
Flora terbangun dari tidurnya ketika ia mendengar suara yang cukup mengganggunya. la melihat ke sampingnya dan ternyata Charles sudah tidak ada di tempat tidur.
Lagi-lagi Flora mendengar suara yang mengganggu pendengarannya. Dan suara itu berasal dari kamar mandi. Flora segera turun dari ranjang dan memilih untuk berdiri dengan gelisah di samping tempat tidur.
Tidak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka. Terdapat Charles yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk yang hanya melingkari pinggangnya.
Namun, fokus Flora beralih pada wajah Charles yang pucat.
"Hai Sayang," sapa Charles menghampiri Flora yang sedang berdiri di sisi kasur, lalu memagut bibir Flora secara singkat.
Flora menangkup wajah Charles ketika mereka melepaskan ciumannya.
"Kamu terlihat sangat pucat, Charles. Apa kamu sedang sakit?" ujar Flora cemas, menempelkan punggung tangannya di kening Charles. Dan benar saja, tubuh pria itu hangat.
Bukannya menjawab, Charles memilih untuk duduk di tepi ranjang lalu menarik tubuh Flora agar duduk di pangkuannya.
"Aku tidak apa-apa. Aku hanya merasa sedikit pusing dan mual. Mungkin karena beberapa hari ini aku selalu begadang."
"Kamu ini! Sudah aku bilang, jangan terlalu mengurusi pekerjaanmu! Kamu juga butuh istirahat Charles," oceh Flora.
Charles tersenyum manis melihat sikap protektif istrinya itu. Dia sangat menyukainya. Karena memang beberapa hari ini Flora selalu memarahinya karena Charles selalu bekerja hingga larut malam tanpa mempedulikan kesehatannya.
"Walaupun aku sakit, yang penting ada kamu yang akan merawatku!" kekeh Charles.
"Aku tidak mau kamu sakit!" Flora memukul bahu Charles karena merasa kesal.
Namun, rasa kesal Flora berubah menjadi cemas ketika ia melihat perubahan dari raut wajah Charles. Pria itu terlihat seperti sedang menahan sesuatu.
"Kamu kenapa, Charles?" tanya Flora panik.
Charles mengangkat tubuh Flora untuk turun dari pangkuannya. Lalu ia berlari ke arah kamar mandi yang disusul oleh Flora.
Charles ternyata memuntahkan sesuatu di wastafel. Flora semakin panik, ia memijat tengkuk Charles dengan begitu lembut. Lagi-lagi Charles mengeluarkan cairan bening.
"Ini tidak bisa dibiarkan, kita harus ke rumah sakit, Charles, kamu tidak boleh pergi ke kantor!" kata Flora, seraya mengusap punggung Suaminya.
Setelah merasa baikan. Charles membasuh wajahnya. Ia merasa sangat lemas saat ini, ditambah dengan kepalanya yang pusing.
"Aku tidak apa-apa, Sayang. Aku harus ke kantor. karena aku memiliki pertemuan penting dengan seseorang." Charles melingkarkan tangannya di pinggang Flora.
"Aku sudah memutuskan jika kamu tidak boleh bekerja! Kamu harus istirahat Charles!"
Charles tersenyum lalu mengecup kening Flora sebelum keluar dari kamar mandi. Charles pergi ke walk in closet untuk segera berpakaian. Flora segera menyusul pria keras kepala itu.
"Kamu ini sangat keras kepala sekali!" teriak Flora kesal. Yang saat ini sedang berdiri di ambang pintu.
Charles terkekeh. Lalu memutar tubuhnya agar menghadap Flora. "Aku baik-baik saja, Flo. kamu tenang saja," ucap Charles seraya mengancingkan kemejanya.
"Aku akan membencimu jika kamu sakit gara-gara pekerjaanmu itu!“
"Aku berjanji, aku tidak akan sakit!" Charles merentangkan kedua tangannya meminta agar Flora masuk ke dalam pelukannya.
