
Nadia memeriksa ruang wardrobe-nya di mana semua gaun, sepatu dan semua aksesorinya tersimpan di ruang sebesar 5×5 meter persegi itu. Untuk gaun yang akan dikenakannya di acara award itu sudah ia persiapkan sejak kedatangannya ke Jakarta seminggu yang lalu. Karena Nadia tidak memiliki penata gaya seperti artis lainnya, maka dia lebih fleksibel dalam memilih kostum untuk tampil di acara mana pun. Itu juga karena Nadia memiliki fashion sense yang bagus dan terkenal selalu cocok dengan apa pun yang ia kenakan. Agensi yang menaunginya pun akan angkat tangan jika mengurusi cara berpakaian Nadia.
Chandra muncul dengan setelan santai berupa kaos hitam dan celana pantalon hitam yang sepertinya sudah melekat dengan image dirinya. Dia memasuki ruang wardrobe Nadia yang sungguh membuat mata sedikit pusing jika melihat jejeran pakaian dari kiri ke kanan.
"Kamu mau pakai gaun yang mana untuk nanti malam?" tanya Chandra pada istrinya.
Nadia senyum, lalu mengambil dua pakaian yang cantik berwarna hitam dua-duanya. Yang berbeda hanya modelnya saja, yang satu lebih pendek sementara satu lagi terlihat lebih tertutup, tetapi agak terawang di bagian paha hingga ke mata kaki.
"Mending yang mana?" tanya Nadia antusias.
Chandra menggelengkan kepalanya. "Tidak dua-duanya!" katanya posesif. Nadia terkikik.
"Hm, sudah saya duga, sih. Kamu bakal melarang. Hehe, tapi nggak papa. Saya suka kalau kamu over begini," timpal Nadia sembari menyimpan lagi gaun-gaun itu ke tempatnya.
"Saya pakai gaun yang ini, kok. Kamu suka, 'kan?" Nadia menunjukkan gaun berwarna broken white yang tertutup, gaun yang sangat santun sekali.
Chandra tersenyum lega. "Hm, sebenarnya, saya suka apa pun yang kamu kenakan. Tapi yang ini sangat cocok sekali untuk kamu," puji Chandra setelah mengetahui gaun mana yang akan Nadia kenakan untuk acara malam nanti.
Waktu menunjukkan pukul sepuluh pagi, dan Nadia mengajak Chandra untuk mengunjungi sebuah Store pakaian pria yang menyediakan jas, kemeja sampai sepatu kulit yang tentunya memiliki nilai brand yang cukup ternama. Chandra pada dasarnya memang tidak memahami hal seperti ini. Selama hidupnya dia tidak pernah membeli pakaian sendiri dan selalu saja membeli via online, itu pun atas pilihan teman, Joy dan tentu saja Nellie.
Tapi kali ini berbeda, Nadia berada di sampingnya sambil menunjuk pakaian yang sekiranya akan cocok dikenakannya.
Chandra benar-benar bingung ketika Nadia menyerahkannya satu tumpukan setelan kemeja dan jas padanya.
__ADS_1
"Saya nggak tahu, yang mana cocok buat kamu. Tapi tolong, ini dicoba dulu, ya?" tanya Nadia dengan nada memohon.
Chandra tersenyum dan mengambil alih semua pakaian di tangan Nadia. Pria itu berjalan ke ruang ganti dan mencoba salah satunya. Sementara Chandra mengganti pakaian, Nadia menunggu bersama manajer Store yang kebetulan kenal dekat dengan Nadia sehingga Nadia bisa mengobrol.
Tidak butuh waktu lama bagi seorang tentara seperti Chandra untuk berganti pakaian. Hanya dalam waktu dua menit pria itu sudah muncul dengan setelan kemeja dan jas yang amat di tubuhnya.
"Nad," panggil Chandra dengan lembut. Pria itu merapikan bagian depan jasnya yang dirasa sedikit agak terlipat.
"Kok, cepat banget," celetuk Nadia bengong. Begitu pun dengan manajer Store yang sama-sama terkejut dengan transformasi Chandra yang berubah bak sosok idol Korea yang tinggi dan tampan, sangat cocok dengan setelan kemeja dan jas hitam putih.
"Nad, yakin ini suamimu nggak pernah jadi trainee?" tanya si manajer dengan nada serius.
