
Cuaca dingin di Paris dalam menyambut bulan terakhir tahun ini membuat Nadia merapatkan tangannya untuk masuk ke dalam mantel. Chandra di sampingnya membawa tas yang berisi barang-barang pribadi milik Nadia, sementara seluruh barang bawaan mereka sudah dibawa oleh layanan hotel tempat mereka menginap untuk malam ini.
Nadia menengadahkan tangannya ke atas langit, benda putih yang beterbangan di udara itu adalah salju yang sudah menampakkan diri di pertengahan bulan Desember. Chandra yang melihatnya tiba-tiba merangkul bahu kecil istrinya itu dengan mesra.
"Tangkap salju?" tanya Chandra dengan penasaran.
Nadia mengangguk kecil. "Hm, di Flores sama Bandung nggak ada, hehe. Ini liburan pertama kita, habis ini jangan langsung tidur, ya. Kita jalan-jalan dulu di area dekat hotel!"
Chandra terkikik dan menjatuhkan kecupan di puncak kepala Nadia dengan penuh kasih sayang.
"Iya, kamu mau ke mana pun saya akan temani. Tapi sebaiknya kita check in dulu ke hotel. Simpan barang-barang."
Lima menit menunggu di bandar udara, akhirnya sebuah mobil sedan hitam tiba menjemput sepasang suami istri itu untuk ke hotel. Nadia langsung memasuki mobil disusul Chandra yang sudah mulai terbiasa dengan kota Paris yang menurut orang adalah kota cinta.
"Ini kayak mimpi, bisa lihat Paris sama kamu," ujar Nadia dengan pandangan berbinar dari sorot lampu yang memenuhi setiap sudut kota. Chandra memeluk Nadia dengan bersandar nyaman pada kursi mobil yang mereka tumpangi, sesekali Chandra juga memberikan kecupan di kening Nadia dengan mesra untuk menjaga kehangatan satu sama lain.
"Maaf ya, baru bisa membawa kamu ke tempat seperti ini. Awal menikah saya justru membawa kamu ke hutan."
"Ih, kenapa sih, enggak apa-apa," balas Nadia dengan lembut sambil merengkuh tangan besar Chandra yang ada di sisinya.
"Chan?"
"Apa?"
Nadia tersenyum malu-malu. "Saya mau kita punya anak."
Chandra tersenyum geli menanggapinya. "Em, saya selalu siap mewujudkan keinginan kamu yang satu itu."
Mobil yang dikendarai seorang sopir pribumi itu akhirnya mengantarkan Nadia dan Chandra ke sebuah hotel yang sangat megah sekali. Hotel tersebut adalah hotel dengan fasilitas dan layanan terbaik di Paris. Hampir semua selebriti, petinggi negara, bahkan konglomerat dari berbagai negara akan memilih hotel Shangri-La sebagai tempat menginap mereka jika berkunjung ke Paris.
Nadia tidak berhenti tersenyum ketika Chandra menuntunnya untuk menuju salah satu elevator yang akan mengantarkannya ke kamar hotel yang pria itu sudah pesan. Nadia bahkan tidak tahu menahu soal itu, tetapi kamar pilihan Chandra adalah kamar megah yang luasnya nyaris seluas ruang tamu rumah mereka di Bandung.
Tempat tidur dengan ukuran double king zize, kamar yang didominasi dengan warna cozy yang membuat setiap orang datang pasti merasa nyaman. Nadia melihat jendela yang sangat besar itu menampilkan pemandangan menara Eiffel yang tengah berwarna keemasan.
"Wah ...!" seru Nadia takjub, bak anak kecil yang baru saja melihat pemandangan lampu kerlap-kerlip seumur hidupnya. Chandra hanya bisa menatapnya dengan senyum terukir di bibir. Pria itu memutuskan untuk duduk di tempat tidur sembari mengganti pakaiannya dengan kemeja dan celana pantalon agar terasa lebih nyaman.
