Suamiku Jenderal

Suamiku Jenderal
Extra BAB 20


__ADS_3

"Lihat kebunku ... Penuh dengan bunga ... ada yang putih ... dan ada yang melah ... cetiap hali ... kusilam semua, mawal melati semuanya indah...!"


Prok!


Prok!


Flora sedang digendong oleh kakeknya pagi itu sembari bernyanyi kebunku di teras belakang rumah. Balita berusia dua tahun itu memang sudah hobi nyanyi sejak bisa bicara. Apalagi tadi subuh papanya mengabarkan kalau sedang dalam perjalanan pulang ke rumah dari kunjungan tugasnya ke lokasi bencana, semakin membuat Flora bahagia karena tidak sabar menanti papanya.


"Mama ... papa kapan pulang?"


Flora merajuk pada mamanya yang kini menyiapkan sarapan pagi untuk si buah hati. "Sebentar lagi Sayang, tunggu ya?"


Flora cemberut. "Dali tadi sebental teyus ...!"


"Haha ... kan ada kakek. Flora nggak senang nih digendong kakek?" Kakeknya mulai cemburu dan membujuk gadis kecil itu.


"Ola kangen papa."


"Assalamualaikum ...!"


"Waalaikummussalam ... PAPA!"


Flora menjerit riang ketika suara salam papanya menyapa di ruang tengah, Flora dan Nadia sontak menoleh ke sumber suara. Chandra berjalan ke arah mereka berdua dengan penampilannya saat berangkat Minggu lalu.


Chandra tersenyum disambut oleh buah hati dan istri tercintanya itu, pertama-tama ia memeluk Nadia dan menjatuhkan kecupan di puncak kepala istrinya. Hal tersebut sudah menjadi rutinitas dan ritual Chandra setiap ia kembali ke rumah, entah habis salat Jumat, pulang kerja, atau pergi dari luar. Setiap kembali ke rumah maka yang pertama kali ia lakukan adalah memeluk Nadia dan memberikan kecupan di puncak kepala atau kening istrinya.


"Saya kangen kamu," bisik Chandra lembut tepat di telinga Nadia. Nadia menikmati pelukan erat suaminya dengan mata terpejam.


"Hmm, sama," balas Nadia dengan suara lembut, sangat terharu sekali pada kepulangan suaminya kali ini sebab pertama kalinya bagi Nadia ditinggalkan oleh Chandra sejak mereka memiliki Flora.


Chandra melepas pelukan tersebut dan beralih pada Flora yang sudah menunggu gendongan papanya.


"Aduh sayangnya papa ... lagi makan?"


"Hu um! Sama nasi tim!" seru Flora, bibirnya belepotan nasi tim dan pipi tembemnya juga mengalami hal serupa. Chandra terkikik dan menggendong anaknya itu tinggi sekali sampai Flora cekikikan diperlakukan begitu.


"Papa ... Ola kangen!"


"Sama ... Papa juga."


Flora bersandar pada pelukan papanya dan melanjutkan makannya sembari digendong oleh sang papa.


"Bagaimana keadaan di lokasi bencananya?" tanya papa Nadia yang sejak tadi asik memperhatikan keluarga kecil putri semata wayangnya itu.


Chandra menghela napasnya. "Ya, masih belum kondusif Pah, sebagian korban juga masih belum ditemukan. Tetapi keadaan posko sudah mulai stabil."


"Syukurlah ... Kalau lokasi tugas kamu dulu, kena bencana juga?"


"Tidak, kalau lokasi saya tugas dulu kondisinya aman dari banjir, tetapi ada beberapa titik longsor karena didera hujan deras selama lebih dari dua pekan."


Papa mengerti itu. "Kamu kelihatannya kurang tidur. Istirahat dulu sana, biar Flora papa yang jaga."


"Tidak perlu Pah, saya kangen Flora sama Nadia terus di sana. Terima kasih ya Pah, sudah mau menginap di sini."


Papa tersenyum tipis dan menepuk pundak tegap menantu jenderalnya. "Sama-sama."


***


Papa Nadia dan nenek buyutnya Flora sudah pulang sejak dua jam lalu. Dan kini di kamar utama, Chandra dengan Flora sedang tidur pulas, pasangan ayah dan anak itu terlihat tidak mau dipisahkan sejak kepulangan Chandra dari NTT. Nadia sendiri sampai dicuekin oleh suaminya, dan perhatian Chandra tumpah ke Flora semua. Nadia jadi cemburu kepada anaknya sendiri. Mengingat hal tersebut entah kenapa membuat Nadia tertawa kecil sembari memperhatikan suami dan anaknya.


