Suamiku Jenderal

Suamiku Jenderal
BAB 85


__ADS_3

"Saya titip Nadjen ya, sama kamu." Chandra menyerahkan kucing kecil yang ada di pangkuannya pada Dio. Sebelum pria itu pergi ke pusat untuk mendapatkan perintah terkait skorsing yang diterimanya, Chandra menyerahkan tugas secara tidak resmi pada Dio.


Dio mengangguk, dan membawa kucing itu ke atas pangkuannya.


Alif yang sejak tadi banyak bicara justru tertunduk dalam-dalam karena dia akan dipisahkan dari komandan sekaligus seseorang yang dia anggap sebagai kakaknya sendiri. Danil, Yuta, dan Ong tampak memiliki ekspresi yang sama. Mereka terlihat sedih dan tidak menyangka dengan kepergian sang jenderal yang tidak pernah mereka pikirkan sebelumnya. Di saat situasi yang tengah baik-baik saja, justru ada masalah besar yang mereka semua tidak bisa atasi.


"Kalau ada kesempatan, saya pasti akan menemui Jenderal di Jakarta." Johnny membalas dengan senyuman tipis di bibirnya. Selama menjadi seorang abdinegara, memang Chandra adalah komandan terbaik yang dia miliki.


Chandra tampak murung. "Saya tidak diberi skorsing di Jakarta. Di sana, saya hanya menerima surat tugas baru."


Alif mendongak kaget. "Terus, Komandan mau ke mana?"


"Pusat akan mengirim saya ke Suriah."


"Apa?!" tanya semua orang dengan terkejut.


"Komandan nggak salah. Kenapa mau?!" Ong kali ini kehilangan kendali. Tampak wajah Ong yang biasanya dihiasi senyum jahil kini justru terlihat serius dan marah.


"Apa Nadia sudah tahu kalau Komandan akan pergi ke Suriah?" Chandra menggelengkan kepalanya putus asa.


"Kenapa tidak membawa kasus ini ke jalur hukum?" tanya Dio dengan penuh penekanan.


Chandra menghela napasnya, protes sersan-sersannya sore itu membuat Chandra merasa sedikit mendapatkan dukungan. "Sudah terlambat, memang saya menyadari itu adalah sebuah kelalaian. Saya akan tetap pergi. Skorsing ini adalah bukti pengabdian saya pada pekerjaan. Toh, saya sudah mempercayai kalian untuk berada di sini."


"Membawa kasus itu ke jalur hukum tidak akan mengubah cara pandang masyarakat terhadap anggota TNI seperti kita. Yang perlu kita lakukan adalah mengerjakan kewajiban kita dengan baik," tambah Chandra tegas.


Alif yang ada di sampingnya pun merangkul tubuh Chandra dengan erat, nyaris memeluk. Chandra membalas rangkulan anggota termuda itu dengan tepukan pelan di punggung.


Nellie mematung di tempatnya saat melihat Chandra bersiap dengan tas ransel besar di punggungnya dan seragam lengkap dia kenakan pada tubuh jangkungnya. Sore hari begini, di saat matahari bahkan hampir bersembunyi di kegelapan malam, pasukan perbatasan itu berkumpul di kantor dinas. Nellie yang masih mengenakan jas dokternya pun menghampiri Chandra dengan raut bingung, gadis itu sedikit berlari ketika Chandra hendak memasuki sebuah mobil.


"Tunggu!" teriak Nellie dengan napas terengah-engah.


Anggota menoleh ke arah Nellie dengan heran, begitu pun Chandra yang sepertinya belum pamit pada tenaga medis yang ada di sana. Chandra menatap sekilas ke arah gadis itu yang begitu datar tanpa ekspresi.


"Dokter Nellie," gumam Yuta bingung, sesekali dia menatap ke arah Chandra dan


Nellie silih berganti.


Nellie mendekat ke arah Chandra, kedua mata gadis itu tampak berkaca-kaca.

__ADS_1


"Kamu, akan pergi?"


"Iya, saya pamit ya, Dokter Nellie," balas Chandra ramah.


"Ke mana?!" tanya Nellie dengan suara meninggi, seperti tidak ikhlas ketika Chandra mengiyakan kepergiannya itu.


"Hm, Suriah," jawab Chandra pelan sambil tersenyum dipaksakan.


"Tiba-tiba seperti ini? Dan ke Suriah?!" seru Nellie tak terima.


"Komandan, sepertinya tidak ada waktu lagi." Ardi yang sudah berada dalam mobil menginformasikan pada Chandra yang sepertinya masih ditahan oleh seseorang untuk pergi.