"Nanti kita ke sungai Sainne, ya?!" kata Nadia dengan ceria.
Nadia yang dibuat kagum dengan pemandangan di area hotel tersebut tiba-tiba menyadari sesuatu kalau ia di sini tidak sendirian. Gadis itu berlari ke arah Chandra dan berhambur ke pelukan suaminya.
Chandra tertawa kecil ketika Nadia menindih tubuhnya secara tiba-tiba. Nadia mengulum senyum dan menangkup wajah Chandra dengan kedua tangannya.
"Sayang...," bisik Chandra lembut.
"Hm?" tanya Nadia dengan gumaman.
"Kamu ganti baju dulu, nanti saya pesankan makanan."
Nadia menggelengkan kepalanya, ia membawa tangan Chandra untuk memeluknya hingga pria itu menuruti semua kemauan Nadia tanpa terkecuali.
"Boleh pelukan aja, nggak?" Nadia menyandarkan kepalanya pada dada bidang Chandra yang polos karena kemeja yang dia pakai belum sempat di kancing.
"Kalau kita pelukan, Hm, saya nggak yakin, kita bisa jalan-jalan," elak Chandra gugup.
Nadia terkikik. "Kenapa?"
"Ya, em, mana mungkin saya bisa lepas kamu," ucap Chandra terbata, tetapi kedua tangan besar pria itu tidak tinggal diam, melainkan mencoba menyingkap pakaian dengan yang tengah dikenakan oleh Nadia. Nadia merasakan remasan lembut meraba bokongnya dan meraba kasar pinggang rampingnya. Dalam hitungan detik, Chandra mengubah posisi mereka hingga kini Nadia terkurung dalam tindihan tubuh atletis suaminya itu.
Nadia bernapas terengah, begitu pun Chandra yang masih menatapnya dengan penuh kekaguman. Chandra meraih kancing pakaian Nadia yang paling atas lalu melepasnya satu persatu hingga ke bawah. Nadia memejamkan matanya, pipinya memerah karena merasa malu. Sudah enam bulan mereka tidak berhubungan intim, meskipun bukan yang pertama Nadia selalu saja merasa canggung jika dihadapkan pada situasi seperti ini.
Chandra menyingkap kemeja yang dikenakan Nadia hingga terlihat dada sintal istrinya tampak sudah menyembul di balik bra yang dikenakannya. Chandra mengecup leher Nadia yang jenjang hingga Nadia melengkungkan tubuhnya, memberikan Chandra akses lebih jauh untuk memberikan kecupan pada kedua *********** yang tumpah dari tempatnya. Chandra meraba benda kesukaannya itu, meremasnya dengan lembut menggunakan tangan kanannya yang besar. Ukuran yang sangat pas dalam kepalan tangan, remasan itu yang membuat Nadia melenguh dengan sangat kencang. Beruntung kamar ini melukiskan fasilitas kedap suara sehingga tamu di kamar lain tidak akan dapat mendengar apa tengah mereka lakukan.
Sebagai balasan, Nadia mengangkat tangannya untuk meremas bahu bidan milik Chandra, ia memberikan belaian lembut disertai kecupan kecil di sekitar leher dan dada bidangnya yang berotot. Nadia mengagumi sejenak tubuh atletis itu, ia sentuh setiap jengkal dengan pandangan yang tidak pernah putus. Perut milik Chandra yang tampak berotot, saat Nadia merabanya terasa keras karena pria itu dalam kondisi sangat tegang, Nadia juga meraba punggung Chandra yang luas, yang selalu ia peluk setiap malam ketika dulu. Terakhir, Nadia menangkup wajah Chandra dan memberikan ciuman lapar pada bibir tebal suaminya, Chandra membalas tak kalah buas sebab nafsunya telah mendidih di ubun-ubun. Malam menjelang pagi itu menjadikan mereka kembali satu, saat salju berguguran semakin banyak dan kota Paris seperti menyambut keduanya dengan begitu khidmat.