Nadia menyiapkan es air kelapa muda yang baru saja dia beli dari penjual online di sekitar kompleknya dan menghampiri Chandra yang masih tidur. Suaminya bilang bangunkan kalau tidurnya sudah dua jam, tetapi Nadia lebihkan satu jam karena kasihan Chandra sepertinya kelelahan dan kurang tidur.

__ADS_1


"Sayang ...."


"Hmm?" Chandra langsung menyahut dan membuka kedua matanya perlahan, ia melepas pelukannya dari Flora pelan-pelan, takut kalau Flora ikut terbangun.


Nadia tersenyum, dan Chandra langsung bangkit untuk duduk berhadapan dengan istrinya.


"Minum dulu." Nadia menyerahkan gelas berisi air kelapa dingin tersebut pada Chandra. Chandra menyesap air kelapa itu pelan-pelan hingga habis setengah gelas.


"Segar," gumam Chandra dengan senyuman dikulum. Sorot matanya sangat mesra sekali ke arah Nadia, dan entah mengapa setiap dipandang begitu oleh Chandra, maka Nadia tetap berdebar walaupun ini bukan pertama kalinya mereka bertatapan.


"Masih capek ya?" tanya Nadia dengan bibir mengerucut.


"Sedikit. Kamu telat membangunkan saya satu jam loh."


"Habisnya, kasian lihat kamu ... tidurnya nyenyak banget, jadi nggak tega," elak Nadia tak mau kalah.


Chandra menghela napasnya lembut dan memeluk Nadia untuk kesekian kalinya hari ini.


"Saya kan mau pacaran sama kamu. Kalau Flora bangun, kita tidak bisa pacaran," gumam Chandra sembari menyampirkan dagunya di bahu Nadia.


Nadia tertawa kecil dan menutup bibirnya, takut Flora bangun.


"Hihi ... oh ya?


"Hmm, serius, biar bisa uwu," ucap Chandra gemas tanpa mengubah posisi mereka yang masih berpelukan.


"Katanya kalau pelukan 20 detik sama orang tersayang bisa bikin capek itu hilang," beritahu Nadia tiba-tiba.


"Begitu ya? Kata siapa itu?"


"Hmm ... nggak tau saya lupa, kalau nggak salah sih kata psikolog."


"Kalau 20 detik mah kurang, saya maunya satu jam." Chandra mengeratkan pelukannya sampai dadanya terasa sesak. Nadia melepas pelukannya dan beralih menangkup wajah suaminya.


"Hei ... Jenderal tidak boleh diperlakukan seperti ini," omel Chandra yang dibuat-buat. Nadia tidak peduli, dia malah cekikikan melihat tampang suaminya sekarang.


"Kata siapa? Kalau saya boleh kan? Saya kan istri kamu."


Chandra tertawa kecil dan Nadia masih memainkan pipinya sembari dicubit-cubit gemas.


"Sayang ... kok badan kamu agak panas ya?" Nadia membelai wajah suaminya dari mulai kening hingga ke bawah dagu.


Dahi Chandra berkerut, dia memang kelelahan, tetapi dia tidak merasa keluhan apa pun selain mengantuk.


"Mungkin karena saya baru saja bangun tidur, jadinya suhu badannya panas. Nanti kalau mandi juga segar lagi."


Nadia menatap suaminya khawatir. "Jangan mandi dulu, nanti tambah demam loh."


"Tapi saya gerah, Sayang ... mandi dulu ya? Biar enak pacarannya," kata Chandra tak mendengar perintah istrinya. Nadia tidak bisa mebantah, ketika suaminya memasuki kamar mandi dengan menenteng handuk dari hanger.


Flora masih terlelap, mungkin karena beberapa hari ini sakit dan jadwal tidurnya berantakan ketika sembuh balita itu jadi lebih sering tidur dan rebahan. Nadia lumayan senang sih dengan Flora yang sering tidur, tetapi keadaan rumah jadi sepi tanpa celotehan Flora setiap jamnya.


Nadia pun beralih ke keranjang cucian yang ada di dalam kamar, ada beberapa pasang pakaian kotor suaminya, dua kemeja kerja yang sudah terlipat rapi untuk dicuci.


"Ckck, dia itu rajin banget," komentar Nadia saat melihat lencana-lencana pakaian dinas milik Chandra sudah terlepas dari kemejanya, sehingga Nadia tidak perlu kesulitan saat hendak mencuci.


Nadia juga menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya. Chandra itu biasanya suka lupa untuk membawa handuk, tetapi hari ini dia tidak lupa membawa handuk, tetapi Nadia berinisiatif menyiapkan pakaian ganti agar suaminya itu tidak memakai pakaian yang warnanya hitam atau putih terus menerus. Flora bahkan pernah protes karena mengira papanya tidak pernah ganti baju.


