
Flora sedang fokus memainkan ponselnya. Sedangkan Anin sedang menelepon seseorang yang tidak Flora ketahui. Saat ini mereka sedang duduk di taman fakultas. Seraya menunggu jam kelas selanjutnya.
Flora tidak henti-hentinya tersenyum seraya menatap layar ponselnya. Di usia kehamilannya yang sudah menginjak 1 bulan lebih membuat aura kecantikannya terpancar dengan sangat jelas.
Selama ini ia selalu dibuat bahagia oleh Charles. Dan hal itu memang sangat berpengaruh pada kehamilannya. Flora tidak pernah merasa stres di masa awal kehamilannya ini.
"Kamu sedang melihat apa, Flo? Aku perhatikan dari tadi, kamu terus saja tersenyum?" tanya Anin yang baru saja selesai menelepon.
Flora memperlihatkan layar ponselnya kepada Anin dengan senyuman yang tidak pernah hilang.
"Ternyata kamu sedang melihat perlengkapan bayi?! Ya Tuhan, Flo, kamu sangat antusias sekali sepertinya. Padahal usia kandunganmu masih sangat muda. Kamu tenang saja, akan aku belikan peralatan bayi itu untukmu." Anin terkekeh. Seraya menatap Flora.
"Entah kenapa, belakangan ini aku suka sekali melihat peralatan baby. Rasanya sudah tidak sabar untuk membeli itu semua!" seru Flora yang masih fokus terhadap ponselnya.
"Charles pasti akan membelikan itu semua untukmu, Flo. Aku yakin akan hal itu. Mudah sekali baginya untuk membeli peralatan bayi. Bahkan dia bisa membeli tokonya sekaligus!" kekeh Anin.
Flora hanya tersenyum. Ia memang sudah tahu tentang hal itu. Charles akan melakukan apa pun untuknya.
Drritt drrrtt drrrttt
"Oh ****," umpat Anin. Seraya melihat layar ponselnya.
Flora menoleh ke arah Anin. "Ada apa?"
Anin mengembuskan napasnya secara kasar. "Jessy, terus saja menelponku. Dia menyuruhku untuk menemuinya di parkiran. Ini masalah tentang semalam saat di club, hanya karena aku berbincang dengan Raphael. Padahal sudah sangat jelas di sana tidak hanya ada kita berdua. Sepertinya dia terlalu cinta pada pria itu!" oceh Anin.
"Ya sudah, kau temui saja dia. Aku akan menunggumu di sini!"
"Baiklah, aku hanya sebentar. Kamu tunggu di sini. Jangan ke mana-mana. Aku harus meluruskan masalah ini dengannya," ucap Anin yang di angguki oleh Flora.
Anin pun segera pergi dari taman tersebut. Sedangkan Flora kembali fokus pada ponselnya.
"Hai, Sayang."
Flora terkesiap dan menoleh ke arah belakangnya. Ia terkejut melihat Rogan berdiri di belakangnya.
"K-kau? Sedang a-apa kau di sini?!" tanya Flora yang spontan berdiri dari duduknya.
"Aku ingin bertemu denganmu, Flo." Rogan menarik tangan Flora dengan sangat keras. Sehingga membuat Flora menabrak dada bidang pria itu. Setelah itu Rogan segera memeluk pinggang Flora secara erat agar semakin menempel pada tubuhnya.
"Lepaskan!" teriak Flora memberontak dalam pelukkan Rogan.
"DIAM!" bentak Rogan. Hal itu membuat Flora bungkam. Tidak terasa air matanya menetes melewati pipinya.
Rogan segera menarik tangan Flora untuk membawanya ke arah mobil yang ia parkir tidak jauh dari taman.
"K-kau akan membawaku ke mana? Aku mohon, lepaskan aku!" isak Flora. Tubuhnya sangat bergetar la benar-benar takut kepada Rogan.
Rogan pun menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke arah Flora yang sudah banjir dengan air mata. "Kita akan makan siang, Flo. Aku hanya ingin makan denganmu, kamu mau kan?"
Flora menggelengkan kepalanya. "A-aku sudah makan."
"Baiklah, kamu hanya perlu menemaniku untuk makan, okey?" pinta Rogan. Namun, lagi-lagi Flora menggelengkan kepalanya. Hal itu membuat Rogan geram. Namun, ia mencoba untuk menahannya.
Rogan memilih untuk menyeret Flora kembali ke arah mobilnya.
"Berhenti!" teriak seseorang.
Lagi-lagi Rogan harus menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke sumber suara.
__ADS_1
"Wahh... kalian mau ke mana? Sepertinya akan menjadi berita bagus, jika Charles melihat kalian sedang bermesraan seperti itu!" ucap Renatta seraya menunjukkan layar ponselnya. Flora membulatkan matanya ketika ia melihat Renatta mengambil foto dirinya yang sedang dalam pelukkan Rogan.
Flora hanya menggelengkan kepalanya. Panik. la tidak mau Charles salah paham kepadanya. Dia tidak mau Charles benci kepadanya.
