
Vidi memasuki kamar Nadia malam itu, lelaki dengan wajah tampan dan senyum manis tampak menyembunyikan sesuatu di dalam saku celananya, Nadia sendiri berada di dalam kamar tengah memetik gitar, memainkan melodi sebelum tidur untuk mempersiapkan lagu baru yang akan segera dirilis tahun ini.
Karena posisi Nadia membelakangi pintu, dia tidak menyadari Vidi yang kini mendekat ke arahnya. Nadia menyadari kehadiran Vidi saat kekasihnya memeluknya dari belakang. Lingkaran tangannya agak longgar membungkus tubuh Nadia, namun cukup untuk membuat Nadia tersenyum karena merasa nyaman.
"Kirain sudah tidur," ucap Vidi dengan lembut.
Nadia mengedikkan bahunya, Vidi pun melepaskan pelukan itu dan beralih ke sisi tubuh Nadia.
"Kenapa malam-malam ke sini?" tanya Nadia heran. Biasanya Vidi cepat tertidur tapi justru kini sudah menjelang tengah malam lelaki itu masih terlihat segar.
"Nggak bisa tidur, hehe," jawab Vidi.
"Tumben, biasanya kalau libur gini, kamu pakai buat tidur dari pagi ke pagi," ejek Nadia dengan nada mencibir.
Vidi terkekeh, senyumnya semakin lama semakin lebar. Meski kadang sikap Vidi tak jelas tapi tetap saja sering kali Vidi itu menggemaskan dan polos. Membuat Nadia tidak menyangka, bahwa laki-laki sebaik Vidi pernah mencoba dan kini kecanduan obat-obatan terlarang.
"Kita, baik-baik saja 'kan Nad?" tanya Vidi pelan. Nadia menoleh, wajah polos Vidi berubah serius saat ini.
Nadia menyingkirkan gitar dari atas pangkuannya saat Vidi mulai bicara serius padanya.
"Setelah kamu tahu, aku pakai narkoba, kita baik-baik saja, 'kan?"
Nadia menghela napasnya, mengingat itu membuat Nadia kembali ingin menangis, marah, kesal dan tentu merasa sangat dikhianati.
"Aku janji! Aku akan berhenti! Demi Tuhan aku bakal berhenti!" ucap Vidi memohon, wajahnya sangat meyakinkan dan Nadia pun membalasnya dengan senyum kecil, pertanda bahwa ia memberikan setitik kesempatan pada lelaki ini.
"Hm, kita baik-baik saja. Selama kamu tepati janji kamu untuk berhenti dan nggak pakai barang haram itu lagi."
Vidi tersenyum, tatapan harunya pada Nadia membuat Nadia lega. Mata indah Vidi yang diwariskan oleh ibunya yang berdarah Jepang begitu terlihat tulus.
"Aku akan berusaha untuk berhenti! Aku janji!" ucap Vidi menegaskan.
Vidi kemudian tergesa mengeluarkan cincin dari saku celananya yang semula ia sembunyikan, dia masih berada di sisi Nadia. Nadia tidak bisa menyembunyikan rasa gugupnya saat Vidi menaruh cincin itu di telapak tangannya.
"Marry me then! I will never make you sad or cry anymore! And I will never be stupid again to do those crazy things," ujar Vidi saat matanya bertemu dengan kedua mata Nadia.
Nadia mengambil cincin cantik itu dan tersenyum dengan kedua mata berkaca-kaca.
"Yes, i will," gumam Nadia, lalu Vidi meraih tubuhnya ke dalam pelukan.
Dalam pelukan itu, Nadia menyerahkan sisa hidupnya untuk mempercayai Vidi, meyakinkan pada takdir bahwa Vidi adalah yang Tuhan berikan padanya.
***
Chandra tersenyum lebar ketika ia baru saja menyelesaikan berkas administrasi untuk pemindahan tugasnya ke wilayah republik Indonesia. Seminggu lagi tugasnya di jalur Gaza akan selesai, lalu setelah itu pesta pernikahan antara dirinya dan Nellie yang sudah disambut keluarga akan segera terealisasi. Meski harus menunggu satu tahap lagi, tetapi Chandra cukup bahagia ia bisa menyelesaikan tugas tepat di usianya yang menginjak 30 tahun. Karir dan asmara rasanya sangat seimbang untuk Chandra.
