
"Saya sudah konfirmasi kedatangan kita ke acara award itu. Manajemen acaranya besok akan kirim rundown acara. Kamu nggak keberatan 'kan, kalau nanti kita jalan di red karpet?" tanya Nadia pada Chandra yang berjalan di sisinya.
Chandra menoleh ke arah Nadia dan tentu saja tersenyum dengan anggukan setuju. "Tidak. Nenek pasti senang melihat saya masuk televisi pertama kalinya," bantah Chandra, membayangkan bagaimana ekspresi keluarganya terutama neneknya dan Joy yang pasti akan sangat heboh kalau melihat Chandra masuk televisi.
Nadia tertawa kecil, gemas juga dengan keluarga Chandra apalagi pada nenek dan Joy. Nadia mengeratkan rangkulan tangannya pada lengan Chandra, membuat Chandra menghentikan langkahnya dan kembali memandang wajah mungil itu untuk ke sekian kali hari ini.
Di penghujung sore yang hangat, Nadia balik menatap Chandra.
"Hari ini, saya senang!" ucap Nadia ceria, seperti kebiasaannya jika mengawali obrolan dengan Chandra.
"Hum. Maaf, karena saya tidak bisa mengajak kamu keluar negeri untuk bulan madu. Atau jalan-jalan ke mal seperti yang kamu mau."
Nadia menggeleng kecil. "Kamu tahu, nggak? Kenapa saya senang, lebih senang dibandingkan pelesiran keluar negeri atau liburan mewah?"
"Kenapa?"
Nadia menarik napasnya dalam-dalam, dan lagi menatap Chandra tak kalah manis dari sebelumnya. "Di sini, saya merasa menjadi diri saya sendiri. Saya tidak perlu sembunyi, malu, takut, atau khawatir orang-orang mengomentari apa pun yang saya lakukan. Saya memiliki kamu di sini."
Chandra tersenyum tipis dan membalas Nadia dengan merangkul erat bahu kecil istrinya itu dengan gemas.
"Benar apa yang kamu omongin itu, Nad?!"
"Bukannya kamu betah di sini karena kamu kecewa kita gagal menikah?! Pelarian,
'kan?!"
__ADS_1
Chandra dan Nadia yang mendengar ucapan tak mengenakkan itu langsung menoleh ke sumber suara. Di teras rumah mereka kini ada sosok lelaki muda dengan tampilan modis santai yang membuat pancaran dirinya semakin terlihat jelas bahwa dia bukanlah warga biasa. Dia selebriti yang baru saja bebas dari hukum yang menjeratnya selama beberapa bulan ini.
Matahari sudah terbenam, langit semakin gelap dan pandangan Chandra pun merasakan hal yang sama. Dia merasa pusing, muak dan tentu saja tidak terima dengan kedatangan lelaki yang sangat ia kenali meski belum pernah bertemu.
Nadia mengeratkan pegangan tangannya pada lengan suaminya, tapi Vidi yang kini ada di sana berjalan mendekat ke arahnya dan Chandra. Tersenyum seperti mengancam kebahagiaan mereka yang baru saja terpercik sedikit demi sedikit.
"Aku masih ingat, Nad. Betapa senangnya kamu saat kita ke Praha. Kamu suka sesuatu yang mewah, romantis. Lalu, apa semudah ini kamu tinggal di Flores hanya untuk menghindari komentar, netizen?!"
Nadia menggertakkan giginya, napasnya tidak beraturan.
"6 tahun bukan waktu yang singkat buat kita, dan nggak gampang buat kamu nikah sama orang asing kayak dia!" tunjuk Vidi pada Chandra.
"Apa maksud, Anda?!" ujar Chandra mulai tersulut emosi, Nadia menahan lengannya ketika Chandra hendak maju untuk menghadapi Vidi dengan kekuatannya sendiri.
"Vidi, cukup!!" teriak Nadia tak terima. Vidi tersenyum sinis, tapi juga matanya tidak bisa berbohong bahwa ia sangat sedih melihat Nadia bisa terlihat bahagia bersama pria lain selain dirinya.
Chandra memperhatikan itu, terutama Nadia yang kini terlihat goyah berada di sisinya. Genggaman tangan Nadia juga melonggar saat Vidi meneteskan air mata di hadapannya. Di situlah Chandra tahu, memang dirinya memang benar masih sebatas pelarian.
