
Sudah 5 hari berlalu, dan Flora belum saja terbangun dari komanya. Charles memilih untuk membawa Flora ke mansionnya, karena ia pun menyediakan peralatan medis yang tidak kalah lengkap di mansionnya tersebut. Tentu saja ia dibantu oleh Glen dan Adam.
Glen adalah pemilik Pobais Hospital. Dia menugaskan beberapa Dokter terbaik untuk memeriksa keadaan Flora setiap saat. Sedangkan Adam adalah Dokter yang dipercayai oleh Charles untuk menangani Flora.
Beberapa hari ini Charles tidak berangkat kerja. la memberikan semua urusan pekerjaannya kepada Ken. Charles memilih untuk merawat Flora, ia ingin terus berada di sampingnya dan menjaganya.
"Sayang, bangunlah. Apa kau tidak bosan tertidur seperti itu? Aku sangat merindukanmu, Flo. Aku merindukan senyumanmu, aku merindukan sentuhanmu, aku merindukan saat kau memarahiku. Aku merindukan semua yang ada pada dirimu, Sayang. Apa kau tidak merindukanku? Kau menyiksaku dengan cara mendiamiku seperti ini, Flo." Charles menggenggam tangan kanan Flora dengan sangat erat. Lagi-lagi tidak terasa air mata menetes membasahi wajah tegas pria itu. Charles lemah karena Flora. Dia adalah tipe pria yang tidak pernah menangisi sesuatu. Namun sekali lagi, ia kalah oleh Flora. Wanita itu bisa menghancurkan Charles dengan waktu yang sangat cepat.
Saat ini kondisi Charles sangat kacau. Ia seperti pria yang tidak terurus. Beberapa hari ini ia tidak mempedulikan apa pun selain kesehatan Flora. Bahkan ia belum sempat memikirkan tentang perbuatan yang akan ia lakukan kepada Renatta dan Rogan.
Badan Charles terlihat sedikit kurus, wajahnya pun dipenuhi oleh jambang. Ia tidak pernah mencukurnya. Matanya terlihat sangat sayu dengan kantung mata yang sangat terlihat. Karena memang belakangan ini, ia kurang tidur. Dan dia sering menangis jika melihat kondisi Flora yang belum juga sadar. Flora adalah sumber kekuatannya. Wanita itu adalah segalanya bagi Charles. Dia tidak ingin kehilangan Flora.
Charles selalu sesak ketika melihat wajah pucat Flora. Charles terluka. Ia terluka oleh Flora yang belum juga membuka matanya.
"Bangun, Sayang! Aku mohon!" lirih Charles. Seraya menghujani tangan Flora dengan kecupan.
Charles menempelkan punggung tangan Flora pada keningnya. Charles menundukkan kepalanya, ia sangat merindukan wanitanya itu.
Namun, rasa khawatir Charles tiba-tiba lenyap saat ia merasakan pergerakan pada jari tangan Flora yang berada di genggamannya. Charles mendongakkan wajahnya dan memperhatikan jari Flora secara intens. Dan benar saja, jari tangan Flora bergerak. Hal itu membuat Charles segera memanggil Adam yang memang sedang berada di mansionnya. Tepatnya di lantai dasar.
"Flo, kau bisa mendengar suaraku, kan?" tanya Charles antusias.
Tiba-tiba Charles melihat sudut mata Flora mengeluarkan air mata. Hal itu membuat dada Charles kembali sesak.
"Sayang, kenapa kau menangis? Di sini ada aku, Flo. Kau jangan takut. Aku akan selalu menjagamu!" gumam Charles. Seraya mengusap air mata yang jatuh membasahi wajah Flora. Air mata itu terus saja mengalir. Namun, Flora masih belum membuka matanya.
"Ada apa, Charles?" tanya Adam yang baru saja tiba di kamar dengan napas yang tersengal. Karena ia memang berlari saat menuju kamar Charles yang berada di lantai 2.
"Flora menggerakkan jarinya." Charles menoleh ke arah Adam dengan raut wajah bahagia.
