
Flora melangkahkan kakinya menuruni tangga. la melihat jika di tengah ruangan terdapat beberapa pelayan dan pengawal. Dan di sana ia melihat Charles yang sedang berbicara kepada orang-orang tersebut. Namun, Flora tidak tahu apa yang dibicarakan oleh pria itu.
Charles pun segera menyuruh mereka untuk kembali kepada pekerjaannya. Flora tidak sempat mendengar perkataan Charles kepada orang-orang tersebut.
"Charles," panggil Flora.
Charles memutar tubuhnya, dan ia tersenyum manis melihat Flora. Pria itu segera menghampiri Flora dan mengecup bibir wanitanya.
"Kamu menginginkan sesuatu?" tanya Charles. Melingkarkan kedua tangan kekarnya pada pinggang Flora secara posesif.
"Aku lapar."
"Baiklah, kamu menginginkan makanan apa? Akan aku belikan." Charles menatap Flora penuh semangat. "Aku ingin memakan masakanmu. Boleh?" kata Flora. Seraya mengelus jambang tipis pria itu.
"Tentu saja, Sayang. Apa pun untukmu. Sekarang, kamu duduk terlebih dahulu. Aku akan memasak untukmu!" Charles berniat untuk menuntun Flora ke arah sofa. Namun, Flora menolak.
"Aku ingin melihatmu memasak." Flora memelas kepada Charles. Dan tentu saja Charles tidak bisa menolak.
Charles segera merangkul pinggang Flora dan membawanya ke dapur.
__ADS_1
"Kamu bersabarlah. Aku akan segera memasak untukmu!" ucap Charles. Seraya mengelus kepala Flora.
Charles segera menyiapkan bahan-bahan yang akan dia olah. Pria itu terlihat sangat serius dan terlihat sangat lihai saat mempersiapkan semuanya.
"Flora, kamu sedang apa?" teriak Charles tiba-tiba. la melihat Raline yang sedang mencoba untuk duduk di atas meja pantry. Namun, karena meja itu sedikit tinggi, membuat Flora kesusahan untuk duduk di sana.
"Aku ingin duduk di sini." Flora menunjuk meja pantry tersebut. Dengan wajah cemberut.
"Minta bantuanlah padaku, Sayang." Charles menghampiri Flora, dan mengangkat tubuh wanita itu untuk didudukkan di meja tersebut.
"Diamlah. Jangan banyak bergerak. Aku takut kamu jatuh!" perintah Charles yang diangguki oleh Flora dengan senyuman.
Flora hanya terkekeh melihat sikap Charles yang menurutnya sangat menggemaskan.
Charles pun kembali bersiap untuk bereksperimen dengan masakannya. Ia akan memasak dengan penuh cinta dan kasih sayang untuk Istri dan anaknya.
***
"Hai, Flo. Apa kabar? Aku harap kamu selalu baik-baik saja. Aku percaya, selama ada Charles di sampingmu, kamu akan tetap aman. Maaf, aku hanya bisa berbicara lewat rekaman video ini. Aku tidak bisa menemuimu secara langsung. Aku masih merasa malu jika harus bertemu denganmu. By the way, selamat atas pernikahan kalian. Aku bahagia, pada akhirnya kamu bisa menemukan seseorang yang bisa membuatmu bahagia dan tidak akan pernah menyakitimu seperti aku." Morgan tersenyum seraya menghela napasnya.
__ADS_1
"Jika boleh jujur, saat ini aku belum bisa menghilangkan perasaanku terhadapmu. Mengingat kamu adalah perempuan yang benar-benar aku cintai. Tapi bodohnya aku memilih untuk menyakitimu. Kamu harus tahu, jika aku tidak memiliki hubungan apa pun dengan Renatta. Dia hanyalah wanita yang menjadi pelampiasanku saja. Dan asal kamu tahu, itu semua bukan keinginanku. Dialah yang menggodaku, dan memberiku tawaran agar berhubungan dengannya. Dan aku hanyalah seorang pria pendosa. Aku memiliki nafsu dan kebutuhan yang harus aku tuntaskan. Aku tidak ingin merusakmu sebelum waktu itu tiba, Flo. Saat itulah Renatta menggodaku, aku tidak memiliki pilihan lain selain menerimanya. Aku tidak menganggap dia sebagai orang yang spesial di hidupku. Mungkin memang sudah waktunya, dulu aku harus berhenti untuk menyakitimu. Aku minta maaf Aku bersungguh-sungguh, Flo. Aku menyesal dan sampai kapanpun aku tidak akan memaafkan diriku sendiri karena telah menyakitimu!"
