
Sepanjang perjalanan menuju kampus, Flora tidak henti-hentinya mengumbar senyuman manisnya. Rasanya ia sangat bahagia saat ini, entah karena ia yang sebentar lagi akan menikah dengan Charles atau karena dirinya yang sudah menyatakan perasaannya kepada pria itu.
"Good morning!" sapa Flora, sebelum duduk di samping Anin.
Sejak dari awal gadis itu memasuki kelas, Anin terus saja memperhatikannya.
"Morning," balas Anin tersenyum geli.
Anin sama sekali tidak mengalihkan perhatiannya dari temannya itu. Namun, Flora sama sekali tidak menyadari tatapan Anin. Gadis itu sibuk dengan bukunya.
"Sepertinya sudah tidak sabar untuk menyandang gelar Mrs. Alamo!" kekeh Anin. Yang alhasil membuat Flora segera menoleh kepadanya, dengan mata yang melebar.
"K-kau?"
"I know, Flo." Anin tersenyum menggoda.
Flora mengernyit. "Dari siapa?" tanya Flora penasaran.
"Glen. Aku mengetahui semuanya. Glen juga memberitahuku tentang dirinya yang harus memberhentikanmu untuk bekerja. Karena tiba-tiba Charles menemuinya dan memarahinya hanya gara-gara kamu sakit. Dan Charles minta pertanggung jawaban dari Glen. Bahkan Charles sempat mengancam akan menutup restoran milik Glen, jika dia masih saja mempekerjakanmu!" jujur Anin.
"Lalu aku juga tahu jika Glen sudah ikut serta dalam rencana pernikahanmu itu, aku baru tahu jika Glen ternyata teman dekat Charles," sambungnya.
"Maksudmu apa?" tanya Flora.
"Glen yang sudah menjebakmu untuk menanda tangani dokumen pernikahan. Oleh karena itu pernikahan ini bisa terjadi. Tapi aku pastikan, jikalau kamu tidak menanda tangani berkas itupun, kamu akan tetap menikah dengan Charles. Karena pria itu benar-benar bisa melakukan hal apa pun. Termasuk hal gila sekalipun!" ungkap Anin.
Flora terdiam sejenak. Dia sedang mencerna perkataan Anin, dan benar, Flora mengingat surat tanda berakhirnya hubungan kerja itu. Pasti itu yang dimaksud oleh Anin. Sialan! Dirinya benar-benar dijebak!
"Sialan!" geram Flora kesal.
Anin tertawa, melihat reaksi Flora yang sedang kesal. Dia tidak menyangka jika temannya memang sepolos itu.
"Sebentar lagi kamu akan menikmati tubuh seksi Charles. Jagalah kesehatanmu! Karena aku pastikan, pria itu akan mengurungmu seharian di tempat tidur!" goda Anin. Menyenggol lengan temannya.
Flora memberikan tatapan yang tajam kepada Anin. Namun, tidak dipungkiri wajah gadis itu bersemu merah. Sepertinya dia tersipu malu.
Sehingga membuat Anin semakin tertawa melihat wajah merona Flora yang terlihat sangat menggemaskan.
"Tap-" ucapan Flora terpotong.
"Berbahagialah. Jangan pikirkan oranglain, kamu pun berhak untuk berbahagia, Flora!" sela Anin. Dia mengetahui apa yang akan diucapkan oleh temannya itu.
Flora sangat beruntung mendapatkan seorang teman seperti Anin dihidupnya. Walaupun gadis itu sering membuatnya kesal, karena tingkah lakunya. Namun sungguh, Flora tidak masalah dengan hal itu.
"I love you," ucap Flora tulus.
"I love you more!" balas Anin dengan ekspresi wajah gelinya.
Hal itu membuat mereka berdua tertawa, mengabaikan tatapan dari teman sekelasnya yang sedang memperhatikannya.