Nellie menangis, ia tidak sanggup melarang Chandra atau bahkan menahan pria itu ketika ia benar-benar akan ditinggalkan sangat jauh. Nellie tidak tahu apa penyebab Chandra justru bertugas ke Suriah, dan apa alasan yang membuat Chandra pergi secara tiba-tiba begini.


Chandra ditemani Ong untuk memasuki mobil yang sudah siap dikendarai oleh Ardi, dan anggota lain menyusul Chandra menggunakan mobil lain.


***


Hampir tengah malam, Nadia mengemudikan mobilnya seperti orang gila di jalan tol. Kecepatannya mencapai 180km/jam saat membelah jalan tanpa hambatan itu. Liza yang ada di sampingnya hanya bisa membaca doa ketika Nadia menyalip setiap kendaraan yang ada di hadapannya.


"Nad, sadar Nad ...," ujar Liza agak gemetar. Nadia memejamkan matanya sekilas dan mulai melonggarkan pedal gas sehingga kecepatan mobil sedikit demi sedikit melambat. Nadia pun membanting stir ke lajur kiri di mana kendaraan dipacu dengan kecepatan lebih lambat dibandingkan lajur kanan.


Liza meraih tangan Nadia dan mengusapnya lembut. "Di depan ada rest area, kita tukeran aja, biar gue yang nyetir," beritahu Liza dengan wajahnya yang pucat.


"Maaf, Liz," balas Nadia dengan wajah yang kembali dibasahi oleh bulir air mata.


Setelah memasuki rest area untuk bertukar posisi dengan Liza. Kini Nadia duduk di samping kursi pengemudi, menatap ke arah pemandangan jalan tol yang hanya menyajikan suasana gelap gulita.


Chandra cemas ketika dia menerima kabar dari Joy bahwa Nadia sekarang ada dalam perjalanan menuju kantor pusat di mana dirinya berada. Dengan sangat tergesa-gesa dan panik, pria itu berusaha menghubungi Nadia, tetapi tidak pernah ada jawaban. Nadia pasti sangat marah dan kecewa padanya, Chandra sudah berbohong tentang keadaannya terhadap Nadia. Namun, bukankah jauh lebih baik Nadia tidak mengetahui rencana kepergiannya ke Suriah?


Berkat bantuan seorang teman, Chandra mendapatkan pinjaman kendaraan berupa sepeda motor agar dia bisa menyusul Nadia dan menemuinya di jalan. Jika Chandra membiarkan Nadia mendatangi kantor pusat, pasti ada media yang secara diam-diam memotret pertemuan mereka. Meskipun mereka adalah sepasang suami istri, tetap saja mereka dibatasi oleh seperangkat aturan yang dibuat masyarakat yang tentunya memberatkan kehidupan pribadi mereka sebagai publik figur.


Liza menghentikan mobil yang dikendarainya saat sebuah motor menghadang di tengah jalan, beruntung jalanan sudah sepi karena sudah lewat tengah malam dan Liza mengemudikan mobilnya dengan sedikit lamban, kalau saja Liza ngebut mungkin akan terjadi kecelakaan.


"Kenapa, Liz?" tanya Nadia dengan wajah yang sembab. Liza menggelengkan kepalanya karena ia tak tahu siapa orang gila yang sudah berhenti tepat di hadapan mobilnya.


"Orang gila, Nad," umpat Liza dengan wajah khawatir.


Pengendara motor tersebut tampak turun dari motor dan membuka helm yang dikenakannya, Nadia sangat terkejut ketika orang itu ternyata Chandra yang kini menatapnya dari luar. Chandra memperhatikan nomor kendaraan yang dia kenal sebagai milik Nadia.

__ADS_1


"Chandra ...!" seru Nadia dengan gumaman kecil, gadis itu langsung membuka pintu mobil dan keluar untuk berlari menghampiri Chandra.


Chandra membuka kedua tangannya lebar-lebar agar Nadia dapat masuk ke pelukan besarnya malam itu. Nadia menyembunyikan hampir seluruh tubuhnya pada tubuh tinggi dan atletis suaminya, seraya menangis dalam pelukan sambil menumpahkan semua kesedihan dan rasa gelisah yang mengikis kebahagiaannya.


Saat Nadia terisak dalam pelukannya. Chandra memberikannya pelukan yang begitu erat, tubuh kecil Nadia yang berada dalam dekapannya terasa begitu rapuh dan dingin. Beberapa kali pria itu menjatuhkan kecupan di puncak kepala Nadia dengan penuh kasih sayang.


