
Renatta tersenyum menatap Charles yang duduk di hadapannya. Mereka baru saja sampai di salah satu restaurant Italia. Dia merasa sangat bahagia karena pria itu tidak menolak permintaannya untuk makan siang bersama. Tidak seperti Charles biasanya yang selalu menolak dengan alasan sibuk.
"Kau mau pesan apa, Re?" tanya Charles yang sedang melihat daftar menu.
"Oh, aku pesan-samakan saja dengan pesananmu Charles." Renatta tersenyum manis yang tentu saja tidak terlihat oleh Charles, karena pria itu tidak sedetik pun menatap Renatta.
"Baiklah." Charles mengangguk.
Charles memesan beberapa makanan untuknya dan Renatta.
Setelah merasa pesanannya sudah benar, pelayan itupun pergi.
"Charles, kau tahu. Aku senang sekali akhirnya kita bisa makan siang bersama," kata Renatta dengan mata berbinar.
"Benarkah? Akupun sama." Charles menatap Renatta sekilas sebelum fokus kembali pada ponselnya.
"Charles, simpan ponselmu! Biasakan untuk tidak mengurusi pekerjaan di saat kita sedang berdua seperti ini." Renatta meraih ponsel Charles untuk dimasukkan ke dalam tas. Charles ingin protes, tetapi tertahan ketika seorang pelayan datang membawa beberapa pesanannya.
Pelayan itu menyajikan satu persatu pesanan Charles, walaupun belum semuanya datang.
"Bisakah kau membawakan aku tissue?" pinta Renatta kepada pelayan.
"Tentu, akan saya ambilkan." Pelayan itupun pergi.
Charles menatap Renatta dengan dingin. "Cepat kembalikan ponselku."
Renatta tersenyum nakal. "Tapi kau janji tidak memainkannya lagi?"
Charles menghela napasnya sebelum menganggukkan kepalanya.
"Kiss me." Renatta menempatkan satu jari di bibirnya, mengisyaratkan Charles agar menciumnya.
"Apa kau gila? Ini tempat umum!"
"Kau sudah lama tidak pernah menciumku Charles, apa salahnya jika ini tempat umum? Cepat. Jika kau ingin ponselmu kembali, tapi kalau tid—"
Charles secara singkat mencium bibir Renatta, itu hanya sebuah kecupan. Dan tentu saja Renatta tidak puas, Renatta menahan tengkuk Charles dan ******* bibir seksi pria itu dengan penuh gairah.
Charles mencoba memberontak, tetapi Renatta semakin liar mencium bibirnya.
"Ekhm, maaf ini tissuenya."
Charles mendorong tubuh Renatta secara kasar, hingga pagutan mereka terlepas. Renatta terlihat sangat bahagia. Sedangkan Charles menundukkan kepalanya dan berdeham karena salah tingkah.
"Thanks—" ucapan Renatta terpotong ketika ia akan membawa tissue yang dipegang oleh seorang pelayan wanita.
"Flora!" Renatta terkejut, hal itu sontak membuat Charles yang sedang tertunduk segera mendongakkan wajahnya.
Mata Charles melebar, bodohnya dia selama ini tidak mengetahui di mana tempat Flora bekerja.
"Kau ini, bermesraan tidak tahu tempat," kekeh Flora. Menyimpan tissue di atas meja.
Renatta tersenyum malu.
__ADS_1
"Ternyata kau bekerja di sini, Flo?! Bodoh sekali aku yang tidak tahu tempat kerja temannya sendiri," kata Renatta menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Flora hanya tersenyum, ia menatap Charles sekilas. "Karena kau tidak perhatian padaku," balas Flora.
"Ya sudah, aku harus kembali bekerja. Dan, jangan lupa bersihkan sisa lipstikmu di bibirnya," goda Flora sebelum pergi meninggalkan Charles dan Renatta.
Renatta terlihat salah tingkah karena tertangkap basah oleh temannya sendiri. Ia bergegas membersihkan bibir Charles yang terdapat sisa lipstik merah miliknya menggunakan tissue.
***
Flora baru saja keluar dari lift bersama Glen. Pria itu sengaja mengantar Flora pulang, karena Thomas yang secara mendadak tidak bisa menjemput Flora, sebab dia diperintahkan oleh Charles untuk mengantar Marline ke acara pertemuan dengan teman-temannya.
Awalnya Flora menolak tawaran Glen untuk mengantarnya pulang, tetapi Glen memaksa Flora dengan alasan dia takut dimarahi oleh Anin jika terjadi sesuatu kepada Flora. Jujur, itu sangat berlebihan menurut Flora.
"Kau benar tidak memiliki kekasih?" tanya Glen meyakinkan, yang lagi-lagi diangguki oleh Flora.
"Oh my god, mana mungkin wanita sepertimu tidak memiliki kekasih." Glen menggelengkan kepalanya tidak percaya.
"Lalu kenapa denganmu? Bukankah kau juga tidak memiliki kekasih?" tanya Flora balik.
"Setidaknya saat ini aku sedang menyukai seseorang," jawab Glen terkekeh.
"Beruntung sekali wanita yang kau sukai, kau pria yang baik Glen." Flora menepuk lengan kiri Glen.
"Ya, kau memang seharusnya beruntung," kata Glen seraya terkekeh.
Flora mengangkat kedua alisnya bingung dengan ucapan Glen, tetapi semua itu buyar ketika Glen tertawa lantang melihat ekspresi terkejut Flora.
"Kau sangat menggemaskan sekali, Flo." Glen mengacak rambut Flora yang membuat wanita itu sedikit kesal.