***
Dinginnya musim salju sehingga suhu saat ini mencapai -10 derajat celsius tidak menyurutkan semangat Nadia untuk mempersiapkan sarapan pagi. Nadia meminta koki hotel untuk membantunya memasak sup buntut khas Indonesia serta wedang jahe, butuh waktu dua jam bagi Nadia mempersiapkan sarapan tersebut. Setelah semuanya siap, ia kembali lagi ke kamar dan menemukan Chandra sudah berganti pakaian dengan hoodie tebal berwarna hitam dan celana jeans, tidak biasanya juga Chandra mengenakan kaus kaki di dalam ruangan seperti ini. Meskipun kamar hotel sudah dilengkapi penghangat, tetapi tetap saja suhu dingin terasa oleh kulit.
"Pagi suami ...," sapa Nadia dengan ceria sembari mendorong sebuah meja berisi hidangan yang sudah ia masak.
"Saya pikir kamu pergi shopping, kamu masak?" tanya Chandra, dia juga mengambil alih meja yang didorong oleh Nadia ke tengah-tengah ruangan.
"Enggak lah, kalau shopping nanti sore aja, gimana?"
"Boleh."
Nadia tersenyum kecil, ia membuka tudung saja yang sejak tadi menitip sup buntut yang rasanya sangat lezat. Nadia sudah memiliki resep itu sejak ia SMA, karena sup buntut adalah makanan kesukaan nenek dan papanya.
"Kamu repot-repot, padahal kita bisa makan di restoran."
"Ih, enggak, saya kangen masak buat kamu. Ini keinginan saya, karena selama kita nikah saya belum pernah masak makanan ini. Selalu saja sayur-sayuran atau ikan, kamu butuh daging juga."
Chandra tersenyum hangat mendengarnya, dia langsung mengajak Nadia duduk di sampingnya dan menyendok nasi putih ke atas piring, menuangkan sup berisi daging buntut dan wortel serta kentang di dalam mangkuk. Aroma dari sup yang segar dengan merica juga daun seledri itu masuk ke dalam rongga pernapasan Chandra, pria itu sebelum makan justru memberikan kecupan mesra di kening Nadia.
"Terima kasih banyak, ya."
Chandra menyuapkan satu suapan ke dalam mulutnya. Nadia harap-harap cemas dengan duduk diam sambil tatapannya waswas ke arah Chandra.
"Gimana? Enak?"
__ADS_1
Chandra tersenyum lagi hingga lesung pipinya timbul begitu dalam. "Sangat enak, kalau kamu nggak jadi artis, sepertinya bisa jadi koki. Dan tentunya, tetap harus jadi istri saya."
"Hahaha ... saya kangen gombalan kamu. Ayo makan lagi."
Di tengah makan dengan pemandangan dari jendela yang luas terhampar kota Paris yang diselimuti salju, semua sudut kota tampak putih dan langit juga terlihat gelap. Mereka mengurungkan diri untuk pergi berjalan-jalan sesuai rencana karena salju turun dengan intensitas yang tinggi sehingga berisiko jika keluar dari hotel.
"Sayang, kamu belum jawab pertanyaan saya hari itu," gumam Nadia tiba-tiba. Nadia mendekatkan tubuhnya ke arah Chandra dan memeluk tubuh suaminya itu erat.
"Em, pertanyaan yang mana?"
Nadia terkikik. "Itu, soal kamu, kenapa terima tawaran nenek untuk menemui saya?"
"Padahal, kamu baru saja putus dengan Nellie."
Chandra tersenyum kecil, dia kembali menjatuhkan elusan di puncak kepala Nadia dengan gemas.
"Memang kalau kamu dengar ceritanya sekarang, kamu akan percaya?"
"Hm, enggak tahu. Emangnya semustahil itu kalau kita jodoh?"
Pria itu terkikik, "Kita pernah bertemu sewaktu saya masih murid pelatihan di angkatan militer."
