
Charles yang sedang memeluk tubuh Flora pun, mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras. la tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
"Kamu tenang saja, Sayang. Tidak akan terjadi apa-apa. Aku di sini, selalu ada untukmu. I love you, Flora!" gumam Charles mengecup puncak kepala Flora, ketika ia merasakan pelukan Flora yang mengerat di tubuhnya. Setelah itu, Charles menarik tubuh Flora untuk berdiri.
Frans tersenyum, sebelum ia mengucapkan sesuatu. "Ini semua kesalahanku, karena telah bersikeras untuk menjodohkan Charles dan Renatta. Maaf Arland, aku sudah tidak berminat dengan tawaranmu itu. Putraku sudah menikah, dan aku tidak ingin merusak kebahagiaan Putraku!"
Semua orang yang berada di mansion tersebut sangat terkejut dengan perkataan Frans. Ada apa dengan pria itu? Kenapa dia bisa berbicara seperti itu. Padahal dia lah yang sangat keras kepala ingin menikahkan Charles dan Renatta.
"Apa maksudmu, Frans?" geram Arland.
"Aku akan makan malam bersama, dengan Putraku dan menantuku. Jika kau ingin ikut, aku tidak masalah. Namun aku rasa, lebih baik kau tenangkan Putrimu terlebih dahulu. Jadi sebaiknya kau pulang saja!" kata Frans. Hal itu membuat Arland semakin murka. Berbeda dengan Charles, Flora, dan Marline yang masih tidak percaya dengan ucapan pria paruh baya itu.
"Kau lihat saja Frans, aku akan menghancurkan RoD Magazine! Akan kubuat kau menyesal seumur hidup!" ancam Arland murka. Sebelum menarik Anna dan Renatta untuk keluar dari mansion itu.
Frans menatap Flora kembali. Hal itu membuat Flora gugup.
"Kau tidak ingin menyapa mertuamu?" sarkas Frans kepada Flora. Yang sontak membuat Flora mendongakkan kepalanya.
Flora menoleh ke arah Charles, pria itu menganggukkan kepalanya. Sebelum ia melepaskan pelukannya pada tubuh Flora.
Secara perlahan Flora melangkahkan kakinya, menghampiri Frans. Dengan ragu-ragu ia mencoba untuk membuka mulutnya.
"Hal-hallo D-Daddy, aku F-flora," sapa Flora terbata. Flora mengulurkan tangannya.
Satu detik.... Dua detikk... Frans masih terdiam menatap Flora. Sebelum ia menjabat tangan gadis itu yang gemetar.
"Kau seharusnya memperkenalkan dia dari dulu Charles!" gumam Frans setelah melepaskan jabatan tangannya.
Charles menaikkan satu alisnya. "Apa maksudmu, Dad?"
Frans hanya terdiam, lalu pria itu meninggalkan ruang tamu begitu saja.
Charles menghampiri Flora, pria itu langsung merangkulnya. "Kamu tidak apa-apa, Flo?"
Suasana di ruang makan pun sangat tenang, mengabaikan kejadian yang baru saja terjadi. Walaupun Charles masih memikirkan tentang perilaku Frans yang tiba-tiba berbeda seperti itu.
Mereka pun sudah selesai menghabiskan makanannya. Para pelayanpun segera membersihkan meja makan tersebut.
"Bagaimana dengan RoD?" tanya Frans. Membuka obrolan.
"Mereka sedang berusaha untuk memperbaikinya. Jika tidak berhasil, maka terpaksa aku harus menutup perusahaan cabang New York itu." Charles menatap Frans.
Frans menganggukkan kepalanya. “Ingat, kau harus tetap menjalankan Alamo Company. Hanya kaulah satu-satunya penerus perusahaan itu, Charles."
"Setelah masalah RoD selesai, aku akan kembali kepada Muse. Aku tidak bisa jika harus menjalankan kedua perusahaan."
Frans mendengkus kesal, sebelum ia menatap ke arah Flora. "Baiklah, jika kau tidak mau. Maka semua asetku akan aku berikan pada orang lain."
Marline terkejut dengan ucapan suaminya itu. "Frans, kau tidak bisa seperti itu. Bagaimanapun Charles berhak atas asetmu!"
"Tapi anak itu, menolak untuk menikah dengan Renatta. Seperti yang sudah aku katakan, jika dia tidak menikah dengan Renatta maka aset milikku tidak akan aku berikan kepada Charles!"
"Aku tidak masalah, Dad" Charles tersenyum miring.
"Kau!" Tunjuk Frans kepada Flora.
