Suamiku Jenderal

Suamiku Jenderal
BAB 53


__ADS_3

Hujan gerimis turun, membuat langit malam tampak berkabut dengan rintik air tersebut. Nellie yang kini tidak memiliki pekerjaan apa pun di tempat dinas tampak kebosanan dengan pikirannya sendiri. Hm, gadis itu menghela napas sambil memikirkan masa--masa lalu yang terasa indah ketika bersama Chandra.


Dulu, ketika gerimis begini adalah hal yang paling ia dan Chandra tunggu di area tandus selama bertugas. Selain mengumpulkan persediaan air untuk mencuci, gerimis juga bisa menyejukkan sedikit hawa gersang. Akan tetapi sekarang, Nellie justru sangat membenci gerimis, karena ia tidak dapat menyaksikannya bersama Chandra lagi.


Sampai saat ini, Nellie tidak lagi melihat Chandra. Dan terakhir kali adalah ketika pria itu membantunya dalam program imunisasi yang dilakukan di puskesmas. Chandra tidak ada kabar, bahkan semua pasukannya pun seperti menghindar dari Nellie.


"Dokter! Ada pasien kejang-kejang!"


Lamunan Nellie buyar ketika perawat memberitahunya tentang kedatangan pasien kejang malam itu. Nellie dengan sigap langsung mengenakan jas dokternya dan memasang stetoskop ke lehernya.


"Di mana pasiennya?!" tanya Nellie dengan nada serius.


"Sudah ada di ruang periksa. Awalnya pasien pingsan, tapi lima menit lalu kejangkejang saat dilakukan cek suhu tubuh."


Nellie langsung berlari ke ruang periksa yang dimaksud, dan ia menemukan sekumpulan rekan tentara Chandra ada di sana, Nellie sangat takut jika pasien itu mungkin saja Chandra. Tapi, Nellie menghela napasnya ketika pasien itu justru orang lain.


Dio menghampiri Nellie dan mencoba bicara dengan dokter itu. "Tolong diagnosa lakilaki ini. Dia mengeluh demam."

__ADS_1


Nellie mengangguk dan langsung memeriksa pasiennya tersebut dengan telaten.


Berpengalaman sebagai dokter lebih dari lima tahun, tentu kemampuan Nellie bisa diacungi jempol. Nellie menangani pasien dengan sangat baik dan profesional sebagaimana mestinya.


Sementara Nellie melakukan pemeriksaan, Dio dan Johnny yang mengantarkan pasien ke puskesmas pun menunggu di luar teras puskesmas.


Vidi merasakan rasa dingin yang semula menyelimuti tubuhnya kini menghilang, lelaki itu membuka mata perlahan dan merasakan haus luar biasa serta dia yang sehat-sehat saja justru harus jadi begini.


"Ah!" Vidi mengadu saat melihat tangan kirinya sudah dipasang infus, dan tubuhnya juga berada di atas matras diselimuti oleh kain salur. Vidi pikir dia ada di kamar penginapan.


Kenapa bisa ada di sini?


Vidi cukup kaget dengan pertanyaan itu, seorang wanita yang memakai jas putih terlihat memeriksa cairan infus.


"Hmm, iya, Dok. Kenapa bisa saya ada di sini?"


Nellie tersenyum kecil. "Kamu pasti lupa sekarang, tapi nanti akan ingat kok. Oh, iya, apa kamu menggunakan obat ...." Nellie tidak melanjutkan kalimatnya, dan Vidi tersenyum kecut. Dokter itu mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.

__ADS_1


"Iya, Dok."


"Oh, pantas. Infus tidak masuk ke tubuh kamu."


Vidi menunduk, tatapan matanya bergetar dan hendak menangis.


"Seharusnya, kamu menjalani terapi dan rehabilitasi. Mengapa kamu justru pergi ke tempat yang sulit akses kesehatan dan penanganan withdrawal syndrome kamu?"


"Kalau dibiarkan terus dengan penanganan yang tidak tepat, kamu akan mengalami kebutaan," jelas Nellie sembari menuliskan resep.


"Dokter tidak akan melaporkan saya ke polisi, 'kan?!" ujar Vidi curiga. Membuat Nellie tertawa kecil.


"Saya? Untuk apa saya melaporkan kamu ke polisi. Tugas saya adalah merawat kamu sampai kamu pulih. Tapi, ada baiknya kalau kamu tidak tinggal di tempat ini dengan kondisi kamu yang sangat membutuhkan terapi."


"Saya tidak bisa pergi dulu ke mana-mana. Saya mau di sini untuk sementara. Ada yang mesti saya perjuangkan!" tekan Vidi.


Bersambung ....

__ADS_1


Maaf ya ini emang pendek karena cuma 530 kata. Nanti aku up, tapi nggak janji. Bye, please tinggalkan komen dan likenya.


__ADS_2