Saat sedang berada di kantor, Nellie datang menemui calon suaminya itu. Membawa koper kecil yang berisi alat-alat dokternya yang tidak pernah ia tinggalkan ke mana pun. Chandra yang mendapat kabar atas kedatangan Nellie segera menghampiri gadis itu dengan tak sabaran.
"Saya sudah menyelesaikan berkas-berkas untuk mutasi pekerjaan. Kamu sendiri, bagaimana? Mau saya bantu untuk menyelesaikannya?" tanya Chandra dengan ceria, dia sangat bahagia dan wajahnya tampak semakin tampan saja saat ini.
Nellie memaksakan senyumnya, dan menatap Chandra dengan raut wajah sedih.
"Kenapa?" tanya Chandra heran, tidak biasanya Nellie menjadi pendiam begini.
"Saya tidak bisa menyelesaikannya minggu-minggu ini," ujar Nellie dengan wajahnya yang amat lemah.
Senyum Chandra memudar. "Kalau begitu 2 minggu lagi bagaimana? Orang tua saya sudah setuju untuk melangsungkan resepsi di kota kelahiran kamu. Jadi, tidak masalah kalau saya dan keluarga harus mengundur hari lamaran, kami juga bisa sekalian berlibur di tempat kamu di besarkan." .
"2 minggu lagi tidak bisa juga," ucap Nellie lagi dengan wajah memerah padam.
__ADS_1
Chandra terdiam, setelah senyumnya memudar, tampangnya berubah menjadi kaku saat ini. "Ah, jadi tugas kamu selesai dalam 1 bulan ya. Kalau begitu, saya bisa batalkan kepulangan saya. Kita kembali ke Indonesia bersama."
Nellie menelan ludahnya susah payah, dia menarik napasnya dalam-dalam. "Saya, tidak bisa menikah dengan kamu."
Deg!
Chandra menatap pada Nellie yang tertunduk, pria itu mendesah pelan sebelum akhirnya tertawa kecil. "Kamu, bergurau, ya?"
Nellie menggeleng cepat, tangisnya tidak bisa ditahan, dan membuat Chandra semakin bingung di tempatnya duduk. Ketika jantung Chandra berdetak karena jatuh cinta dan bahagia, kini justru berdebar karena terlalu marah dan terkejut.
"Saya tidak bisa menikah dengan kamu. Itu saja. Saya, saya tidak akan pulang." tekan Nellie dengan tegas.
Chandra meraih bahunya dan mencengkeramnya kuat, pria itu tidak pernah semarah ini dalam hidupnya. Tidak peduli jika Nellie mungkin ketakutan karena perbuatannya ini. "Apa alasannya? Apa kamu gila? Bagaimana dengan keluarga saya yang sudah menunggu kedatangan kamu?! Bagaimana pula dengan rekan kerja kita yang sudah tahu bahwa kita akan menikah?! Apa yang kamu pikirkan sampai membuat keputusan seperti ini?!"
Nellie menepis tangan Chandra dari tubuhnya, meski susah payah karena tenaga pria itu sangat kuat. Chandra tampak meneteskan air mata dengan rahangnya yang mengencang kuat, menahan marah yang sebenarnya tidak pernah ia lakukan meski dalam keadaan tertekan sekalipun.
"Saya memang gila. Maafkan saya, saya benar-benar tidak bisa menikah dengan kamu. Menjadi istri seorang perwira membuat bahu saya terasa semakin berat."
Chandra membiarkan air mata itu turun di wajahnya. Meski sangat malu, dan orangorang mencuri-curi pandang ke arahnya dan Nellie.
"Mengapa kamu menyalahkan pekerjaan hanya untuk menolak saya. Semestinya, kamu tolak saya dengan alasan lain. Agar saya tidak merasa benci dengan diri saya sendiri." Chandra bangkit dari duduknya, dia meninggalkan Nellie duduk di bangku itu seorang diri tanpa menoleh lagi ke belakang.
Nellie menatap punggung tegap itu menjauh meninggalkannya, pada saat itu Nellie meyakini dirinya bahwa tidak akan ada penyesalan karena ia sudah menolak Chandra.
***
Aroma tanah terasa menyengat saat hujan membasahi bumi malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian bulan dilalui dalam hawa panas, akhirnya Tuhan menumpahkan berkahnya malam ini dengan hujan deras yang membuat semua penduduk keluar dari rumah untuk sekedar menikmati dinginnya air langit, mengucap syukur atas pemberian Sang Maha Kuasa.
