Suamiku Jenderal

Suamiku Jenderal
Perihal luka dan mantan


__ADS_3

Persidangan naik banding yang dilakukan oleh Vidi atas bantuan perwakilan kuasa hukum agensi berjalan dengan baik dan lancar. Vidi dinyatakan bebas bersyarat oleh pihak pengadilan, ia diwajibkan melakukan rehabilitasi selama satu tahun di Badan Narkotika, serta aktivitasnya dibatasi untuk pergi keluar negeri.


Lelaki berusia 28 tahun itu segera melakukan pertemuan pers bersama dengan anggota band-nya yang lain. Vidi meminta maaf atas semua skandal yang menimpanya kepada seluruh masyarakat, terutama fans dan keluarga besar.


Vidi duduk di antara banyaknya wartawan yang terus menyerangnya dari satu pertanyaan ke pertanyaan lain. Tidak terkecuali tentang Nadia yang terus diusik oleh wartawanwartawan itu. Dibandingkan dengan kabar bebasnya, orang-orang lebih penasaran dengan tanggapan Vidi dengan pernikahan tiba-tiba Nadia yang merupakan calon istrinya empat bulan lalu.


"Vidi, bagaimana tanggapan kamu tentang Nadia? Bagaimana hubungan kalian sekarang?"


Vidi tersenyum, saat dirinya dikawal oleh bodyguard untuk memasuki mobilnya. "Hm, saya akan kembali dengan album baru." Vidi dengan santun, pamit untuk masuk ke dalam mobil. Tidak menanggapi pertanyaan itu, melainkan membuka sesi pemberitahuan kepada media.


Vidi menyandarkan kepalanya pada jok mobil dan mendengkus kasar, sampai manajernya cukup terkejut dengan reaksi tiba-tiba itu.


"Sial banget sih. Gue 'kan sudah bilang, nggak ada pers dulu. Mana bisa gue bicara blak-blakan kalau pertanyaannya seputar Nadia!" omel Vidi pada manajernya.


Si manajer tersenyum masam. "Kita sudah berusaha buat nggak ngadain konferensi pers, tapi mau bagaimana lagi. Berita persidangan banding lu itu sudah menyebar bahkan sebelum pengadilan ketuk palu."


Vidi mengacak rambutnya yang sudah cukup panjang dari sebelumnya, sudah pasti Vidi harus segera mengunjungi salon dan merapikan penampilannya.


"Lusa, siapkan perjalanan ke Flores, ya. Harus lusa, besok kasih tahu gue kalau semuanya sudah siap."


"Hah? Ke Flores? Jangan gila lu, Vid!" ucap sang manajer kaget.


Vidi tersenyum miring ke arah sang manajer yang menatapnya tak percaya. "Iya, nggak usah kaget. Di sana ada Nadia, 'kan? Gue sudah tahu alamatnya dari Liza. Gue nggak perlu ditemani kru, gue mau pergi sendiri ke sana. Juga, jangan sampai ada media yang tahu!"


***


Nadia dan Johnny baru saja selesai mengajar anak-anak di sekolah dasar yang berada di pelosok desa. Daripada sekolah, bangunan yang dijadikan tempat utama untuk menuntut ilmu bagi anak-anak dan remaja itu tampak seperti gubuk yang tidak memiliki fasilitas yang layak untuk proses belajar mengajar, bahkan dari 40 orang murid yang ada di sana, hanya ada satu guru yang mengajar.


Nadia cukup senang jika dirinya bisa membantu guru yang ada di sana, meskipun dia tidak begitu pandai dalam menghadapi anak-anak. Tapi dia setidaknya tahu bagaimana caranya bersosialisasi dan menyampaikan sedikit ilmunya.


Sedangkan Johnny adalah sosok tentara sekaligus memiliki gelar sarjana pendidikan MIPA. Menurut Chandra, Johnny adalah salah satu perwira yang pandai dalam ilmu hitung dan tahu banyak tentang biologi. Maka dari itu, keberadaan Johnny di Flores amat sangat membantu keberlangsungan wilayah perbatasan tersebut.


"Mereka kasihan ya, tidak seberuntung kita yang bisa sekolah dengan fasilitas lengkap. Namun, kadang waktu saya sekolah dulu ... saya masih merasa malas," gumam Nadia dengan raut wajah sedih. Johnny yang mendengarkan curahan hati Nadia pun tersenyum kecil menanggapinya.


"Hm, berada di sini bisa membuat kita banyak-banyak bersyukur. Makanya, jenderal nggak mau pergi ke mana pun sebelum Flores benar-benar layak untuk anak-anak," balas Johnny.


Nadia tersenyum, dia beruntung menikah dengan laki-laki seperti Chandra. "Jadi alasan kamu jadi tentara perbatasan juga ini?"


