
Nellie yang hendak beristirahat kembali setelah mengonsumsi obat-obatan yang diberikan dokter, ia mendadak kembali bangkit dari tidurnya saat melihat handphone Nadia tergeletak di atas meja. Dokter itu tersenyum kecil mengingat betapa panik dan cerobohnya Nadia saat menjenguknya tadi.
"Ya ampun Nadia ... untung ketinggalan di sini. Ckck, pasti dia cari," gumam Nellie sembari susah payah menggapai kursi roda yang ada di samping ranjang.
Nellie itu adalah gadis mandiri, bahkan sejak ia masih berstatus pelajar dulu. Meskipun sedang sakit dan tidak bisa berjalan, gadis itu memiliki tekad untuk menyusul Nadia ke kantin dan mengantarkan handphone-nya yang tertinggal. Sebenarnya bukan hanya itu pula tujuan Nellie. Nellie masih belum terbiasa dengan statusnya sebagai pasien saat ini, ia ingin menceritakan pada Nadia bahwa jenderal yang semalam menolong adalah mantan kekasihnya yang sering ia ceritakan pada Nadia setiap hari.
Nellie menggerakkan kursi roda sekuat tenaga tanpa bantuan siapa pun sampai ia tiba di pelataran kantin dan berusaha menemukan Nadia yang mungkin masih berada di sana.
Chandra sudah selesai dengan sarapan pagi yang lezat, pria itu membereskan kembali wadah makanan dengan rapi. Sementara Nadia masih memperhatikan gerak-gerik suaminya yang tampak sudah kelelahan setelah beberapa hari tidak beristirahat.
"Kamu ikut pulang sama saya, 'kan?" tanya Nadia sembari meraih lengan Chandra.
Chandra tersenyum kecil. "Hm ... Sepertinya belum bisa, tapi saya usahakan pulang hari ini," jawab Chandra meyakinkan Nadia.
Nadia cemberut. "Jadi... kamu beneran bisa tahan nggak tidur tiga hari, ya?"
"Haha ... belakangan ini saya selalu tidur teratur, tapi tubuh saya ini cukup kondisional, bisa menyesuaikan dengan situasi. Untuk sementara, kamu di rumah dulu bersama ibu bidan, ya."
"Kamu juga kelihatannya biasa saja, padahal kita udah pisah lebih dari satu jam," keluh Nadia pada suaminya, yang sontak membuat Chandra mengulum senyum tetapi merasa bersalah juga.
Chandra menggaruk lehernya yang tidak gatal. Ternyata begini ya hubungan laki-laki dan perempuan yang sebenarnya, salah satunya harus ada yang mengalah dan salah satunya pula harus keras kepala agar hubungan itu memiliki kesan mendalam, tidak melulu dua-duanya mengerti sehingga hubungan terasa monoton.
"Oh iya, saya ketemu Vidi semalam, dia juga terlibat dalam kebakaran itu." Beritahu Nadia pada Chandra.
Barulah Chandra bereaksi saat nama Vidi disebut, Nadia menyembunyikan senyumnya.
Chandra membulatkan kedua matanya dan sedikit mengencangkan otot wajahnya.
"O-oh, Vidi? Siapa ya, Vidi ... seperti pernah mendengar namanya," jawab Chandra pura-pura lupa. Padahal jelas sekali kalau Chandra tahu betul Vidi, bahkan pada zodiak pria itu yang sering dicocok-cocokkan dengan Nadia.
Pada akhirnya, tawa Nadia pun pecah melihat akting amatir suaminya itu.
"Haha ... apa sih, kamu juga tahu siapa Vidi. Nggak usah pura-pura, tapi kamu tenang saja. Saya nggak ngobrol banyak sama dia. Johnny juga tahu Vidi ada di puskesmas, dia pasiennya Dokter Nellie.
Chandra tersenyum lembut. "Lalu, di mana Vidi sekarang?"
"Untuk sementara dia tinggal di camp dengan Danil. Karena kondisi Vidi juga masih sakit. Satu perawat masih harus memantau kondisi Vidi sama Danil."