"Kita? Ketemu? Di mana?!" tanya Nadia heran seraya bangkit dari tidurnya dan menatap Chandra takjub.
"Di sekolah, acara reuni satu dekade angkatan. Kamu mungkin tidak sadar tentang pertemuan kita itu, saya juga awalnya tidak ingat dengan kamu. Tapi karena nenek memberikan saya album foto kamu sewaktu SMA, saya baru sadar kalau kita alumni dari sekolah yang sama. Di situ, saya jadi ingat acara reuni yang pernah saya datangi," jelas Chandra. Nadia kembali mengingat kejadian itu, tetapi tidak berhasil karena ia sering sekali memiliki acara reuni maupun event di luar pekerjaannya sebagai penyanyi. "Saya juga, kasih sapu tangan saya untuk kamu, yang menangis waktu itu."
***
“Kak ...! Mau aku kenalin ke teman aku nggak?"
Joy tiba-tiba merajuk pada kakaknya yang sedang liburan dari sekolah akmilnya itu. Chandra yang sedang mempersiapkan barang-barang untuk segera kembali ke sekolah pun kini beralih pada Joy yang tampaknya terus mengganggu.
"Teman?"
Joy mengangguk ceria. "Iya, cantik banget loh. Dia udah keterima di fakultas hukum, calon pengacara."
"Memangnya, ia mau sama kakak?"
Joy tersenyum. "Mau dong, Kakak itu ganteng banget." "Gimana?" tanya Joy lagi.
Chandra menghela napasnya, dan menatap Joy datar.
"Namanya Risa. Kalau Kakak mau, Kakak bisa jemput ia siang ini di tempat lesnya. Nih, alamatnya." Joy menyerahkan secarik kertas ke tangan Chandra.
Chandra yang tidak bisa menolak permintaan adiknya itu pun akhirnya bersedia untuk menerima tawaran itu, menemui gadis bernama Risa di tempat lesnya.
Terpaksa, Chandra membatalkan janjinya secara sepihak untuk menemui Risa dan memilih paksaan Bayu untuk menghadiri reuni itu. Chandra yang merupakan siswa AKMIL, mengenakan seragamnya pada kesempatan kali ini, karena dia adalah calon bintara yang beberapa bulan lagi akan segera lulus dan ditugaskan untuk mengomando sekolah AKMIL di Amerika.
Tubuhnya yang tinggi menjulang, parasnya yang tampan dan bahunya yang lebar begitu cocok dengan seragam militer yang ia kenakan. Chandra tampak gugup dan merasa risih karena sejak kedatangannya di reuni ini semua mata tertuju padanya, terutama pandangan gadis-gadis yang sepertinya masih berstatus murid di sekolah itu. Bayu masih belum menunjukkan batang hidungnya sehingga Chandra kebingungan di tengah keramaian tersebut, ditambah lagi suara musik yang bergema dari arah panggung membuat Chandra kehilangan fokus untuk mencari teman-temannya yang hampir lima tahun tidak bertemu.
Sementara itu, Nadia adalah alumni sejak tiga tahun lamanya, yang enam bulan lalu baru terjun ke dunia akting dengan film layar lebar pertamanya bersama seorang aktor ternama negeri. Nadia terlihat berjalan terhuyung setelah ia tampil di atas panggung, keringat dingin mengalir deras di dahinya dan wajah terlihat kelelahan, kedua mata terlihat kuyu dan lemah. Nadia menarik napas dalam-dalam ketika hawa sesak dan pengap ia rasakan seorang diri.
Anxiety disorder yang dideritanya selalu kambuh setiap ia dihadapkan pada situasi seperti ini.
Nadia menyingkir segera dari belakang panggung dan menutupi wajahnya agar tidak ada seorang pun yang mengenalinya dengan menggunakan sebelah tangan. Ia menuju toilet, gadis itu berjalan terseok-seok tanpa memedulikan pijakannya meskipun risiko jatuh cukup tinggi karena high heels yang ia kenakan.