"I-iya?" sahut Flora. Gelagapan.
Frans mengembuskan napasnya secara kasar. "Kau adalah penerima semua asetku. Maka kau harus bersedia menjadi penerus Alamo Company!"
"APA?" teriak Flora terkejut. Sama halnya dengan Charles dan Marline.
__ADS_1
"Kenapa harus Flora? Sebenarnya apa yang sedang kau rencanakan, Dad?" tanya Charles. Curiga.
"Dia menantuku! Karena kau menolak asetku, maka aku memberikannya pada menantuku! Apa kau mau menolak juga?" Tatap Frans kepada Flora.
"Ta-tapi aku tidak bisa, Dad." Flora menggelengkan kepalanya.
Frans menggeram kesal. “Sudahlah, jika kalian berdua tidak mau menerima asetku. Maka kalian berdua harus segera memiliki anak! Biar cucuku saja yang menjadi penerus Alamo Company!"
"Dan kau, sepertinya kau memiliki ingatan yang buruk!" sambung Frans menatap Flora.
"A-apa maksudmu?" tanya Flora gugup.
Frans mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. "Mana tanganmu?!"
Flora secara ragu mengulurkan tangannya ke arah Frans. Frans segera meraih tangan gadis itu, dan memberikan sesuatu pada tangan Flora.
"Dasar gadis bodoh!"
"Dad!" bentak Charles.
Flora melihat benda yang berada di telapak tangannya. Ia melebarkan kedua matanya melihat benda tersebut. Sebuah gelang cantik miliknya, yang hilang beberapa tahun yang lalu.
"I-ini gelang milikku, kenapa ini ada bersamamu?" tanya Flora dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Hal itu membuat Marline dan Charles terlihat bingung.
"Gelangmu menyangkut pada pin kemejaku, waktu itu!" ujarnya.
"Frans, apa maksudmu? Ada hubungan apa sebenarnya, antara kau dengan Flora?" tanya Marline curiga.
"Dia adalah gadis yang menolongku saat aku pingsan di bandara. Aku sempat melihat wajahnya, jadi aku bisa mengetahui orang yang telah menolongku waktu itu. Seperti yang kau tahu, jika aku memiliki ingatan yang sangat bagus akan sesuatu!" ungkap Frans.
Kenapa dia bisa melupakan wajah pria itu?!
"Da-ddy, jadi ka-kau orang itu?" tanya Flora tidak menyangka.
Frans menganggukkan kepalanya. "Awalnya aku berniat untuk mencaci makimu, ketika kau datang ke mansion ini. Namun setelah aku memperhatikanmu, dan ternyata kau adalah gadis penolongku. Rasa benciku kepadamu tiba-tiba sirna. Andai saja Charles memperkenalkanmu padaku dari dulu, mungkin di saat itu juga aku sudah menikahkan kalian berdua. Sekarang aku menyesal karena kemarin aku tidak hadir di acara pernikahan kalian," ucap Frans menyesal.
Flora segera beranjak dari kursinya, menghampiri Frans. Dan memeluk pria paruh baya itu.
"Daddy, terima kasih kau telah menemukan gelangku. Terima kasih juga kau telah menerimaku!" kata Flora.
"Waktu itu aku pernah berjanji, jika aku dipertemukan kembali denganmu, maka aku akan menjadikanmu Istri dari Putraku. Dan hal itu pun terwujud. Aku sangat bahagia sekali. Walaupun awalnya aku berniat akan menghabisimu, karena aku tidak tahu jika gadis yang dicintai oleh Charles, adalah kau." Frans mengelus puncak kepala Flora.
Charles dan Marline yang melihat hal itu pun tidak menyangka. Mereka sangat bahagia, akhirnya Frans bisa menerima Flora.
"Dan kau, Charles!" tunjuk Frans kepada Charles, setelah melepaskan pelukannya dari Flora.
"Akan kuhabisi kau, jika sedikit saja kau menyakiti Flora!" ancam Frans.
Charles segera menghambur untuk memeluk Frans. "Tenang saja Dad. Aku akan menjaganya. Terima kasih kau telah menerima Flora."
Frans tersenyum lebar, akhirnya ia bisa memperbaiki hubungannya kembali dengan Charles. Dan ini semua berkat Flora. Frans sangat bersyukur akan hal itu.
***
Frans dan Marline tidak mengizinkan Charles dan Flora untuk pulang ke Manhattan. Oleh karena itu, terpaksa Charles harus menginap di mansion orang tuanya.
