
Rumah sakit bersalin tempat Nadia melahirkan bayi pertamanya dari hasil pernikahannya dengan sang Jenderal bintang tiga itu dipenuhi oleh kawan dari media yang hendak meliput. Meskipun penjagaan yang sangat ketat telah dilakukan oleh pihak rumah sakit dan juga dinas TNI yang mengawal, tetap saja ada beberapa wartawan yang lolos masuk ke dalam untuk sekedar mencuri-curi foto sang bayi perempuan.
Sore itu, Chandra dengan sigap mempersiapkan diri dan juga perlengkapan milik bayinya dan Nadia untuk dirapikan ke dalam mobil yang sudah siap untuk menjemput.
Chandra dengan tenang membawa tas bayi dan juga tas berisi pakaian ganti Nadia keluar dari dalam rumah sakit menuju parkiran, tubuh jangkungnya langsung diserbu oleh puluhan wartawan yang segera mengajukan pertanyaan beruntun.
Chandra yang tampan nan rupawan, pakaian dinas miliknya melekat sempurna di tubuh membuat rombongan wartawan seketika senyap saat Chandra mulai bicara.
"Mohon maaf untuk pihak media dari mana pun, saya sebagai suami dari pasien di rumah sakit ini sangat terkesan dengan kedatangan kalian semua. Akan tetapi, saya rasa kurang tepat jika kedatangan saya dan Anda semua justru mengganggu kenyamanan di rumah sakit ini."
"Alhamdulillah ... Nadia istri saya sudah sehat dan dipersilakan untuk segera pulang ke rumah sore ini juga. Bayi kami juga sudah sehat." jelas Chandra dengan sopan dan santun, beberapa wartawan wanita bahkan tersenyum-senyum kala Jenderal menjelaskan dengan kalimat yang begitu ramah pada wartawan yang ada di sana.
Aura kepemimpinan yang dimiliki Chandra terasa tegas, tetapi kalimat yang keluar dari mulutnya terdengar sangat sopan di telinga semua orang yang ada di sana. Hal tersebut memunculkan spekulasi baru, bahwa kasus yang dulu sempat menyeret namanya hingga menjadi buruk mungkin hanya rumor belaka yang tidak berdasar sama sekali. Sebab, pada kenyataannya sosok Chandra amat jauh dari kata tidak sabaran apalagi temperamental.
"Bayinya laki-laki atau perempuan?" tanya wartawan yang berdiri paling belakang.
Chandra tersenyum. "Bayi pertama kami perempuan. Sangat mirip dengan mamanya, cantik sekali. Lahir pukul empat pagi dengan prosesi sesar."
"Sudah ya, lain waktu pasti saya akan memberikan teman-teman media untuk wawancara ekslusif jika Nadia sudah kembali beraktivitas."
Chandra menarik napasnya dalam-dalam, dia sebenarnya sangat gugup saat menghadapi wartawan barusan, bahkan saat ini gerak-geriknya ketika menyimpan tas ke dalam bagasi masih menjadi bidikan kamera dari berbagai arah.
"Hm ... resiko menikahi kamu, Nad," kata Chandra sambil mengarahkan senyum pada semua orang yang tampak memperhatikannya.
Nadia duduk di kursi roda yang sudah disiapkan oleh suster, dan bayi mungil perempuan buah hati tercintanya dengan Chandra kini terlelap dalam pangkuan kakeknya, yaitu papa Nadia yang juga datang untuk menjemput kepulangan Nadia dari rumah sakit.
Chandra tiba dengan langkahnya yang cepat, pria itu tersenyum ketika melihat Nadia sudah siap untuk segera pulang ke rumah. Nadia selalu mengeluh kalau ia tidak bisa tidur nyenyak di rumah sakit dan tidak dapat makan enak. Maka dari itu, Nadia amat tidak sabaran untuk segera pulang dan mengurus bayi sepenuhnya di rumah.
"Gimana, sudah siap?"
"Sudah, wartawannya sekarang sudah berbaris rapi di parkiran. Saya sudah mengomando anak buah saya untuk berjaga di sana."
"Jadi ... kamu nggak perlu khawatir."
"Papa sama bayi juga."
Papa tersenyum mendengar penjelasan menantunya, walau tak begitu akrab dengan Chandra karena pertemuan yang kurang intens, tetapi papa begitu meyakini kalau Chandra adalah sosok yang dapat diandalkan.
"Hebat kamu ... beda ya kalau Jenderal, perintahnya langsung dituruti," kata papa dengan kekehan kecil.
