
Nadia merapikan pakaian anak kembarnya untuk masuk ke dalam koper, hanya itu barang terakhir yang harus dia bereskan. Chandra masuk ke dalam kamar dan duduk di samping Nadia yang sedang merapikan pakaian. Pria itu langsung memeluk istrinya dengan erat dan mengecupkan bibirnya pada pipi sang istri.
"Nggak usah...," balas Nadia dingin, seraya menepis halus tubuh Chandra dari sisinya. Chandra menghela napasnya, dan ia tidak mau menyerah lalu malah menggeser duduknya mendekati Nadia.
"Kamu repot. Selama nanti tinggal di Bandung sama anak-anak, perlu saya carikan ART?"
"Nggak perlu, aku bisa kerja sendiri," ucap Nadia datar.
Chandra semakin bingung, dan tentu saja ia sedih karena istri dan anak-anaknya terlihat marah atas panggilan tugas yang ia terima kembali dari negara.
"Sayang, kalau kamu begini... bagaimana saya bisa pergi?"
"Negara yang meminta saya, dan itu adalah pekerjaan mulia... saya juga tidak bisa meninggalkan kamu dan anak-anak kita. kamu tahu, saya juga tidak bisa hidup tanpa anak-anak, terutama tanpa kamu."
"Chan ...."
Chandra malah memandang Nadia yang sedang merajuk padanya, tatapan yang semanis madu itu terarah lurus hanya untuknya sehingga Nadia tak bisa menolak.
"Iya, Sayang?"
"Berapa lama kamu di sana?" tanya Nadia tegas.
Chandra tersenyum lebar. "Tidak bisa dipastikan."
Nadia cemberut dan helaan napasnya jelas terdengar berat sekali. Chandra dengan sigap langsung membawa tubuh mungil istrinya ke dalam pelukan lebarnya yang sangat hangat. Nadia memejamkan kedua matanya, dan membiarkan suasana malam yang hening itu menyelimuti mereka berdua.
"Nggak suka ditinggalin pergi, kamu bisa nggak sih ganti profesi? Aku lebih suka kalau kamu jualan bubur, pagi keliling siangnya udah ada di rumah."
__ADS_1
"Hahaha... kamu nggak cinta saya dong kalau saya jadi tukang bubur? Nanti saya tidak punya sixpack."
"Aku nggak peduli, perut kamu buncit juga. Yang penting kamu ada disisi aku terus, Jenderal," balas Nadia sembari membelai dada bidang suaminya yang hanya terbalut kaus polos pas badan.
"Serius nih?"
"Dua rius"
"Aduh pusing. Kamu lucu sekali, sampai saya pengen bawa kamu ke mana-mana,“ kata Chandra dengan ekspresi pura-pura sakit kepala, pria itu juga menjatuhkan kecupan di kening Nadia dengan lembut.
"Flora gimana? Dia marah sejak kamu kasih pengumuman mau tugas lagi keluar. Udah baikan?"
Chandra mengendikan pelan bahunya. "Mudah-mudahan sih sudah tidak marah. Tadi saya bujuk, kalau Flora boleh tinggal di rumah tantenya dan boleh main sama dede bayinya Joy."
"Males banget nanti ngadepin pers. Nanya-nanyain gimana rasanya ditinggal suami dinas."
Chandra tersenyum tipis, memandangi Nadia yang menggerutu sebelum tidur adalah kebiasaannya sejak lama. Apalagi saat awal Nadia melahirkan anak kembar, dia selalu curhat banyak hal tentang wartawan yang sering mengajukan pertanyaan keponya.
"Tinggal sama mertua. Hehe."
Chanyeol manggut-manggut. "Ada lagi?"
"Ditinggal kamu!" ucap Nadia sembari mencubit pipi suaminya dengan gemas.
"Tidak masalah kalau gitu, asal kamu tidak malas untuk tetap mencintai saya saja. Hehe."
"Geli banget sih, Sayang"
__ADS_1
Chandra tertawa kecil dan masih gemas pada sosok Nadia yang baginya masih sama seperti awal mereka dipertemukan.
"Nanti kamu jaga diri baik-baik di sana ya, kalau kangen sama anak-anak nggak perlu sungkan buat telpon kapan aja."
"Saya udah kemasin jamu-jamuan di tas bagian kecil, moisturizer sama sunscreen nya dipake. Jangan lupa, kirim minimal 1 kali voice note buat saya sama anak-anak!"
"Iya Sayang... apalagi?"
"Kalau kamu sakit jangan paksain kerja, istirahat aja, inget! kamu masih punya aku di sini"
"Noted... ada lagi?"
"Janji, ini tugas terakhir."
"Iya, saya janji. Ini terakhir kalinya saya tinggalkan kamu dan anak-anak untuk tugas."
Jasmin tak dapat menyembunyikan rasa sedihnya, meski ia dan Chandra membicarakan hal ini diselingi candaan tetap saja Nadia merasa sangat rapuh tiap kali suaminya mendapatkan tugas negara seperti ini. Nadia menangis, dan Chandra mengusap air mata yang jatuh itu dengan hati-hati. Chandra pun demikian, pria itu ikut menitikkan air mata ketika Nadia menggenggam erat tangannya seperti tak mau dilepaskan.
"Jenderal, saya cinta banget sama kamu. Janji, untuk jaga diri baik-baik."
"Saya juga, saya sangat mencintai kamu Nadia. Kamu yang sudah memberikan banyak hal berharga untuk saya selama 10 tahun usia pernikahan kita, yang sudah mau melahirkan anak-anak saya, dan mau menjadi pendamping saya yang seringkali membuat kamu menangis."
"Maaf atas segala perbuatan saya yang pernah menyakiti kamu. Dan terima kasih sudah membuat saya menjadi pria paling bahagia dan sempurna di dunia ini."
***
JANGAN LUPA MAMPIR, MASIH BARU, MASIH ANGET.
__ADS_1
Ada typo, seharusnya kaya raya eh malah jadi kaya rasa😭