
Charles sedang terduduk di meja makan bersiap untuk sarapan sebelum dirinya pergi ke kantornya.
"Kenapa dia lama sekali?!" gumam Charles kesal.
Flora keluar dari kamarnya melangkahkan kaki ke arah meja makan dengan pakaiannya yang sudah rapi sehingga membuat Charles mengernyit.
"Kau mau ke mana?" tanya Charles kepada Flora yang baru saja duduk di hadapannya.
Flora bergeming, karena ia mengingat kejadian semalam di mana Charles bersikeras ingin tidur satu kamar dengannya. Walaupun Flora bersikeras untuk menolak, tetapi Charles tidak peduli. Sehingga Flora harus memutuskan untuk tidur di sofa kamar, karena pria itu tidak mau mengalah kepadanya.
"Flora!" seru Charles dengan nada tinggi.
"Bekerja," ucap Flora singkat.
"Siapa yang mengizinkanmu keluar dari penthouse ini?" Charles menatap tajam gadis di hadapannya. Sedangkan wanita itu sibuk dengan rotinya.
"Aku tidak butuh izin dari siapapun!" sahut Flora tegas lalu melahap roti panggangnya tanpa menatap pada Charles.
Charles menarik napasnya, gadis ini memang selalu menguji kesabarannya.
"Kau. Tidak. Boleh, keluar. Dari. Sini." Charles menekankan semua katanya.
Flora mendongak lalu menatap dengan sejenak pria di hadapannya ini.
"Jika kau ingin aku tetap tinggal di sini, biarkan aku tetap bekerja. karena aku membutuhkan uang untuk biaya kuliahku. Dan ini semua terjadi gara-gara seseorang yang telah menyalah gunakan jabatannya untuk menindas orang lemah sepertiku. Ohh... sungguh, aku sangat membencinya!" ucap Flora sarkas dengan menajamkan matanya.
"Okay, karena kau tetap bersikeras untuk bekerja. Maka, kau harus membayar biaya makanan jika kau memakan makanan yang disajikan di penthouse ini. Kau juga harus ikut serta membayar tagihan air dan listrik di sini jika kau menggunakannya," tawar Charles menyebalkan, lalu dia pun menyeringai.
Flora tersedak oleh rotinya ketika ia mendengar pernyataan pria itu.
"Apa kau gila? Kau yang menahanku di sini, dan kau menyuruhku untuk membayar semua itu?" Flora tidak terima atas perilaku Charles kepadanya.
Charles mengabaikan Flora sehingga membuat gadis itu semakin kesal. Flora melempar roti miliknya ke atas piring dan bergegas pergi meninggalkan meja makan.
Gadis itu mengumpat di setiap langkahnya sebelum ia dicegah oleh seseorang di ambang pintu.
__ADS_1
"Anda mau ke mana Nona?" tanya pengawal Charles dengan penasaran.
"Aku akan pergi! Enyahlah kalian di hadapanku!" teriak Flora.
Kedua pengawal Charles pun memberikan jalan kepada Flora untuk keluar, dan hal itu membuat Flora sedikit merasa aneh. Ia pun menatap kedua pengawal Charles yang menunduk, seketika Flora membalikkan tubuhnya dan benar ia mendapati Charles yang sedang berdiri di belakangnya.
"Jangan lupa membawa uang yang banyak untuk membayar biaya makan, air dan listrik," kata Charles lalu tersenyum miring.
Flora menghentakkan kakinya dan keluar dari penthouse menuju ke arah lift.
"Lihat saja, aku tidak akan kembali ke sini!" kata Flora kesal.
Sebelum pergi ke tempat kerja, Flora menyempatkan terlebih dahulu untuk pergi ke apartment Anin untuk mengambil tas miliknya. Seperti biasa dia diantar oleh Thomas atas perintah Charles, dan pria itu menyuruh Thomas untuk menunggu Flora hingga wanita itu pulang bekerja. Hal itu tentu membuat rencana Flora untuk tidak kembali ke tempat Charles itu menjadi sulit, karena ada Thomas yang akan terus mengawasinya.
Flora mengetuk pintu apartment Anin, pintu tersebut pun terbuka. Betapa kagetnya Flora ketika ia tahu siapa yang membukakan pintunya.