Saat berjalan menyusuri lorong gedung, Nadia tidak berhasil menemukan toilet, ia lupa dengan denah sekolahnya ini dan kepalanya benar-benar sakit, rasa mual juga menguasai dirinya.
"Hueeekkk ...." Nadia menutup mulutnya, suasana sepi dan gadis itu memuntahkan seluruh isi lambungnya yang hanya mengeluarkan cairan bening ke atas lantai, Nadia terisak seorang diri. Ia berjongkok dengan perasaan kacau balau. Nadia terus menerus muntah dan tidak ada seorang pun yang tahu keberadaan dirinya.
"Hueeekkk...!" Nadia muntah lagi, sekarang lebih banyak dan tubuhnya semakin lemas tak bertenaga.
Saat Nadia membersihkan mulutnya menggunakan pakaiannya sendiri, Chandra yang sejak tadi menyaksikan gadis itu muntah segera menghampiri Nadia, dengan niat membantu gadis itu yang sepertinya dilanda kesusahan.
"Ini, pakai sapu tangan saya," ujar Chandra dengan lembut dan hati-hati.
Kedua mata Nadia membulat sempurna, Nadia sangat malu karena ia sudah memuntahi lantai dan ditemukan oleh seorang lelaki di sini. Nadia meraih sapu tangan dari tangan Chandra tanpa menunjukkan wajahnya pada lelaki itu. Chandra tampaknya merasa simpati dengan keadaan Nadia.
"Makasih," balas Nadia dengan cepat, lalu ia mengusap wajahnya dengan sapu tangan milik Chandra, membersihkan pula kedua telapak tangannya yang sempat ternoda.
"Kamu, mau minum?"
Nadia mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Chandra segera memasuki ruang kelas, kebetulan ruang kelas itu adalah kelasnya ketika sekolah dulu sehingga Chandra tahu betul jika di dalam kelas tersedia dispenser dan juga gelas sekali pakai. Lelaki itu pun kembali ke tempat Nadia dan menyerahkan segelas air hangat pada Nadia.
Nadia menunduk, dan meminum air itu secara perlahan. Lambungnya sedikit membaik, tetapi pusing di kepalanya masih saja terasa menyiksa.
Chandra yang berjiwa sosial tinggi pun mengambil lap pel dan seember air, dia mengepel lantai yang ternoda muntahan Nadia, dia juga mau membuat gadis itu merasa tidak nyaman.
"Jangan bilang ke siapa-siapa ya, kalau gue muntah di sini."
Chandra menghentikan aktivitasnya dan berusaha melihat wajah Nadia, tetapi tidak berhasil, gadis itu bersembunyi di tiang sampingnya. Chandra tersenyum kecil.
"Terus, jangan bilang siapa pun. Kalau lu ketemu sama gue!" peringat Nadia lagi pada lelaki yang sudah menolongnya.
"Tidak, memangnya kalau saya bilang-bilang kenapa?"
Nadia mendesah pelan. "Gue malu, gue juga nggak mau dipandang lemah sama orang. Apalagi, kalau sampai mereka tahu gue muntah, pasti ngiranya yang enggak-enggak."
__ADS_1
Chandra hanya bisa mengulum senyum sambil mengangguk-anggukan kepalanya. Nadia mengintip dari balik helaian rambutnya ke arah lelaki tinggi yang kini sudah berhenti membersihkan lantai itu, tetapi Nadia tak dapat melihat dengan jelas sosoknya atau pun wajahnya, Nadia hanya melihat sepatunya yang mengkilap.
"Makasih banyak ya, hehe." Nadia gugup, ia bangkit dari duduknya meski susah payah mengucapkan terima kasih.
"Hati-hati, kamu seperti sedang tidak sehat," peringat Chandra ketika Nadia berdiri.
Nadia tersenyum tipis.