"Apanya yang cukup, Nad?! Aku yang seharusnya bilang begitu. Apa cukup waktu kamu nyerah sama aku?! Apa cukup, Nad?! Apa susahnya nunggu saat aku diuji kayak kemarin. Kenapa, Nad?!" Vidi membentak, meledak-ledak dengan bulir bening yang makin banyak menuruni pipinya.
Chandra pun mundur, dia mungkin sangat berhak untuk menghajar Vidi tapi dia merasa bukan apa-apa di antara dua orang yang ada di sini. Chandra hanya figuran di antara dua selebriti yang terlibat konflik asmara. Janji-janji Nadia dan semua kalimat gadis itu di tempat yang indah mungkin hanya pengobat rindunya pada Vidi.
Tubuh Nadia gemetar, dia tidak bisa bicara apa pun selain menangis, mulutnya terkunci rapat menahan isakan yang tidak mau ia keluarkan sama sekali.
"Kenapa dengan gampangnya kamu menikahi laki-laki lain?! Kita belum putus, Nadia. Aku masih pacar kamu, aku masih pakai cincin tunangan kita. Aku masih pegang semua janji kita Nadia." suara Vidi melembut, tapi tetap saja kalimatnya terdengar sangat menyakitkan.
__ADS_1
Chandra menarik napas dalam-dalam. "Sebaiknya, kamu pergi dari tempat ini! Jangan mengganggu Nadia. Ini sudah malam, akan ada kawanan babi hutan dan itu berbahaya."
Chandra mendorong pelan bahu Vidi agar mundur dan tidak menghalangi langkahnya dan Nadia.
Lelaki itu tersenyum masam, mengejek Chandra dengan memasang tampang paling sangar yang dimilikinya.
"Nadia, ayo kita masuk," ajak Chandra dengan menarik pelan tubuh Nadia untuk menapaki teras rumah mereka yang masih gelap, lampu-lampu belum dinyalakan karena penghuninya baru saja tiba tepat saat magrib.
Vidi yang berdiri dengan tubuh lunglai di tempatnya menatap tak terima, dia mengepalkan tangannya dengan erat. "Heh apa lu nggak tahu, kalau Nadia udah kasih semuanya ke gue ...." Vidi tidak melanjutkan kalimatnya, dia menunggu reaksi Chandra.
Nadia menghentikan langkahnya, menelan ludah dengan kasar. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Vidi benar-benar membuatnya meledak dengan perasaan amat bersalah.
Chandra menoleh, Vidi tersenyum miring kepadanya. "Saya tidak peduli apa yang telah Nadia berikan kepada kamu. Karena, Nadia milik saya sekarang. Saya bisa mendapatkan apa pun dari Nadia tanpa harus memikirkan apa yang sudah dia berikan pada orang lain."
•••
Nadia memiringkan tubuhnya, menatap pada tembok yang sudah ia tempeli dengan stiker bintang-bintang agar menemaninya di kala gelap seperti sekarang. Nadia tidak mengira jika harinya bersama Chandra yang begitu ceria dan bahagia harus hancur di senja yang hangat seperti tadi.
Nadia terus menangis, di tengah kegelapan dia sama sekali belum makan dan tidak keluar kamar. Nadia terlalu malu pada dirinya sendiri, pada Chandra dan semua kalimat Vidi yang membuat Nadia mempertanyakan kesetiaannya sendiri.
Vidi mungkin salah, tapi yang fatal justru keputusan Nadia karena menjadikan Chandra korban atas semua kejadian aib ini.
Kedatangan Vidi yang tiba-tiba, membuat Nadia sangat takut bahwa ia akan didera rasa kasihan pada lelaki itu. Kasihan dengan perjuangan Vidi, kasihan juga dengan kenangan mereka yang harus terkubur sia-sia.
Namun, Nadia juga memiliki pria lain sekarang, suaminya. Yang menjaganya, yang memenangkannya dengan kalimat lugas tapi lembut, yang menyayanginya dengan perasaan kaku tanpa batas, yang menyisihkan waktunya hanya untuk membuat Nadia bisa menikmati keindahan tanpa takut dengan kejaran wartawan, dan Chandra yang sudah menyelamatkannya dari mimpi buruk kegagalan pernikahan.
__ADS_1
BERSAMBUNG ....
AKU BELUM SEMPAT REVISI, JADI NGGAK PAKAI SUB JUDUL DAN MAAF KALAU BANYAK TYPO.