
Salah satu sekolah populer yang ada di Bandung itu sedang ramai mengadakan acara pentas seni tahunan yang rutin digelar setiap tahunnya. Karena sekolahnya cukup populer, maka tidak heran banyak sekali siswa yang berasal dari kalangan selebriti maupun anak dari orang-orang yang cukup berpengaruh.
Nadia adalah salah satu murid yang belajar di sekolah tersebut, dua tahun lalu ia berhasil memasuki sekolah ini berkat jalur prestasinya dalam bidang musik, sebenarnya bidang akademik Nadia pun sangat baik, tetapi Nadia lebih memilih untuk masuk jalur prestasi musik karena ia ingin mengenang sosok sang mama yang dulunya adalah seorang musisi dan penyanyi.
Pentas seni dengan tamu dari para alumni yang kini telah menjadi aktris pun berurutan mengisi acara, suasana amat ramai seperti terjadi konser besar di sekolah megah tersebut. Nadia lebih memilih duduk diam di kelasnya, sebenarnya ia tidak begitu suka suara berisik dari gebrakan drum atau suara gitar listrik. Sialnya, kelas Nadia begitu dekat dengan aula tempat pentas seni berlangsung. Nadia menyembunyikan wajah dengan cara
menelungkupkan wajah pada tasnya yang tersimpan di atas meja.
"Di sini ternyata, si artis sok kecakapan yang deketin Vidi!"
Tiga orang perempuan berseragam yang serupa dengan milik Nadia tiba-tiba menggebrak meja tempat Nadia duduk. Spontan, Nadia mendongak dengan wajah lemas tanpa dosa.
Nadia mengerutkan dahinya, sebab ia tahu kalau ternyata tujuan mereka bertingkah demikian untuk menyerangnya.
"Nggak usah sok polos gitu deh, pake sok cantik segala!"
Nadia menyembunyikan senyumnya, lalu gadis itu bangkit untuk bersikap tak acuh dengan tingkah tak jelas teman sekolahnya ini.
"Heh, mau ke mana, lu?!" tanyanya seraya menahan lengan Nadia dengan kasar.
"Apaan sih, kalian ini?" sentak Nadia tak terima, meskipun tidak punya teman satu pun setidaknya Nadia bisa melawan biarpun agak gemetar dan takut. Alasan Nadia tak punya teman pun karena gadis itu sangat populer, sebab ia sudah menjadi artis sejak masih duduk di bangku SMP sehingga banyak anak seusianya tidak terima dengan hal tersebut, ditambah lagi banyak pula cowok-cowok yang menyatakan perasaannya pada Nadia karena kepribadian dan wajah cantik Nadia. Nadia sudah berada di level lain dibandingkan gadis seusianya saat itu.
"Apaan sih, kalian ini," ejek salah satunya dengan menyalin dan meniru kalimat Nadia.
"Aduh, jujur aja deh sama kita. Bokap lu bayar berapa sih, sama sutradara dan produser, sampe lu yang nggak bisa akting, kaku, dan cupu kayak gini bisa-bisanya jadi lawan main Vidi!"
"Lihat lu di iklan aja malesin ... kek ***** tahu, nggak?!" Tawa pecah terdengar dari ketiganya saat ejekan itu dilontarkan pada Nadia.
__ADS_1
Nadia hendak menjatuhkan tamparan pada wajah gadis yang mengejeknya tersebut sekuat tenaga, tetapi tangannya ditahan oleh salah satu temannya. Nadia mendengkus dengan tangan terkepal.
"Udah tukang maksa, kasar lagi. Hahaha ... dasar. Kalau kata nyokap gue sih, lu tuh nggak jauh beda sama nyokap lu. Lu tahu nggak ... kenapa nyokap lu mati? Itu karena, ia nggak kuat punya anak kek ***** ... Hahaha!"
***
Chandra mendengarkan kisah pahit dan pedih kehidupan Nadia semasa istrinya itu duduk di bangku sekolah. Dengan lembut, Chandra juga memainkan rambut halus dan panjang istrinya menggunakan jemari tangannya yang besar, pria itu membuat Nadia bersandar di dadanya. Meskipun air mata bercucuran di wajah Nadia dan tangannya tampak masih gemetar, setidaknya istrinya itu berusaha untuk sembuh dari teror masa lalu yang selalu muncul ke permukaan seperti sekarang.
Kondisi Nadia saat ini tidak jauh beda dengan waktu dulu, ia sangat terkejut dengan perubahan sikap orang-orang terdekatnya, terutama tekanan dari sikap Liza manajernya, dan juga sikap acuh tak acuh dan dingin Nellie yang benar-benar diluar dugaan.
