Suamiku Jenderal

Suamiku Jenderal
BAB 92


__ADS_3

Hampir pukul sepuluh malam, konser yang berlangsung dua jam itu telah berakhir dan segala perjamuan malam bersama keluarga dan rekan sesama selebriti pun telah usai. Nadia kembali mendapati kesepiannya, ia menatap jalanan di dalam mobil yang ia kendarai seorang diri. Mobil yang ia kemudikan itu sudah sampai di depan gedung apartemen tempatnya tinggal di Jakarta, tetapi Nadia masih enggan pulang. Ia ingin sendirian dan tidak ingin terlibat dengan dunia luar selain dirinya.


Ibu dan ayah Chandra sempat mengajak untuk pulang bersama ke Bandung, tetapi Nadia menolak. Begitu pun dengan papa dan nenek yang menawarkan diri kepada Nadia untuk melakukan liburan kecil ke Bali, Nadia pun menolak itu.


Nadia mengambil ponselnya yang sejak tadi tersimpan di dashboard mobil, ia mengaktifkan data dan melihat banyak pesan masuk dari teman-temannya. Nadia hanya memiliki sedikit teman, karena semasa sekolah dulu ia hanya korban bulying dan selalu sibuk melakukan kegiatan sebagai seorang penyanyi remaja populer, dan pesan-pesan itu kebanyakan dari lingkungan kerjanya sendiri. Nadia tidak membalas pesan-pesan itu, ia tidak memiliki tenaga untuk merangkai ucapan terima kasih pada yang memberinya selamat.


Nadia membuka sebuah chatroom yang dipenuhi dengan emot hati berderet dari atas ke bawah, chatroom-nya dengan Chandra yang tidak kunjung mendapatkan dua ceklis biru.


Hanya ada satu ceklis abu-abu yang menjelaskan bahwa pesannya itu tidak terkirim.


Tok


Tok


Tok


Nadia buru-buru menghapus air matanya saat ia mendapatkan ketukan di kaca jendela mobilnya. "Iya, Pak. Saya parkir ke dalam sekarang," balas Nadia dengan suaranya yang tercekat sehabis menangis.


Pasti satpam apartemen yang meminta Nadia segera memasukkan ke parkiran basement, sebab Nadia sudah hampir lima belas menit memarkir mobilnya sembarangan di depan gedung.


Tok

__ADS_1


Tok


Tok


Ketukan itu terdengar lagi, membuat Nadia menghela napasnya karena jengkel dengan sikap satpam yang tidak sabaran. Nadia menstater mobilnya sambil melirik ke arah si pengetuk pintu.


Chandra sedikit membungkuk saat mengintip Nadia lewat kaca mobil istrinya. Chandra memegangi dadanya yang berdegup amat kencang saat dia berhasil bertatapan dengan Nadia lagi setelah sekian lama terpisahkan.


Nadia terkesiap ketika melihat suaminya kini berdiri di luar mobilnya, Chandra berdandan dengan sangat tampan mengenakan setelan abu-abu dan kemeja putih di dalam jasanya dengan membiarkan dua kancing paling atas dibiarkan terbuka. Rambut hitam Chandra sedikit gondrong dibandingkan dengan penampilan rambutnya sebelum dia pergi ke Suriah.


Nadia membuka pintu mobil dengan tergesa-gesa, dan Chandra langsung menyambutnya dengan pelukan besarnya yang begitu luar biasa.


Nadia menyandarkan wajahnya ke dada bidang Chandra dan terisak-isak dalam pelukan itu, Chandra membalas pelukan Nadia dengan melingkarkan tangan panjangnya pada tubuh mungil Nadia, tidak lupa Chandra juga melengkapi pelukan itu dengan elusan yang sangat lembut pada punggung Nadia dan kecupan di puncak kepala berulang kali sebagai pelebur rindu.


Nadia mendongak, ia menganggukkan kepalanya patuh.


"Kenapa, nggak kabari dulu?!"


Chandra menangkup wajah Nadia dan mengusap air mata gadis itu dengan ibu jarinya.


Cup.

__ADS_1


Chandra mengecup bibir Nadia dan isakan istrinya itu berhenti diganti dengan senyum kecil bercampur semburat merah di bagian pipi.


"Cuma segitu?" tanya Nadia dengan suara serak.


Chandra terkekeh. "Kita masuk ke dalam dulu. Nanti saya cium kamu di mana-mana."


Chandra membukakan pintu mobil bagian penumpang untuk Nadia, dan Nadia masuk ke dalam mobil untuk duduk dengan nyaman. Chandra menempati kursi pengemudi untuk memarkirkan mobil menuju basement apartemen.


Hanya butuh waktu tiga menit untuk memarkir mobil ke dalam. Chandra memperlakukan Nadia sebagai seorang putri, menyambut istrinya dengan penuh perhatian dan penuh senyum hangat di wajahnya. Nadia tidak bisa bersikap, karena ia masih tidak menyangka jika Chandra muncul malam ini, setelah konsernya yang terasa kurang istimewa tanpa kehadiran Chandra.


Chandra menggenggam erat tangan Nadia ketika mereka sudah berada di luar mobil. Nadia masih melihat ke arah Chandra dengan mata yang berkaca-kaca.


Mendadak mereka berdua dilanda kecanggungan. Entahlah, kenapa bisa secanggung ini padahal mereka adalah sepasang suami istri yang sering bersikap manis satu sama lain sebelum berpisah.


Nadia mendekat ke arah Chandra, merapatkan tubuhnya ke arah pria itu dengan tatapan sendu.


"Kenapa?"


Nadia menggeleng, ia meraih kerah jas yang digunakan Chandra hingga suaminya terpaksa menunduk diperlakukan begitu. Saat wajahnya berhadapan, Nadia langsung meraih bibir Chandra untuk berciuman. Chandra yang terkejut dengan serangan mendadak itu langsung mengangkat tangannya untuk menutup satu-satunya CCTV yang ada di dalam lift mereka tumpangi. Chandra tersenyum kecil dalam ciuman mesra itu, dia tak mau kalah dan memojokkan tubuh Nadia ke sudut lift sambil memungut bibir padat Nadia dengan sesapan yang terkesan lebih kasar dari biasanya. Nadia menjambak kecil rambut belakang Chandra ketika suaminya menurunkan ciuman hingga ke leher, Nadia melenguh dan baru tersadarkan saat lift berhasil mengantarkannya di lantai yang dituju.


Bersambung ,,,,

__ADS_1


1


__ADS_2