
"Skandal kekerasan terhadap pers?!" Chandra mengerutkan dahinya saat dia menerima telepon dari pusat komisioner kedisiplinan TNI. Chandra tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh komisaris disipliner siang itu, tetapi setelah dia bertanya lebih lanjut pihak pusat menjelaskan akar masalahnya.
"Pak, Anda terlibat kasus kekerasan yang kini sudah muncul ke media. Seorang wartawan mengaku telah menerima perlakuan kekerasan dari Anda, wartawan tersebut juga memberikan bukti pada media berupa pengrusakan kamera dan cedera yang dialaminya akibat perbuatan Anda."
"Tapi, saya sama sekali tidak melakukan hal-hal tersebut," bantah Chandra tegas. Pria itu mencengkeram gagang telepon dan cukup kuat karena rasa terkejut dan marah.
"Pengakuan Anda akan kami tampung, untuk sementara membersihkan nama instansi TNI yang menjadi prioritas kami. Stereotip masyarakat terhadap anggota TNI sudah cukup buruk, skandal yang menimpa Anda saat ini menambah opini negatif masyarakat terhadap instansi."
Chandra mendesah pelan, bagaimana mungkin di saat seperti ini sebuah masalah besar menimpa dirinya lewat pekerjaan yang amat dia cintai ini.
"Lalu? Apa yang harus saya lakukan? Saya akan meminta maaf pada yang bersangkutan apabila itu bisa memperbaiki keadaan."
"Pusat menunggu kehadiran Anda paling lambat sore ini. Anda juga berhak menerima skorsing selama beberapa bulan di luar wilayah tugas Anda."
Chandra mengusap wajahnya, dia tertunduk dalam-dalam di tempatnya duduk yang menghadap sebuah telepon.
"Saya bersedia melakukan tugas-tugas tersebut, tetapi saya meminta penjagaan ketat untuk keselamatan istri saya dan keluarga dari media. Saya tidak mau satu wartawan pun mengganggu psikis istri saya," jawab Chandra tegas. Dia sudah tahu dampaknya pasti akan lebih menyulitkan Nadia serta keluarga yang ada di Bandung. Media massa pasti lebih tertarik pada Nadia untuk dimintai keterangan, sedangkan mengingat keadaan mental Nadia yang masih belum stabil membuat Chandra tidak tega jika harus melimpahkan semuanya pada Nadia. Chandra sudah berjanji, bahwa dia akan menjaga Nadia dan melindungi istrinya dari hal buruk apa pun bentuknya.
***
Sore hari yang tidak seperti biasanya, Nadia menutupi hari itu dengan tangis kecil di wajahnya yang cantik. Chandra sudah mengemas barang-barang istrinya yang sepertinya akan dibutuhkan di Bandung nanti. Nadia juga tidak mengerti, mengapa ia harus segera pulang ke Bandung tanpa suaminya. Baru kali ini, Nadia merasa tidak ingin kembali ke rumah meskipun di sana tempatnya ia dibesarkan sejak kecil hingga dewasa.
Ardi sudah datang untuk menjemput sejak tiga puluh menit yang lalu, sementara Nadia masih memperlambat pergerakannya untuk pergi meninggalkan Flores. Chandra menghampirinya. Saat Nadia justru masih melamun di dalam kamar.
"Ayo, Ardi sudah menunggu."
Nadia mendongak, air mata kembali turun membasahi pipinya. Chandra langsung menyeka dengan kedua ibu jarinya.
"Kenapa kamu nggak bisa antar saya?"
Chandra berdehem, dia pun menahan diri untuk tidak menangis. "Em, ada pekerjaan yang harus saya kerjakan di sini."
"Sebentar aja. Nggak bisa?" tekan Nadia lagi dengan nada memaksa.
Pria itu mengangguk kecil. "Maaf, tidak bisa. Tapi saya janji, saya akan menemui kamu lagi. Nanti, kalau kondisinya sudah kondusif."
"Apa yang sebenarnya terjadi? Saya nggak ngerti. Saya nggak mau pulang, kalau bukan kamu yang antar saya ke bandara!"
"Nad ...."
__ADS_1
"Chandra ...," rengek Nadia dengan wajah sedih dan bingung. Chandra malah terkekeh, menyembunyikan kegelisahannya ternyata sulit sekali, apalagi di hadapan Nadia yang sepertinya sudah mencium hal yang tidak beres sejak kepulangannya yang mendadak.
"Ibu saya sedang sakit, dan saya juga mendapat perintah langsung dari pusat untuk hal yang sangat mendesak."
"Perintah apa?"
"Memastikan keselamatan kamu sebagai salah satu aset negara yang harus saya lindungi," jawab Chandra dengan nada bercanda, Nadia tersenyum kecil.
"Nggak lucu!"
"Chan, kamu nggak akan pergi ke mana-mana, 'kan? Kamu stay di sini sampai saya
balik lagi?"
"Iya, saya masih di sini."
"Kenapa perasaan saya nggak enak," gumam Nadia tak semangat.
Chandra membelai pipi Nadia untuk ke sekian kalinya hari itu. "Itu hanya perasaan ...."
Nadia memeluk suaminya, menaruh kepalanya pada pundak Chandra yang tegap dan mulai merasakan kenyamanan luar biasa yang tidak mau ia hentikan.
"Saya belum masak buat kamu." Nadia masih enggan untuk masuk ke dalam mobil.