"Syukurlah kalau begitu. Sebenarnya, Vidi adalah laki-laki yang baik dan kelihatan sangat tulus. Tapi untungnya, jodoh Kamu itu saya Nad," balas Chandra yang membuat Nadia tersenyum.
Nadia menyandarkan kepalanya di bahu suaminya dan tertawa kecil dengan ocehanocehan yang terdengar manis dibandingkan kebiasaannya dulu.
"Dari mana kamu tahu kalau Vidi itu orangnya tulus? Bukannya kamu pernah marah gara-gara Vidi?"
Chandra menolehkan wajahnya ke arah Nadia. "Diam-diam, saya bertemu dengan Vidi. Kami mengobrol berdua. Kejadiannya sebelum saya pergi ke Jakarta untuk menyusul kamu. Kami juga makan siang di sebuah kedai. Vidi menangisi kamu, Nad. Dia menyesali perbuatannya dan memohon pada saya untuk melepaskan kamu."
__ADS_1
Nadia merenung, senyum kecut ia hadiahkan pada Chandra.
"Terus, kamu bilang apa? Kamu nggak kasar kan pada Vidi?"
Chandra menggelengkan kepalanya. "Saya berterima kasih pada Vidi karena dia sudah memberikan kesempatan agar saya bisa bersanding dengan kamu."
"Ih, kamu bohong, ya?" ejek Nadia dengan kekehan kecil. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa Chandra membuatnya sangat senang dengan cara yang cukup menggelikan.
Chandra terkikik.
"Iya, saya serius. Kalaupun ada dua Nadia di dunia ini, saya tidak akan memberikan salah satunya untuk Vidi. Saya mau menjaga dan memiliki dua-duanya. Untuk urusan cinta, saya itu serakah."
"Terus aja serakah," timpal Nadia sambil tersenyum. "Saya senang dengarnya."
Mereka terlihat mesra dan serasi, setiap mata yang tak sengaja menatap ke arah Nadia dan Chandra pasti akan memuji sepasang suami istri itu dengan senyum atau gumaman dalam hati. Seorang gadis adalah sosok yang terlihat polos dan baik hati, sementara seorang pria tampak sangat gagah dan berani.
Nellie sejak tadi mematung di tempatnya berada, lutut gadis itu terasa amat lemas ketika menyaksikan tawa Nadia yang terlihat begitu lepas dan damai bersama seorang pria yang menatapnya dengan tulus dan hangat. Tatapan Chandra tidak pernah berpaling selain pada Nadia, seolah Nadia adalah orbit dari tata surya di mana Chandra adalah salah satu benda langit yang terpusat ke arahnya.
Sorot mata itu ... kasih sayang, rasa cinta, perhatian, kagum, semuanya ada pada pandangan Chandra untuk Nadia.
Nellie telah kehilangan itu sejak lama, dan rasa tak ikhlas yang amat besar mulai tumbuh dengan sangat cepat di hati Nellie.
Nellie memegangi dadanya, gemuruh terasa begitu keras menghantam jantungnya. Nellie menangis tanpa suara. Tubuhnya mungkin terasa sakit dan lemah, tetapi hatinya merasakan seratus kali lipat rasa sakit itu. Nellie mencoba menguatkan dirinya, tetapi ia tidak bisa melakukan hal itu. Dalam pangkuannya handphone Nadia masih tersimpan di sana, rasanya Nellie ingin melempar benda itu dengan sangat keras ke arah Nadia dan Chandra, untuk menyadarkannya dari mimpi buruk ini. Namun, beberapa kali Nellie membuka-tutup matanya, pemandangan itu tetap ada dan justru semakin jelas.
Suster itu berlutut di hadapan Nellie dan melirik pada arah tatapan Nellie menuju area kantin. Suster itu tersenyum kecil. "Oh, itu Nadia Adriana. Apa Dokter kenal? Dia sama suaminya sekarang tinggal di Flores. Saya kagum sama dia, biarpun artis papan atas dia tidak segan untuk ikut suami bertugas."
Nellie berkedip dan air mata membasahi pipinya, terasa panas sekali.
