Suamiku Jenderal

Suamiku Jenderal
BAB 6


__ADS_3

Chandra memandangnya, menatap wajah mungil itu dengan mata terkantuk-kantuk namun senyum dibibirnya tidak pernah pudar, masih tergambar walau begitu tipis.


"Vidi ... jangan pergi."


Nadia memejamkan matanya dengan tak nyaman, saat nama pria lain ia sebut dengan nada menyedihkan dan memohon. Chandra melonggarkan pelukannya, dan senyum tipis pria itu menghilang seolah tak pernah terjadi.


•••


Masih pagi buta, bahkan setitik mentari pun belum muncul di permukaan langit yang luas. Masih tersisa setengah rupa bulan yang dapat terlihat dari jendela kamar milik Chandra.


Hari itu, Nadia berusaha bangun lebih pagi dengan memasang alarm di handphonenya, tapi ia masih kalah saja dengan Chandra yang sudah tidak berada di tempat tidurnya.


"Ck, dia bangunnya jam berapa, sih? Hm ... harus ya ditanyain bangun jam berapa?" gumam Nadia tak enak, waktu menunjukkan pukul setengah lima pagi. Nadia kembali berbaring di atas tempat tidur dengan masih terkantuk-kantuk.


Tiba-tiba saja Nadia tersenyum kecil, mengingat kejadian semalam di mana Chandra memeluk erat tubuhnya dan memberikan kata-kata penenang yang tidak pernah ia dapatkan dari orang lain.


Nadia memutuskan untuk turun ke lantai 1 rumah milik keluarga suaminya itu untuk mengambil kopernya, daripada ia duduk diam di dalam kamar sebaiknya Nadia merapikan barang-barangnya dan menunjukkan bahwa dirinya bisa bangun pagi, tidak seperti orang malas yang akan bangun siang.


"Udah bangun, Neng?"


Nadia terkejut saat mendapati neneknya di dapur, gadis itu tersenyum kecil ke arah sang nenek dan menghampiri nenek Merry yang mengenakan mukenanya.


"Iya, Nek. Sekalian mau ambil koper. Nenek lagi ngapain?"


"Nenek lagi rebus obat herbal. Biasa, kalau sudah umur begini, nggak boleh lengah sama obat-obatan. Neng, mau?"


Nenek mengajak Nadia duduk di kursi ruang makan, tampak dua orang berbeda usia itu cukup akrab meskipun belum satu Bulan saling mengenal.


"Enggak, Nek. Nadia nanti buat jus aja."


"Nyari suamimu, ya?" tanya nenek dengan senyum dibibirnya.


Nadia terkikik, nenek seperti bisa menebak pertanyaan Nadia yang masih tersimpan didalam kepala. "Iya, Nek. Dia ke mana, sih?"


"Tadi ke mesjid sapa ayahnya. Terus, pak RT kasih tahu sama orang-orang, semalam. kalau mau ada kerja bakti buat ngerapihin taman komplek. Memang semalam, Chandra nggak bilang?"


"Oh, iya, Nek. Kayaknya, Nadia ketiduran. Chandra jadinya nggak sempat bilang."


"Ckck, anak itu, padahal nggak usah ikut kerja bakti. Dia kan pengantin baru, harusnya dia ajak kamu jalan-jalan atau pergi liburan," keluh nenek yang mengkhawatirkan sikap datar sang cucu pada istrinya.


Nadia tertawa kecil, namun dalam hati Nadia justru merasa semakin tidak enak. Semalam, Nadia justru bercerita hal-hal tentang dirinya saja tanpa penasaran dengan sikap asli Chandra. Semestinya, Nadia sedikit mengenai suaminya itu agar mereka dapat seimbang dan memahami satu sama lain.


•••


Sarapan di rumah besar itu terasa istimewa dengan kehadiran satu anggota baru di rumah. Nadia dan Joy seperti kakak beradik yang cocok ketika berada di dapur, Nadia membuat jus segar dari alpukat dan jeruk, sementara Joy menyajikan sandwich ham yang kaya akan protein dan karbohidrat. Sementara ayah dan ibu menikmati setiap makanan yang dibuat itu dengan tenang.

__ADS_1


"Makan yang banyak, harus banyak tenaga buat ngeladeni, Chandra." Ibu menyajikan setumpuk setumpuk piring kosong milik Nadia, sementara ayah tersenyum sambil geleng-geleng kepala.


"Chandra nya, ke mana, ya? Kok nggak pulang sama, Ayah?" tanya Nadia memberanikan diri.


Ayah menghela napasnya. "Itu dia. Chandra nya nggak mau diganggu, katanya dia nggak tahu kapan bisa ikut kerja bakti lagi kayak sekarang. Dia masih di taman, bantuin gali parit," jelas ayah pada Nadia.


