Suamiku Jenderal

Suamiku Jenderal
BAB 58


__ADS_3

Ong, Dio, Alif, Yuta dan Johnny serta belasan orang tentara lain semuanya sudah berada di lokasi kebakaran. Para tentara itu dengan sigap mencoba mematikan kobaran api yang akan merambat ke gudang senjata dan juga kantor pusat pengendalian keamanan TNIAD. Dan juga menyelamatkan beberapa orang pasien yang masih terjebak di dalam puskesmas.


Perawat dan pasien sudah diamankan oleh Danil di tempat yang jauh dari kobaran api. Vidi adalah salah satu dari sepuluh orang korban kebakaran, tetapi Vidi baik-baik saja dan hanya mengalami sedikit shock karena kobaran api yang tiba-tiba membesar begitu saja saat dirinya tertidur akibat efek obat-obatan.


"Ada siapa lagi yang belum berada di sini?!" tanya Danil dengan suara keras, para pasien saling melirik dan perawat piket memperhatikan satu persatu orang yang ada di sana.


"Ya Tuhan... Dokter Nellie masih di dalam!" jerit perawat jaga tersebut dengan histeris.


Danil mendesah pelan, melihat keadaan bangunan yang menjadi pusat kesehatan bagi masyarakat itu yang sudah begitu hancur akibat dilahap si jago merah, rasanya sangat kecil kemungkinan kalau Dokter Nellie bisa diselamatkan.


"Tim pemadam kebakaran ... kenapa nggak hubungi tim damkar?!" ujar Vidi dengan nada panik.


Danil tersenyum putus asa ke arah Vidi. "Ini pelosok. Butuh waktu satu jam untuk tim damkar tiba di sini."


"Gila apa! Nyawa orang itu! Selamatkan kek! Becus kerja nggak sih, kalian?!" ujar Vidi emosi. Wajah Vidi tampak kotor karena asap yang berasal dari api yang mengepul cukup banyak, langit malam yang hitam bertambah kelabu dengan peristiwa naas ini.


Orang-orang yang ada di sana hanya bisa pasrah ketika api semakin membesar saja. Namun bersyukur karena tidak ada ledakan yang ditimbulkan dari bangunan tempat penyimpanan senjata yang letaknya berderet dengan puskesmas dan kantor dinas.


Sebuah mobil jeep milik jenderal berhenti di area pengungsian yang jaraknya seratus meter dari lokasi kebakaran. Chandra turun dari dalam mobil dan tubuh tingginya itu memunculkan harapan bagi orang-orang yang putus asa di sana. Pria itu bergegas menghampiri Danil yang sejak tadi terus berkomunikasi dengannya selama di perjalanan. Nadia menyusul turun dengan lemas, gadis itu juga langsung menghampiri korban selamat dan mencari Nellie di antara kumpulan orang-orang tersebut. Namun, Nadia justru malah menemukan Vidi yang menatapnya terkejut, dengan pakaian kotor dan wajah yang terlihat pucat pasih.


"Jenderal, tolong selamatkan Dokter Nellie ... beliau masih ada di asramanya.


Bangunan paling belakang!" ucap seorang wanita yang Nadia kenal sebagai bidan.


"Apa?!" tanya Chandra kaget. Danil menundukkan wajahnya.


"Iya Jenderal, puluhan anggota sudah tiba, tetapi kami lebih mengutamakan agar api tidak menyebar ke gudang penyimpanan senjata. Sehingga asrama dokter yang ada di belakang puskesmas tidak sempat kami lakukan evakuasi. Apinya menyalak sangat besar karena cuaca yang sedikit berangin," jelas Danil dengan raut wajah penuh bersalah.


Nadia mendekati Chandra dan meraih lengan suaminya. "Tolong ... Nellie, teman saya! Saya mohon ... kamu mau selamatkan dia ... ya."


Chandra menyentuh wajah Nadia dan sedikit mencubit pipi istrinya itu dengan lembut, tersenyum dipaksakan pada Nadia yang justru semakin terlihat terguncang di tengah kekacauan ini.

__ADS_1


"Iya, kamu diam di sini. Jaga diri baik-baik!" ucap Chandra pada Nadia.


"Danil, kamu pastikan dulu apa ada pasien atau orang yang terluka. Segera pergi ke tempat yang lebih aman," komando Chandra pada Danil. Padahal, Danil pun masih belum sembuh, lelaki itu masih harus menjalani perawatan dokter dan istirahat yang cukup agar demam berdarahnya segera pulih.