Johnny mengangguk. "Iya, saya banyak belajar di sini. Sebelumnya saya juga pernah ditempatkan di Papua. Kondisinya tidak jauh beda dengan Flores, tapi waktu itu saya memilih untuk pindah, karena saya pikir Flores lebih baik. Tapi ... ya, begini keadaannya."


"Eh. Johnny, tangan kamu berdarah." beritahu Nadia saat melihat lengan kiri Johnny terluka dan menyisakan darah yang sudah setengah kering.


Johnny memeriksa lengannya. "Ah. Iya, sepertinya tadi tergores paku."


Nadia meringis, gadis itu segera mengeluarkan sesuatu dari dalam tas ranselnya dan buru-buru menarik Johnny untuk duduk di bangku kayu.


"Ya ampun, nggak boleh dibiarin. Nanti luka kamu infeksi. Sini, saya punya obat merah sama plester luka. Apalagi luka dari paku yang berkarat."


Nadia pun langsung sibuk menyeka luka Johnny yang sebenarnya cukup mengerikan untuk seorang yang awam dengan dunia militer. Tapi bagi Johnny tentu luka itu tidak seberapa, bisa sembuh dengan sendirinya.

__ADS_1


"Jenderal punya banyak bekas luka di punggung sama lengannya. Hmm, coba saja jenderal sudah mengenal kamu sejak dulu, mungkin bekas lukanya tidak akan ada." beritahu Johnny setelah Nadia selesai menutup lukanya dengan plester.


Nadia tertegun, dia menarik napas dalam-dalam. "Hem. Saya sudah lihat, katanya luka itu bekas melewati terowongan yang roboh, terus juga karena sabetan pisau perampok yang mau mencuri persediaan makanan saat di Iran."


Nadia bergidik. "Saya nggak akan biarin dia berdarah-darah gitu. Saya takut darah sebenarnya," tambahnya.


Tanpa disadari oleh keduanya, sejak tadi kejadian itu diperhatikan oleh sekumpulan orang yang sedang berjalan ke arah mereka. Ada Ong yang gemas dengan tingkah Nadia terhadap Johnny, ada Yuta yang kini menyenggol lengan jenderalnya, dan Chandra sendiri cemberut saat melihat Nadia mengobati luka kecil milik Johnny.


"Aduh, aduh, sakit!!" Ong tiba-tiba saja menjatuhkan dirinya saat berlari dari tempatnya untuk menuju sekolah.


Mendengar teriakan kesakitan Ong yang cukup keras, segera Nadia dan Johnny menghampirinya dan membantu Ong untuk berdiri.


"Lu kenapa lari-lari sih, jatuh, 'kan?!" tanya Johnny sembari membopong tubuh Ong untuk bangun.


Ong meringis, dan menatap ke arah Nadia. "Duh, sakit. Kayaknya lutut gue cedera deh," ujar Ong pada Johnny dan Nadia. Wajah Ong memelas, sementara itu Chandra dan Yuta yang juga ada di sana hanya menatap terheran-heran pada tingkah Ong yang pada awalnya sehat-sehat saja.


Ong tersenyum senang saat Nadia menyeka luka kecil di lututnya, Chandra yang sedang merapikan tumpukan kayu untuk membangun sekolah sesekali memperhatikan Nadia dan Ong yang malah asik mengobrol di bangku.


"Dan, lama-lama matanya ngeluarin sinar laser, loh!" ujar Yuta yang sejak tadi memergoki Chandra menatap intens ke arah Ong.


Chandra menggelengkan kepalanya buru-buru. "Yuta, tolong kamu rapikan dulu bagian sebelah sini. Saya mau lihat keadaan Ong."


"Siap, laksanakan. Dan!"


Yuta tertawa melihat tingkah Chandra yang tidak biasanya. Memang sih, Chandra dan Ong tidak pernah akur karena sikap Ong yang amat kekanak-kanakan, tapi kali ini bukan karena Chandra jengkel pada sikap Ong, tapi karena Chandra tidak suka kalau Nadia akrab dengan Ong.


"Ong, besok kamu bisa antar saya ke pasar? Saya mau beli alat tulis untuk anak-anak."


"EKHM! EKHM!!" Chandra menyela obrolan dua orang itu dengan batuk disengaja.


Ong yang tersenyum seketika memasang tampang tegas, dan Nadia tentu menyambut suaminya dengan senyum tipis.


"Ong, besok kamu jangan meninggalkan lokasi kantor. Kalau ada inspeksi dadakan dari pusat kamu akan kena skorsing, akibatnya penugasan kamu akan ditambah satu bulan!" beritahu Chandra dengan tegas.


Ong mendengkus pelan. "Tapi, Dan. Besok ...." Ong tidak bisa melanjutkan kalimatnya, karena percuma saja membantah.