Chandra di teras, melihat anggrek yang ditanam Nadia terus diguyur hujan, tampak segar, dan benih-benih bunga kertas yang sudah mulai keluar dari dalam tanah seperti ikut bersyukur. Dengan senyum pedih yang terlukis di wajahnya, pria menengadahkan tangan ke langit, hujan membasahi sebagian kecil tubuhnya.
"Heh, apa lu nggak tahu, Nadia udah kasih semuanya sama gue!"
Ah, ucapan Vidi kembali terngiang di telinga Chandra. Seperti terpasang dengan sendirinya di dalam kepala dan berbunyi saat pikiran Chandra mengingat Nadia.
Nadia keluar dari dalam kamar, setelah lebih rapi dengan pakaian tidur dan secangkir besar teh yang masih mengepulkan asap. Gadis itu menghampiri Chandra dan menyimpan minuman yang dibawanya di atas meja.
Meski malu, Nadia harus menemui Chandra bagaimanapun caranya, meski dia harus menurunkan gengsinya sebagai seorang wanita. Meminta maaf rasanya jalan terbaik agar mereka tidak perlu canggung lagi. Nyaris lima bulan menikah, dari hari ke hari selalu saja ada kejadian yang membuat Nadia merasa bersalah pada Chandra. Nadia merasa tertekan dengan hubungan suami istri yang tidak jelas ini. Mana rasa jatuh cinta yang sudah Chandra ungkapkan? Hal itu membuat kepala Nadia seakan-akan hampir meledak karena bingung.
Nadia menarik napasnya dalam-dalam, sampai Chandra yang melamun pun bisa mendengarnya hingga pria itu menoleh ke arah Nadia.
"Kamu belum tidur, ini sudah jam 9 malam." Nadia memulai obrolan, dan Chandra tampaknya tidak berniat untuk menjawab hal itu. Tatapan matanya tidak seperti biasanya malam ini, terlihat kosong dan tidak berselera, di bibirnya tidak ada senyum yang selalu ia berikan pada Nadia saat mereka mulai saling memandang.
"Hm, saya tidur siang. Jadi, saya tidak bisa tidur," jawab Chandra dengan berat.
Tidur siang di pantai pink itu, bahkan kurang dari satu jam.
Nadia tersenyum kecut, kepalanya mengangguk setuju.
"Besok, kamu akan ke sekolah lagi, 'kan?"
"Sepertinya tidak. Saya sudah menyerahkan tugas itu pada Johnny dan Ong. Saya akan melalukan patroli di wilayah Timur. Karena, kami tukar jadwal."
Wajah Nadia berubah semakin kaku, rasanya percuma saja dia berada di sini.
"Kenapa sikap kamu begini?" tanya Nadia dengan berani.
Chandra yang duduk mendongak ke arah gadis itu. Nadia mengepalkan tangannya yang kecil dengan kuat. Kalau dipakai untuk melukai pun, dia yakin tidak akan berhasil. Namun, kepalan tangan itu berfungsi setidaknya untuk meredam emosinya.
"Cara bicara kamu berasa berbeda dari biasanya," tambah Nadia tegas.
__ADS_1
Chandra cukup terkejut, tetapi dia berusaha untuk tetap tenang dan tidak menunjukkannya di hadapan Nadia yang emosi.
"Saya selalu seperti ini. Saya pendiam, bicara saya seperlunya, saya non ekspresif. Saya pikir, kamu sudah tahu tentang itu. Karena beberapa kali kamu selalu menyinggung tentang cara saya bersikap," ucap Chandra pelan, dan entah kenapa membuat Nadia merasa diremehkan.
"Kamu marah? Gara-gara omongan Vidi? Oh, atau kamu percaya sama ucapan dia?!" ujar Nadia semakin berani.
Chandra tidak menjawabnya, namun bola matanya tampak bergetar, ada sesuatu yang Nadia tebak dan tepat sasaran.
"Saya tidak memikirkan sama sekali tentang laki-laki itu. Saya tidak marah, dan saya baik-baik saja."
Nadia mencelos, bukankah lebih baik kalau Chandra marah, bukankah lebih baik kalau Chandra cemburu?