Adam pun menoleh ke arah Flora. Meneliti jari yang dimaksud oleh Charles. Dan memang benar, jika jari tersebut sesekali bergerak.
"Biar aku periksa." Adam segera duduk di tepi ranjang. Dan mulai memeriksa Flora.
Sedangkan Charles masih setia menggenggam tangan Flora dengan erat. Ia tidak mau jauh dari Flora.
"Syukurlah, kondisi Flora sudah membaik. Dia sudah melewati masa kritisnya, Charles. Akhirnya ketakutan kita selama ini tidak terjadi pada Flora. Aku yakin, sebentar lagi Flora akan sadar dari komanya." Adam menepuk bahu Charles.
Charles tersenyum bahagia. Akhirnya ia masih bisa melihat Flora. letakutannya yang selalu menghantuinya tiba-tiba lenyap, terlebih saat ia melihat pergerakan pada kelopak mata Flora.
Secara perlahan mata itu terbuka, Flora mengerjap-ngerjapkan matanya. Namun, tidak lama kemudian, Flora menutup matanya kembali.
"Sayang, buka matamu." Charles mendekatkan dirinya dengan Flora. Ia mengusap kepala Flora secara lembut.
Adam yang melihat itupun hanya tersenyum bahagia. Akhirnya, kebahagiaan milik temannya sudah kembali lagi.
Flora mencoba membuka matanya kembali. Dan saat ini ia bisa dengan jelas melihat sekitarnya. Dan hal pertama yang ia lihat adalah, wajah Charles yang sedang tersenyum, tetapi dibalik itu, ia tahu jika Charles menyimpan rasa kekhawatiran yang sangat besar. Hal itu terlihat di kedua matanya.
"C-charles," lirih Flora. Menatap wajah Charles dengan sayu.
"Iya Sayang, ini aku. Apa kau merasakan sakit? Apa yang sakit? Katakan padaku!" tanya Charles khawatir.
Flora menggelengkan kepalanya. "Aku hanya sedikit pusing."
Charles tersenyum bahagia melihat wanitanya kembali. Ia sangat merindukan suaranya. Suara yang selalu mendamaikan jiwanya.
"Aku sangat merindukanmu, Flo. Kau membuatku khawatir!" gumam Charles. Tepat di hadapan Flora.
Flora meraih wajah Charles. Ia mengelus rahang Charles yang ditutupi oleh jambang yang lebat. Charles menutup matanya. Ia menikmati sentuhan Flora di wajahnya.
"Kau terlihat tua, Charles!" kekeh Flora. Walaupun dengan kondisi yang masih lemah.
Charles menganggukkan kepalanya. “Aku memang sudah tua, Flo. Tapi pria tua ini masih kuat untuk menggendongmu seraya berlari," goda Charles.
__ADS_1
Flora tersenyum. Ia sangat merindukan Charles. Ia selalu memimpikan Charles saat dirinya tidak sadarkan diri.
Tiba-tiba Adam berdeham, membuat suasana intim antara Charles dan Flora menjadi lenyap.
"Flora, syukurlah kau sudah sadar. Lihatlah, suamimu bahkan tidak mempedulikan penampilannya saat ini. Itu semua karena dia frustrasi olehmu."
"Benar, dia sangat kurus sekali. Aku tidak suka kau kurus seperti ini Charles. Aku ingin badanmu seperti dulu. Aku suka dengan otot-otot ditubuhmu!" ucap Flora.
"Apa pun akan aku lakukan untukmu, Sayang. Aku akan mulai mengembalikan postur tubuhku!"
Flora terkekeh. "Aku bercanda. Bagaimanapun bentuk tubuhmu, aku akan tetap mencintaimu!"
Hati Charles sangat tersentuh. Akhirnya ia bisa mendengar kata cinta itu lagi.
"Sudah. Sudah. Jangan bermesraan terlebih dahulu. Aku akan memeriksamu, Flora. Tolong ikuti instruksiku," pinta Adam, yang diangguki oleh Flora.
Adam menyingkap selimut Flora. Sebelum ia memberikan instruksi pada Flora. "Gerakkan kakimu secara perlahan, Flora."