Chandra mengangguk malu-malu. "Tidak kok Pa. Saya hanya bicara baik-baik dengan orang-orang media. Kalau semuanya sudah selesai dikemas, ayo kita pulang sekarang."
Chandra mengambil alih kursi roda milik Nadia yang semula dipegang oleh suster, kini Chandra yang mendorongnya dengan perlahan, sebab Chandra khawatir jika bekas operasi masih menyisakan luka di tubuh istrinya.
Nadia melambaikan tangannya pada kawanan pers yang ternyata berbaris rapi untuk mengambil foto, mereka menyambut kehadiran Nadia dengan berbagai ucapan selamat atas kelahiran bayi pertamanya, tanpa adanya kericuhan atau suasana berdasarkan seperti biasanya. Nadia merasa haru luar biasa sampai tidak sadar kalau ia menangis mendapati hal menakjubkan ini.
Chandra yang menyadari hal tersebut segera mengusap lembut bahu sempit istrinya. "Sedih, ya? Kamu beruntung, banyak orang yang menyayangi kamu. Saya jadi senang karena menjadi bagian dari hidup kamu."
__ADS_1
Nadia mendongak ke belakang ketika Chandra membisikkan kalimat manis itu tepat di telinganya.
"Berkat kamu juga, makasih, ya ... udah tepatin janji?"
Chandra mengangguk, tanpa malu pria itu menjatuhkan kecupan di atas puncak kepala Nadia dan mengusap air mata Nadia menggunakan jemari panjangnya, wartawan mengabadikan momen manis itu dan esok pasti foto-foto itu akan tersebar di seluruh portal berita online maupun cetak.
***
Tangisan kecil dari bayi perempuan itu meramaikan suasana rumah besar milik keluarga Nadia yang semula terasa sepi. Kehadiran bayi perempuan itu menyatukan dua keluarga yang sudah lama tak merasakan kehangatan sebuah keluarga dengan sosok bayi, tetapi malam ini semuanya berkumpul dan menginap untuk menyambut hari pertama bayi tidur di rumah.
Ibu dan ayah Chandra justru berebut untuk bergantian menggendong cucu pertama mereka, sementara papa Nadia sudah lebih dulu mengalah karena telah menggendong bayi selama di rumah sakit dan jalan pulang.
Nadia tersenyum lembut sembari bersandar pada dada bidang suaminya yang dengan setia selalu berada di sisinya kapan pun dan di mana pun.
"Neng, sementara jangan nyalain AC dulu sama buka jendela ya," peringat nenek yang sudah sangat senior soal mengurus bayi.
"Nenek tenang saja, tadi saya sudah rapikan kamar jadinya menggunakan penjernih udara agar ruangannya lembab."
Nenek mengacungkan jempolnya ke arah Chandra yang sudah lebih dulu menjawab. Nadia hanya dapat bertepuk tangan kecil dengan tingkah suaminya yang benar-benar siaga.
"Ya ampun ... emang sudah siap Kakak tuh jadi bapak sejak 10 tahun yang lalu ya, Kak? Haha," ejek Joy dengan tawa renyahnya.
"Giliran kamu nih Joy, kapan kasih cucu juga ... masa ibu sama Ayah harus rebutan si bayi terus sama besan," ucap ibu dengan sindiran keras pada Joy.
Joy langsung cemberut dikatakan begitu, ia sudah tidak berani berkomentar apa pun.
Chandra langsung melirik ke arah istrinya. "Saya tidak akan kasih adik saya buat anak-anak di Flores. Saya tidak mau jadi kakak ipar mereka, apalagi Ong," tutur Chandra yang mengundang tawa Nadia dan nenek.
Joy sendiri hanya tersenyum malu-malu dan karena menjadi satu-satunya orang paling muda dan nol pengalaman di sana.
"Mulai besok harus buat persiapan untuk acara akikahan bayi nih. Papa akan undang rekan kerja papa di kampus, kalau Nenek mau undang teman pengajian ... keluarga besan juga gimana?" tanya papa Nadia yang sudah siap untuk menjadi penyelanggara acara akikah.
"Oh iya betul, acaranya satu minggu lagi. Kalau saya terserah besan bagaimana acaranya, saya tinggal bantu untuk mempersiapkan dekorasi dan katering," timpal ibu Chandra dengan santun dan tak sabar.
"Okay, Joy bisa bantu sediain tim dokumentasi buat acara akikah, Om," ujar Joy dengan semangat pada papa Nadia.