"Biar saya yang berangkat ke pasar untuk membelikan alat tulis untuk anak-anak," tambah Chandra dengan menyembunyikan senyumnya.


Ong cemberut, dan Chandra melihat ke arah Ong dengan pandangan yang sudah Ong pahami. "Sana, kamu bantu Yuta dan Johnny. Mereka sejak tadi belum istirahat."


"Iya, iya!" jawab Ong malas, dan berjalan gontai menuju Johnny dan Yuta yang masih giat bekerja.


Chandra lalu beralih pada Nadia yang sejak tadi hanya menjadi pendengar obrolannya dengan Ong.


"Hai," sapa Chandra pada istrinya itu.


Nadia tersenyum geli. "Kenapa sih, aneh banget."


Chandra menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, dia menggulung lengan kemejanya hingga sikut dan memperlihatkan lecet yang sangat kecil pada Nadia. Nadia mengerutkan dahinya karena bingung dengan maksud Chandra.

__ADS_1


"Kamu, kenapa, sih?" Nadia heran.


Chandra menelan salivanya kasar. "Ini, tadi, ehm, saya ... terkena duri rumput liar saat menuju kemari. Coba, kamu ... bisa periksa tidak?"


Chandra menyodorkan lengan kanannya itu pada Nadia, dan Nadia pun mencari luka yang Chandra maksud di lengan panjangnya tersebut.


Chandra tersenyum samar karena Nadia terus mengusap lengannya dan berusaha mencari duri yang tertinggal di sana.


"Nggak ada apa-apa tuh. Kulit kamu nggak lecet sama sekali."


Chandra meringis pelan, kelihatan sekali kalau sikap kakunya tidak bisa diajak berakting alami seperti Ong. "Begitu, ya? Benar tidak apa-apa? Bagaimana kalau infeksi? Bukannya rumput liar di daerah tropis bisa membuat alergi, ya?"


Nadia tertawa kecil. "Nggak, kamu baik-baik saja kok. 100 persen sehat. Mana mungkin sih jenderal yang sudah pernah keliling jalur Gaza, bisa infeksi karena duri rumput."


Chandra memaksakan tawanya, tapi dia masih kecewa kenapa Nadia tidak mengobatinya seperti yang lain juga. Tujuan utama Chandra pun gagal total.


"Oiya, besok kamu mau saya antar membeli alat tulis?"


Nadia mengangguk. "Hm, kasihan anak-anak di sini. Kamu, nggak keberatan 'kan kalau besok kita juga sekalian belanja bahan makanan?"


"Tidak masalah, selagi saya bisa membantu."


Keduanya diam, sehingga tidak ada percakapan sama sekali. Mereka berdua menikmati terangnya matahari sore itu dibarengi dengan suara candaan anak-anak di bangunan setengah jadi. Chandra menarik napasnya dalam-dalam dan melirik ke arah Nadia yang justru sedang menatap padanya.


Nadia tersenyum. "Chandra ...."


"Hm?"


"Makasih, ya. Sudah jagain saya. Juga bikin saya betah tinggal di sini."


Chandra mengangguk. "Nadia, boleh saya tanya sesuatu?"


"Tanya saja, kenapa sih selalu minta izin," balas Nadia santai, dia pun mendekatkan tubuhnya ke arah Chandra.


"Saya pernah membaca artikel tentang kamu. Katanya, mantan pacar kamu itu banyak. Memang itu benar?"


Nadia membulatkan kedua mata kucingnya sebelum gadis itu tertawa kecil menanggapi pertanyaan polos dari Chandra. Memang benar, Chandra tidak seperti penampilannya yang gagah dan berani, dibalik seragamnya yang begitu karismatik tetap saja tersimpan pikiran kekanakan khas seorang lelaki yang jarang bersosialisasi dengan perempuan.


"Apa selain Vidi, masih ada mantan pacar kamu yang lain?"


"Mereka, cuma numpang lewat doang kok. Tipikal pacaran yang nggak serius."


Chandra mengerucutkan bibirnya dan wajah bingungnya semakin kentara terlihat oleh Nadia.


"Saya, tidak akan numpang lewat saja, 'kan?"


Nadia menggeleng, tawanya masih tersisa karena Nadia merasa sangat lucu dengan sikap Chandra akhir-akhir ini. Gadis itu sampai menutup mulutnya karena tidak bisa menghentikan tawanya saat melihat ekspresi Chandra.


"Eh, sudah sore. Kita pulang yuk, kasihan kamu sudah kerja dari tadi ... yang lain juga. Kita ngobrol di rumah aja," ajak Nadia sembari merapikan pakaian dan barang bawaannya untuk segera pulang, Chandra tidak bisa membantah dan segera saja pria itu memberikan komando kepada prajuritnya untuk menyudahi pekerjaan hari ini.

__ADS_1


***


__ADS_2