"Maafkan saya, Nad. Saya sudah berbohong ...."


Nadia mendongak, Chandra menghapus air mata itu dengan jemarinya yang dingin. "Kamu nggak salah, kenapa kamu mau terima skorsing ini?! Saya bisa sewa pengacara untuk bawa kasus ini ke jalur hukum. Ini semua gara-gara saya, pekerjaan kamu mungkin baik-baik saja ... kalau, tidak menikahi seorang artis seperti saya."


"Kita bicara di tempat lain, ya. Ini sudah malam, kasihan Liza," balas Chandra lembut.


Nadia mengangguk, tetapi ia masih terisak perih dengan pertemuan mereka yang tidak pernah direncanakan ini sebelumnya.


Liza dengan terpaksa membiarkan Nadia pergi bersama Chandra menggunakan motor, sementara diri nya harus mengendarai mobil menuju apartemen pribadinya yang tidak jauh dari tempat mereka bertemu. Liza merasa semakin kasihan dengan keadaan Nadia, Liza juga merasa menyesal mengapa baru kali ini ia melihat ketulusan jenderal itu terhadap artisnya.


Nadia memeluk erat tubuh Chandra dari belakang saat suaminya itu mengendarai kendaraan roda dua untuk menuju apartemen tempat Nadia tinggal sebelumnya. Ini pertama kalinya Nadia menaiki motor tengah malam, memeluk seseorang seperti ini dan merasakan dinginnya angin menyapu wajahnya yang sembab, tangan kiri Chandra menggenggam tangan Nadia yang ada di perutnya begitu hangat.


"Dingin?" tanya Chandra sambil melirik lewat kaca spion.


Nadia menggelengkan kepalanya, sementara bibirnya menorehkan senyum kecil yang manis. "Enggak ...."


Chandra balas tersenyum dan menikmati sisa perjalanan itu dengan perasaan tidak beraturan. Nadia masih belum tahu skorsing apa yang akan di jalaninya sebagai hukuman karena pencemaran nama baik instansi dan profesi.


Mereka tiba di apartemen yang sudah cukup lama dikosongkan tanpa penghuni itu, tetapi Liza beberapa kali memerintah orang untuk membersihkannya dan merapikan ruangan kamar serta dapur. Nadia masuk terlebih dahulu ke dalam dan disusul oleh Chandra yang mengunci pintu.


Nadia berjalan lunglai menuju kamar sementara Chandra mengikutinya dari belakang dan bimbang. Chandra tidak tahu harus memulai penjelasannya dari arah mana sehingga dia hanya bisa memperhatikan tingkah laku istrinya dengan pandangan intens seperti sekarang.


"Malam ini, kita tidur di sini, ya. Hm, besok kamu harus temani saya berbelanja bahanbahan dapur. Kalau kamu di Jakarta, saya akan tinggal di sini, biar kita deket."


Chandra tidak menjawabnya, malah memperhatikan Nadia yang kini membuka lemari untuk memilih pakaian tidurnya.


"Nad ...," panggil Chandra pelan. Pria itu mendekat ke arah Nadia, hampir menyudutkan Nadia ke pintu lemari yang sudah tertutup. Nadia menatap suaminya dengan wajah tengadah, Chandra yang begitu tinggi kini merapatkan tubuh ke arahnya.


"Apa?"


Saat bibir Nadia hendak mengutarakan lagi pertanyaannya, Chandra membungkam bibir Nadia dengan ciuman, Nadia berjanji ketika ia ingin membalas ******* kasar yang dimulai oleh suaminya malam itu. Chandra juga menarik kedua lengan Nadia agar melingkar pada lehernya, dan pria itu menaikkan pinggang Nadia ia berada dalam pangkuannya. Chandra yang masih mengenakan seragam lengkap pun membawa Nadia menuju tempat tidur tanpa melepas pancuran bibir mereka, terdengar suara decakan yang mesra dalam ruangan privat tersebut. Mereka berbeda dari biasanya, bermesraan tanpa aturan, tidak peduli dengan keadaan yang serba membingungkan. Sepertinya Chandra akan menyimpan kenangan malam ini untuk malam-malam yang lain tanpa kehadiran Nadia, tanpa merasakan lembutnya kulit tubuh Nadia yang selalu berada dalam dekapannya.


BERSAMBUNG ...

__ADS_1


Maaf ya, baru up, aku baru dapat hospotan.


Dan makasih banyak atas dukungan kalian, novel ini udah level 8 (pencapaian yang bagus untuk aku yang baru nulis di sini. Makasih banyak!


__ADS_2