***


Meong ... Miaw ....

__ADS_1


Suara kucing-kucing mungil yang masih bayi itu tersimpan dengan baik di dalam sebuah box yang dilengkapi oleh selimut bayi milik Flora.


Flora memandangi kucing-kucingnya dengan tatapan berbinar. Mama dan papanya memperhatikan dengan senyum dikulum. Nadjen, si kucing peliharaan Nadia dan Chandra baru saja melahirkan dua kucing kembar yang langsung dirawat oleh Flora.


"Flora mau berikan nama apa untuk bayinya Nadjen? tanya Chandra pada buah hatinya itu.


"Mona dan Moni!" seru Flora dengan senyum khasnya yang menggemaskan.


"Hihi ... namanya bagus banget," puji Nadia gemas, sementara Chandra hanya terkekeh.


"Mona Moni ... adiknya Ola!" kata Flora riang.


"Kenapa diberi nama Mona Moni?"


"Miau nya Mona... Moni... begitu," jelas Flora seadanya, yang tentu saja cukup pandai bagi anak balita yang baru berusia genap 2 tahun.


"Mainnya jangan di sini ya, Mona sama Moninya mau bobo, Flora mainnya sama Mama papa ya," ajak Nadia pada Flora, Chandra pun membawa Flora ke tengah ruang keluarga, menikmati tayangan televisi yang sedang menampilkan iklan.


"Di iklan ini kamu cantik sekali," puji Chandra pada penampilan istrinya yang baru saja tampil sebagai bintang iklan bumbu masakan.


Nadia tersenyum lalu menjawil dagu suaminya. "Masa sih?"


"Serius ...," jawab Chandra sembari menjatuhkan ciuman di puncak kepala Nadia.


Posisi mereka kini duduk di sofa dan Nadia menyandarkan tubuhnya pada tubuh kekar sang suami. Flora merangkak untuk jatuh ke pangkuan mamanya, melihat hal tersebut Nadia langsung merangkul dan memeluk Flora.


"Mama atuk," kata Flora dengan lembut, walaupun sangat kangen dengan papanya ternyata untuk urusan tidur Flora ini tetap saja mau sama Nadia terus.


"Sini, bobonya sama papa," ajak Chandra.


Flora merengut tak mau, matanya sudah setengah terpejam. "Gamao," katanya.


Nadia tertawa kecil dan mengusap-usap punggung mungil Flora agar balita itu tertidur lelap dalam dekapannya. Flora tidur di atas tubuh Nadia, wajahnya bersembunyi pada ceruk leher mamanya yang hangat dan wangi. Chandra memperhatikan dengan tatapan sendu sekaligus bahagia.


"Flora ada tawaran buat bintangin iklan susu formula. Tapi aku belum kasih respon apa pun."


"Oh iya? Flora nanti jadi artis seperti kamu dong?" balas Chandra terkejut.


"Iya, dan pihak brand-nya mau kita bertiga jadi model bintang iklannya."


Kedua mata Chandra terbelalak. "Saya juga?"


Nadia mengangguk. "Iya, itu kalau kamu mau."


"Yah sayang sekali, saya mau sekali jadi bintang iklan. Tapi ... seorang perwira tidak boleh melakukannya."


Nadia cemberut mendengarnya, dia jadi tidak bisa pamer suami pada semua media kalau begini.


"Kalau iklan layanan masyarakat sih baru bisa," tambah Chandra dengan manis saat melihat kecemberutan istrinya.


"Begitu ya?"


"Iya, untuk kampanye KB baru bisa."


Nadia menghela napasnya dengan kasar. "Ya ... nggak seru dong ...."


Tangan besar Chandra membelai pundak istrinya yang dibiarkan terbuka, pria itu tersenyum tipis saat melihat Flora sudah tidur nyenyak dalam dekapan Nadia.


"Flora ... Nanti bangun ... aaah!" desa*h Nadia tak karuan ketika elusan Chandra turun ke arah dadanya dan memberikan remasan lembut di sana. Sepertinya Chandra tidak peduli dengan Omelan Nadia, dia sudah menahan rindu selama hampir seminggu pada istrinya itu dan malam ini adalah kesempatan yang tidak boleh dilewatkan olehnya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


Maaf ya, kalau akhir-akhir ini aku jarang up. Ya, mau bagaimana lagi, kayaknya aku terserang writer block malas banget ... Nulis.


Alhamdulillah, nggak nyangka banget ini story' menang NTW juara dua lagi, astaga ... astaga ... sesak napas sebentar ini setelah tahu. tapi ... tapi ... bagaimana caranya ambil itu uang?


__ADS_2