Suamiku Jenderal

Suamiku Jenderal
Istri dan Mantan


__ADS_3

***


Sore menjelang malam, Nadia disibukkan dengan pulpen dan sebuah buku catatan yang selalu ia bawa ke mana-mana. Ya, gadis itu selain menjalankan tugasnya sebagai istri seorang prajurit, ia juga tengah menulis lirik lagu yang masih belum tuntas meskipun ia telah dikejar deadline oleh fans yang memintanya untuk segera merilis lagu baru. Di hari libur yang sebenarnya sama saja bagi Nadia, ia cukup mendapatkan banyak inspirasi setelah Chandra mengajaknya keliling Flores dan mengunjungi pasar.


Nadia tidak hentinya tersenyum saat ingatan bersama Chandra terulang kembali di dalam pikirannya, sampai ia tidak menyadari jika seseorang tengah memperhatikannya sejak tadi.


"Selamat sore," sapa orang itu saat kedua kakinya sudah berada di teras rumah dinas Chandra.


Nadia terkejut bukan main, gadis itu bengong saat menoleh ke sumber suara yang menyapa padanya.


"Eh, selamat sore juga," balas Nadia dengan ramah dan sungkan. Nadia segera menaruh buku catatan dan pulpennya ke atas meja dan menghadap tamu wanita di hadapannya.


"Eh, ada perlu apa, ya?" tanya Nadia bingung. Nadia juga memperhatikan wanita di hadapannya mengenakan setelan dokter dengan koper kecil yang ia bawa.


Wanita itu tersenyum kecil, wajahnya cantik dan kulitnya putih mulus. Mengulurkan tangannya pada Nadia.


"Perkenalkan, saya dokter yang bertugas mulai besok. Kalau Anda memiliki keluhan kesehatan, Anda tidak perlu sungkan untuk menemui saya di puskesmas."


"Oh, dokter. Saya Nadia. Saya penduduk baru di sini, menemani suami dinas. Maaf, saya sedikit bingung karena ini pertama kalinya untuk saya."


Mereka bersalaman. "Saya Nellie."


"Silakan duduk." Nadia menggeser kursinya dan Nellie duduk di kursi tersebut, dua wanita itu pun mulai berbincang ringan tentang Flores dan asal-usul satu sama lain. Obrolan padat itu hanya berlangsung selama 10 menit. Nellie datang untuk membagikan obat malaria yang diberikan oleh pemerintah pusat untuk penduduk setempat, termasuk untuk para tentara yang bertugas di sana.


"Saya nggak menyangka bisa bertemu dengan teman sebaya di sini," ujar Nadia dengan tatapan kagumnya pada sosok Nellie, seorang dokter muda, cantik, berani lagi.

__ADS_1


Sementara Nellie pun merasakan hal yang sama terhadap Nadia, Nadia yang cantik, masih muda, dan sudah menikah.


"Ya, kapan-kapan. Kita harus mengobrol, saya punya banyak camilan di rumah saya. Kamu harus berkunjung, ya!" ujar Nellie semangat. Tidak seperti profesinya yang serius, Nellie juga ternyata enak juga diajak berbincang seperti barusan.


"Hmm, pasti! Jadi, kita temanan, ya? Ah sayangnya, di sini sinyalnya jelek, saya nggak bisa chat kamu via whatsapp atau sms," keluh Nadia polos.


Nellie tersenyum kecil. "Hmm, begitulah. Ya sudah, saya pamit. Jangan lupa ya, tuang obat malarianya ke bak mandi."


"Iya, terima kasih dokter Nellie!"


***


Nadia sedang mempersiapkan pakaian Chandra untuk dikenakan olehnya besok, ini pertama kalinya untuk Nadia melakukan hal semacam ini. Gadis itu juga menyemprotkan minyak wangi yang ia belikan khusus untuk Chandra saat berada di Bandung. Chandra memasuki kamar, ia sudah selesai dengan pekerjaannya di kantor untuk menyetel ulang kamera CCTV yang sempat tidak berfungsi.


"Eh, sudah pulang? Bagaimana CCTV-nya, sudah betul?"