"Mana cinta kamu yang sudah kamu ungkapkan pada saya? Apa terlalu sedikit, sampai kamu mudah tersulut emosi karena omongan orang seperti tadi?!"
Chandra berdiri dari duduknya, trauma akan hubungannya yang kandas dengan Nellie rasanya terbayang lagi saat ini bersama Nadia.
"Ya, saya marah," ucap Chandra.
"Saya sangat marah, dan entah kenapa saya percaya dengan kata-kata mantan pacarmu itu. Emosi saya tidak stabil, saya ingin memukul sampai tangan saya sakit agar pikiran saya bisa teralihkan. Jatuh cinta saya rasanya sia-sia ketika rasa marah saya justru membuat saya bodoh seperti ini," tambah Chandra.
"Percaya saja kalau gitu!" balas Nadia.
Chandra terdiam, napasnya memburu dan Nadia justru semakin membuat dadanya sesak.
"Percaya saja pada orang asing! Kalau istri kamu ini hanya cewek gampangan!"
Chandra mencelos di tempatnya berdiri, Nadia tampak menitikkan air mata sebelum ia membanting pintu rumah dengan amat keras.
Brak!
BRAK!
Bantingan kedua yang terdengar makin keras dari pintu kamar. Chandra mengusap wajahnya dengan kasar, dia tidak pernah merasa sangat bodoh selain hari ini. Pria itu membiarkan aroma hujan menemani sisa malamnya, teh yang semula mengepulkan asap kini terlihat dingin.
•••
Selain menangis, Nadia juga menyesali perbuatannya malam itu, dan pagi ini, penampilannya benar-benar aneh, matanya sangat sembab dan bengkak, tubuhnya juga terlihat membatasi gerak, wajahnya pucat, dan itu membuat Alif yang menemaninya menjadi khawatir.
Ong dan Johnny yang sedang mengajar di kelas pun merasa hal yang sama dengan Alif, tetapi dua lelaki itu tidak berani bertanya tentang sesuatu yang menimpa Nadia.
Chandra juga sudah pamit setelah subuh untuk melakukan penjagaan ketat di wilayah perbatasan Timur. Sehingga tidak ada yang bisa di telusuri lebih lanjut sebuah penyebab keanehan sikap Nadia saat ini.
Mungkin ada pertengkaran yang tidak bisa dihindari atau diikut campuri oleh para sersan.
"Anak-anak. Ini, ada es krim!" beritahu Nadia dengan ceria pada murid-muridnya.
Anak-anak itu segera mengantre setelah mengucapkan hore yang sangat keras atas pengumuman menyenangkan dari Nadia, si istri jenderal yang sangat cantik dan ramah. Berbeda dengan istri jenderal sebelumnya yang bahkan tidak mau ikut bergabung bersama masyarakat setempat. Nadia justru selalu sibuk melakukan kegiatannya di sekolah dan puskesmas. Maka jangan heran kalau Nadia kenal cukup banyak orang di desa ini, dari mulai anak-anak hingga lansia.
Johnny, Alif, dan Ong memperhatikan sambil tersenyum, mereka juga sudah mendapatkan es krim masing-masing. Nadia kini tersenyum ke arah dua orang yang cukup akrab itu dan mendudukkan dirinya di samping Ong.
"Bu. Ibu kelihatan beda hari ini," ujar Ong pada Nadia yang hanya bisa menyembunyikan wajah sembabnya.
"Ck, saya tuh kurang tidur," balas Nadia. Memang iya sih, kurang tidur. Tetapi memang tidak bisa tidur karena semalaman menangis.
"Oh, kalau gitu, Ibu pulang aja. Biar anak-anak kita yang jaga. Di rumah aja, istirahat."
"Hem, benar. Nanti sakit kalau kurang tidur dan banyak aktivitas," tambah Johnny dengan senyum kecil di bibirnya.
Nadia merenung sedikit, sebelum akhirnya dia menyetujui saran kedua sersan itu untuk pulang ke rumah. Sepertinya, Nadia tidak akan pulang, dia akan ke puskesmas untuk mengobrol lagi dengan Nellie.
__ADS_1
BERSAMBUNG ....
ADA 2111 KATA. MAAF, KALAU BANYAK TYPO, AKU NGGAK REVISI SOALNYA, DAN TERIMA KASIH ATAS DUKUNGANNYA SELAMA INI. NANTI MALAM KALAU ADA WAKTU, AKU UP LAGI.