Namun, beberapa detik kemudian, senyuman Anin perlahan menghilang. Di saat matanya mendapati seseorang yang baru saja masuk ke dalam kelas. Flora yang menyadari hal itu pun, segera mengikuti arah tatapan Anin.
"Hay," sapa Renatta yang baru saja duduk di hadapan Flora dan Anin.
Renatta terlihat sangat rapuh. Dia tidak seperti biasanya, saat ini wajahnya terlihat sangat muram. Matanya terlihat sembab. Hal itu membuat rasa bersalah Flora terhadapnya muncul kembali. Saat ini Flora seperti sedang melihat sosok dirinya sendiri di masa lalunya. Di saat dirinya terpuruk karena perbuatan Morgan dan temannya itu.
Namun, apa yang membuat Renatta menjadi seperti ini? Apakah dia sudah mengetahui tentang hubungan Flora dengan Charles?
"Ada apa denganmu, Re?" Flora mencoba untuk bersikap normal.
Renatta tersenyum kepadanya. "Aku hanya kelelahan, karena aku harus menyiapkan persiapan untuk pernikahanku nanti."
"Pernikahan?" ucap Flora.
Renatta mengangguk untuk mengiyakan pertanyaan Flora. "Sebentar lagi aku akan menikah dengan Charles. Persiapkan diri kalian untuk menjadi bridesmaidku!"
Deg.
Rasanya Flora seperti didorong dari lantai teratas hingga membuatnya terjun bebas sebelum jatuh pada jalan beraspal. Rasanya sangat menyakitkan mendengar hal tersebut.
Apakah benar, jika Charles akan menikah dengan Renatta? Lalu, apa arti dari pernikahannya yang terhitung beberapa hari lagi itu? Apakah Charles sedang bermain-main dengannya? Rasanya, mata Flora sudah mulai memanas.
Sedangkan Anin ingin sekali mengalihkan pembicaraan yang sedang berlangsung itu, tetapi ia bingung harus mengatakan hal konyol seperti apa.
"Re, seharusnya kamu memperhatikan dirimu juga. Bercerminlah! Kamu terlihat sangat menyeramkan. Apa kamu ingin setelah kita pulang, kita menyempatkan diri untuk pergi ke salon terlebih dahulu?" alih Anin.
__ADS_1
"Aku setuju!" jawab Renatta.
"Kamu juga harus ikut, Flo!" ajak Renatta.
Flora hanya terdiam, ia tidak menjawab perkataan Renatta. Pikirannya saat ini sedang kacau, ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dalam kehidupannya saat ini.
"Hai Flo," sapa seseorang. Namun, Flora masih terdiam, tidak menghiraukan sapaan itu.
"Flora!" Anin menyenggol lengan gadis itu. Sehingga membuat Flora sadar dari lamunannya.
Flora menatap Anin yang sedang mengarahkan dagunya ke arah lain. Flora mengikuti arahan itu, dan ia bisa melihat Jonathan yang sedang berdiri di hadapannya.
"Jo?" tanya Flora.
"Beberapa hari ini aku sangat sulit untuk bertemu denganmu, oleh karena itu aku terpaksa untuk menemuimu di kelas. Syukurlah kamu ada di sini."
"Apa ada sesuatu yang penting?"
Jonathan tersenyum penuh arti. Lalu dia memilih duduk berhadapan dengan Flora.
"Apa nanti malam kamu ada waktu? Aku ingin mengajakmu dinner. Aku harap kamu tidak menolak!" ajak Jo.
Flora menoleh kepada 2 temannya. Renatta mengangkat bahunya. Sedangkan Anin, ia menggelengkan kepalanya. Sangat pelan.
Hal itu membuat Flora bingung, tapi jika ditolak, dia merasa tidak enak kepada Jo yang sudah sering kali ia tolak ajakannya.
"Baiklah, akan aku hubungi nanti, jika aku memang memiliki waktu!" jawab Flora.
