Suamiku Jenderal

Suamiku Jenderal
Ekstra BAB 8


__ADS_3

Chandra memperlihatkan layar handphone-nya pada Nadia yang malam itu sudah merebahkan tubuhnya di atas ranjang single bed. Sementara Chandra sendiri baru selesai mandi karena pria itu merasa kegerahan setelah membakar ikan.


"Apa ini?" tanya Nadia bingung karena tiba-tiba suaminya itu memberikannya handphone.


"Coba kamu lihat. Ada yang kamu suka atau tidak?"


Nadia mengerutkan dahinya bingung, dilihatnya layar handphone yang menampilkan foto contoh desain interior ruangan dan juga taman yang sangat indah.


"Ada yang kamu suka?"


"Desain interior? Kamu mau rombak rumah dinas kayak gitu?"


Chandra tersenyum. "Rumah dinas tidak bisa direnovasi semau kita, Sayang."


"Terus, kenapa kamu tunjukin foto-foto desain interior?"


"Ayah yang minta saya untuk memilihkan desain rumah dan juga interiornya, tapi saya tidak begitu paham hal seperti ini."


Nadia manggut-manggut, profesi ayah mertuanya adalah seorang manajer hotel dan ternyata seleranya cukup tinggi jika dilihat dari contoh desain rumah yang ada di foto ini.


"Ngomong-ngomong, kita belum punya rumah," ucap Nadia setelah ia selesai memilihkan desain untuk ayah mertuanya.


"Kamu mau rumah?"


Nadia mengangguk. "Mau dong, tapi rumah dinas untuk saat ini sudah cukup kok. Saya betah tinggal di sana"


Chandra menjatuhkan belaian lembut di pipi tembam istrinya. "Maaf ya, belum bisa memberikan kamu rumah yang cantik seperti pengantin pada umumnya."


"Kalau dipikir kembali, saya tidak punya apa pun ketika hendak menikahi kamu," tambah Chandra dengan ekspresi sendu.

__ADS_1


"Kok ngomong gitu sih, kamu punya segalanya tahu!" omel Nadia dengan gemes.


"Kamu 'kan nggak sempat saja bangun rumah sama siapin banyak hal lainnya buat kita. Karena kamu sibuk dinas." Nadia memeluk tubuh suaminya dan menyandarkan pula kepalanya pada dada bidang milik Chandra.


"Kalau kita tinggal di Bali, kamu keberatan tidak?" tanya Chandra tiba-tiba.


Nadia menoleh ke arahnya dengan senyum kecil di bibir.


"Bali?"


"Iya, Bali. Di daerah yang masih asri, ada pemandangan alam yang bagus, tetapi sudah banyak fasilitas masyarakat."


"Mau, tapi kalau tinggal di Bali, kita jauh sama keluarga dong?"


"Coba kita tanya sama bayinya Sayang ...," pinta Chandra, dan tangan pria itu langsung


Chandra yang dulu amat sangat kaku, sering meminta izin untuk melakukan suatu hal. Namun, justru sekarang begitu santai dan bahkan bisa mengobrol dengan bayi yang masih berada dalam kandungan.


"Bayi, mau tidak kalau tinggal di Bali?" Chandra berbisik pada bayi yang masih berada dalam kandungan itu.


"Apa katanya?" tanya Nadia pada Chandra yang kini menguping di atas perut Nadia.


Nadia tertawa cekikikan.


"Terserah kamu katanya."


Nadia menjatuhkan elusan lembut di atas rambut tebal Chandra yang masih asik berdiskusi dengan bayi yang tidak menjawab setiap pertanyaannya. Nadia sangat bahagia sekali, kebahagiaan ini jauh lebih besar dibandingkan dengan semua penghargaan yang ia dapat sebagai seorang musisi atau pujian selangit dari para penggemar. Menjadi calon ibu dan menjadi sosok istri ternyata membuatnya dilanda perasaan damai yang tiada duanya. Hidupnya sudah jauh dari kata khawatir, saat ini ia memiliki seseorang yang selalu ada dan dapat diandalkan. Dia, si Jenderal bintang tiga yang kini menjadi suami sekaligus calon papa dari bayi di dalam kandungannya.


"Jenderal?"

__ADS_1


"Hm?" Chandra mendongak setelah mendengar panggilan manis dari istrinya.


Nadia menarik lengan Chandra agar pria itu mendekat ke arahnya. Chandra menurut dengan perlakuan istrinya itu tanpa banyak bertanya.


"Nad, kamu marah tidak kalau semalaman suntuk ini saya menatap kamu yang cantik?" tanya Chandra.


Nadia tersenyum dan mengangguk. "Boleh!"


Chandra menangkup kedua pipi merona milik Nadia dan membelainya halus. "Kamu tahu apa yang pertama kali terlintas dalam pikiran saya, saat saya datang melamar?"


"Kamu mau batalin niat kamu?" tebak Nadia setelah berpikir.


Chandra tertawa kecil, "Bukan!"


"Terus apa?"


"Saya mau mencubit pipi kamu seperti ini. Tapi, ada papa kamu. Saya merasa sangat takut dengan papa kamu."


Nadia terkikik mendengarnya. "Jenderal kok, penakut sih?"


"Seberani-beraninya saya di medan perang, saya itu penakut kalau kamu tidak ada di sisi saya," ujar Chandra serius.


"Cih, gombal!" elak Nadia pura-pura cemberut.


BERSAMBUNG ....


jangan lupa mampir di karyaku yang satunya, udah 7 BAB loh.


__ADS_1


__ADS_2