
Charles menggelengkan kepalanya. "Kau baru saja sadar, Flo. Jika kau ingin bertemu dengannya, tunggu kondisimu membaik."
"Kondisiku tidak akan pernah baik jika aku belum bertemu dengannya!" sahut Flora.
Charles menghela napasnya. Ia dibuat bingung dengan keputusan yang akan ia pilih.
"Baiklah, jika kau ingin bertemu dengannya, aku akan menemanimu!"
Flora segera menggelengkan kepalanya. "Aku bilang, aku ingin sendiri."
"Tap-"
"Kau harus percaya padaku, aku akan baik-baik saja." Flora memotong perkataan Charles.
Charles mengembuskan napasnya secara kasar. Sebelum ia memanggil Thomas, melalui ponselnya.
"Thomas yang akan mengantarmu. Dan kau tidak bisa menolak! Jika kau menolak, lebih baik kau tidak boleh pergi."
Flora menganggukan kepalanya. Dan hal itu sedikit membuat Charles merasa tenang. Setidaknya Flora tidak akan pergi sendirian.
"Tuan," panggil Thomas yang sudah berada di ambang pintu. Charles menoleh ke arahnya, dan menyuruh Thomas agar masuk ke dalam kamar.
"Antar Flora untuk menemui Renatta."
Thomas menganggukkan kepalanya. “Baik, Sir."
"Kau harus ingat Thomas, ini adalah kesempatan terakhir untukmu. Jika kau lengah untuk menjaga Flora, maka riwayatmu akan tamat!" ancam Charles. Seraya menatap Thomas secara ta jam.
"Saya akan pastikan jika Nona aman. Saya akan menerima apa pun yang akan Tuan lakukan jika saya melakukan kesalahan." Thomas menatap Charles dengan penuh hormat.
__ADS_1
"Kejadian yang menimpa Flora beberapa hari lalu, aku harap itu adalah terakhir kalinya kau melakukan kesalah-"
"Charles. Kau sebaiknya tidak memarahi orang yang tidak salah! Thomas tidak melakukan kesalahan apa pun. Di sini, akulah yang salah. Aku selalu menghindar dari pengawasan Thomas!" sela Flora.
"Tidak, Nona. Ini memang kesalahan saya. Seharusnya saya lebih ketat untuk mengawasi Anda."
"Kau pikir aku akan nyaman jika kau awasi seketat itu? Kau jangan berlebihan Thom. Abaikan perkataan Charles yang menyuruhmu untuk mengawasi setiap gerak-gerikku!" ucap Flora. Seraya melirik ke arah Charles secara tajam.
Charles hanya terdiam. Dia terbengong melihat Flora. Entah apa yang sedang terlintas di pikirannya.
Flora pun turun dari tempat tidur.
"Flo, apa kau yakin?" tanya Marline. Khawatir.
Flora tersenyum manis kepada Marline. "Tenang saja, Mom. Aku akan baik-baik saja."
Flora menoleh ke sumber suara. "Daddy." Frans melangkahkan kakinya ke arah Flora. Lalu pria itu memeluk tubuh Flora.
"Maafkan Daddy yang tidak bisa berbuat apa pun. Salahkan Charles yang terus saja menghalangi rencana Daddy untuk menghancurkan keluarga Renatta."
"Tidak apa-apa Dad. Biar aku dan Charles yang akan menyelesaikan ini semua.“ Flora mengelus punggung Frans.
Frans melepaskan pelukannya. Namun, pria itu memegang kedua bahu Flora.
"Daddy akan mendukung apa pun yang akan kau lakukan, Flo. Tapi, Daddy akan sangat membencimu jika kau terluka!" ucap Frans serius.
Flora tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Aku akan baik-baik saja!"
Frans hanya menganggukan kepalanya. Ia percaya kepada Flora.
__ADS_1
Flora pun pamit kepada mereka semua, lalu ia keluar dari kamarnya yang disusul oleh Thomas.
la melangkahkan kakinya secara perlahan, karena kondisinya yang memang belum sepenuhnya pulih. Saat menuruni tangga, Flora terdiam sejenak dan memijat pelipisnya.
"Nona, apa kau baik-baik saja?" tanya Thomas. lehawatir.
"Aku baik-baik saja. Ayo Thom, kita harus segera menemui wanita itu!" Flora melanjutkan langkah kakinya lagi.
***
Sedangkan kondisi di dalam kamar menjadi hening. Sebelum Charles mengatakan sesuatu. "Wah... Aku tidak menyangka, jika Flora akan memarahiku hanya karena aku memarahi Thomas!"
"Aku rasa, Flora menyukai Thomas!" ucap Adam.
Secara spontan Charles menoleh ke arah Adam dengan sorotan mata yang sangat tajam.
Marline dan Frans terkekeh melihat anaknya yang sedang cemburu itu.
Adam tertawa lantang, melihat ekspresi Charles yang menurutnya sangat berlebihan. "Aku hanya bercanda, Charles. Tidak mungkin jika Flora menyukai Thomas. Seperti yang Flora katakan, jika dia tidak suka jika kau memarahi orang yang tidak salah!"
Lagi-lagi Adam tertawa, yang kali ini disusul oleh Marline dan Frans yang juga tertawa. Charles menatap orang-orang tersebut.
"Sial!" Charles beranjak dari tempat tidur, dan keluar dari kamarnya.
Sedangkan Maline, Frans dan Adam masih setia mentertawakan sikap Charles.
Bersambung ....
Tunggu lanjutannya nanti ya.
__ADS_1