
Siang yang cerah seperti biasanya, Flores yang tidak pernah diguyur hujan sejak kedatangan Nadia ke tempat itu membuat Nadia kehabisan ide untuk menghabiskan waktunya selama tinggal di sini. Jujur saja, Nadia cukup bosan ketika ia tidak bisa jalan-jalan atau menikmati senangnya kehidupan kota yang semuanya serba mudah. Kalau lapar Nadia tinggal memesan makanan secara online, kalau bosan Nadia juga bisa pergi dengan mobilnya untuk ke mal atau ke studio. Tapi di sini? Meskipun Nadia bisa mengendarai mobil dan pergi ke kota, dia tetap saja tidak bisa menikmati kemudahan itu.
Chandra juga sedang bekerja, Nadia bisa apalagi sekarang? Dia sudah mengerjakan hampir seluruh pekerjaan rumah. Ah, atau Nadia sebaiknya main saja ke tempat Nellie? Dan mengatakan kalau suaminya sudah mengungkapkan perasaannya. Ya, Nadia akan minta pendapat Nellie saja tentang kejadian semalam.
Dengan semangat, gadis itu segera mengganti pakaian dan mengambil kunci mobil yang Chandra titipkan padanya.
"Surat, surat!" teriak seorang laki-laki tinggi dengan pakaian tentara, lelaki itu tampak berdiri di samping motor trail yang dikendarainya. Dari tampilannya, sudah jelas kalau lelaki itu memiliki profesi yang sama dengan Chandra. Ya, seorang tentara.
Nadia yang hendak memarkir mobilnya pun menghampiri lelaki itu terlebih dahulu.
"Ada surat? Untuk siapa?" tanya Nadia sopan.
Si lelaki pengantar surat itu tersenyum dan menyodorkan tangan kanannya pada Nadia. "Untuk saudari Nadia, suratnya dari Jakarta. Perkenalkan, saya sersan Ardi," ucapnya dengan senyum makin lebar.
Nadia terkekeh. "Ah, dari Jakarta? Kenapa Sersan bisa tahu kalau saya, Nadia?"
Tentara bernama Ardi itu tampaknya sama seperti Ong, mudah akrab dan ramah.
"Jadi begini, saya mendengar kabar kalau Jenderal Chandra, atau komandan utama keamanan zona perbatasan dua telah menikah. Kabarnya sangat ramai jadi bahan perbincangan di kantor pusat. Kebetulan, yang dinikahi jenderal itu adalah artis favorit saya. Jadi, apakah boleh apabila saya minta berfoto bersama dengan Anda? Sebelum menyerahkan surat."
Nadia tertawa kecil. "Oh, begitu, ya? Haha, tentu boleh."
"Hehe, syukurlah. Tapi jangan bilang-bilang pada suami Anda, kalau saya meminta foto bersama. Oiya, Nadia ini sangat cantik jika dilihat langsung!" tambah Ardi sambil mengeluarkan handphone-nya dari saku celana. Ia kemudian mengambil foto selfi bersama Nadia, sambil melakukan pose simbol damai bersama.
"Sampai lupa, ini suratnya." Ardi akhirnya menyerahkan surat di tangannya pada Nadia,
Nadia menerimanya tapi tidak begitu penasaran dengan isinya. Itu sudah pasti sebuah surat undangan diacara hiburan di Jakarta. Nadia bisa mengenali surat itu dari amplop yang membungkus suratnya.
"Terima kasih, ya," gumam Nadia ramah pada Ardi.
Dengan sopan Ardi mengangguk. "Ya, sama-sama. Oiya, sehat-sehat di sini, ya. Kapan-kapan kamu dan jenderal harus berkunjung ke lokasi tugas saya. Saya tinggal di dekat pasar dan posko jaga saya ada di sana."
"Hm, saya pasti akan berkunjung."
__ADS_1
Tak memedulikan isi surat, Nadia langsung saja menuju puskesmas di mana Nellie tinggal.
***
"Pokoknya, gue nggak mau tahu ya, Nad! Lu harus datang ke acara award itu. Lu harus muncul ke publik sejak pernikahan lu sama tentara itu." Liza mengomeli Nadia lewat telepon, tepat saat Nadia baru saja mendapatkan jaringan.
Nadia menghela napasnya. "Enggak bisa sekarang, Liz. Gue harus minta izin ke kantor suami gue, dan gue juga harus bawa suami gue, gue tuh nggak boleh dipisahkan dengan dia. Juga, gue nggak yakin kalau Chandra mau ikut ke acara award kayak gitu."
"Ck, lu nggak kasihan sama penggemar lu yang nunggu, lu? Lu jangan buang diri gitu dong, Nad. Walau bagaimanapun juga, Nadia itu penyanyi, fublik figure masa hilang gitu saja tanpa klarifikasi sama sekali."
"Harusnya nih, ya. Suami lu itu ngerti dong. Sebelum dia nikahin lu dia harusnya tahu risikonya apaan. Nad, ayo dong ... gue kangen lu yang dulu, ah!" tambah Liza dengan blak-blakan menyuarakan ketidaksukaannya pada sikap Nadia sekarang.
Nadia menutupi wajahnya dengan sebelah tangan, baru saja dia dan Chandra berada di atas awan karena Chandra sudah mengungkapkan perasaannya, tapi sekarang masalah baru muncul. Chandra pasti sulit jika harus beradaptasi dengan kehidupan ganda sekaligus, menjadi seorang perwira dan selebriti tidak bisa dilakukan secara bersamaan.