"Flo, berhentilah menangis, kau jangan merasa bersalah kepada Renatta. Aku yang menginginkanmu dan aku juga yang mengejar-ngejarmu. Sudahlah, jangan pikirkan wanita itu!" ucap Charles mengelus kepala Flora yang sedang menangis di pelukannya.
"Pertemananku dengannya sudah hancur, Charles. Dan itu semua, karena aku. Aku yang menghancurkannya!" lirih Flora.
__ADS_1
"No, itu bukan karenamu. Memang sudah dari dulu pertemanan kalian itu hancur. Tapi karena kamu yang selalu mengalah kepada wanita itu, maka pertemanan kalian bisa bertahan sampai saat ini. Renatta lah orang pertama yang telah membuat pertemanan kalian hancur!"
"Sudahlah, Flo. Kamu jangan menangisi orang sepertinya. Di sini ada aku, aku akan selalu ada untukmu. Aku bisa menjadi segalanya bagimu. Kamu jangan takut." Charles semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Flora.
"Janji kamu tidak akan pernah meninggalkanku?" tanya Flora mendongakkan wajahnya. "I'm promise, Baby!" ujar Charles yakin. Sebelum mengecup bibir Flora.
Flora pun semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Charles. Ia sangat beruntung dipertemukan dengan pria ini.
"Apakah gelang itu memiliki arti untukmu? Kenapa kamu terlihat begitu senang bisa menemukan gelang itu kembali? Padahal aku bisa membelikan gelang yang lebih mewah dan cantik dari itu!"
Flora yang mengerti dengan arah pembicaraan Charles pun, menjawab pertanyaan pria itu.
"Ini sangat berharga bagiku, karena ini pemberian dari seseorang yang sangat special. Seseorang yang aku cintai!" lirih Flora.
"Apa itu dari orang tuamu?"
Flora menggelengkan kepalanya. Dan hal itu membuat rahang Charles mengeras. "Lalu dari siapa?"
"Seorang pria yang aku cintai!"
"Flora!" geram Charles.
Flora melepaskan pelukannya dari Charles. Ia menatap gelang yang ada di pergelangan tangannya.
"Aku sangat mencintai pria itu. Bahkan hampir membuatku gila karena sangat mencintainya."
Charles benar-benar sangat geram. Dia tidak suka dengan perkataan Flora. Apa maksud wanita itu dengan mengatakan jika dirinya mencintai pria lain? Sungguh, ini sangatlah konyol.
Charles menarik tangan Flora, berniat untuk melepaskan gelang tersebut karena tarikannya yang sangat keras, hal itu membuat Flora meringis kesakitan.
"Charles! Apa yang kamu lakukan?!" teriak Flora.
Darah Charles yang awalnya bergejolak tiba-tiba mendingin ketika ia melihat dengan sangat jelas, bentuk gelang yang berada di pergelangan Flora.
"I-ini?" Charles menatap wajah Flora dengan perasaan bingung.
Flora mengembuskan napasnya secara kasar. "Kamu lupa? Ini adalah gelang pemberian darimu, sebelum kamu pergi dari hotel. 16 tahun lalu."
"Dan kamu masih menyimpannya?" Charles benar-benar merasa sangat bahagia, jika selama ini Flora telah memakai barang pemberiannya.
"Tentu saja, ini menjadi barang berhargaku setelah kamu pergi. Maka di saat aku kehilangan gelang ini, aku merasa sangat sedih."
"Ya Tuhan, harus aku apakan dirimu ini, Flo?! Aku benar-benar sangat mencintaimu, saking besarnya cintaku padamu aku tidak tahu lagi harus melakukan apa." Charles menatap Flora secara intens.
Flora hanya tersenyum manis kepada Charles.
Charles yang tidak tahan dengan senyuman manis Flora pun, segera mengulum bibir ranum itu. Ia mencecap bibir itu dengan penuh cinta.
"Charles. Jangan melakukan hal lebih!" Tahan Flora ketika terlepas dari ciumannya.
"Kenapa? kita sudah menikah, Flo."
"Kemarin kamu sudah melakukannya berkali-kali Charles. Apa kamu tidak bosan?"
Charles terkekeh. "Aku tidak akan pernah bosan terhadapmu, Flo." Charles mencumbu Flora kembali. Namun lagi-lagi ditahan oleh Flora.
"Kita sedang berada di rumah orang tuamu, Charles! Kamu jangan bertingkah aneh-aneh."
"Aku tidak bertingkah aneh. Aku hanya ingin bercinta denganmu. Lihatlah, kamu pun bahkan tidak menyadari jika aku sudah berhasil melepaskan celana dalammu!"
Bersambung ....
__ADS_1