"Renatta?"
"Flora?" ucap mereka bersamaan.
"Aku kesal padamu Flo, kenapa kau tidak bilang jika kau kembali ke Indonesia?" Renatta menggerutu kesal di pelukan Flora. Sedangkan Flora hanya terkekeh.
"Maafkan aku, karena ini terjadi secara mendadak," Flora berbohong. Renatta melepaskan pelukannya untuk menatap wajah temannya.
"Aku sangat merindukanmu Flo, hanya kau yang mengerti perasaanku. Anin tidak bisa diajak serius olehku." Renatta mengerucutkan bibirnya kesal.
Memang selama ini Renatta lebih sering bercerita kapada Flora, itu semua karena Anin selalu menanggapi curhatan Renatta dengan seenaknya yang membuat Renatta tidak merasa puas dan tidak menemukan solusi jika bercerita dengan Anin. Sedangkan dengan Flora, ia selalu mendapatkan solusi dan arahan yang diberikan oleh temannya itu.
"Apa, hah? Kau membicarakanku bit*h?!" teriak Anin yang baru saja menghampiri mereka.
"Oh hay Flora, kau sudah kembali ternyata." Anin mengedipkan satu matanya.
Anin menarik tangan Flora untuk masuk ke dalam yang diekori oleh Renatta.
Mereka berjalan ke arah sofa, dan duduk santai di sana.
__ADS_1
Flora sangat merindukan Renatta, walaupun Renatta adalah sosok orang yang sangat berpikiran dewasa, tetapi wanita itu selalu bersikap manja kepada kedua temannya. Terlebih kepada Flora.
Mereka bertigapun sedang asik mengobrol dan tertawa sebelum Flora ingat tujuannya kemari.
"Oh iya Nin, aku ingin membawa tasku yang kulitipkan kemarin." Flora mengedipkan matanya kepada Anin yang dimengerti oleh temannya itu.
"Ambil saja, aku simpan di kamar."
"Ternyata kemarin kau ke sini, Flo? Kenapa tidak bilang kepadaku? Jika aku tahu kau sudah pulang dari Indonesia mungkin kemarin aku tidak melakukan hal buruk," sela Renatta menatap Flora.
"Maafkan aku, kemarin aku hanya mampir sebentar ke sini. Karena aku harus bekerja. Dan sekarang pun aku harus pergi bekerja," ucap Flora.
"Bekerja?" Renatta terkejut.
"Biar Anin yang akan menjelaskannya padamu. Aku harus segera pergi." Flora bangkit dari sofa dan melangkahkan kakinya menuju kamar Anin.
Sedangkan Renatta masih dibuat bingung oleh temannya itu.
"Aku pergi dulu ya, nanti kita berkumpul lagi. Bye," pamit Flora setelah membawa barang miliknya.
"Take a care!"teriak Anin.
"Sebenarnya ada apa?" tanya Renatta penasaran.
Anin pun menjelaskan semuanya tentang masalah beasiswa Flora yang dicabut, tetapi ia tidak memberitahu Renatta siapakah orang yang telah mencabut beasiswa temannya itu.
***
Suasana di restaurant sedang lumayan ramai, semua karyawan bekerja dengan sibuk berlalu lalang untuk melayani para konsumen. Termasuk Flora yang sedang sibuk mengantarkan makanan ke meja para konsumen. Tidak sedikit orang yang mengagumi Flora karena kecantikan dan keramahannya kepada semua orang.
Hal itu pun dirasakan juga oleh satu orang pria yang sudah sejak dari tadi memperhatikan Flora dari tempatnya, tanpa disadari oleh perempuan itu.
Namun, hal itu tidak berlangsung lama, ketika Flora mengantar pesanan ke meja yang berhadapan dengan pria itu. Secara tidak sengaja mata mereka bertemu, hal tersebut membuat tubuh Flora bergetar. Namun, ia berusaha untuk tetap bersikap tenang tanpa memperlihatkan kecanggungannya.
Setelah mengantarkan pesanan, Flora segera pergi dari sana. Ia memilih untuk melayani konsumen lain tanpa mempedulikan tatapan intens dari pria yang sedang duduk dengan beberapa temannya itu.
__ADS_1