Air mata yang dari tadi berusaha untuk ditahan agar tidak terjatuh pun akhirnya merembes membasahi kedua pipi Flora. Ia kembali mengingat moment di saat dirinya masih bersama Morgan.
Sedangkan Charles yang sedang duduk di sampingnya, merasa risih melihat Flora yang menangis seperti itu. Seharusnya ia tidak memberikan rekaman video itu kepada Flora.
"Sekarang, tidak akan ada lagi yang menyakiti dan menghianatimu, Flo. Aku percaya, Charles tidak akan melakukan hal bodoh sepertiku. Dan ini waktunya untuk aku mengatakan sesuatu padamu Flo." Terlihat Morgan menghela napasnya terlebih dahulu.
"Aku adalah Anthonio Michell. Pria berengsek ini adalah sosok yang kamu kagumi dari semenjak dulu kala. Maafkan aku karena aku tidak memberitahumu tentang identitasku yang sebenarnya. Aku bahagia saat aku mengetahui kamu menyukai semua karya yang kutulis, aku sengaja tidak memberitahumu tentang diriku, karena sudah cukup bagiku, denganmu yang menyukai karyaku. Jika kamu sadar, ada beberapa buku yang aku tulis sesuai kisah nyata. Itu adalah kisah kita. Aku menceritakan semua kisah kita di beberapa bukuku. Dari awal kita bertemu dekat, lalu memutuskan untuk bersama dan berniat untuk meneruskan ke jenjang yang serius. Bahkan ada satu buku yang best seller hingga saat ini, dimana isi buku tersebut menceritakan tentang peran utama yang akhirnya harus berpisah. Itu adalah akhir dari kisah kita. Sebuah penyesalan. Dan aku adalah orang misterius yang selalu mengirimimu paket berisi buku terbaruku. Aku ingat, saat kamu bercerita padaku jika kamu sangat bahagia saat mendapatkan paket anonim yang berisi sebuah novel karya Anthonio. Dan aku selalu melakukan itu jika aku baru saja menerbitkan bukuku, kamu adalah orang pertama yang membaca novelku."
Tubuh Flora bergetar hebat akibat shock. Dia benar-benar tidak menyangka dengan semua ini. Ternyata Morgan adalah sosok yang selama ini ia kagumi karena karyanya. Salah satu alasan Flora menyukai novel Anthonio itu karena isi novel itu sama persis dengan yang ia alami dikehidupan nyata. Namun ia tidak menyangka jika cerita itu benar-benar cerita tentangnya.
"Aku dengar, kamu ingin bertemu dengan penulis itu kan? Apa saat ini kamu menyesal karena mengetahui jika penulis favoritmu itu adalah aku?" kekeh Morgan.
"Terima kasih Flo. Kamu pernah menjadi bagian dari hidupku, dan mengukir kenangan yang indah di hati dan pikiranku. Sekarang, aku akan pamit kepadamu. Aku akan kembali ke Paris dan akan menetap di sana. Berjanjilah padaku untuk terus bahagia, Flo. Aku menyayangimu. Semoga kita bisa bertemu di lain waktu yang lebih baik dan tepat. Jaga dirimu. Aku pergi. Bye." Morgan tersenyum manis seraya melambaikan tangannya.
Flora menggenggam dengan erat iPad di tangannya. Entahlah ia merasa sangat sedih saat ini. Dia bisa melihat luka di mata Morgan. Luka yang mungkin sulit untuk disembuhkan. Luka yang sama seperti yang pernah ia rasakan dulu. Namun, saat ini luka itu sudah sembuh total akibat Charles. Dia adalah penyembuh luka itu.
"Aku harap, kita bisa berteman baik dipertemuan berikutnya, Morgan." Flora menghapus air matanya seraya menatap layar iPad dengan tersenyum manis.
__ADS_1
Tanpa ia sadari, sedari tadi Charles berusaha untuk menahan rasa kesalnya. Dia sangat cemburu. Wajah Charles sudah berubah menjadi merah padam, tangannya yang sudah mengepal walaupun dirinya sedang merangkul pundak Flora. Ia benci ketika Morgan mengatakan kata cinta kepada istrinya itu. Karena Flora hanya miliknya seorang. Tidak ada yang boleh mencintai Flora selain dirinya dan anak-anaknya nanti.