
Nadia ditemani oleh Danil dan Dio memasak untuk makan malam ini. Kali ini yang bertugas sebagai koki utama adalah Dio dan menunya adalah cumi pedas manis dan pasta instan yang waktu itu Nadia bawa dari Bandung. Karena tidak ada kulkas, sehingga makanan segar seperti ikan laut harus segera dimasak setelah sampai di rumah, apalagi kondisi panas di Flores membuat makanan cepat basi. Karena Nadia belum pandai memasak makanan laut, maka dari itu Dio yang sudah ahli dalam mengolah berbagai jenis makanan tampak percaya diri untuk memasak cumi.
Danil bertugas untuk memotong-motong daging cumi, dan Nadia masih menunggu kompor untuk merebus pasta, namun Nadia ikut menyibukkan diri dengan mempersiapkan piring saji untuk makanannya.
"Ada yang bisa saya bantu?" Chandra yang baru selesai mandi datang ke dapur untuk memeriksa keadaan dapur yang sejak tadi cukup senyap, dapur yang memiliki ukuran minimalis itu tentu menjadi sempit saat tubuh tinggi Chandra berada di sana.
Dio berdecak dan menghela napasnya. "TIDAK ADA!" ucap Dio tegas, yang mengandung tawa kecil Nadia dan Danil.
Chandra mencebikkan bibirnya. "Kalian, masak apa?"
"Cumi. Sudah, ke sana saja, Dan. Sempit nih, dapurnya." beritahu Dio lagi ketus.
Tapi Chandra tidak menyerah. Selain penasaran, Chandra juga ingin berada dekat dengan Nadia, dan bermaksud mendapatkan jawaban atas pertanyaannya tadi sore saat di sekolah. Namun, sepertinya Nadia juga asik memasak bersama yang lain.
"Aw!" Tiba-tiba Danil mengadu kesakitan saat memotong cumi-cumi. Nadia yang berada di samping Danil cukup terkejut dengan reaksi mendadak itu.
Chandra dan Dio pun ikut memeriksa apa yang terjadi dengan Danil.
Karena pisau yang tajam dan daging cumi yang licin, Danil secara tidak sengaja mengiris telunjuk kirinya sendiri dengan pisau. Luka yang sepanjang setengah centimeter itu justru membuat darah segar keluar cukup banyak dari telunjuk Danil.
Nadia buru-buru mengambil tisu dan menutup luka Danil agar darahnya berhenti mengalir.
"Aduh, ada-ada saja. Makanya hati-hati!" omel Dio yang sejak tadi memang sudah kesal karena banyak orang di dapur, padahal dia lebih senang kalau memasak seorang diri.
Danil yang merasakan perih di jarinya hanya bisa menutup mulutnya agar tidak dibentak lagi oleh seniornya itu.
"Nil, sudah sebaiknya kamu ke ruang tengah saja obatin lukanya. Biar saya yang membantu masak."
Akhirnya, Chandra punya kesempatan juga untuk diam di dapur. Pria itu menggulung lengan kaosnya hingga sikut dan mulai bersemangat untuk membantu Dio dan Nadia. Dengan senyum yang amat lebar, ia bertatapan dengan Nadia yang kini tengah merapikan sisa cumi yang dipotong Danil.
"Saya, ngapain?" tanya Chandra bingung.
Nadia terkikik, dan Dio sudah mulai menumis bumbu di wajan.
"Cuci lah, cuminya. Masa Jenderal mau diam terus di situ!" ucap Dio ketus, bahkan dia tidak menoleh sama sekali ke arah Chandra.
"Tuh, dengar sendiri, 'kan?" Kekeh Nadia pada suaminya.
Chandra menghela napasnya, tanpa banyak bicara akhirnya pria itu langsung menuju wastafel yang letaknya ada di teras depan rumah.
***
__ADS_1
Jam malam sudah tiba, makan malam pun sudah terlaksana dengan lancar tanpa adanya hambatan seperti ketika memasak tadi. Masakan Dio benar-benar lezat sampai semua orang segera pulang dari rumah Chandra karena mengantuk setelah perut kenyang.
Chandra sudah berada di dalam kamar, setelah membaca buku pria itu memutuskan untuk tidak ke mana-mana lagi sambil berpikir keras untuk memulai obrolan baru dengan Nadia. Dia menyandarkan tubuhnya pada tempat tidur dan mengambil walkie talkie, lalu ia menyalakan alat komunikasi itu untuk menyapa Nadia di kamar sebelah.
Sementara itu, Nadia yang baru saja selesai mandi dengan durasi 20 menit kembali ke kamarnya saat HT-nya berbunyi menandakan sebuah sambungan masuk ke sana.
Nadia menekan tombol biru dari suara gemeresik dari HT muncul.
"Kamu sudah mandi ... ganti!"
Nadia terkekeh pelan, dia tidak akan membalas pesan itu lewat HT. "Sudah, baru selesai. Kamu lagi ngapain?!" jawab Nadia agak keras agar bisa didengar oleh Chandra.