"Jangan terus menolak ajakanku, Flo! karena aku memang benar-benar ingin mengajakmu dinner malam ini." Jo menatap Flora dengan tatapan memohon.
Flora menganggukkan kepalanya sebelum menyunggingkan senyuman manisnya.
"Aku sangat menunggumu! See u to night!" ucap Jo. Mengedipkan satu matanya. Sebelum pria itu keluar dari kelas.
"Waw... Sepertinya sebentar lagi temanku ini akan memiliki seorang kekasih!" sindir Renatta menggoda.
Flora dan Anin hanya tertawa kecil, agar Renatta tidak curiga kepadanya.
***
Waktu sudah menjelang sore, perkuliahan Flora pun sudah selesai. Saat ini gadis itu sedang berjalan menuju parkiran mobil. Di mana tempat Thomas menunggunya.
"Makasih Thom," ucap Flora. Tanpa menatap Thomas. Karena disepanjang jalan, dia hanya menundukkan kepalanya. Tidak memperhatikan orang-orang sekitarnya.
Flora mendudukkan tubuhnya secara kasar pada jok penumpang. Rasanya ia lelah sekali saat ini.
"Astaga!"
Flora terkejut dengan kehadiran seseorang yang ada di dalam mobil. Tepatnya, orang itu duduk di samping Flora.
Sedangkan orang tersebut hanya menatap Flora dengan penuh teliti. Sebelum ia memberikan kecupan manis pada kening Flora. Namun, Flora tidak berkata apa pun. Dan memilih untuk menenangkan dirinya yang masih terkejut akan keberadaan Charles.
Flora menoleh ke arah Thomas yang sudah berada di jok pengemudi. Namun pria itu sama sekali tidak menyalakan mesin mobilnya.
"Bagaimana hari ini? Kuliahmu lancar?" tanya Charles sangat lembut.
"Ya," jawab Flora singkat dengan senyuman kecilnya.
Hal itu membuat Charles mengernyit.
"Ada apa? Apa ada masalah?" tanya Charles. Meneliti Flora.
Gadis itu menundukkan kepalanya. Sebelum mengalihkan tatapannya pada jendela mobil.
"Tidak ada!"
"Benarkah? Tapi aku tidak percaya itu!" Charles memang merasa ada yang aneh dari Flora, semenjak gadis itu memasuki parkiran. Charles yang memang dari tadi memperhatikan Flora dari dalam mobil, ia tahu jika gadis itu terus saja menundukkan kepalanya di sepanjang perjalanannya menuju mobil. Tidak seperti biasanya gadis itu bersikap.
"Aku hanya lelah Charles. Aku ingin pulang."
"Tidak. Kamu harus mencoba gaunmu terlebih dahulu. Mereka sudah menunggu kita di sana!"
Flora menghela napasnya, karena ia tidak bisa menolak Charles.
Charles masih menunggu Flora untuk berbicara tentang masalah yang sedang gadis itu hadapi.
__ADS_1
"Apa kamu tidak akan mengatakannya?" tanya Charles.
Flora menoleh ke arah Charles sejenak, sebelum menundukkan kepalanya.
"Aku tidak apa-apa."
"Thom," ucap Charles. Thomas yang mengerti dengan hal itu pun, segera keluar dari mobil. Untuk memberikan waktu kepada Charles dan Flora berbicara.
Flora menoleh ke arah Thomas yang keluar dari mobil. Lalu dia memalingkan wajahnya lagi ke arah jendela.
"Katakan padaku, apa yang terjadi?“ pinta Charles dengan nada rendah.
Flora masih saja terdiam membisu.
"Flora."
Tidak ada respon sama sekali dari gadis itu.
"Flora!" panggil Charles sekali lagi dengan nada yang meninggi. Yang kali ini berhasil membuat Flora menoleh ke arahnya.
"Kamu tahu, apa hal terpenting dalam suatu hubungan?" tanya Charles yang masih saja tidak direspon oleh Flora. Itu membuat Charles semakin geram.