"Hm, ya sudah. Nanti gue coba cerita ke suami. Dia mau atau nggak. Kalau dia nggak mau, kayaknya gue nggak akan datang."
"Ya sudah, lu pikiran baik-baik ya, Nad. Acaranya 'kan sebulan lagi, pasti bisa persiapan 'kan buat ancang-ancang. Pokoknya gue udah ditekan sana-sini biar lu datang ke acara itu."
"Lu susah dihubungi, Nad. Apa nggak kangen?" tanya Liza sedih.
Nadia tersenyum tipis. "Iya, mau bagaimana lagi, gue juga kangen kok. Semalam, gua sudah teleponan sama papa. Gue juga sudah telepon sama keluarga suami."
"Lu, kedengarannya, betah di sana, ya?"
Mendengar pertanyaan Liza, jelas Nadia mengangguk senang. Nadia tidak tahu pasti apa yang membuatnya sangat nyaman tinggal di Flores, meskipun beberapa kali ia bosan tapi tidak dapat dipungkiri kalau dirinya sangat menikmati tempat terpencil itu. Apakah alasan utamanya karena dia bersama Chandra? Ah, Nadia jadi malu memikirkannya.
"Yang jelas. Semenjak berada di sini, gue nggak pernah dengar hal jelek lagi, Liz. Semua orang di sini, tahunya gue istri jenderal. Bukan mantannya Vidi. Bukan cewek yang ditinggal masuk penjara. Bukan cewek yang gagal nikah."
Bip!
Nadia langsung mematikan sambungan telepon dengan Liza, Nadia merasa bahwa tidak ada yang perlu dibicarakan lagi dengan sahabat sekaligus manajernya itu. Terserah, jika Liza merasakan perubahan besar pada dirinya, karena sejujurnya Nadia sangat ingin berubah sejak ia memutuskan untuk menikahi pria yang dikenalkan oleh nenek padanya.
***
__ADS_1
Sebenarnya, Chandra tahu bahwa ini adalah hal yang salah untuk dilakukan. Namun, mau bagaimana pun juga jika ia membiarkannya terus menerus sehingga perihal ini berlarutlarut tanpa ada ujungnya, Chandra mungkin akan terus merasa bersalah.
Pertemuannya dengan Nellie pada malam itu sebenarnya tidak pernah hilang dari pikiran Chandra. Bagaimana Nellie memeluknya dengan isak tangis hampir membuat Chandra lupa diri. Chandra merindukan gadis itu, bukan hanya fisik melainkan status mereka pun tidak bisa lagi dianggap wajar.
Nellie duduk di sisi Chandra, mereka berada di teras belakang rumah yang tidak ada siapa pun di sana. Hanya mereka berdua, dan Chandra masih mengenakan seragam tentaranya karena pria itu belum sempat pulang ke rumah.
"Saya senang kamu menemui saya lagi," ucap Nellie gemetar, Nellie sangat takut Chandra memotong ucapannya lagi seperti kemarin, dan pergi begitu saja.
Gadis itu memutar cincin pemberian Chandra di tangannya, seolah benda itu dapat menolongnya dari ketakutan ini. Ketakutan untuk diabaikan.
Chandra menoleh, raut wajahnya dingin sekali, namun Nellie merasakan jantungnya berdetak sangat kencang kala mata mereka bertemu.
"Tidak ada lagi yang harus kita bicarakan. Penolakan kamu pada saya setahun lalu, sudah memperjelas semuanya 'kan," ujar Chandra pelan, dan Nellie mengangguk.
"Saya gegabah waktu itu. Namun, dalam hati saya ... saya ingin menahan kamu untuk tidak pergi. Saya menyesal, saya tidak bermaksud menolak kamu waktu itu." Nellie tersendat saat bicara, air mata menguasai dirinya dan suaranya pun sangat serak hingga membuat Chandra merasa iba.
"Saya takut kehilangan kamu. Kita berdua, selalu berada di tempat darurat. Kalau waktu itu saya menerima lamaran kamu, dan kita menikah ... mungkin kita akan hidup di zona minim keselamatan."
"Tapi." Nellie tersenyum getir. "Saya senang, sekarang kamu baik-baik saja di tempat ini. Kamu juga terlihat sangat bahagia."
"Kamu memang sudah kehilangan saya," ucap Chandra datar, memotong kalimat Nellie sebelum gadis itu menyelesaikan penjelasannya, suaranya pun terdengar sangat tidak berperasaan.
Dan Nellie yang semula menatap nanar pada mantan kekasihnya itu tampak terkejut bukan main.
Chandra tersenyum hangat ke arah Nellie. "Kamu adalah bagian terbaik dalam hidup saya. Tapi sekarang tidak lagi."
"Saya sudah menikah, dan saya sudah jatuh cinta lagi."
Chandra kemudian berdiri dari duduknya, pria itu pamit di hadapan Nellie yang bahkan belum sempat menanggapi kalimat terakhirnya.
Nellie menyembunyikan wajahnya dibalik telapak tangannya yang dingin. Menangis dengan tersedu-sedu, kalimat perpisahan yang sesungguhnya telah ia terima hari ini. Juga, kalimat itu sekaligus menjadi penutupan yang tidak akan pernah bisa ia buka kembali di waktu lain.
***
__ADS_1