Beritahu Ong setelah berhasil mengembalikan fungsi paru-parunya seperti semula. Chandra melotot galak ketika Ong memanggilnya begitu, sementara Ong nyengir lebar-lebar. Orang-orang dengan seragam tentara itu pun mulai berkumpul.


Kebiasaan buruk Ong adalah memanggil Chandra dengan sebutan ayah. "Liat apa?" tanya Chandra lagi, kali ini lebih tenang dan tidak panik seperti diawal tadi.


"Jadi begini, isteri Komandan dua jam lalu memposting sebuah lagu di instagramnya!"


Chandra tersenyum kecil, penasaran juga sih. Tapi memang dia berniat melihat postingan itu jika ada waktu untuk ke kantor, itu pun jika ia beruntung mendapatkan sinyal.


"Ekhm! Jadi, kamu lari-lari seperti tadi karena mau menyampaikan hal itu saja?"


Ong mengangguk polos.


"Ckck, seharusnya kamu bekerja dengan fokus. Sekarang 'kan tugas kamu memonitoring lokasi perbatasan. Lalu, siapa yang jaga? Johnny sendirian?"


Ong mengangguk lagi, kalau masalah pekerjaan Ong tidak pernah bolos tapi seharusnya hal seperti ini saja tidak boleh sampai meninggalkan lokasi tugas. Apalagi hanya postingan instagram Nadia.


"Tetapi, ini penting! Ini masalah kelangsungan hidup kita kedepannya!"


"Apaan sih, Kak Ong. Aneh-aneh aja!" Alif menyahut dengan santai, si bungsu itu sudah tidak kuat kepanasan dengan membawa beban tas ransel seberat 80 Kg. Begitupun anggota yang lain.


"Iya panas nih, sono gih lo balik. Biar kita cepat beres latihannya!" ujar Dio tidak kalah dibandingkan Chandra.


Ong kemudian menyalakan handphone-nya dan membuat kecerahan handphone dalam kondisi maksimal agar bisa dilihat di tempat terang.


"Ini. Postingannya memang hanya lagu, Dan! Tapi komentarnya itu bilang istri komandan masih belum move on dari mantan pacarnya!"


'Sukses pokoknya buat kak Nadia. Lagunya enak banget padahal akustik doang.'


"Gemes, kangen suaranya ....'


'Buat Vidi nggak sih, lagunya?"


'Ah, gue rasa ini lagu buat suaminya, dijelasin coy 'Dia begitu tinggi, dan tampan sekali'. Vidi tinggi, tapi suaminya Nadia lebih tinggi. Maaf Vid, ini kayaknya lagu buat suaminya yang tinggi banget.'


"Pada salfok sama Nadi (gabungan antara (Na)dia-Vi(di) nama kapal). Apa daya, gue lebih dukung Nadia sama suaminya!'


'Gue baper lihat foto Nadia sama suaminya di bandara, huhu.'


Dibagian komentar itu Chandra tersenyum tipis, dia merasa bangga dengan komentar itu dan merasa diakui tentunya oleh Nadia. Chandra belum dengar jelas sih lagu dan liriknya, tapi sewaktu telpon kemarin, Nadia memainkan instrumen sebuah lagu untuknya dan meminta pendapat Chandra.


'Nadi antikaram!'


'Lakinya pelampiasan doang tapi sok-sok an dibikinin lagu. Wkwkwk kalau suaminya tahu itu lagu buat Vidi, ributlah dunia persilata.'


'Jiwa Nadikuuu. Meraung mendengar ini!'


Klip!

__ADS_1


Handphone Ong dimatikan oleh Chandra, wajah pria itu seketika berubah menjadi datar kembali. Membuat Ong tidak berkata apapun saat komandannya menyerahkan lagi handphone-nya.


"Ong. Sebaiknya, kamu kembali bekerja. Kita akan selesai latihan satu jam lagi. Kamu siapkan saja keperluan makan malam." beritahu Chandra tanpa melihat kearah Ong, suasana di tempat panas itu pun sunyi, terlihat sekali kalau Chandra pasti menemukan sesuatu yang tidak beres dengan perasaannya.


Dan, sang jenderal pun mulai baper.