Flora pun melangkahkan kakinya dengan raut wajah yang masih kesal. Lalu menghambur untuk memeluk tubuh pria yang dicintainya itu.
"Jangan marah lagi ya. Belakangan ini kamu selalu memarahiku, aku takut tekanan darahmu naik," kekeh Charles. Menggoda.
__ADS_1
Flora mencubit pinggang Charles yang membuat pria itu meringis. Lalu terkekeh geli.
***
Charles baru saja sampai di lantai teratas apartemen ini. Ia akan bertemu dengan seseorang. Charles datang sendiri ke apartemen tersebut, tanpa ditemani oleh Ken.
"Hallo, good morning Mr.lamo. Anda sudah ditunggu di dalam." Seorang wanita cantik menyambut Charles di ambang pintu. Tidak ingin berlama-lama Charles pun segera masuk ke dalam penthouse tersebut.
la melihat ornamen penthouse yang terlihat sangat mewah dan mahal. Namun, hal itu tidak bisa mengalahkan dengan apa yang dimiliki oleh Charles. Tentu saja Charles pun bisa miliki penthouse ini dengan mudah. Karena penthouse miliknya dulu, lebih mewah dibandingkan dengan penthouse ini.
Tepat di ruang tengah, Charles melihat sosok orang yang bertubuh tinggi menjulang sedang berdiri menghadap jendela besar yang mempertontonkan gedung-gedung pencakar langit di luaran sana.
Charles berdeham terlebih dahulu, untuk memberi tanda jika dirinya sudah datang.
"Ternyata kamu sudah datang,Mr.Alamo?!" ucap pria yang masih membelakanginya.
Charles terdiam, tidak menjawab perkataan pria itu.
Charles meneliti orang tersebut, ia sungguh penasaran dengan sosoknya. Ia harus berhati-hati jika nanti dirinya akan memperkenalkan orang itu pada Flora.
Dengan gerakan perlahan, Pria itu pun memutar tubuhnya dengan elegan, kini mereka saling berhadapan, dan Charles akhirnya mengetahui siapa sosok dibalik nama yang sangat terkenal itu. Namun, Charles tidak terlihat laget, ia tetap bermuka datar.
"Hallo Charles. Kita bertemu lagi." Pria itu tersenyum manis kepadanya.
"Benar dugaanku, jika ada yang tidak beres denganmu. Aku tidak percaya jika kau dengan begitu mudahnya menerima tawaranku untuk bertemu. Padahal aku tahu, selama ini kau selalu menghindar jika ada siapapun yang ingin berusaha untuk bertemu denganmu. Ternyata kita memang sudah saling mengenal, Anthonio Michell."
"Orang lain termasuk Flora mengenaliku dengan nama Morgan Maesero. Tidak ada satupun orang lain yang mengetahui nama Amerikaku yang bernama Anthonio Michell. Terkecuali kau. Saat ini." Morgan tersenyum kepada Charles.
Lalu pria itu melangkahkan kakinya ke arah sofa dan mempersilakan Charles agar duduk. Charles pun menuruti perintah Morgan untuk duduk berseberangan dengannya.
"Ini minumannya Tuan." Seorang wanita yang tadi menyambut Charles, datang membawakan 2 cangkir minuman dan beberapa snack. Lalu wanita itupun pergi dari hadapan mereka berdua.
Charles tersenyum miring. "Aku tidak membutuhkanmu sama sekali. Tapi karyawan RoD lah yang membutuhkanmu. Aku memikirkan mereka yang mungkin akan kehilangan pekerjaannya jika tidak bisa mendapatkan informasi tentangmu. Oleh karena itu aku terpaksa harus bekerja sama denganmu. Walaupun sejujurnya aku tidak ingin. Lebih baik aku menutup ROD Magazine dari pada aku harus memohon padamu!" ucap Charles tenang.
Morgan terkekeh mendengar perkataan Charles. "Kau tetap sama, Charles. Kau adalah orang yang sombong. Dan aku suka itu."