Lalu Chandra berlari menuju bangunan yang ada di belakang kobaran api. Nadia menggigit kuku jarinya, ia sangat takut jika hal buruk menimpa Chandra dan Nellie. Namun, Nadia yakin kalau suaminya akan baik-baik saja. Meskipun percaya pada kemampuan Chandra tetap saja Nadia tidak bisa menyembunyikan rasa takut dan sedihnya terhadap hal-hal buruk yang mungkin saja terjadi.


Nadia dengan lemas terduduk di atas tanah dan segera beberapa orang yang ada di sana merangkul Nadia yang gemetaran di tempatnya. Vidi yang menyaksikan itu semakin mencelos, melihat Nadia yang lain dari biasanya. Gadis mungil dengan rambut panjang dan sepasang mata yang terlihat indah itu bukanlah Nadia miliknya yang dulu sangat manis. Nadia kini menjelma sosok lain yang sangat mengagumkan. Vidi memegangi dadanya yang terasa bergemuruh, rasa cemburu, merasa kehilangan dan juga rindu yang sangat besar terhadap berkumpul menjadi satu. Vidi melangkahkan kakinya ke depan, mendekat ke arah Nadia untuk sekedar memastikan bahwa perasaan kehilangannya tidak main-main.


Nellie terbaring di atas lantai yang begitu panas, ruang kamarnya yang minimalis itu sudah dipenuhi oleh kobaran api juga asap yang mengepul di seluruh sudut. Ada darah segar yang mengalir di pelipis Nellie, sepertinya luka yang lumayan parah terjadi ketika dokter itu berusaha menyelamatkan diri dari peristiwa kebakaran.


Namun, Nellie tidak sampai kehilangan kesadarannya ia merasakan napasnya sangat sesak dan penglihatannya sangat perih sehingga yang bisa Nellie lakukan hanya berdoa dengan tubuh yang benar-benar tidak bisa bergerak sama sekali.


Chandra memasuki area terparah bangunan yang sudah nyaris terbakar habis, kobaran api semakin menyalak saat angin dari Timur berembus.


"Nellie! Kamu di mana?!" teriak Chandra dengan nada panik.


Saat langkahnya semakin masuk ke dalam api, Chandra menemukan sebuah bak kecil yang berisi air yang kotor. Pria itu menggunakan sebuah gayung yang sudah patah, lalu mengambil air dalam bak tersebut, dan menyiramkannya kepada tubuhnya mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki. Kini tubuh Chandra basah kuyup.


Lalu setelah memastikan dirinya tidak mudah terbakar, Chandra menyusuri lorong asrama belakang dengan langkah yang cepat dan gesit sembari terus memanggil Nellie. "Nellie!" teriak Chandra lagi, tidak dipungkiri bahwa Chandra sangat khawatir jika dokter satu-satunya yang bertugas harus menjadi korban kebakaran. Ini semua pasti akan dilimpahkan atas kelalaiannya dalam menjaga setiap penduduk yang ada di Flores. Sebagai pemimpin pasukan keamanan yang bertugas, Chandra tentu tidak mau sampai ada satu korban pun yang jatuh di tempatnya ini.


Pria itu menutupi hidung dan mulutnya dengan sapu tangan pemberian Nadia.


Brak!


Sebuah pintu ketiga berhasil Chandra ambrukkan, pintu itu agak sulit dibuka karena terkunci dari dalam. Chandra merasa lega saat dirinya berhasil menemukan Nellie meringkuk di tengah-tengah kobaran api yang semakin besar menjilat-jilat seluruh ruangan.


"Nellie!" panggil Chandra.


Nellie sedikit tersenyum saat samar-samar Chandra menemukannya dan merangkul tubuh kecilnya ke dalam gendongan.


Chandra segera membawa Nellie ke dalam gendongannya. Dengan terbatuk-batuk, pria itu akhirnya berhasil membawa Nellie keluar dari kobaran api yang nyaris membakar tubuhnya.

__ADS_1


"Uhuk! Uhuk!" Nellie terbatuk-batuk cukup parah, begitu pun Chandra. Napas mereka sama-sama memburu di tengah-tengah panasnya udara karena api yang besar di sisi tubuh mereka.


"Kenapa kamu tidak menjawab saat saya panggil?!" tanya Chandra marah saat pria itu berhasil mengembalikan napasnya dengan normal.