•••


Malam itu, Chandra membawa handphone-nya dan pergi menuju kantor untuk mendapatkan sinyal. Pria itu sepertinya sedang mendapatkan keberuntungan sebab tersedia sinyal 3G yang selama ini dianggap harta karun oleh beberapa anggota militer.


Chandra segera membuka situs internet dan membuka akun instagram Nadia via web, Chandra akan me-report akun yang berkomentar tentang Nadia Vidi menggunakan akun instagram milik Alif.


"Aduh! Sinyalnya!" ujar Chandra tergesa ketika sinyal 3G nya menghilang, pria tinggi itu kemudian naik ke tempat yang lebih tinggi untuk mendapatkan sinyal.


"Nah, oke," gumamnya dengan senyum kecil dibibir saat sinyal kembali tersedia.


Chandra dengan cepat me-report satu persatu komentar dengan cermat, tangannya tidak berhenti untuk menekan tombol report sebanyak mungkin agar pekerjaannya segera selesai.


"Sebenarnya, lagu ini untuk siapa?" tanya Chandra saat mendengarkan lagu milik Nadia, dengan perasaan sangat penasaran tentunya.


•••


Siang yang terik membuat seorang gadis berkulit putih menyipitkan kedua mata bulatnya, dai menutupi dahi dengan sebelah tangan untuk bisa melihat lebih jelas pijakannya yang cukup terjal. Tanah tandus dan bebatuan membuat kakinya yang dibalut sepatu putih beberapa kali tergelincir dan nyaris saja jatuh. Belum lagi satu koper besar yang ditarik oleh sebelah tangannya yang lain.


Gadis itu tersenyum kecil saat menemukan sebuah kantor pusat kesehatan masyarakat yang menjadi tujuannya kini ada di depan mata. Gadis itu tinggal menaiki tangga bebatuan dan bisa sampai untuk beristirahat.


"Selamat siang!" sapa gadis itu saat setibanya di tempat yang telah siap untuk menyambutnya.


"Loh, dokter?" tanya seorang wanita yang berprofesi sebagai bidan. Dua orang laki-laki berpakaian tentara tampak saling berbisik saru sama lain.


"Kenapa tidak menghubungi dulu sebelum kemari? Saya bisa meminta para tentara ini untuk menjemput menggunakan kendaraan," ujar si bidan dengan terkejut, ia menyapa dokter dengan cekatan dan langsung mengambil alih tas serta koper yang dibawa dokter itu.


Gadis yang dipanggil dokter itu tersenyum kecil. "Ah, bukan hal besar. Saya juga sekalian tadi habis mencari spot untuk foto pemandangan alam."


"Tapi 'kan tetap saja, seharusnya kita menjemput dokter dari bandara. Dokter pasti capek, 'kan? Mari duduk dulu."


Dua perawat dan satu bidan itu pun muulai sibuk untuk menyiapkan keperluan dokter yang baru saja tiba. Dokter itu rencananya bertugas untuk 2 tahun lamanya sebagai dokter pengganti yang sudah beralih tugas ke daerah terpencil lain.


Dua tentara yang tadi saling berbisik itu adalah Johnny dan Alif, bukan membisikkan sesuatu yang penting, melainkan hanya membicarakan diam-diam si dokter yang sepertinya pernah mereka lihat wajahnya.


"Kalian, tugas di sini juga?" tanya dokter itu pada Alif dan Johnny yang langsung saja tersenyum saat disapa.


"Ehm, iya."


Dokter itu tersenyum kecil. "Oiya, saya juga lihat kantor pengawasan TNI AD ada di sebelah. Perkenalkan, nama saya Nellie, mohon kerjasamanya untuk 2 tahun ke depan. Saya adalah pengganti dokter Darius." gadis itu mengulurkan tangannya pada Alif dan Johnny untuk berjabat, dan dua orang itu tampak dengan senang hati menerima jabatan tangan dari Nellie.


"Saya anggota bintara sersan dua, Alif."


"Saya anggota bintara sersan satu, Johnny."

__ADS_1


Nellie terkikik mendengarkan perkenalan anggota TNI itu, mengingatkannya pada seseorang. Seseorang yang selalu bicara formal dan datar.


__ADS_2