Suamiku Jenderal

Suamiku Jenderal
Extra BAB 11


__ADS_3

Suasana pemakaman mendiang nenek Merry digelar dengan prosesi yang tertutup, tetapi rekan-rekan serta kerabat mendiang kakek dan nenek hampir semuanya datang untuk menyampaikan rasa belasungkawa.


Nenek memang sudah sangat tua renta, usianya juga sudah menginjak 82 tahun, meskipun tanpa penyakit kronis memang sudah sewajarnya jika nenek berpulang ke pangkuan Yang Maha Suci.


Sore yang dibarengi hujan, seluruh anggota keluarga kembali ke rumah setelah pemakaman berlangsung khidmat dan meninggalkan duka mendalam bagi keluarga yang ditinggalkan. Karangan bunga ucapan duka yang memenuhi halaman rumah tampak basah terguyur hujan yang deras. Nadia mengintip lewat jendela kamarnya yang berada di lantai dua, wajah Nadia sangat pucat, sejak pulang dari rumah sakit dia tidak mau makan atau keluar dari kamar. Chandra melarangnya untuk ikut ke pemakaman karena kondisi Nadia yang tengah hamil tua. Papa dan nenek juga melarang hal tersebut.


Padahal, Nadia berencana untuk melangsungkan proses adat tujuh bulanan untuk bayi yang berada dalam kandungan. Sepertinya rencana itu hanya bisa menjadi angan-angan semata. Mana mungkin melangsungkan syukuran jika tengah berduka begini. Nadia kembali meringkukkan tubuhnya di atas tempat tidur, menunggu Chandra pulang setelah selesai dengan segala urusan pemakaman.


Klik!


Pintu kamar Nadia terbuka dari luar, Chandra tiba dengan rambut sedikit basah dan pakaian yang bernasib sama seperti rambutnya. Hujan di luar membuat pria itu tiba dengan keadaan seperti ini. Chandra tersenyum saat melihat Nadia menuruti permintaannya untuk tetap diam di kamar.


"Chan ... hiks ...."


Nadia menangis lagi, Chandra sudah menduga akan terulang hal demikian. Pria itu langsung menghampiri Nadia dan memeluk tubuh lemah istrinya dengan lembut. Nadia makin mengencangkan isakannya saat Chandra memeluk tubuhnya, ia genggam erat-erat lengan Chandra agar dapat menghentikan tangisan, tetapi Nadia tak sanggup melakukan itu.

__ADS_1


"Sayang ... kamu sudah makan?" Chandra mengalihkan pikiran Nadia dengan pertanyaan lain. Nadia menggelengkan kepalanya.


Nadia mendongak, penglihatannya sedikit buram karena pendengarannya tergenang air mata, tetapi dapat Nadia pastikan kalau wajah suaminya tampak sembab. Suara Chandra juga terdengar serak, pasti Chandra menangis karena merasa kehilangan nenek.


"Makan dulu ... bayi pasti lapar." Beritahu Chandra, dihapusnya air mata Nadia yang membasahi pipi. Nadia memaksakan senyumnya susah payah.


"Kenapa nenek tinggalin kita sekarang?! Kita belum kasih cicitnya ... bayi juga belum lahir ... hiks ...."


"Cepat atau lambat, hari ini atau esok ... kita tidak tahu berapa waktu yang akan tersisa atau habiskan. Ini bukan sesuatu yang harus kamu atau saya sesali. Nenek sudah kembali ke tempat yang paling indah. Kamu ... jangan sedih," ujar Chandra menenangkan. Baru sore ini Chandra bisa bicara dengan Nadia, sejak pagi sampai sore pria itu mengurus segala keperluan pemakaman, sebagai cucu tertua nenek yang tentunya bertanggungjawab dalam mengurus segala hal.


Chandra tersenyum tipis. "Iya, saya sedih sekali. Nenek adalah sosok yang paling perhatian. Tapi selain sedih ... Saya bisa apalagi? Kita memang harus berpisah pada waktu yang telah ditentukan.


Nadia kembali memeluk suaminya, perut besarnya sedikit membuat jarak antara dirinya Chandra di atas ranjang. Chandra mengusap perut buncit Nadia dengan lembut, merasakan gerakan dari bayi yang mungkin sedang ingin berinteraksi dengan papanya.


Nadia terkekeh, bayi dalam kandungan seolah mengerti dan ingin ikut menghibur.

__ADS_1


"Bayi ... kaget mamanya," ucap Nadia pada perutnya saat lagi-lagi bayinya bergerak seperti menendang.


Chandra tertawa kecil. "Mungkin bayi minta kamu jangan nangis terus. Berisik katanya!" omel Chandra pura-pura.


"Tapi, kamu nggak akan tinggalin saya sama bayi cepat-cepat, 'kan?" tanya Nadia dengan serius.


Chandra mencium pipi Nadia yang tembam dengan gemes. "Tidak ... sejauh ini saya masih betah lihat kamu yang cengeng."


Nadia cemberut, ia bersandar pada dada bidang suaminya yang terasa hangat, detak jantung Chandra terasa beraturan membuat Nadia memejamkan matanya perlahan.


Bersambung ....


Nanti kalau ada kesempatan aku up lagi


jangan lupa beri hadiah, Yo....

__ADS_1


__ADS_2