"Saya nggak pernah punya teman waktu sekolah dulu ...." Nadia tersenyum pahit, ia mengusap air matanya susah payah.
Chandra mencubit pelan pipinya, dan mengangkat wajah Nadia agar dia bisa lihat dengan jarak dekat.
"Kamu terlalu berharga untuk berteman dengan orang-orang seperti mereka. Kamu istimewa di antara orang-orang yang saya anggap biasa, Nadia." Beritahu Chandra dengan penuh penekanan.
"Sudah ... nanti wajah kamu bengkak, orang-orang bisa salah paham. Cukup menangisnya, dilanjutkan besok, ya?" ucap Chandra dengan nada bercanda. Nadia terkekeh dan Chandra membantunya membersihkan wajah dengan tisu yang tersimpan di atas meja.
Nadia mengangguk seperti anak kecil yang baru saja paham setelah diajarkan oleh gurunya, Chandra tersenyum amat lebar hingga menampilkan lesung pipinya yang dalam. Masih dengan pakaian dinasnya yang melekat pas di badan, pria itu membalik tubuh Nadia hingga punggung sempit istrinya menghadap ke arahnya.
Nadia hanya diam, dan sesekali menoleh ke arah suaminya yang kini menempatkan kedua tangan di bahu miliknya.
"Rileks ya," gumam Chandra lembut. Suara bariton serta sentuhan di pundak itu sudah cukup membuat Nadia nyaman dan tenang dalam sekejap.
"Kamu, mau ngapain?" tanya Nadia penasaran.
Chandra terkekeh. "Hm, membuat kamu rileks." Kemudian pria itu tidak banyak bicara, melainkan memijat dengan lembut bahu Nadia hingga ke bagian lengan atas dengan sangat pelan. Nadia memejamkan kedua matanya saat rasa nyaman akan sentuhan hangat itu menjalar ke sekujur tubuhnya.
__ADS_1
Hanya satu menit pijatan itu berlangsung, dan Nadia meminta Chandra untuk berhenti melakukan itu.
"Kamu pasti capek. Pulang kerja, bukannya disiapin makanan sama istirahat, malah harus ngelihat saya yang berantakan begini." Dengkus Nadia, suara seraknya membuat Chandra iba.
"Hari ini saya tidak begitu lelah di tempat kerja. Saya juga tidak begitu lapar karena seharian ini hanya mengikuti rapat dan disuguhi hidangan. Kamu juga tidak berantakan kok, masih sama cantiknya seperti baru bangun tidur."
Nadia tersipu, meskipun bukan pertama kali baginya mendapatkan pujian dari Chandra, tetapi tetap saja ia merasa semua kalimat pria ini terdengar sangat berlebihan untuknya.
"Sini, biar saya bantu rapikan rambut kamu."
Lagi-lagi, Nadia menuruti permintaan suaminya. Chandra menyisir rambut Nadia dengan jarinya, lalu membagi rambut panjang itu menjadi tiga bagian, pria itu dengan perlahan menyilang rambut Nadia sehingga membentuk simpul tambang. Terakhir, sentuhan jepitan kecil diujung rambut Nadia yang cantik melengkapi kepang asal yang Chandra buat.
Nadia tersenyum amat lebar, saat melihat rambut panjangnya terikat rapi, dan hanya menyisakan helaian nakal yang menjuntai di kedua sisi wajahnya.
"Boleh saya tanya sesuatu?" tanya Nadia meminta izin.
Chandra mengangguk sembari tersenyum hangat. "Hemm, tentu."
"Kamu masih jatuh cinta nggak, sama saya?" tanya Nadia konyol, yang mengundang senyum di wajah suaminya bertambah lebar.
"Hmmm...," jawab Chandra setelah berhenti dengan kekehan nya. Nadia mengerutkan dahi, berharap jawaban lain akan muncul, tetapi ternyata amat singkat begitu tidak sesuai ekspektasi.
"Sekarang ... saya sedang berusaha merangkak, berjalan, lalu berlari untuk mendapatkan selalu kebahagiaan bersama kamu. Karena ... saya terus-menerus jatuh cinta sama kamu, sampai saya lupa bagaimana rasanya punya perasaan biasa."
Ya, yang dikatakan Chandra itu adalah benar, bukan gombalan yang dia rangkai sedemikian rupa. Chandra tidak pandai berbohong, tetapi pria itu sangat lihai dalam menyimpan rahasia. Dia memang berusaha untuk merangkak agar terus terbebas dari mas lalu, dia berusaha berjalan bersama Nadia agar terus maju ke depan, dan dia akan terus berlari sekuat tenaga agar bisa mendapatkan kebahagiaan.
Bersambung ....
__ADS_1