"Aku dengar, kau sedang mengandung ya? Aku tidak yakin jika itu anak Charles." Renatta menatap tajam ke arah perut Flora.
Hal itu membuat alam bawah sadar Flora terdorong untuk segera menghalangi perutnya dengan kedua tangannya. Entahlah, jiwa keibuan Flora tiba-tiba muncul. Ia takut jika terjadi sesuatu kepada calon bayinya. Rogan yang mendengar Flora sedang mengandung pun tiba-tiba diam membisu.
Renatta mengikis jaraknya dengan Flora. Hal itu membuat Flora melangkah mundur untuk menghindari Renatta, tetapi niatnya gagal ketika Renatta mencekal lengan tangannya.
"Kau tahu, seharusnya aku yang mengandung anak Charles. Aku lah yang pantas menjadi ibu dari anak-anak Charles. Kau tidak pantas sama sekali, Flo. Kau tidak boleh mengandung anaknya! TIDAK BOLEH!" Renatta mendorong tubuh Flora dengan sangat kencang, hingga Flo harus terjatuh di atas rumput.
"Arrgghh..." Flora meringis merasakan sakit melanda bokongnya yang mengenai beberapa kerikil.
Renatta tersenyum miring. Lalu ia mengedarkan pandangannya. Ia mendapati sebuah kayu berukuran sedang di samping kanannya. Renatta pun melangkahkan kakinya ke arah kayu tersebut. Lalu kembali ke arah Flora.
Flora yang melihat itu pun hanya menggelengkan kepalanya dengan air mata yang terus mengalir membasahi kedua pipinya.
"Tidak. Tidak. Aku mohon, jangan lakukan itu, Re. Aku mohon!" mohon Flora seraya memegang perutnya.
"Terus saja memohon kepadaku! Tapi aku tidak akan pernah mendengar permohonanmu itu!" Renatta tersenyum miring. Seraya memainkan kayu tersebut.
"Say goodbye, kepada anak harammu itu!"
"TIDAK! Aku MOHON JANGAN LAKUKAN ITU!" jerit Flora. Ia berusaha untuk berdiri. Namun tidak bisa, karena bokongnya terasa sangat sakit. Flora hanya bisa menggeser tubuhnya untuk menjauh dari Renatta.
"KAU TIDAK BOLEH MENGANDUNG ANAK CHARLES!" bentak Renatta. Frustrasi.
"Aku tidak mau, Charles memiliki anak darimu!
"Kau tidak pantas, Flo. TIDAK PANTAS!" Renatta berniat untuk melayangkan kayu tersebut pada perut Flora.
"RENATTA!" teriak Rogan menahan tangan Renatta.
Flora membuka matanya saat mendengar teriakkan Rogan.
"Lepas! Lepaskan! Aku ingin membunuh anak haram itu! LEPASKAN!" teriak Renatta memberontak.
Namun, Rogan menggelengkan kepalanya. Ia tidak mungkin membiarkan Flora disakiti oleh Renatta.
Tubuh Flora semakin bergetar hebat, ia sangat takut saat ini. Tubuhnya sudah dipenuhi oleh keringat. Ia benar-benar shock dengan semuanya. Hal itu berakibat kepada dirinya yang tiba-tiba merasa pusing.
"Flora!" teriak Anin yang berlari ke arahnya.
"Anin," lirih Flora dengan isakan.
"Ya Tuhan, Flora. Kamu tidak apa-apa?" Anin memeluk tubuh Flora yang bergetar. Flora hanya menggelengkan kepalanya.
Anin pun membantu Flora untuk berdiri. Setelah itu Anin menatap ke arah Renatta. "kau benar-benar orang yang jahat, Re. Aku tidak menyangka jika dulu aku pernah berteman denganmu!"
"Aku seperti ini, karena ulahnya!" tunjuk Renatta kepada Flora.
"Jika dia tidak mengkhianatiku, aku tidak mungkin seperti ini!" sambung Renatta.
Flora masih setia dengan keterdiamannya. Tatapannya kosong, dengan tangannya yang bergetar seraya memegang perutnya. Bahkan ia mengabaikan perkataan Renatta.
"Flo, kenapa harus Charles? KENAPA HARUS CHARLES, HAH?! KAU tahu, aku sangat mencintainya. Aku sangat menyayanginya. Aku rela melakukan apa pun untuknya! Aku berubah menjadi orang yang lebih baik pun karenanya! Namun kenapa kau merebutnya dariku? Kenapa, Flo?! Aku tahu, dulu aku memiliki kesalahan terhadapmu. Aku akan menerima apa pun hukuman yang akan kau berikan padaku, tapi tidak dengan Charles. Jangan mengambilnya dariku Flo. Aku mohon. Aku sangat mencintainya. Aku benar-benar gila karenanya! Aku tidak rela dia bahagia dengan wanita lain. Aku tidak rela dia hidup bersama wanita lain. Dia milikku, Flo. Hanya milikku! Aku mohon, kembalikan Charles kepadaku!" Renatta tiba-tiba bersimpuh di hadapan Flora. Rogan pun telah melepaskan cengkramannya di lengan Renatta. Dan mengambil alih kayu yang berada di tangan Renatta.