"Nanti sapu tangannya gue balikin. Hm, mungkin diganti aja, soalnya ini kena muntah,” ujar Nadia dengan nada bersalah pada Chandra malah tersenyum enteng.
"Tidak apa-apa, buat kamu saja. Saya masih punya banyak sapu tangan."
"Enggak, nggak bisa gitu. Ih, gimana ya." Nadia kebingungan, dan Chandra sepertinya sudah mengikhlaskan sapu tangannya dibawa pergi oleh gadis di depannya ini.
"Atau gini aja, kalau kamu ada waktu, kamu datang aja ke Komplek xxx nomor 16, itu rumahku. Alamatnya jangan disebarin ya, nanti aku bakal kasih tanda terima kasih karena udah nolong aku." Nadia mengubah cara bicaranya menjadi lebih sopan kepada Chandra.
Nadia memberanikan diri untuk mendongak ke arah lelaki yang sudah menolongnya itu, Chandra akhirnya bisa melihat dengan jelas wajah gadis yang sejak lima belas menit lamanya berada di sisinya. Chandra tersenyum.
"Hm, nanti saya mampir kalau ada waktu," ucap Chandra.
"Bye, sekali lagi, terima kasih banyak!" gadis itu melambaikan tangannya, tersenyum manis pada Chandra yang tidak sekalipun berkedip.
Nadia segera pergi dari lorong tersebut untuk kembali ke belakang panggung dan menemui asisten pribadinya saat itu juga untuk berganti pakaian karena Nadia memiliki rundown acara untuk tampil di akhir reuni.
Reuni terasa begitu meriah, penampilan penyanyi di atas panggung silih berganti mengisi nostalgia seluruh alumni. Chandra larut bersama kawan-kawan sekelasnya ketika dulu. Bayu yang tidak pernah berubah kini sudah menjadi seorang manajer di sebuah perusahaan besar di Jakarta, Diwan juga menjadi seorang pengusaha event organizer yang sukses sejak dua tahun lalu, sementara Chandra sendiri adalah calon Komando Angkatan Darat untuk sekolah militer Internasional yang berpusat di Amerika.
Ketika acara reuni mendekati akhir, penyanyi wanita kembali naik ke atas panggung, popularitasnya yang sudah menanjak berkat lagu dan suaranya yang bagus, juga aktingnya mumpuni membuat semua orang terutama dari kalangan remaja jatuh cinta padanya. Bayu dan Diwan yang semula terlihat sudah lelah mengobrol kini kembali semangat ketika Nadia si penyanyi yang dimaksud naik ke atas panggung.
"Wah, Nadia tuh Nadia!" seru Diwan sembari mengeluarkan kamera digital dari tasnya.
Chandra menoleh ke arah panggung, di mana gadis mungil dengan setelan dress selutut tersenyum cantik membawa gitar dengan kedua tangannya, gadis itu tampak bersinar menyapa semua penonton dengan senyumnya yang terlihat menggemaskan. Chandra menggelengkan kepalanya, bercampur tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Siapa?" tanya Chandra dengan penasaran pada Bayu.
"Nadia Adriana, nggak pernah lihat?" jawab Bayu heran.
Chandra menggeleng. "Penyanyi?"
"Segalanya dia mah. Cantik, ya? Masih muda juga, gemes banget lihatnya. Foto ah." Bayu mengabadikan foto Nadia di atas panggung dengan kamera handphone.
"Bukannya itu yang tadi nangis, ya?" tanya Chandra pada dirinya sendiri.
Nadia mulai berbunyi dengan petikan gitar di tangannya, Nadia membawakan lagu ciptaannya sendiri di atas panggung membuat suasana penonton terhanyut dengan suara serta alunan akustik tersebut. Chandra hanya dapat memandang takjub ke arah Nadia, yang ternyata adalah seorang penyanyi dengan suara yang lembut dan mudah diterima telinga. Chandra melihat semua orang, hampir semuanya mengikuti nyanyian Nadia sehingga hanya dirinya yang terpaku di tempat itu menatap ke arah panggung, pada senyum si gadis yang tidak pernah pudar.