Flora dan Glen pun mengalihkan pandangannya kepada sumber suara tersebut. Mereka melihat Charles sedang berdiri di depan pintu apartment Flora yang sudah terbuka.
"Wow, siapa yang kulihat saat ini. Charles Alamo. Apa kabar?" sapa Glen melangkahkan kakinya, memeluk Charles ala pria.
Flora hanya terbengong melihat Glen yang terlihat akrab dengan Charles, walaupun ia bisa melihat sikap Charles yang dingin kepada Glen.
"Sedang apa kau ke sini?" tanya Charles sinis kepada Glen.
"Aku mengantarnya pulang." Glen merangkul tubuh Flora yang membuat Charles geram.
Charles menarik tangan Flora dengan sangat kencang sehingga membuat gadis itu berada di pelukannya.
"Kau sudah mengantarnya kan? Sekarang pergilah dari sini." Charles mengusir Glen dengan wajah datarnya.
"Flo, bukankah Charles itu tunangannya temanmu, ya?" tanya Glen kepada Flora yang sontak membuat gadis itu membulatkan matanya.
"Kau terlalu banyak bicara, Glen." Charles menarik tangan Flora untuk masuk ke apartment-nya, meninggalkan Glen yang masih diam mematung di depan pintu apartment Flora.
Charles menutup pintu dengan sangat kencang hingga menimbulkan suara yang nyaring.
"Charles!" teriak Flora.
Sedangkan Charles menatap Flora dengan sangat tajam. Yang membuat Flora bergidik melihat ekspresi pria itu.
__ADS_1
"Kau berani membawa pria lain ke apartmentmu? Apa ini alasan kenapa kau ingin pergi dari penthouseku, karena kau ingin bebas membawa pria lain, hah?" tanya Charles dengan suara mengintimidasi.
"Dia hanya mengantarku, dan akupun tidak berniat untuk membawanya masuk ke apartmentku."
"Kenapa juga kau ada di sini? Lebih baik kau jangan terlalu sering ke sini, Charles!" lanjut Flora.
"Aku tidak suka kau dekat dengan pria manapun!"
Flora hanya menggelengkan kepalanya dan melangkahkan kakinya menuju sofa. Flora menghempaskan tubuhnya, ia sangat lelah sekali akibat pekerjaannya ditambah dengan sikap Charles yang selalu berlebihan kepadanya.
Charles menghampiri Flora, duduk di samping wanita itu. Charles menarik tubuh Flora agar duduk di pangkuannya. Flora tidak protes, ia benar-benar tidak berminat untuk berdebat dengan Charles saat ini.
Charles memeluk tubuh Flora, diusapnya punggung dan rambut wanita itu. Sedangkan Flora membenamkan kepalanya pada ceruk leher Charles, rasanya teramat tenang saat ia menghirup aroma tubuh pria ini.
"Kau kenal Glen?" tanya Flora dengan lirih.
"Dia teman kuliahku dulu," jawab Charles yang sambil terus-menerus mengecup bahu Flora.
Flora hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Pantas saja ia melihat Glen sangat akrab dengan Charles.
"Berhentilah bekerja, semua kebutuhanmu akan aku tanggung."
"Aku tidak bisa," sahut Flora.
"Jika kau ingin terus bekerja, maka tinggallah bersamaku kembali di penthouse," tawar Charles.
Flora menjauhkan wajahnya dari leher Charles untuk menatap wajah pria itu.
"Kau selalu mengaturku Charles, aku bekerja seperti ini karena kau yang telah mencabut beasiswaku!" sentak Flora.
"Aku akan mengembalikan beasiswamu, yang penting aku tidak ingin melihat kau bekerja lagi. Mengerti?"
"Bahagiakan Renatta, aku percayakan dia kepadamu. Dan jauhi aku Charles," alih Flora lalu menatap sendu pria di hadapannya.
Charles terdiam, lelaki itu hanya menatap Flora dengan kilatan mata yang sangat menusuk.
Flora mendorong tubuh Charles, lalu beranjak dari pangkuan Charles untuk pergi ke kamarnya. Ketika Flora melangkahkan kakinya menuju kamar, tiba-tiba Charles mengucapkan sesuatu yang membuat Flora memberhentikan langkahnya.
"Kai masih saja peduli kepadanya, setelah apa yang dia lakukan kepadamu?" kata Charles, dia pun tersenyum miring.
Flora membalikkan tubuhnya untuk menatap Charles. "Apa maksudmu? Dia temanku, tentu saja aku peduli padanya."
"Tapi apakah dia menganggapmu sebagai temannya?" tanya Charles yang membuat Flora semakin bingung.
"Kau terlalu baik Flora, begitu mudahnya kau menerima seorang pengkhianat sepertinya!" lanjut Charles menatap Flora secara datar.
Tiba-tiba tubuh Flora menegang, apa maksud dari perkataan Charles. Flora merasa gelisah dan perasaan itu semakin menjadi ketika Charles mengatakan sesuatu.
"Dia itu jal**g! Perempuan itu bercinta dengan kekasihmu yang akan bertunangan denganmu! Dan kau begitu mudahnya memaafk—"
"Stop!" potong Flora berteriak, lalu menutup kedua telinganya dengan kedua tangan. Tubuh gadis itu bergetar hebat, mata dan telinganya mulai terasa panas karena ucapan Charles.
Bersambung ....
__ADS_1
Sebentar lagi bom waktu akan meledak ....
Sukses, hari ini bisa up tiga kali, terima kasih untuk yang udah baca. Besok jadwalnya up cuma satu kali. See you again.