Chandra tertawa kecil saat mendengar jawaban dari istrinya, mereka memang sudah pisah ranjang sejak kedatangan Nadia ke Flores. Untung saja ada dua kamar, sehingga salah satu di antara mereka tidak perlu ada yang tidur di atas karpet lagi. Bukan Nadia yang ingin pisah tempat tidur, melainkan Chandra sendiri yang meminta demikian. Chandra bilang, bahwa dia ingin membuat Nadia nyaman terlebih dahulu, setelah kejadian mereka berciuman pada malam itu, keduanya tidak pernah lagi membahas hal mendetail soal hubungan suami istri.
"Saya menunggu kamu."
Nadia tidak kuasa menahan senyumnya, dia menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab Chandra.
"Kenapa nunggu saya? Ada yang mau kamu sampaikan?"
Chandra menutup wajahnya, entah kenapa dia merasa malu sekarang. Padahal Nadia tidak ada di hadapannya, hanya terdengar suara gadis itu.
Tok, tok, tok.
Tidak butuh waktu lama, Nadia sudah mendengar suara ketukan pintu di kamarnya. Ia langsung membuka pintu kamar dan menyambut Chandra untuk masuk. Chandra memalingkan pandangannya ke sana ke mari saat Nadia memperhatikan wajahnya dengan saksama.
"Sini duduk," ajak Nadia sambil menyodorkan kursi ke arah Chandra.
Pria tinggi dan kaku itu duduk di tempat yang telah Nadia sediakan, dan Nadia langsung saja mengambil kotak P3K yang ada di dalam laci kamarnya.
Chandra sudah tidak sabar untuk diobati oleh Nadia. Sebab, dia sangat jengkel ketika tadi siang harus menyaksikan Nadia malah mengobati Ong dan Johnny. Chandra
menyembunyikan senyum penuh maksudnya itu sambil menunggu dengan tenang.
Nadia menghampiri Chandra setelah menyiapkan cairan antiseptik pada kapas. "Coba lihat
... oh, ini?" Nadia menyeka luka yang sangat kecil itu dengan kapasnya. Chandra memejamkan matanya sambil agak tengadah agar Nadia dapat melihat dengan jelas.
Nadia memperhatikan wajah suaminya yang tampan, kalau saja Chandra bukan seorang tentara pasti dia sudah dapat tawaran jadi model atau pemain sinetron.
"Tidak akan infeksi?" tanya Chandra pura-pura khawatir, yang justru Nadia tertawa.
__ADS_1
"Haha, enggak lah. Luka kecil begini, diberi sedikit antiseptik pasti besok sudah hilang lukanya."
Chandra manggut-manggut. "Kenapa tidak dipasang plester?"
"Nggak perlu, yang tadi sudah cukup kok. Memangnya kamu mau? Plesternya motif boneka, loh." beritahu Nadia sambil menunjukkan salah satu plester miliknya pada Chandra.
Chandra bergidik yang membuat Nadia kembali tertawa kecil.
"Ya sudah, tidak perlu." tutup Chandra gugup.
Dan kembali hening lagi, tidak ada obrolan sama sekali. Chandra bingung, sementara Nadia sedang mencari tema untuk dibahas malam ini bersama suaminya.
"Oiya, nanti kita jadi 'kan ke Jakarta untuk menghadiri undangan award itu?" tanya Nadia hati-hati.
Chandra tersenyum ke arahnya. "Ya, tentu. Saya sudah berjanji sama kamu."
"Hmm. Chandra, boleh saya minta sesuatu?"
Chandra mencondongkan tubuhnya ke arah Nadia, mau mendengarkan dengan saksama permintaan istrinya itu. "Hm, apa?"
"Besok, saya mau beli kompor dan kulkas, ya? Soalnya, kompor di rumah ini cuma ada satu. Sedangkan kita butuh lebih dari satu kompor. Terus, kulkas, kita juga butuh untuk mengawetkan makanan."
"Tentu boleh, kita beli semua perabotan rumah yang kamu inginkan. Lalu, apalagi?"
Nadia tersenyum amat lebar, dia menggelengkan kepalanya.
"Yeay! Berarti besok kita berangkat pagi-pagi ya, ke pasar."
"Nadia. Sebenarnya, lagu yang kamu unggah di sosial media kamu itu untuk siapa? Mungkin, saya terlalu percaya diri. Namun, saya merasa itu untuk saya. Apa benar begitu?
Atau mungkin itu untuk orang lain," ujar Chandra tiba-tiba.
Nadia mendongak ke arah Chandra, pria yang kaku dan tegas itu bisa mendadak bersikap bak remaja begini di hadapan Nadia. Tidak seperti penampilannya, Chandra justru begitu rapuh dan muda terganggu dengan hal-hal sepele. Membuat Nadia kadang begitu gemas dengan tingkah pria di hadapannya ini.
"Hm, lagunya untuk kamu. Lagu itu tentang kamu."
Chandra tersenyum malu, dia menggaruk tengkuknya. "Saya senang mendengarnya." "Chandra ... kamu tidak marah 'kan, kalau saya juga jatuh cinta dengan kamu?"
BERSAMBUNG .....
Maaf ya, aku baru up. Aku dah mulai aktif kerja lagi ditambah sekolah online, tapi aku akan berusaha tamatin work ini
__ADS_1