Nellie tidak menjawab pertanyaan Chandra, gadis itu malah tersenyum dengan kedua mata berair. Nellie menangis, menangis haru dan lega karena ia berhasil berada dalam pelukan Chandra lagi. Setelah sekian lama, akhirnya Nellie bisa menyaksikan wajah panik Chandra setiap kali dirinya dilanda bahaya.


"Lihat! Hampir saja saya tidak bisa menyelamatkan kamu!" bentak Chandra lagi ketika memperhatikan keadaan Nellie yang cukup parah. Pakaian Nellie juga sedikit terbakar dan koyak di beberapa bagian, tubuh putih dan mulusnya cukup terekspose membuat Chandra memalingkan wajahnya ke arah lain.


Perlahan pandangan Nellie mengabur seiring kesadarannya yang semakin berkurang. Chandra tidak menunda-nunda waktu lagi, pria itu segera berlari keluar dari tempat itu sembari membawa Nellie di dalam dekapannya.


Sirene ambulance dan pemadam kebakaran berbunyi dan kendaraan-kendaraan tim penyelamat mulai berdatangan untuk menghalau kebakaran besar tersebut, bersamaan dengan munculnya Chandra dari bangunan terbakar bersama seseorang di dalam gendongannya.


Nadia refleks berdiri dari duduknya ketika melihat Chandra dan Nellie akhirnya keluar dari tempat itu dengan selamat. Nadia sangat bersyukur dan tentu saja sangat terharu atas sikap suaminya yang berhasil menyelamatkan nyawa seseorang yang mungkin saja tidak akan terselamatkan jika dia hanya diam berdiri. Nadia berlari mendekati Chandra dengan kaki yang tidak mengenakan alas, mereka pergi terburu-buru hingga Nadia yang ceroboh harus muncul dengan keadaan seperti ini.


Chandra tersenyum ke arah Nadia, wajahnya menghitam karena terkena kepulan asap dan pakaian Chandra juga sangat compang camping. Nadia melihat Nellie dalam gendongan suaminya, tampak tangan Nellie tersampir di bahu Chandra dengan begitu erat, dan Chandra pun menopang tubuh Nellie seakan-akan Nellie itu seringan kapas.


"Syukurlah ... saya sudah takut ...," ucap Nadia dengan isak tangis, bibirnya bergetar dan kalimat terbata-bata. Tangannya berusaha menggapai-gapai tubuh Chandra yang kelihatannya kelelahan.


Chandra mengangguk. "Kamu ... tenang saja."


Nadia mengusap air matanya, ia ingin memeluk Chandra dan mengungkapkan rasa syukur berlebih pada suaminya itu. Namun, Nadia tidak dapat melakukan itu karena Nellie ada dalam gendongan Chandra. Nadia melepas jaket tentara milik Chandra yang kebesaran di tubuhnya, lalu menyelimuti tubuh Nellie dengan jaket tersebut.


Chandra memperhatikan Nadia yang amat peduli pada semua orang. Namun, akankah begini ceritanya kalau Nadia tahu siapa Nellie?


Chandra agak melamun, sampai dia tidak sadar kalau petugas medis sudah menyiapkan matras dan oksigen untuk Nellie.


"Pak, saya minta Bapak ikut ke rumah sakit untuk menjelaskan keadaan pasien kepada dokter," ujar salah satu petugas rumah sakit pada Chandra.


Chandra melirik ke arah Nadia yang masih berdiri di sampingnya. "Kamu pergi aja ... saya bisa nunggu di rumah sama yang lain. Pasien puskesmas juga kan perlu istirahat, di antara mereka juga ada yang shock," ucap Nadia pada Chandra. Nadia tidak mau membuat Chandra kebingungan, lagi pula ini sudah menjadi tugas Chandra untuk selalu mengayomi dan menjalankan pekerjaan dengan baik.


Chandra menelan salivanya susah payah, dia mengelus pipi Nadia dengan tangannya yang agak kotor. "Saya pergi dulu ... Kamu tidak apa-apa bersama ibu bidan di rumah? Saya akan segera pulang kalau semuanya sudah selesai."

__ADS_1


"Iya, saya akan tunggu kamu. Kamu juga harus diperiksa ... saya bisa menyetir mobil dan membawa beberapa orang untuk menumpang ke rumah kita," balas Nadia dengan nada lembut.


Bersambung ....


__ADS_2