"Aku mohon padamu, Flo. Kembalikan Charles padaku. Hukum aku, seberat apa pun. Tapi tidak dengan membawa Charles dariku. Dia sangat berharga bagiku, Flo. Aku ingin menikah dengannya. Aku memiliki banyak impian yang sudah aku bangun dengannya. Aku mohon, kembalikan Charles padaku!"
__ADS_1
Anin tertawa mendengar perkataan wanita itu. "Apa kau waras, Re? Flora sudah menikah dengan Charles. Dan sekarang dia sedang mengandung anak Charles. Apa kau bercanda meminta Charles kepada Flora?! Apa kau lupa, jika Charles tidak mencintaimu! Dia tidak mencintaimu, Renatta!" teriak Anin.
"Diam kau! Aku hanya ingin berbicara dengan Flora! Bukan denganmu!" bentak Renatta. Seraya menunjuk Anin.
"Flo, kau jangan dengarkan dia. Lebih baik kita segera pergi dari sini, kita harus memeriksa kandunganmu. Aku takut terjadi sesuatu dengan keponakanku!" bisik Anin. Ia merangkul tubuh Flora dan berniat untuk membawanya pergi.
Brukk!
"Argghhh ...," jerit Flora. Ketika secara tiba-tiba Renatta menarik kedua kaki Flora secara kencang.
"RENATTA!" teriak Rogan.
"FLORA!" jerit Anin melihat Flora dengan posisi yang sudah tengkurap di atas rumput.
Anin berjongkok dan mencoba untuk membantu Flora.
"Ya Tuhan!" Anin terkejut ketika membantu Flora untuk duduk, ternyata di bawah perut Flora terdapat sebuah batu yang cukup besar. Selain itu kening Flora berdarah akibat terbentur pada tanah yang terdapat banyak kerikil.
"Aarrrrghhhh... Sa-sakit... Sakitt, Nin. Sakit!" Flora menangis histeris. la merasakan sakit yang luar biasa pada perutnya.
Renatta tertawa secara lantang. Seraya berdiri. "Bagaimana rasanya, Flo?"
Keringat semakin membasahi tubuh Flora. Ia benar-benar merasa kesakitan pada perut bagian bawahnya. Flora mengalami kram perut.
"SIALAN KAU, RENATTA!" bentak Anin dengan mata yang sudah memerah.
"Da-darah! Anin! Darahh! It-ituu. I-itu!" jerit Flora panik ketika ia melihat darah segar mengalir melalui kaki jenjangnya. Suaranya bergetar. Ia tidak mau terjadi sesuatu dengan anaknya.
"Upsss... Sepertinya kau sudah kehilangan bayimu, Flo!" kekeh Renatta.
"No! No! No! Aku mohon bertahanlah Sayang. Bertahanlah untuk Mommy. Aku mohon! Aku yakin kau pasti kuat, Arrghhhhhh... SAKITTT!" teriak Flora dengan tubuh yang semakin gemetar. la benar-benar sudah tidak kuat lagi. Kepalanya pun sudah pening.
"Berengsek kau, Renatta. Berenssek!" gumam Rogan.
"Ayo, Flo. Kita harus ke rumah sakit!" Rogan berniat untuk menggendong Flora.
"STOP! JAUHKAN TANGANMU DARI FLORA!" Anin mendorong tubuh Rogan.
"Help! Help me!' teriak Anin panik kepada beberapa pria yang sedang berada di taman tersebut. Terdapat dua pria yang menghampiri Anin. "Tolong bantu aku untuk membawa wanita ini ke mobil yang berada di sana. Aku mohon!"
Kedua pria itupun mengangguk dan menggendong Flora sesuai permintaan Anin. Anin bangkit dari duduknya. Ia menatap Renatta dengan sangat tajam.
PLAK!
"BIADAB! JANGAN PERNAH MEMUNCULKAN WAJAH JALANGMU DI HADAPANKU LAGI, IBLIS!" umpat Anin dengan napas kembang kempis. Seraya menunjuk Renatta.
Renatta merasakan panas di pipinya akibat tamparan keras dari Anin. Ini pertama kalinya Anin bersikap kasar kepadanya. Renatta sungguh terkejut.
Anin meludah tepat di hadapan Renatta sebelum pergi meninggalkan dua orang itu. Anin berlari ke arah mobilnya. Dengan air mata yang sudah membasahi kedua pipinya.
Bersambung ....
Sebenarnya ini sudah bisa up kemarin, tapi entah kenapa, malas banget buat online. Oiya, tembus 300 like aku langsung up😁
...Jangan lupa mampir, masih anget masih baru😁...
...Ini juga, sekali-kali *****promosi*****....
__ADS_1