"Nenek mah siapin souvenir aja ya. Teman nenek ada yang cucunya punya pabrik pembuatan keramik gitu di Purwakarta, nanti nenek order aja di sana, gimana Neng?"
"Boleh nenek ... Nadia apa aja ikut pokoknya. Maaf ya, ngerepotin semuanya."
"Hust, ngerepotin apanya. Kamu 'kan anak kami." Ibu dengan lucu mencubit lembut pipi Nadia yang agak tembam. Nadia tertawa kecil mendapatkan perlakuan itu.
Ibu juga sejak tadi tidak berhenti menatap kagum pada bayi perempuan yang sudah ada di hadapan seluruh anggota keluarga. Nadia sangat terharu, sebab ia tidak pernah menyangka bahwa kekosongan hidupnya selama ini dapat terpenuhi karena ia menikahi sosok pria yang tepat seperti Chandra.
***
Flora Ruby Negara, nama cantik yang disematkan pada bayi mungil dengan paras cantik campuran wajah sang mama dan lesung pipi menjorok milik sang papa. Semuanya tergambar dengan jelas pada rupa bayi mungil yang kini menjadi satu-satunya sorotan semua orang di ruang keluarga.
__ADS_1
"Rambutnya Ola ikal ya, mirip Papanya nih ... Papa Jenderal."
"Hihi ...." Flora hanya terkikik ketika Nadia mengecup perutnya yang lembut setelah dimandikan pagi itu.
Bukannya merasa kedinginan, Flora justru senang bermain dengan air dan senang ketika dimandikan oleh ayahnya. Sementara Nadia sibuk mendandani dan Flora, Chandra justru menyiapkan teras untuk Flora berjemur pagi ini.
"Mana bayinya papa ...." Chandra berhambur ke arah Flora, tetapi pria itu justru menjatuhkan kecupan beruntun di pipi tembam istrinya. Nadia tertawa kecil mendapatkan perlakuan menggemaskan suaminya. Sekarang si robot Jenderal itu sudah banyak sekali berubah, nyaris 180 derajat Jenderal yang telah menjadi papa berubah lebih ekspresif dan sedikit demi sedikit mengubah tatanan bahasanya saat berkomunikasi, terutama saat bersama Flora.
"Aduh beratnya Flora ... jangan dulu besar ya, Nak. Papa masih suka lihat Flora nangis-nangis ... rengek tiap subuh ke Mama sama papa."
Chandra mengobrol dengan Flora yang kini berada dalam pangkuannya, Nadia menyiapkan lemon tea hangat untuknya dan Chandra pagi itu.
Nadia merengkuh tubuh jangkung Chandra dari belakang, dan mengecup punggung tegap suaminya berulang kali.
"Hari ini Ong bebas tugas dari Flores. Lusa mau ke sini loh," ujar Chandra.
"Oiya? Bagus dong, yang lain datang juga?"
"Kamu senang kalau Ong datang?"
Nadia terkekeh, suaminya masih terlihat ketus kalau sudah menyangkut tentang Ong.
"Ya senang, Ong juga bilang kalau dia sudah nggak sabar mau ketemu Flora... udah siapin hadiah dari dulu, tapi belum sempat dikasih karena jauh."
Chandra menghela napasnya, tetapi sedetik kemudian ekspresinya berubah menjadi amat bahagia saat ia dapat sedekat ini dengan Nadia.
"Rasanya baru kemarin saya nangis-nangis melihat kamu dengan Flora di ruang bersalin. Eh, sekarang Flora sudah berusia tujuh bulan."
Nadia memberikan kecupan di pipi Chandra, dan Flora tersenyum melihat kemesraan kedua orang tuanya. Sepasang mata bening milik balita cantik itu benar-benar indah, sampai Chandra tak kuasa jika harus berpisah untuk sekedar pergi bekerja.
"Rasanya baru kemarin juga kamu datang ngelamar ke rumah saya," ejek Nadia dengan gemas.
Chandra tertawa mendengarnya. "Sayang ... boleh tidak saya minta sesuatu lagi?"
"Hm ... apa?"
"Flora sepertinya kesepian. Kalau tahun depan Flora punya adik, seperti itu ide bagus, 'kan?"
Kedua mata kucing Nadia membulat sempurna mendengar ucapan suaminya. "Ide bagus."
"Saya bercanda, tapi kalau kamu mau saya tidak akan menolak untuk menghamili kamu lagi."
***
Give me a gift
Flora Ruby Negara
__ADS_1