"Tenang saja, kau tidak perlu memohon kepadaku. Dengan senang hati aku akan membantu perusahaanmu. Aku memiliki alasan kenapa aku melakukan ini."
Charles menaikkan satu alisnya karena merasa penasaran. Morgan yang bisa membaca raut wajah Charles pun mulai menjelaskan alasannya.
"Pertama, karena kau adalah suami Flora. Aku tidak mau melihat Flora menderita hanya karena perusahaanmu bangkrut di saat kau baru saja menikah dengannya. By the way, selamat atas pernikahan kalian. Andai saja Flora mencintaiku, aku pasti akan membiarkan perusahaanmu bangkrut, lalu aku akan membawa Flora bersamaku. Tapi sayangnya, dia tidak mencintaiku."
Charles menganggukkan kepalanya, dengan tersenyum menyeringai. "Ya, dia memang tidak mencintaimu. Tapi jika kau mengatakan aku akan bangkrut hanya karena kau, itu salah besar. Dan tidak akan pernah terjadi. Karena RoD Magazine tidak terlalu berpengaruh besar bagi perusahaan pusat. Sekali lagi aku mengatakan, jika aku memikirkan karyawanku yang bekerja di RoD Magazine yang harus terancam karirnya."
Lagi-lagi Morgan terkekeh mendengar perkataan Charles yang arogan. "Baiklah. Baiklah. Terserah apa katamu. Tapi intinya, ini semua karena Flora. Lalu alasanku yang lain adalah, aku tahu tentang persaingan ketat antara perusahaanmu dengan perusahaan Ayah Renatta. Dan aku berada di pihakmu, Charles. Aku memiliki satu tujuan yang sama sepertimu. Menghancurkan perusahaan keluarga Renatta. karena aku tahu, Renatta telah berbuat buruk kepada Flora. Aku semakin ingin balas dendam kepadanya, karena dia juga aku harus kehilangan Flora pada waktu itu."
"Tanpa bantuan kau pun, aku bisa dengan sangat mudah menghancurkan perusahaan keluarga Renatta. Jika aku mau," sahut Charles.
Morgan pun menganggukkan kepalanya dan tersenyum miring. Ia sadar, jika Charles bukanlah lawannya.
"Lalu, apakah akan baik-baik saja bagimu jika profilmu terkuak? Asal kau tahu, kau memang berpengaruh bagi RoD. Namun mungkin setelah itu, hidupmu akan terganggu dengan paparazzi yang akan terus mengikuti dan mengawasimu."
Ini akan menjadi guncangan yang besar bagi negara Amerika jika Charles berhasil menguak profil Anthonio melalui RoD. Dan hal itu pula akan membuat RoD bisa bersaing dengan D'Magazine yaitu perusahan Ayah Renatta yang selalu membuat anak perusahaannya berada di ambang kebangkrutan.
"Kau tenang saja, itu akan menjadi urusanku. Memang, selama ini aku selalu merahasiakan profilku hanya untuk menjaga kehidupan privacyku agar tetap nyaman dan aman. Namun, saat ini aku memutuskan untuk pergi dari New York. Aku akan kembali ke Paris dan akan menetap di sana. Seperti yang kau tahu, kehidupan di New York sangat berbeda dengan Paris. Dan aku yakin aku akan tenang di sana. Namun sebelum aku pergi, izinkan aku untuk menyampaikan pesan kepada Flora. Hanya pesan. Aku tidak ingin bertemu dengannya. Karena itu akan menyiksaku untuk kembali mengingat tentang dirinya. Apa kah kau mengizinkan?"
__ADS_1
***
"Dia masih enggan untuk kuliah ternyata," gumam Flora.
"Sudahlah, kamu jangan memikirkan wanita itu lagi Flo!" sahut Anin.
Saat ini Flora dan Anin sedang duduk di bangku taman. Menikmati udara segar di sana.