"Itu adalah kepercayaan dan komunikasi. Jadi, katakanlah!" sambungnya.
"Apa kamu benar-benar mencintaiku?" Akhirnya Flora membuka mulutnya.
"Pertanyaan macam apa itu? Apa kamu masih membutuhkan jawaban atas pertanyaanmu itu?" Charles menatap heran.
"Ya atau tidak!" ucap Flora tidak sabar.
Charles menghela napasnya panjang. "Aku tidak mencintaimu!"
"Tapi aku sangat mencintaimu! Apa kamu masih tidak percaya dengan perkataanku?" lanjutnya.
Entahlah, setelah mendengar hal itu pun tetap tidak bisa membuat hati Flora tenang. Dia merasa gelisah dan takut.
Sedangkan Charles tidak mengerti dengan sikap Flora. Kenapa gadis itu memberikan pertanyaan yang sudah jelas jawabanya. Apakah Flora meragukannya?
"Ada lagi yang mau kamu tanyakan?" tanya Charles.
Flora terlihat ragu-ragu. Dia ingin menanyakan semuanya kepada Charles. Tapi ia takut dengan jawaban pria itu.
"Sebenarnya apa yang terjadi padamu, Flo? Kenapa kamu seperti ini?" Charles mengubah posisi duduknya agar berhadapan dengan Flora.
"A-apa kamu serius akan menikah denganku?” tanya Flora. Menatap sendu ke arah Charles.
Charles membuka mulutnya karena terkejut. Lagi-lagi Flora bertanya hal yang konyol. Yang sebenarnya sudah tidak perlu dipertanyakan lagi.
"Flora, apa kamu benar-benar meragukanku?" Charles menatap tajam gadis di hadapannya.
"Apa kamu akan menikah dengan Renatta?" lirih Flora menundukan kepalanya.
"Astaga, Flora!" Charles mengusap wajahnya secara kasar. Ia tidak habis pikir dengan gadisnya itu.
"Jadi benar kamu akan menikah dengannya? Apa kamu akan menikah dengannya setelah kita menikah? Atau mungkin sebelum kamu menikah denganku kamu akan lebih dulu menikah dengannya?" tanya Flora beruntun, kali ini dia memberanikan diri untuk menatap Charles.
Charles menganggukkan kepalanya dengan pelan. Sekarang ia mengerti apa yang terjadi dengan gadisnya itu.
"Jadi ini yang membuatmu seperti ini? Apakah Renatta yang mengatakan hal bodoh itu?" tanya Charles. Namun, tidak dijawab oleh Flora. Gadis itu memilih untuk memalingkan wajahnya.
"Kamu lebih percaya kepadanya dibandingkan denganku? Apa kamu benar-benar tidak percaya denganku, Flora?" Charles berbicara dengan nada yang tinggi.
Flora benar-benar merasa takut. Dia takut kejadian di masa lalunya itu terulang kembali. Dia takut kehilangan Charles. Sangat.
Saat ini Flora sedang menahan diri agar tidak meneteskan air matanya. Rasanya sudah panas sekali matanya itu.
Melihat Flora yang masih saja terdiam membuat Charles mengetahui jawabannya, jika gadis itu benar-benar tidak percaya kepadanya.
"Thomas!" teriak Charles. Membuat orang yang namanya dipanggil pun segera memasuki mobil dan menjalankan mobil tersebut.
Setelah mobil Charles berlalu, secara diam-diam di tempat lain ada yang sedang memperhatikan mereka dari tadi.
"Bawa wanita itu secepatnya ke hadapanku, mengerti?!" ucap seorang pria paruh yang sedang duduk dijok penumpang.
"Mengerti, Sir!" jawab kedua anak buahnya.
__ADS_1
"Aku tidak akan membiarkan kau menikah dengannya Charles!" geram pria itu.
Bersambung ...