Suamiku Jenderal

Suamiku Jenderal
BAB 9


__ADS_3

Nadia merapikan pakaiannya yang ada di dalam lemari, sebenarnya masih banyak pakaian yang harus Nadia rapikan di ruang wadrobenya, tapi sengaja Nadia hanya merapikan yang ada di dalam lemari untuk jaga-jaga kalau dia akan segera pergi ke Flores bersama suaminya.


Pemberitaan tentang dirinya dan Vidi pun selalu saja terdengar, entah itu dari pop up news di handphone, atau dari tayangan televisi yang tidak pernah bosan memperbincangkannya. Nadia sebenarnya penasaran, apakah Chandra tahu mengenai sosok mantan pacarnya itu? Chandra 'kan sekarang sudah pakai smartphone, pastinya lelaki itu bisa menggunakan internet secara maksimal.


Baru saja Nadia memikirkan Chandra, suaminya itu sudah masuk ke dalam kamar sambil membawa buku dan piring berisi buah-buahan.


"Nih, dari nenek kamu," ujar Chandra sambil menaruh buah-buahan ke atas meja rias.


Nadia tersenyum kecil, neneknya tahu sekali camilan kesukaan Nadia. Ya, buah strawberry yang Nadia beli bersama Chandra tadi sekarang terhidang di atas meja dan sudah bersih, bahkan sudah dibersihkan dari daunnya.


"Kamu, sedang merapikan pakaian? Mau saya bantu?" Chandra menghampiri istrinya itu dan ikut duduk di lantai bersama Nadia. Nadia melipat pakaian-pakaiannya dan menumpuknya sesuai dengan modelnya.


"Ah, nggak perlu. Kamu istirahat aja. Kamu pasti capek habis nyetir seharian ini."


"Tidak kok. Sini, saya sering merapikan pakaian sendiri. Bahkan mencuci baju sampai menyetrika sekalipun, saya lakukan sendiri." Chandra mengambil alih pakaian Nadia dan melipatnya, bahkan jauh lebih terampil dibandingkan Nadia sendiri.


Nadia tertegun, selama ini ... selama menjadi istrinya, Nadia sama sekali belum mencuci pakaian Chandra. Terlihat Chandra melipat pakaian seperti ahli, dia menumpuk kaos dengan rapi dan cepat.


"Kamu bisa masak? Oiya, di sana 'kan kamu tinggal sendiri. Mayoritas juga laki-laki, 'kan? Nggak ada perempuannya? Itu gimana, sih?" tanya Nadia. Semoga obrolan mereka dapat mengalir dengan sendirinya, dan Nadia bisa mengetahui sedikit-sedikit tentang Chandra.


"Hm, sedikit. Kalau masak nasi di sana, saya pakai dangdang, karena listrik di Flores sering ada pemadaman bergilir. Jadinya tidak bisa pakai rice coocer. Terus, tidak ada perempuan di sana. Hampir semua prajurit mengerjakan keperluannya masing-masing. Karena kami sudah terbiasa, kami jadi lebih pandai dibandingkan kaum perempuan," jawab Chandra sambil mengenang kehidupannya di militer.


"Oh, pasti sulit, ya? Kalau yang sudah menikah?"


"Ada beberapa yang sudah menikah. Mereka diberi rumah dinas untuk keluarga. Ada yang membawa anak dan istri ke rumah dinas. Ya, mereka dirawat oleh istri masing-masing."


Nadia manggut-manggut. "Berarti, nanti kamu dapat rumah dinas, dong? 'Kan sudah beristri? Iya, 'kan?"


Chandra tersenyum. "Saya sudah dapat rumah dinas sendiri. Karena saya dulu mantan pasukan khusus. Jadi, saya memiliki rumah dinas untuk ditempati oleh prajurit saya. Hm, istilahnya saya adalah kepala keluarga di rumah dinas itu. Saya punya asisten, Ong yang menghubungi kemarin adalah wakil saya di sana. Kalau saya tidak ada, Ong yang mengurus semua hal. Kami juga memiliki jadwal masak, merapikan rumah dan mencuci."


"Oh, pantesan kemarin mereka panggil saya bunda. Ahahaha." Nadia tertawa begitupun Chandra.

__ADS_1


"Ya, kamu jangan kaget kalau bertemu dengan mereka nanti, mereka mungkin akan memanggil kamu dengan sebutan bunda. Selama ini, mereka menanti-nanti kabar pernikahan saya, dan mereka juga sesekali menganggap bahwa saya adalah ayah mereka."


Tanpa sadar, pekerjaan Chandra sudah selesai dengan melipat pakaian. Sampai ....


Nadia terkejut setengah mati ketika kedua tangan Chandra sedari tadi memegang benda yang tidak wajar. Membuat Nadia terbatuk-batuk melihatnya.


"Uhuk, uhuk, uhuk!"


"Kenapa?" tanya Chandra khawatir.


"Itu ... bra ...."


Jreng!