"Aku takut Charles berbuat yang macam-macam kepada Renatta. Mengingat beberapa minggu yang lalu Charles pergi dari mansion dengan amarah yang memuncak. Dan selama beberapa minggu ini pula Renatta tidak muncul di kampus."
"Biarkan saja, itu akan membuat Renatta jera!" ucap Anin. Sedangkan Flora menggelengkan kepalanya melihat reaksi Anin yang terlihat sangat kesal kepada Renatta.
"Flora," panggil seseorang. Flora pun menolehkan kepalanya untuk melihat seseorang yang memanggilnya.
"Jonathan," ucap Flora menatap seorang pria yang berdiri di hadapannya.
"Selamat atas pernikahanmu, Flo. Semoga kau berbahagia dengan suamimu. Jujur, aku terluka mendengar kabar itu. Sehingga membuatku untuk memilih tidak menemuimu terlebih dahulu hampir satu bulan ini. Hingga aku tersadar jika kau memang bukanlah untukku. Dan aku pun berusaha untuk menerimanya."
Flora beranjak dari duduknya. Ia berdiri berhadapan dengan Jonathan. Sedangkan Anin hanya terdiam menatap kedua orang itu.
"Terima kasih untuk segalanya, Jo. Maafkan aku yang tidak bisa membalas perasaanmu itu. karena jika dipaksakan, itu akan membuat kita berdua sama-sama tersakiti. Aku berharap kita tetap bisa berteman."
Jonathan tersenyum manis kepada Flora. Lalu ia mengusap puncak kepala wanita itu. "Iya aku mengerti. Lupakan saja, Ra. Tentu saja kita bisa berteman."
"Baiklah, aku pergi dulu. Kau berbahagialah Flo!" sambungnya.
"kau juga. Semoga kau mendapatkan gadis yang lebih baik dariku!"
Jonathan mengangguk untuk menjawab perkataan Flora sebelum dirinya pergi dari hadapan Flora dan Anin.
"Pertama kalinya, aku melihat Jonathan selemah itu, Flo," kata Anin. di Flora hanya tersenyum dan kembali duduk di samping Anin.
Flora meraih tasnya dan mengeluarkan sesuatu dari tas itu.
"Hey, apa kamu tidak kenyang? Tadi kamu baru saja makan banyak. Aku sampai terkejut melihatmu yang tiba-tiba ingin sarapan. Sekalinya kamu sarapan, kamu seperti orang kesurupan. Dan sekarang kamu masih belum puas dengan memakan cemilan itu?!" oceh Anin yang ditanggapi oleh kekehan Flora.
"Wait, wait, kamu sedang makan apa?" tanya Anin meraih cemilan Flora.
"Bilang saja jika kamu mau!" sahut Flora dengan mulut yang dipenuhi oleh makanan tersebut.
"Dari kapan kamu suka makanan yang berbau matcha? Bukankah selama ini kamu tidak suka dengan apa pun yang berbau matcha?" tanya Anin merasa heran.
Flora hanya menaikkan bahunya dan merebut snack miliknya yang berada ditangan Anin. Sedangkan Anin hanya menggelengkan kepalanya.
***
"Siapa kau?" tanya seorang pria secara dingin yang baru saja membuka pintu apartemennya.
"Sialan!" umpat pria itu ketika wanita tersebut masuk ke dalam apartemennya begitu saja.
Pria itu secara cepat mencengkram lengan wanita yang tidak tahu malu tersebut. Hingga wanita itu meringis.
"Kau siapa, hah?!" geramnya.
"Lepaskan dulu cengkramanmu! Ini sangat menyakitkan!"
__ADS_1
Pria itu pun melonggarkan cengkramannya. Namun tidak berniat untuk melepaskannya. Hal itu membuat wanita di hadapannya mendengkus kesal.
"Oke. Perkenalkan, aku Renatta. Senang bertemu denganmu Rogan," Renatta menyeringai. Sedangkan Rogan mengerutkan keningnya.