
"Saya kangen banget," ujar Nadia manja. Mereka baru memasuki rumah dan Chandra menatapnya dengan penuh cinta tanpa bisa berpaling ke arah mana pun selain Nadia. Pria itu memberikan elusan pada bibir Nadia yang membengkak dengan ibu jarinya.
"Sakit, ya?" tanya Chandra khawatir dengan keadaan Nadia yang sepertinya kewalahan karena ciuman di dalam lift tadi.
"Enggak. Lagi," pinta Nadia dengan kekehan, Chandra tertawa kecil mendengarnya. Namun, dia tetap memberi Nadia ciuman seperti yang Nadia minta. Namun, hanya sebuah kecupan ringan tepat di bibir. Saat Nadia lengah, Chandra mengangkat tubuh mungil istrinya untuk masuk ke dalam gendongannya, Chandra membawa tubuh Nadia menuju kamar mereka yang sudah lama begitu dingin tanpa kehadiran penghuninya. Tubuh kokoh Chandra tidak merasakan beban sama sekali meskipun dia harus membawa Nadia dalam gendongannya, bahkan pria itu dengan lihai membuka pintu kamar menggunakan kakinya yang panjang. Nadia mengalunkan kedua tangannya di seputar leher Chandra dan memberikan kecupan-kecupan kecil di pipi suaminya dengan mesra.
Klik!
Pintu terbuka, Nadia menendang pintu agar terbuka lebih lebar supaya mereka dapat masuk. Chandra mempercepat langkahnya menuju ranjang, dia langsung membaringkan Nadia dengan lembut di atasnya. Nadia membuka kancing kemeja suaminya dengan cepat saat mereka berdua kini berada di atas ranjang. Chandra melakukan hal yang sama, pria itu terlebih dahulu memberikan elusan lembut di seputar leher dan bagian dada Nadia yang masih tertutupi pakaian rapi sebelum melucuti semua kain yang menempel pada tubuh istrinya.
Chandra terdiam, tidak melakukan gerakan apa pun atau memberikan ciuman pada Nadia. Hal itu membuat Nadia bingung dan merasa malu karena suaminya justru berhenti dan hanya menatapnya dengan senyum tipis di bibir.
"Kenapa?" tanya Nadia lembut seraya memberikan usapan pada dahi Chandra yang tertutup rambut.
"Sebentar." Chandra mengancing kemejanya lagi dengan asal. Pria itu lalu bangkit dari tempat tidur.
"Nenek, Ayah, Ibu, Joy. Kalian sedang apa di dalam lemari?" ucap Chandra tegas, mengabsen semua anggota keluarga di tengah suasana sunyi senyap seperti ini.
__ADS_1
Nadia menaikkan sebelah alisnya bingung. "Mereka nggak ada di sini," ujar Nadia sembari meraih lengan suaminya. Nadia agak merinding karena ucapan Chandra tadi.
Chandra tersenyum kecil. "Coba kamu lihat ke kolong ranjang. Di bawah ranjang, saya juga mencium baunya Ong."
Nadia menatap ngeri pada Chandra. "Enggak, ah. Mana mungkin," elak Nadia tak percaya.
Chandra hanya bisa menghela napasnya. "Ong, keluar. Sedang apa kamu di bawah tempat tidur?" Kriett.
Nadia sangat terkejut karena pintu lemari terbuka sendiri, dan muncul ayah dan ibunya Chandra di dalam sana dengan senyum canggung dan gugup, lalu Joy menyusul bersama nenek yang sepertinya kehabisan napas bersembunyi di dalam lemari.
Ong merangkak dari bawah tempat tidur, tersenyum tidak jelas ketika berhadapan dengan jenderal dan istrinya.
"Tuh kan, apa saya bilang, Nad?" ujar Chandra dengan bangga, dia sudah membuktikan bawah instingnya sebagai seorang Jenderal dan pemimpin pasukan keamanan di Timur Tengah benar-benar membuahkan hasil. Indera pendengaran Chandra, penglihatan sampai penciumannya berfungsi dengan sangat baik.
Nadia menutup mulutnya karena masih takjub dengan kemampuan suaminya yang di luar nalar. Nadia pikir Chandra mengalami jetlag sehingga dia bisa melantur, tetapi ternyata keluarganya benar-benar ada di sini sekarang.
"Kejutan!" seru papa Nadia dengan ceria sambil memangku Nadjen si kucing kecil.
__ADS_1
Nadia masih tertawa dengan kemunculannya yang ia anggap ajaib.
Seluruh keluarga berkumpul di ruang tengah, menikmati hidangan yang sudah di pesan di restoran yang letaknya berseberangan dengan gedung apartemen.
Nadia serta Chandra duduk berdampingan dan tidak pernah melepaskan diri satu sama lain setelah mereka kembali bersama. Tampak ketiga prajurit yang hadir juga ikut menikmati makan malam itu dengan khidmat.
"Kamu ini, kenapa nggak ada kabar dulu kalau mau pulang?" ujar ayah yang sudah selesai makan.
Chandra tersenyum kecil. "Maaf, Yah, Bu, dan nenek. Saya dibebastugaskan secara mendadak. Jadi, ada baiknya saya memberikan kejutan untuk kalian semua."
"Malah jadinya kita yang kaget Nadia tiba-tiba bawa lelaki ke rumah," kata nenek yang terlihat masih jengkel dengan cucunya. Nadia hanya bisa terkekeh pelan.
"Jadi kalian itu kenapa ngumpet sih? Kenapa nggak langsung aja teriak kejutan pas aku sama Chandra masuk rumah?" tanya Nadia heran.
"Gimana mau teriak kejutan ... Kalian kan lagi ...." Joy tidak melanjutkan kalimatnya sebab ibu memberikan cubitan kecil di lengan gadis itu.
Kedua pipi Nadia bersemburat merah mendengar jawaban dari Joy. Sementara Chandra menutupi kegugupannya dengan tiba-tiba batuk yang di buat-buat.
__ADS_1
Bersambung ....
2