Chandra menunduk ke bawah mengikuti arah pandang Nadia yang dan mendapati kedua tangannya sejak tadi memainkan gundukan bra milik Nadia yang berwarna pink. Chandra spontan menyimpannya dan mengalihkan tatapannya ke sana ke mari tanpa banyak bicara. Nadia menutup mulutnya dan wajahnya benar-benar memerah karena malu.


•••


Tiga hari lagi, masa cuti Chandra habis, namun belum ada kesepakatan antara dirinya dan Nadia untuk tiga hari ke depan tersebut. Di mana Nadia akan tinggal setelah Chandra kembali aktif bekerja? Atau, bagaimana rencana kehidupan pernikahan mereka kelak? Akankah terjalin seperti pernikahan perwira pada umumnya atau justru akan menjalani LDR seperti yang sering nenek khawatirkan.


Nadia menonton drama Korea, sementara Chandra membaca bukunya. Disatu sisi ranjang, terdengar gumaman manja Nadia atas komentarnya pada setiap adegan, sementara disisi Chandra begitu hening, pria itu bersandar pada kepala ranjang sambil menikmati isi buku dan membaca dalam hati.


Handphone Nadia berdering, bukan handphone yang digunakannya untuk menonton drama, melainkan handphone lama Nadia yang tidak dipakai lagi. Handphone itu tersimpan di dalam laci meja, Chandra yang sedang membaca buku pun menghentikan aktifitasnya, dan membuka laci meja untuk mengambilkan handphone yang berdering nyaring itu.


"Duh lupa nggak matiin handphone itu. Hehe. Berisik, ya?" Nadi beringsut, mendekat ke arah Chandra untuk mengambil handphone-nya.


Chandra yang berhasil mengambil handphone Nadia tertegun saat membaca nama penelpon malam itu. Sementara Nadia terdiam gugup di tempat duduknya.


"Siapa yang telpon?" tanya Nadia hati-hati.


Chandra tidak menjawab, namun ekspresinya benar-benar membuat Nadia berdebar. Nadia menarik napas dalam-dalam, dan Chandra memperlihatkan layar handphone Nadia ke Nadia.

__ADS_1


"Vidi sayang," ucap Chandra dengan wajah datar.


Handphone itu masih berdering, ruangan kamar menjadi dingin dan semakin sunyi, setidaknya bagi Nadia. Kalau saja ini sebuah drama komedi, pasti akan lucu melihat Chandra menyebut nama si penelpon dengan wajahnya yang datar dan dingin. Tapi situasi itu kini kebalikannya, serius, menyangkut kelangsungan pernikahan antara Nadia dan Chandra.


Nadia merebut handphone miliknya dari tangan Chandra dan langsung mematikan ponselnya dengan paksa. Sehingga kini benar-benar sepi, tidak ada suara apapun selain kegugupan yang bisa saja terendus oleh Chandra.


"Saya tahu dia, Nad."


Nadia menggigit bibir bawahnya, gadis itu menangis sambil meremas seprei dengan kekuatan maksimal, sampai seprei itu kusut, benar-benar kusut.


"Mungkin, dia susah payah menghubungi kamu. Seharusnya, kamu terima panggilan dia."


Nadia menunduk, dia menutup wajahnya menggunakan kedua tangan. Dia malu, terluka lagi, dan tentunya merasa amat bersalah karena Chandra justru tampak menjaga perasaannya dengan cara yang berlebihan.


"Katakan, kalau kamu sehat dan baik-baik saja."


"Saya nggak keberatan kok. Kita juga menikah sangat cepat. Sulit untuk terbiasa dengan semua masa lalu yang belum tuntas."


"Bukan itu masalahnya!" ucap Nadia sedikit meninggikan suaranya.


Chandra memaksakan senyuman, Nadia menangis di depannya lagi.


"Seharusnya kamu marah! Seharusnya kamu nggak perlu bersikap seperti ini!" Nadia marah, marah pada Chandra, namun yang utama tentu dia marah pada dirinya sendiri.


"Kamu harusnya peduli dengan saya. Harusnya kamu marah karena saya masih berhubungan dengan laki-laki lain," tambah Nadia dengan suara lemah.


"Sudah," balas Chandra dengan pelan.


"Saya sudah marah dengan kamu. Kemarin, saya tolak ajakan kamu ke mall itu. Saya juga menghindari sarapan dengan kamu. Bahkan ... saya juga mencegah diri saya untuk menyentuh kamu." Chandra tersenyum kecut.


"Saya tahu kamu sudah sangat siap menikah. Tapi ... bukan dengan saya. Saya tidak mau kamu terlalu berusaha keras untuk menjadi istri saya. Saya belum melihat ketulusan kamu, Nadia."

__ADS_1


Nadia tidak dapat membalas kalimat Chandra, gadis itu bahkan tidak bisa berpikir saat ini. Otaknya benar-benar beku untuk sesaat. Mencerna jawaban Chandra yang justru membuat hatinya terasa begitu dingin. Nadia sudah sangat tidak berperasaan selama ini. Selama ia resmi menjadi istri Chandra.


Chandra mendesah pelan, napasnya terdengar sesak dan berat. Pria jangkung itu bangkit dari atas ranjang dan tersenyum dipaksakan pada Nadia.


__ADS_2