Flora pun mengikuti ucapan Adam. Secara perlahan ia menggerakkan kakinya, walaupun sedikit susah.
Adam menganggukkan kepalanya saat melihat pergerakan pada kaki Flora.
Setelah itu, Adam menepuk kaki Flora dengan cukup keras. "Apa kau bisa merasakan sakit?" Lagi-lagi Flora menganggukkan kepalanya.
Adam pun memeriksa Flora secara detail. Ia tidak ingin ada sesuatu yang terjadi pada wanita itu setelah terbangun dari komanya.
"Baiklah, kondisimu sudah membaik, Flora. Aku sangat senang akan hal itu. Aku tidak menyangka jika kau bisa pulih secepat ini!" kata Adam.
Flora hanya tersenyum seraya menatap Adam dengan lembut. Namun, senyuman itu perlahan menghilang. Ia mengingat sesuatu.
Flora memegang perutnya, dan hal itu disadari oleh Charles.
"Baby," gumam Flora seraya mengelus perutnya. Ia merasakan ada yang aneh di perutnya.
"Flo, lebih baik kau istirahat, ya?! Kau baru saja sadar," ucap Charles dengan lembut.
Namun, Flora menggelengkan kepalanya. Ia merasa jika Charles menutupi sesuatu darinya.
"Tidak. Tidak. Aku bertanya padamu bagaimana kondisi bayi kita, Charles?!" Flora mencekal kedua lengan Charles.
Charles terdiam. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan Flora. Dia tidak sanggup untuk mengatakan semuanya.
Flora merasa kesal karena Charles terus saja terdiam, lalu ia menoleh ke arah Adam.
"Dok, bagaimana kondisi Anakku? Dia baik-baik saja kan, Dok? Aku mohon, jawablah pertanyaanku! JAWAB PERTANYAANKU!" teriak Flora, karena Adam pun terdiam. Tidak menjawab pertanyaan Flora.
Tiba-tiba air mata Flora menetes membasahi kedua pipinya. Ia menundukkan kepalanya seraya mengusap perut ratanya.
"Ini tidak benar, kan? Dia masih ada. Sayang, kau baik-baik saja, kan? Delapan bulan lagi kita akan bertemu, nak kau tidak sabar bertemu Mommy, kan?" lirih Flora. Dengan air mata yang terus menerus turun membasahi pipinya.
Charles tidak tega melihat Flora seperti itu. Charles duduk di tepi ranjang dan segera memeluk tubuh Flora.
"Baby sudah pergi, Sayang. Dia sudah pergi ke surg—"
"Noooo!" teriak Flora. Mendorong tubuh Charles.
Tubuh Flora bergetar, air matanya semakin deras membasahi kedua pipinya.
"Aku yakin, dia kuat. Dia anakku! Dia pasti kuat. Dia pasti baik-baik saja. Iya kan, Dok? Dia sehat, kan? Dok, aku mohon jawab pertanyaanku! Bayiku tidak apa-apa, kan? Dia bayi kuat. Aku yakin itu. Aku yakin!"
"Maaf, Flo. Tapi kebenarannya, kau sudah kehilangan bayimu, kau mengalami keguguran." Adam menatap Flora dengan rasa tidak tega.
Lagi-lagi Flora menggelengkan kepalanya. "Tidak. Tidak. Kalian pasti bohong kepadaku! Kalian bohong kepadaku!"
__ADS_1
"Flo, tatap mataku. Tatap mataku, Sayang!" Charles menangkup kedua pipi Flora agar wanita itu menatapnya.
Tiba-tiba Flora terisak. Ia tersadar, jika ucapan mereka adalah benar.
"Arrrggghhhh ...!" teriak Flora frustrasi.
Menjambak rambutnya. Dia menangis histeris. Flora tidak bisa menerima kenyataan ini.
"Ba-bagaimana ini, Charles?! Ba-bayi kita. Bayi kita meninggalkan kita, sebelum kita bertemu dengannya."
Charles segera memeluk tubuh Flora kembali yang bergetar hebat.
"Sabar Sayang, Anak kita sudah di surga." Charles mengelus punggung Flora secara lembut.