Nadia menutup mulutnya, jujur saja Nadia terkejut dengan Chandra yang gila-gilaan di hari-hari cutinya begini.


"Kakak tuh, keterlaluan deh. Bu, Yah, aneh aku tuh sama dia, punya masalah pribadi apa sih sama hari libur," keluh Joy sambil bersungut-sungut.


"Hust, nggak boleh gitu sama kakakmu. Mungkin dia kelamaan di rumah, biasanya kan diem di hutan. Ngejar-ngejar **** hutan yang lewatin perbatasan," ucap nenek sambil bercanda. Nadia hanya dapat tersenyum kalem mendengar ocehan nenek tentang suaminya itu.


"Ya sudah. Sekarang kamu sarapan dulu, Nad. Nanti kamu coba samperin Chandra nya."


Nadia mengangguk atas saran ayah untuk menemui Chandra sehabis sarapan, meskipun sebenarnya Nadia masih tidak berani keluar dari komplek ini. Sebab, Nadia yakin kehadiran dirinya sebagai seorang artis pasti akan menimbulkan omongan orang-orang yang tidak diharapkan. Gosip pasti akan muncul.


'Hot gosip hari ini, Nadia Adriana menghilang satu Bulan, langsung menggelar pernikahan dengan prosesi pedang pora, Vidi semakin nelangsa.'


Bip!


Joy langsung mematikan televisi ketika sebuah acara gosip menayangkan sebuah berita yang tidak pantas didengar oleh orang seisi rumah.


"Pagi-pagi begini udah ngomongin orang! Dasar acara TV pada nggak punya otak atau gimana sih," gerutu Joy pelan, Nadia yang ada di sana tidak mengubris sama sekali keresahan yang dirasakan oleh Joy. Sebab, semenjak terjun ke dunia hiburan, Nadia sudah tidak pernah menonton televisi atau membuka berita tentang selebriti diinternet. Pasti selalu ada namanya disebut dengan hal yang tidak-tidak.


Apalagi sekarang, Nadia mungkin akan merasakan trauma jika menonton atau membaca berita tv atau internet. Hampir semua platform menyebut namanya, atau bahkan menyebut Nadia sebagai pengkhianat yang tidak sabaran karena langsung move on dan menikah setelah Vidi terciduk polisi. Banyak spekulasi yang beredar bahwa Nadia sebenarnya hanya menjadikan suami TNI nya itu sebagai pelarian, karena tidak mungkin dalam satu Bulan gagal menikah Nadia mendapatkan tambatan hati yang baru, dan sayangnya, spekulasi itu sangat benar.


Matanya sedikit sayu, dan ada lingkaran hitam di bawah matanya. Setelah shalat subuh di mesjid, Chandra justru langsung melakukan kerja bakti dan belum pulang sampai sekarang, di mana waktu sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Memang, bukan karena Chandra tidak bisa diam di rumah dan ingin terus produktif. Tapi Chandra sedang berusaha untuk menetralkan pikirannya sendiri di tempat sepi ini.


Di mana tidak ada Nadia yang semalam mengigau dengan menyebut nama mantan pacarnya. Chandra tahu betul siapa Vidi, bukan karena informasi yang dia cari sendiri, melainkan Chandra tahu Vidi dari neneknya dan Joy. Apalagi, kejadian semalam mungkin tidak dapat Chandra singkirkan begitu saja dengan mudahnya dalam hitungan hari.


Akan sedikit aneh jika Chandra berhadapan dengan Nadia saat dirinya bangun tidur tadi. Oh, kenapa Chandra mendadak bodoh dan peduli pada perasaannya sendiri? Sampai terus membuka mata dari tengah malam sampai pagi begini?!


"Tenang! Perwira tidak boleh begini! Harus netral." peringat Chandra pada dirinya sendiri. Karena asik melamun, pria itu bahkan tidak menyadari jika sejak tadi sudah ada pak RT dan Nadia yang berbincang di gazebo taman yang letaknya tidak jauh dari tempat Chandra rehat.


"Itu, Mbak. Mas Chandra ada di sebelah sana." tunjuk pak RT pada Chandra yang kebetulan menoleh ke arahnya.


Nadia tersenyum melambaikan tangan kanannya, pagi ini dia begitu sejuk dengan tampilan sederhana namun masih sangat menawan. Kaos hitam polos dengan rok putih panjang yang anggun, rambutnya yang digerai tersapu angin sepoi pagi.


"Ke sini, aku bawain makanan," panggil Nadia.


Chandra juga melihat ada beberapa orang berkerumun untuk menyaksikan Nadia dari jarak beberapa meter. Chandra bangkit dari duduknya dan melepas sarung tangan lalu mencuci kedua tangannya dengan air kran.