"Iya, tidak apa-apa," balas Chandra. Dia menjatuhkan elusan di samping wajah Nadia.
"Nugget sama sosis masih ada di freezer, terus ...." Nadia tidak dapat melanjutkan kalimatnya. Chandra justru memotongnya dengan lembut.
"Sayang ... Ardi sudah menunggu. Nanti saya bisa menghubungi kamu lewat telepon kalau ada yang mau saya tanyakan, ya?"
"Saya pasti kangen banget sama kamu." Nadia kembali menjatuhkan pelukan ke tubuh jangkung suaminya. Chandra terkekeh kecil, tanpa sadar Chandra juga ikut menitikkan air mata.
"Saya juga. Pasti bulu mata kamu rontok gara-gara rasa kangen saya," timpal Chandra gemas.
***
Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk tiba di Bandung. Hanya dengan dua jam perjalanan udara Nadia kini telah sampai bandara. Nadia sangat terkesan dengan kehadiran sepuluh orang anggota TNI yang berpakaian rapi menjemputnya di sana, wartawan bahkan tidak bisa mendekat akibat penjagaan yang ketat, tetapi Nadia masih bisa menerima kilatan kamera yang menerpa wajahnya.
Nadia tersenyum kecil ke arah kamera dan sedikit melambaikan tangannya dengan ramah, tanpa tahu jika seantero jagat hiburan kini tengah mencemooh suaminya yang dituduh melakukan kekerasan terhadap pers.
__ADS_1
"Bu, Anda akan langsung kami antarkan menuju rumah sakit."
"Iya, terima kasih." Nadia menjawab salah satu pertanyaan anggota TNI yang menyambutnya. Nadia juga belum menghubungi Liza atas kepulangannya yang mendadak, tetapi ia yakin kalau Liza pasti tidak akan merespons buruk lagi padanya sebab Liza sudah tahu bagaimana sikap lembut Chandra yang diluar dugaannya.
Mobil dinas alphard berpelat hijau army membawa Nadia menuju ruang sakit khusus keluarga TNI, di sana juga ia disambut bak orang penting. Lagi-lagi Nadia merasa tersanjung, andai saja Chandra ada di sampingnya pasti Nadia akan merasa amat terharu karena bisa berdampingan dengan suaminya di hadapan orang banyak seperti ini. Nadia kadang ingin memamerkan kemesraannya dengan Chandra pada semua orang, tetapi ia tetap harus membatasi dirinya karena Chandra bukanlah seorang TNI berpangkat biasa saja, melainkan jenderal bintang tiga yang masih sangat muda dan tampan.
Ibu menyambut Nadia dengan senyum dipaksakan, wanita separuh baya itu tampaknya tidak begitu senang dengan kehadiran menantunya ada di sini sekarang. Nadia mendekat ke arah ibu mertuanya, lalu merangkul ibu untuk saling berpelukan.
Ayah dan Joy yang ada di sana tidak banyak berkomentar atas kehadiran Nadia di sana.
"Bu, kenapa bisa sakit?" tanya Nadia dengan suara serak. Wajah Nadia yang sembab membuat ibu merasa bersalah juga pada akhirnya, mungkin awalnya ibu jengkel dengan berita yang ada di TV, tetapi saat melihat Nadia yang tampak rapuh justru ibu tidak tega. "Asma, kambuh," jawab ibu pelan. "Sekarang sudah baikan?"
Ibu mengangguk kecil.
Nadia mengarahkan tatapannya ke arah ayah dan Joy yang ada dalam ruangan itu. Nadia tersenyum cerah pada iparnya dan menyapa ayah dengan anggukan kecil.
"Nadia pulang dulu ke sini, Chandra yang minta. Chandra nggak bisa pulang karena masa cutinya sudah habis. Ibu nggak papa kalau sementara waktu Nadia aja yang rawat?"
"Iya, padahal kamu nggak perlu repot-repot pulang ke sini. Kasihan, Chandra sendirian di sana."
Nadia terdiam, sebenarnya ia tidak mau meninggalkan suaminya tugas sendiri, tetapi Chandra bersikeras untuk membuat Nadia pergi.
"Chandra maksa. Nadia nggak bisa nolak," jawab Nadia dengan kekehan kecil.
Lalu ruangan rawat itu kembali hening.
Tampak Joy dan ayah beradu pandang, seperti berusaha untuk mengobrol lewat tatapan mereka. Dari gelagatnya, Joy dan ayah mengira bahwa Nadia belum melihat berita sama sekali sejak pagi.
"Nad ...."
"Iya, Bu?"
Ibu tersenyum kecil. "Kamu itu ...." Ibu menjeda kalimatnya, sementara Nadia masih menunggu ucapan mertuanya dengan sabar.
"Kenapa?"
"Kamu pulang saja dulu ke rumah. Kamu pasti capek karena perjalanan jauh, biar Joy temani kamu pulang. Ibu sama ayah dulu."
Karena ibu meminta Nadia untuk pulang lebih dulu, maka Nadia menuruti hal tersebut. Nadia juga tidak mau berdebat atau memaksakan kehendaknya saat ini, lagi pula ada baiknya kalau Nadia pulang dan merapikan dirinya yang agak berantakan. Nadia pun mengirimkan pesan singkat pada Chandra yang mungkin belum pria itu terima karena signal yang buruk di Flores.
__ADS_1
***
Semoga besok bisa main NT, biar bisa up Jenderal juga.