Nadia tertawa kecil dan duduk di sisi suaminya. "Eh, kamu tahu, nggak? Tadi, saya ketemu dokter baru yang tugas di sini. Cantik banget, masih muda juga. Umurnya tiga puluh tahun, sih. Tapi kelihatannya masih muda banget."


Deg! Chandra tahu siapa dokter itu, sudah pasti Nadia bertemu dengan Nellie.


"Oh, iya. Hm, kamu bertemu, di mana?" tanya Chandra. Sama sekali tidak tertarik, tapi cukup khawatir juga kalau Nadia tahu siapa Nellie.


"Tadi, dia ke sini. Namanya, dokter Nellie. Dia bagi-bagikan obat malaria."


"Loh, kamu sudah siapkan pakaian saya?" Chandra mengalihkan topik pembicaraan, sambil mengambil pakaiannya yang sudah tergantung rapi di hanger.

__ADS_1


Nadia mengangguk. "Hm. Oiya, besok saya mau main ke sekolah dasar yang ada di pedesaan. Nggak apa-apa, 'kan?"


"Nanti kaki kamu lecet lagi."


"Enggak, saya mau ke sana dengan Ong. Dia yang mengajak," tolak Nadia halus.


Chandra menoleh ke arah Nadia. "Kalau kaki kamu lecet, bagaimana? Kamu, mau minta digendong sama Ong?" ucap Chandra tersendat, menahan diri agar tidak terlalu kentara bahwa ia merasa tak nyaman dengan sikap manis Ong pada Nadia.


Nadia terkekeh. "Nggak, saya nggak akan pakai sepatu itu lagi. Saya mau pakai sendal, kok.


Boleh?"


"Boleh, kalau kamu memaksa. Tapi hati-hati pulangnya. Atau, besok saya akan jemput kamu saja. Biar kamu tidak perlu jalan kaki."


"Yeay! Begitu dong, peka dari tadi," omel Nadia dengan tawa kecil.


Chandra ikut tertawa karena tebakan Nadia sangat tepat sasaran, ia mulai peka.


Chandra terus memandang Nadia saat tidak ada obrolan lagi di antara mereka berdua, membuat Nadia jadi gugup sendiri di posisinya sekarang. Nadia mau membantah tatapan Chandra pun tidak sanggup karena mereka hanya berdua, dan Nadia pun memiliki status sebagai istri sah Chandra. Sangat tidak sopan kalau Nadia memperlakukan Chandra seperti pada Vidi dulu. Ah, iya. Kenapa ya Nadia tidak mengingat Vidi lagi? Bahkan Nadia sudah melupakan cowok itu, kepo tentang kabarnya pun tidak. Namun, Nadia bersyukur dan tanpa sadar tersenyum tipis mengingat seberapa jauh kemajuan move on dirinya atas penghinaan Vidi.


Bagi Chandra, setiap wanita itu cantik. Namun, bukan berarti Nadia sama sekali tidak istimewa karena Chandra menganggap semua wanita sama cantiknya. Untuk Nadia, Chandra mengkhususkannya. Nadia memiliki tempat tersendiri untuk saat ini bagi Chandra. Entah itu senyumnya yang menular, tawanya yang terdengar lepas dan bahagia, atau ekspresi sedihnya yang membuat Chandra kebingungan.


Malam ini, Nadia terlihat memesona. Tidak, bukan hanya malam ini. Tapi malammalam sebelumnya, malam pertama mereka diresmikan sebagai pengantin baru pun demikian. Atau malam saat pertama kali Nadia tidur di sisinya meski menyebut nama lelaki lain di tengahtengah mimpi.


Chandra tersenyum tipis, namun hal itu cukup untuk meluluhkan Nadia yang kini tidak melepaskan pandangannya dari kedua bola mata onyx hitam milik Chandra. Chandra merapatkan tubuhnya ke arah Nadia, membuat Nadia mundur atas tindakan tanpa aba-aba pria itu. "Mau, ngapain?" tanya Nadia gugup, sehingga Chandra terdiam seketika.

__ADS_1


"Saya, mau ... kamu."


__ADS_2