Nadia tertawa kecil, sementara Chandra masih berdiri dengan kaku dan tidak nyaman karena sejak tadi menjadi pusat perhatian pengunjung dan pelayan yang ada di sana.
"Cocok banget pakai jas sama kemejanya. Borong aja yang tadi dipilih," ungkap si manajer Store dengan semangat.
Nadia tertawa kecil dan menghampiri suaminya itu.
"Saya aneh, ya?" tanya Chandra dengan raut tak percaya diri. Nadia memperhatikan figur tinggi suaminya itu lewat pantulan cermin besar yang ada di hadapan mereka.
"Iya, aneh."
Chandra cemberut. "Hm, ya sudah. Saya cari lagi pakaian lain," ucap Chandra malas. Ya, tipikal laki-laki, pasti malas kalau sudah berbelanja apalagi memilih-milih pakaian seperti ini.
__ADS_1
"Anehnya, semua jas dan kemeja di sini cocok banget sama kamu!" seru Nadia gemas. Dia merapikan bagian depan kemeja Chandra dan mengusap dada bidang pria itu yang terbalut jas yang amat gagah.
Nadia sedikit bersandar di dada bidang itu dan tersenyum, membuat Chandra seakan melambung dengan perlakuan Nadia yang berbeda dengan biasanya. Beberapa orang yang kebetulan menyaksikan kemesraan kecil itu tampak gemas dengan pasangan beda profesi itu yang mungkin tidak pernah tersorot publik, meskipun Nadia adalah seorang penyanyi papan atas.
"Kamu nggak kelihatan kayak tentara kalau pakai jas begini," gumam Nadia sembari terus memuji Chandra. Chandra jadi malu dengan pujian selangit itu.
"Kalau begitu, saya akan beli semua jas dan kemeja pilihan kamu."
Setelah berbelanja pakaian dan kebutuhan Chandra lainnya, kini giliran Chandra juga mendapatkan perawatan wajah dan rambut yang sudah Nadia persiapkan. Mau tidak mau, harus mau karena Chandra tidak bisa menolak ketika Nadia mengoleskan masker ke wajahnya dan melakukan creambath pada rambutnya yang masih belum dipotong.
Saat keduanya sudah siap dan amat serasi dengan kostum yang dipilihkan untuk satu sama lain. Chandra dengan gagah menggandeng lengan Nadia dan tentu saja menggenggam erat jemarinya tanpa berniat melepasnya. Nadia terlihat gugup, sementara kebalikannya Chandra justru terlihat sudah terbiasa dengan kilatan blitz kamera yang mengabadikan momen mereka berdua saat berjalan di red carpet.
Nadia melambaikan sebelah tangannya ke arah pers dan penggemar, tidak lupa untuk tersenyum lembut seperti biasanya. Dua orang presenter mencegat langkah Nadia dan Chandra sebelum memasuki aula acara. Ini adalah momen yang paling ingin Nadia lewati, tetapi mana mungkin bisa begitu saja pergi dengan tidak sopan.
"Wah, Nadia sudah lama sekali ya, tidak ketemu. Setelah menikah, hiatus beberapa bulan ya, makin cantik aja," sapa presenter sambil mengarahkan mic ke arah Nadia. Chandra yang ada di sampingnya hanya diam memperhatikan.
"Gimana nih, tema apa yang dipakai untuk acara music award malam ini?"
Nadia tidak bisa menjawab pertanyaan mudah tersebut. Dia sangat gugup, dan Nadia merasa bahwa orang-orang di sekitarnya seperti mengejek kedatangannya dan memperlakukannya dengan tidak biasa. Namun, Chandra mengeratkan tautan tangannya dan saat mereka bertemu, pria itu tersenyum menenangkan. "Ayo bilang." Chandra menguatkan Nadia.
Nadia tersenyum. "Hm, tema kita malam ini, simpel and pure. Suami saya yang pilih," jawab Nadia dengan santun. Kedua presenter yang ada di sana bertepuk tangan untuk menanggapi jawaban Nadia.
Chandra pun menyapa orang-orang dengan wajahnya yang datar, tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa kehadirannya sangat mengundang banyak perhatian orang. Senyumnya malam itu hanya diberikan untuk Nadia, sedangkan pada yang lain dia hanya memberikan ekspresi datarnya seperti sedang bekerja di perbatasan.
__ADS_1
BERSAMBUNG ....