Suamiku Jenderal

Suamiku Jenderal
BAB 47


__ADS_3

Suasana ruang tengah malam itu diramaikan dengan suara televisi yang sama sekali tidak ditonton. Setelah tayangan berita usai, Chandra kembali fokus pada majalah fashion yang sepertinya sudah dibaca oleh Nadia. Sementara itu, Nadia baru saja selesai menikmati makan malam berupa bubur dan sayur bayam yang rasanya lumayan enak.


Nadia duduk di samping Chandra, dan tanpa malu gadis itu bergabung untuk melihat lembaran majalah yang sedang dibuka oleh suaminya. Dalam majalah itu terdapat foto Nadia yang dibuat ulasan fashion.


"Saya suka foto kamu yang ada di sini," komentar Chandra sembari menunjuk foto Nadia yang ada di majalah. Nadia tersenyum sangat lebar, rasa lelah dan demam pada tubuhnya sudah hilang sejak gadis itu tidur cukup nyenyak tadi sore.


"Hm. Jadi, yang di sini nggak suka?" tanya Nadia dengan nada bercanda. Chandra tertawa kecil, lalu pria itu memasang tampang berpikir.


"Kenapa saya merasa kamu menjadi lebih kurus dibandingkan waktu itu?" tanya Chandra serius.


Nadia menghela napasnya. "Berat badan saya emang turun, sih. Hehe, tapi itu juga bukan karena saya diet. Kenapa? Kelihatan banget, ya?"


Chandra mengangguk. "Iya, ada sesuatu yang mengganggu pikiran kamu, ya?"


Nadia menunduk lalu memaksakan senyumnya. "Hm, ada."


Chandra merangkul tubuh Nadia dengan erat, sehingga tubuh Nadia menjadi lebih condong ke arah suaminya itu. "Saya, berencana untuk keluar dari agensi. Namun, bukan karena saya menikah dengan kamu kok," ujar Nadia dengan wajah tak enak.

__ADS_1


"Kamu tahu 'kan. Sekarang saya juga sudah tergabung dengan persit, dan lagi pekerjaan saya sebagai seleb yang terikat kontrak dengan beberapa perusahaan. Membuat saya tidak bisa mengimbangi dua hal tersebut. Saya mau fokus aja sama bersama kamu, ikut ke mana pun kamu pergi."


"Apakah kamu tidak menyesal kalau kelak kamu keluar dari agensi dan mungkin karir kamu juga terhambat?"


Nadia menggigit bibir bawahnya. Sejujurnya dia sudah muak dengan rutinitasnya sebagai artis. Meskipun penghasilannya sangat besar dan ia juga dapat menyalurkan bakatnya, tapi tetap saja ia merasa ada kehampaan ketika menjalani semua ini.


"Tapi Chan, kamu juga nggak keberatan 'kan kalau saya masih menjadi penyanyi?"


Chandra mengusap puncak kepala istrinya itu dengan lembut. "Saya baik-baik saja dengan itu, Nad. Kamu sudah menjadi publik figur bahkan sebelum kita saling mengenal. Jadi, kenapa saya harus keberatan ketika saya sudah tahu risikonya?"


Memang benar, menjadi penyanyi adalah mimpinya sejak kecil. Mendiang mama Nadia adalah seorang penyanyi terkenal pada masanya, dan bakat itu ternyata turun kepada putri satu-satunya, Nadia.


"Chan, kamu, pernah pacaran nggak, sih?"


Chandra terdiam, ekspresi wajahnya sedikit berubah membuat Nadia dapat menebak gelagat tersebut. Chandra jadi ingat apa kata Ong, kalau Nadia tanya maka dia harus jawab dengan jujur.


"Hm, pernah satu kali," jawab Chandra kaku dan khawatir.

__ADS_1


Nadia terkikik, merasa lucu dengan pertanyaannya barusan, tetapi entah mengapa Nadia pun amat penasaran ingin bertanya hal demikian di tengah obrolan mereka yang tidak menjurus ke arah tersebut.


"Ah, iya sih. Kenapa saya nggak pernah mikir ke sana, ya. Sebenarnya, saya nggak perlu tanya ini," ucap Nadia dengan pipi memerah.


Chandra tersenyum menanggapi itu. "Kamu mengira saya tidak pernah pacaran, ya?"


Nadia mengangguk. "Hm, dan saya nggak bisa bayangin gimana sikap kamu sama pacar kamu."


Tawa kecil Chandra terdengar menggemaskan, dan itu membuat Nadia merasa tidak rela jika suaminya sempat menjalin kasih bersama wanita lain sebelumnya. Apa mungkin ya, Chandra selalu bersikap manis dan perhatian pada pacarnya dulu, atau mungkin Chandra juga memperlakukan pacarnya dengan begitu baik, mengingat sikap Chandra sekarang pun sangat sulit ditebak dan penuh dengan kejutan yang membuat Nadia berdebar-debar dibuatnya.


"Hm, saya orang yang selalu pengertian kepada siapa pun, itu kata orang-orang yang mengenal saya."


Nadia cemberut. "Jangan begitu dong kalau sekarang. 'Kan kamu sudah punya saya!" tekan Nadia sambil merangkul lengan suaminya.


"Wah, kayaknya mantan kamu susah move on ya," ejek Nadia cuek, dan Chandra tidak menanggapi lagi ucapan gadis itu karena pria itu merasakan kantuk yang mulai menyerang dirinya.


BERSAMBUNG ....

__ADS_1


__ADS_2