"Maafkan aku, Charles. Maafkan aku yang tidak bisa menjaga anak kita. Maafkan aku!" isak Flora dalam pelukan Charles.
Charles menggelengkan kepalanya. "Kau tidak perlu meminta maaf. Ini bukan kesalahanmu, Flo. Ini bukan kesalahanmu!"
"Tidak, Charles! Aku tidak bisa menerima ini! Dia bayiku! Aku belum melihatnya Charles. Aku belum melihatnya!" teriak Flora. Seraya melepaskan dirinya dari pelukkan Charles.
"A-aku, a-aku bahkan belum sempat menggendongnya. Aku belum mencari nama untuknya. Aku belum melihatnya bahkan hanya sekedar melihatnya dari layar USG. A-aku—"
"Flora!"
Flora menoleh ke arah sumber suara. Dan lagi-lagi tangisannya pecah.
"Mommy!"
Marline segera menghambur memeluk tubuh Flora. Marline sudah mengetahui semuanya. la pun sama frustrasinya seperti Flora ketika mengetahui jika cucunya tidak bisa di selamatkan sebelum ia mengetahui jika dirinya akan menjadi seorang nenek.
"Sayang, kau sudah sadar. Aku sangat bersyukur sekali melihatmu sudah sadar, Flo." Marline terisak seraya memeluk Flora secara erat.
Flora menganggukkan kepalanya. Lalu tidak lama kemudian ia menjauhkan tubuhnya dari Marline.
"Mo-mmy, ma-maafkan aku. Aku tidak bisa menjaga cucu Mommy. A-aku-" Marline segera menempatkan telunjuknya pada bibir Flora.
"Ini bukan salahmu, Sayang. Kau tidak salah."
"Ini salahku Mom, aku tidak bisa menjaganya. Bahkan aku belum memberi tahu Mommy tentang kehamilanku. Mommy harus mengetahui semuanya di saat Mommy sudah kehilangannya. Bahkan Mommy belum sempat bertemu dan menggendongnya! A-aku mommy yang jahat. Aku tidak bisa melindungi anakku sendiri. Aku mommy yang tidak berguna, Mom!" teriak Flora. la benar-benar frustrasi saat ini. Sedangkan Flora segera memeluk tubuh Flora kembali.
Bahkan Adam berniat untuk memberikan obat penenang kepada Flora.
"Kau mau apa?!" tanya Charles. Menatap tajam Adam.
"Ini hanya obat penenang."
Charles menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu. Dia baru saja sadar."
Adam hanya mengembuskan napasnya secara kasar. Dan menuruti perkataan Charles.
"Charles. Sekarang apa yang akan kau lakukan kepada keluarga Douglash? Mereka sudah membunuh cucuku. Cucu Fransisco De Alamo! Aku tidak bisa terus menerus membiarkan ini. Jika kau terus diam saja, maka aku yang akan bergerak!" ucap Frans yang kini berada di samping Charles. Frans sangat murka saat ia mengetahui jika calon cucunya meninggal gara-gara Renatta. Dia bahkan berniat akan menemui keluarga Douglash dan memberi mereka pelajaran. Namun, Charles mencegahnya.
"Kau tenang saja, Dad. Aku akan membuat mereka hancur, hingga tidak bersisa!" geram Charles.
"Flora, kau akan ke mana?!" teriak Marline. Saat Flora berniat turun dari tempat tidurnya. Hal itu membuat Charles sadar dari pikirannya.
"Flo, kau mau ke mana?" Charles mencekal lengan Flora.
"Lepas! Aku akan menemui wanita iblis itu! Aku Akan menemui wanita yang telah membunuh anakku!" teriak Flora.
"Tidak Flo. Aku tidak akan membiarkanmu pergi. Kau baru saja sadar!" Charles merengkuh tubuh Flora agar tidak pergi.
"Jika kau sayang pada anak kita, kau harus membiarkan aku bertemu dengannya! Sekarang! Dan hanya aku sendiri!" geram Flora. Menatap tajam manik mata Charles.
__ADS_1