Bahkan orang asing pun memuji betapa hebatnya Nadia. Hal ini membuat Nellie dihantam untuk ke sekian kalinya dengan rasa sakit yang sama.
"Ayo Dokter, kita kembali ke kamar," ajak suster tersebut setelah melihat Nellie justru menitikkan air mata.
"Tunggu ...!" pinta Nellie.
Suster tersebut menghentikan dorongannya pada kursi roda Nellie. "Iya, ada apa?"
"Tolong, berikan handphone ini kepada Nadia," ujar Nellie dengan wajah tertunduk dalam-dalam.
Suster itu masih kebingungan dengan apa yang menimpa Nellie. "Saya bisa ke kamar sendiri. Terima kasih sudah menemukan saya di sini," tambah Nellie dengan wajah yang masih ia sembunyikan susah payah dengan tertunduk.
"Jadi, ia perempuan yang berhasil membuat kamu jatuh cinta itu ... Nadia?" ucap Nellie lirih. Seakan-akan tidak percaya bahwa dunia kali ini tidak lagi berpihak padanya.
ā¢ā¢ā¢
"Berasa nonton drama Korea," gumam Ong saat dirinya menyaksikan perpisahan Nadia dengan Chandra. Sementara Ong berada di dalam mobil, tepatnya duduk di kursi pengemudi.
__ADS_1
"Nanti sore saya akan pulang." Beritahu Chandra berulang kali pada Nadia. Nadia mengangguk dengan malas.
"Hm, hati-hati di sini."
"Eh, sebentar." Chandra menahan lengan Nadia saat gadis itu hendak berbalik meninggalkannya.
Nadia kembali menghadap Chandra dan menunjukkan wajahnya yang masam. "Ada bulu mata jatuh." Chandra mengambil sehelai bulu mata lentik Nadia yang berada di bawah mata gadis itu, dengan perlahan Chandra berhasil mengambilnya. Namun, Nadia malah tersenyum kecil.
"Jangan dibuang!" seru Nadia buru-buru saat Chandra hendak menerbangkannya.
"Kenapa?" tanya Chandra dengan dahi berkerut.
Ong di dalam mobil masih menonton dengan saksama.
"Kamu tahu mitos nggak, sih? Katanya kalau bulu mata ada yang jatuh tandanya ada yang kangen sama kita."
Chandra terkekeh pelan. "Oh, iya?"
"Hm ... masa nggak tahu, sih?"
Chandra tentu saja menggelengkan kepalanya karena dia tidak pernah percaya mitos seumur hidupnya.
Nadia merebut helai bulu mata dari jemari Chandra kemudian menempelkannya di telapak tangannya yang putih dan halus. Chandra mengerutkan dahinya.
"Nih, begini caranya, ditepuk-tepuk sambil kamu absen alfabet dari A sampai Z. Kalau bulu matanya hilang di huruf yang disebutin, itu tandanya orang yang punya inisial huruf itu yang kangen sama kita!"
Chandra mengulum senyumnya, Nadia terlihat seperti anak kecil yang mengajarinya sebuah permainan. Dengan serius gadis itu menunjukkan kedua telapak tangannya yang masih terdapat sehelai bulu matanya di sana.
"A ... B ... Cā"
"Fuuuh!" Chandra meniup telapak tangan Nadia membuat gadis itu mendongak dengan ekspresi jengkel. Suaminya malah tertawa ngakak di tempatnya berdiri.
"Yak! Kenapa ditiup?! Kan belum selesai!" omel Nadia sembari memukul pelan lengan Chandra.
"Itu C ... bulu mata kamu hilang, itu artinya inisial C 'kan yang kangen? Itu sudah pasti saya," balas Chandra dengan percaya diri.
Nadia mendengkus, tetapi gadis itu juga tertawa dibuatnya.
Sementara itu di dalam mobil Ong jadi kesal juga. "Muntah tidak, ya. Lihat jenderal bucin kayak gitu."
BERSAMBUNG ....
Kalau si Jenderal udah gombal nggak kira-kira š
yeay, hari ini 6 Bab. jangan lupa like, komen, dan votenya.
__ADS_1