
Makan malam kali ini adalah hidangan sehat yang dibuat oleh Chandra sendiri, Nadia sejak tadi tidak diperbolehkan untuk menyentuh peralatan masak satu pun, suaminya melarangnya dan bersikeras melakukan semua pekerjaan seorang diri.
Chandra juga memasak sambil bersenandung lagu milik John Legend yang berjudul All Of Me, suaranya yang serak-serak basah dan tebal terdengar sangat cocok kala menyandungkan lagu cinta tersebut.
Chandra memotong wortel dan memasukkannya ke dalam panci yang tengah mendidihkan kuah sup yang sudah berisi daging. Nadia memutuskan untuk melihat dari dekat sambil memeluk pinggang suaminya dengan erat.
"Bete ... mau saya bantuin nggak?"
"Hm ... tidak perlu, sudah selesai kok," balas Chandra, pria itu mencuci tangan dengan Nadia yang masih memeluknya.
"Ibu hamil tidak boleh kebanyakan berdiri. Kamu juga tidak boleh kecapean. Besok kita harus periksa kehamilannya ke dokter, saya mau tahu semuanya tentang calon bayi kita Sayang."
"Ih, nggak boleh berlebihan. Hamil 'kan bukan berarti sakit," balas Nadia pada Chandra.
Chandra menanggapinya dengan gelengan kecil.
"Kamu sudah lapar?"
"Dikit ... hm ... supnya kayaknya enak." Nadia menghirup dalam-dalam aroma sup yang telah lama mendidih. Chandra menyajikan nasi ke dalam piring, mematikan kompor dan menuangkan sup ke dalam mangkuk untuknya dan juga untuk Nadia.
Nadia bertepuk tangan kecil saat makan malamnya telah siap dan semuanya Chandra yang siapkan. Chandra pula menyendok nasi juga sup, dan meniupnya perlahan-lahan untuk menghilangkan panas.
"Huuuf ... huuuf ...."
Nadia memperhatikannya dengan gemas, tak pernah ia bayangkan jika Chandra yang sangat disiplin dan begitu tangguh di hadapan ribuan orang, mau bersikap seperti ini hanya untuk melayani istrinya.
__ADS_1
"Aaaa ...," pinta Chandra sembari membuka mulutnya, meminta Nadia untuk menerima suapan pertama darinya.
Nadia membuka mulutnya dan menerima suapan dari suaminya itu dengan perasaan yang sangat bercampur aduk, terlalu senang yang berlebihan membuat Nadia tidak bisa berhenti tersenyum.
"Bagaimana ... enak?"
"Banget!" jawab Nadia dengan yakin, gadis itu mengunyah dengan pelan-pelan makanan dalam mulutnya tanpa melepas tatapannya pada sang suami yang kembali meniup suapan lain untuknya.
"Saya nggak bisa bayangin kalau kamu nikah sama orang lain. Kamu pasti bersikap begini juga," ucap Nadia dengan tiba-tiba.
"Saya 'kan sudah bilang, kalau Nadia ada dua atau ada berapa pun, saya pasti mau memiliki semua Nadia yang ada di dunia ini," jawab Chandra gombal.
Chandra mengangkat tangan kirinya dan membelai halus puncak kepala Nadia sampai ke samping wajah cantik istrinya. Nadia menjepit tangan Chandra menggunakan pipinya dan menatap wajah itu lekat-lekat.
"Saya juga tidak bisa membayangkan, kalau kamu dengan pria lain. Saya tidak akan mendapatkan kesempatan untuk membelai rambut panjang kamu, atau menyaksikan kamu tidur di sisi saya setiap malam sampai pagi."
"Chan ...."
"Hm?"
"Aaaa ...." Nadia membuka mulutnya, meminta suapan lain.
Chandra tertawa kecil begitu pun Nadia. "Hampir saja saya lupa, hehe ...."
Saat menjelang tidur Chandra membawa sepasang sepatu bayi yang mungil itu ke atas telapak tangannya. Sudah dapat dia bayangkan kaki-kaki mungil yang lembut dan lemah itu berada di atas kulitnya, Chandra tersenyum ketika di sampingnya Nadia memperhatikan tingkahnya sejak dua menit lalu.
__ADS_1
"Kalau bayinya perempuan, pasti cantik seperti kamu. Matanya kecil, hidungnya kecil, bibirnya kecil," ujar Chandra pada Nadia yang kini merebahkan tidurnya di atas tempat tidur.
Chandra melakukan hal yang sama, tetapi ia menyimpan sepatu bayi mungil itu di atas bantal di antara dirinya dan Nadia.
"Umm ... lebih cantik kalau punya mata seperti kamu. Saya suka mata kamu, kelihatan lebih kalem. Kalau mata kecil kayak saya kelihatan jutek."
"Oh ya? Hehe ... kalau begitu matanya seperti milik saya, tetapi cantiknya harus seperti kamu."
"Kalau bayinya laki-laki harus seratus persen mirip saya," tambah Chandra dengan percaya diri.
Nadia menarik tangan Chandra dan menempelkannya pada perutnya yang terbalut piama.
"Ajak ngobrol dong, bayinya ...," pinta Nadia.
Chandra menarik napasnya sebelum dia hendak berkata-kata pada bayinya.
"Bayi, terima kasih ya, sudah tinggal di dalam sini ...."
Nadia terkikik ketika Chandra menepuk pelan permukaan perutnya, raut wajah Chandra terlihat sangat serius seperti sedang memimpin upacara.
"Bayi harus betah tinggal di perut mama sampai dilahirkan ke dunia. Mama adalah orang yang paling papa sayangi di dunia ini. Bayi ... terima kasih, ya, sudah memilih papa dan
Mama sebagai orang tua kamu."
"Sama-sama, Papa." Nadia menjawab dengan suara lembutnya yang dibuat menyerupai anak kecil. Chandra tersenyum penuh arti dengan balasan dari istrinya.
__ADS_1
BERSAMBUNG ....
AAARRRGGGHH ... GEMES...!