Ketika acara reuni berakhir, Chandra, Bayu, dan Diwan mendapatkan kesempatan untuk naik ke atas panggung. Mereka bertiga pada akhirnya dapat mengabadikan momen bersama Nadia dengan kamera digital milik Diwan. Foto itu tersimpan di album foto pribadi milik Chandra bersama teman-temannya. Namun, sayangnya, Chandra tidak sempat mampir di rumah Nadia untuk mendapatkan ucapan terima kasih dari gadis itu.
Akan tetapi, Chandra bersedia datang beberapa tahun kemudian ketika dia menyadari jika gadis di dalam album itu adalah gadis yang sama dengan yang ia tolong, bukan untuk mendapatkan ucapan terima kasih, melainkan meminang Nadia yang bersedia mengenalnya lebih jauh. Jodoh itu misterius, bisa juga menjadi sangat ajaib.
Nadia tertegun memandang wajah Chandra yang baru saja bercerita tentang kenangan yang sudah dia simpan cukup lama seorang diri. Chandra tak pernah menceritakan hal itu pada siapa pun, sekalipun pada kawan terdekatnya waktu itu.
Chandra mengangkat tangannya, dan memberikan usapan pada mimpi Nadia yang memerah, bulir air mata jatuh dari kedua mata kucing Nadia yang nampak sebab.
"Kok nangis?" tanya Chandra dengan kepala dimiringkan.
Nadia tersenyum kecut. "Sedih, karena saya sama sekali nggak ingat. Bahkan nggak tahu, kalau kamu udah nolong saya waktu itu."
Cup. Chandra menjatuhkan kecupan di kedua kelopak mata Nadia yang tertutup seraya tersenyum hangat, mendekap Nadia pula ke dalam pelukannya.
"Maaf, karena saya tidak pernah terima tawaran kamu untuk mampir waktu itu. Saya harus pergi ke Amerika untuk melanjutkan pendidikan dan pelatihan saya di lapangan."
"Tapi, terima kasih. Karena sudah menerima saya yang datang melamar kamu."
Nadia membalas pelukan Chandra tak kalah erat, isakan kecilnya masih terdengar membuat Chandra beberapa kali memberikan elusan lembut pada punggung istrinya.
"Makasih juga, karena sudah jadi suami saya," balas Nadia. Chandra mengangguk.
"Iya, Sayang ...."
"Nad, kamu tahu? Saya pikir, saya nggak bisa hidup tanpa ditemani kamu."
"Beneran?"
Chandra tersenyum ketika Nadia dengan polos mendongak ke arahnya. "Hum, saya rela jadi bucin, asal kamu yang minta."
Nadia terkikik mendengar ucapan itu keluar dari mulut suaminya, Chandra yang tegas dan berkepribadian pendiam justru sering melontarkan kata-kata yang tidak sesuai dengan profesinya yang seorang jenderal.
"Saya, tidak mau kamu meninggalkan saya. Kita sampai tua sama-sama, ya? Sampai maut memisahkan? Kamu mau?"
Nadia menjatuhkan kecupan di bibir Chandra yang sontak membuat kedua mata pria itu membulat terkejut.
TAMAT ....
YEAY, UDAH TAMAT, LEGA JADINYA, INI SATU BAB ADA 3000+ KATA. MAKASIH ATAS DUKUNGAN KALIAN SEMUA.
TUNGGU BONCHAP NYA YA, MUNGKIN TANGGAL 15 ATAU 20 AKU UP.
OIYA, MAU NANYA NIH, APA BISA IKUT NTW SEASON 6 DENGAN DUA NOVEL? KARENA SI JENDERAL SUDAH IKUT SERTA DAN HABIS INI AKU MAU UP CERITA LAINNYA YANG BAKAL LEBIH SERU LAGI DARI INI!
SAMPAI JUMPA!
__ADS_1