Ini pertama kalinya untuk Nadia keluar dari rumah seorang diri setelah skandal yang diperbuat Vidi meledak di publik. Nadia juga merasa tidak nyaman dengan tatapan orang-orang ke arahnya. Meski Nadia tidak tahu, apa maksud tatapan itu. Entah tatapan kagum karena status seleb yang dimilikinya, atau mungkin tatapan mencemooh karena Nadia tampak bersikap tak berdosa atas perilakunya yang menikah tiba-tiba? Ah, Nadia harus berusaha tidak peduli untuk itu, makanya dia berusaha menebalkan kulit mukanya untuk memberikan Chandra sarapan.


"Kenapa kamu, nggak pulang? Lihat, saya bikin apa buat kamu." Nadia menunjukkan isi kotak bekal buatannya pada Chandra. Salad buah dan sandwich yang tampak lezat, tidak lupa juga Nadia membawa banana smoothie buatannya.

__ADS_1


Wajah Chandra masih datar, namun Nadia menganggapnya itu hal biasa.


"Padahal kamu tidak perlu ke sini. Saya akan pulang kok," ujar Chandra sembari mengambil sandwich dan menyuapkannya ke dalam mulut. Dia mulai mengunyah tanpa banyak berkomentar.


Nadia tersenyum. "Gimana, enak nggak?"


Chandra menoleh pelan. "Hm ...."


'Makanannya enak, tapi perasaan saya yang tidak enak," ungkap Chandra dalam hati.


"Oiya, habis kamu mandi ... kita ke mall yuk, jalan-jalan."


Mata Chandra membulat, seumur-umur baru kali ini seorang ada seorang wanita mengajaknya jalan-jalan. Terlebih wanita itu adalah istrinya sendiri.


"Kenapa? Mau, ya?" tanya Nadia lagi dengan senyum dibibirnya.


Chandra meraih banana smoothie kemudian meneguknya, lelaki itu juga Dengan jantan mengusap remah roti dari bibir menggunakan punggung tangannya.


"Kamu, mau membeli apa?"


Nadia terkikik, dengan enteng gadis itu meraih lengan suaminya dan merangkulnya lembut. "Hm, jalan-jalan aja. Lihat-lihat sepatu, baju, kulineran. Hm, mungkin kamu mau beli jaket atau kaos baru. Soalnya, lihat kaos kamu polos semua, warnanya juga hitam sama putih aja."


"Saya bisa beli sendiri pakaian-pakaian saya. Kamu tidak perlu repot-repot."


Mendengar jawaban Chandra yang memutuskan sepihak membuat Nadia memanyunkan bibirnya, dan Chandra melihat itu. Ada sedikit perasaan aneh waktu Chandra menyaksikan ekspresi Nadia yang sekarang ini, apa ya? Perasaan ingin mencubit pipinya? Entahlah, yang jelas kini Chandra mengepalkan tangan kuat-kuat agar tidak meminta izin untuk melakukan itu.


"Ih, ini first time loh, saya ajak cowok jalan-jalan. Mau dong? Ya?"


Chandra tetap menggelengkan kepalanya, dia harus bertahan setidaknya sampai Nadia bicara terbuka dan terang-terangan padanya. Chandra tidak boleh memaksakan keinginan untuk mengimbangi hubungan mereka. Di saat sikap Nadia justru terlihat pura-pura menikmati, padahal kenyataannya tidak sama sekali.


"Saya tidak bisa pergi. Kalau kamu mau jalan-jalan, kamu bisa mengajak Joy."


"Kenapa kamu ngomong begitu?" tanya Nadia dengan suara pelan namun berhasil menusuk Chandra. Bersamaan dengan itu pula, Nadia melepas rangkulan tangannya.


"Saya emang seperti ini. Maaf, kalau kamu tersinggung dengan sikap saya. Saya tidak suka jalan-jalan, saya tidak suka pergi berbelanja."


Nadia tersenyum kecut, gadis itu kemudian bangkit dan merapikan kotak bekal yang masih menyisakan salad.


"Kalau gitu, saya pergi sama Joy. Kamu kasih izin, 'kan?"


"Hmm."


Nadia benar-benar pergi, berjalan sambil menggerutu dan tampangnya begitu jengkel karena sikap Chandra yang amat berubah 180 derajat dengan semalam. Bagaimana mungkin suaminya yang semalam mendekapnya justru bersikap sedingin itu sekarang. Bahkan Chandra juga tidak mengucapkan terima kasih dengan bekal yang dibuat penuh perhatian oleh Nadia.


"Apa udah nasib gue ya, dicampakkan terus sama laki-laki!" ucap Nadia tak sengaja saat kakinya melangkah masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


•••


__ADS_2