Suamiku Jenderal

Suamiku Jenderal
BAB 90


__ADS_3

Chandra memegangi sisi kepalanya yang terluka, darah masih mengalir dan bau anyir tercium oleh hidungnya. Seseorang yang memukulkan batu bata ke arahnya tidak sadarkan diri setelah Chandra kembali memberikan perlawanan terakhir sebelum ambruk.


Wanita yang tadi berteriak histeris setelah mendapatkan pertolongan Chandra pun segera menggusur tubuh tinggi Chandra untuk memberikan pertolongan pertama.


Lima menit kemudian teman satu barak Chandra muncul setelah mendengar keributan dari teriakan minta tolong seorang wanita. Chandra pun dilarikan ke sebuah rumah sakit militer yang letaknya tidak jauh dari tempat mereka tinggal.


"Is it okay?" tanya rekan Chandra dengan raut ngeri. Bantal yang digunakan Chandra yang semula berwarna putih bersih kini justru berwarna merah karena terkena noda darah yang sangat pekat.


Chandra mengangguk kecil, dia masih menjaga kesadarannya.


"Could you please call my wife?" tanya Chandra pelan.


"Of course. But, you better got the doctor first."


Chandra tersenyum kecut, dia meringis karena rasa sakit itu hampir saja membuat kesadarannya hilang. "I'll gonna be better if i hear her voice."


"Okay, wait. I'll take the emergency phone."


Pria tinggi berkebangsaan Persia itu segera pergi untuk mengambil handphone darurat. Chandra dimasukkan ke dalam IGD oleh dua orang perawat dan seorang dokter yang siap siaga mengalami luka yang dideritanya.


Nadia bangun pagi-pagi sekali, karena ia tidak bisa tidur setelah terbangun karena mimpi semalam. Nadia juga tidak bisa menyebutkan jika itu mimpi indah atau buruk, dikarenakan setelah bangun perasaannya justru tidak tenang. Seharusnya, ketika ia bertemu Chandra dalam mimpi ia bisa bahagia saat bangun tidur, tetapi ini justru sebaliknya.


Karena bosan, Nadia pun pergi menuju dapur dan membuka isi kulkas untuk membuat sarapan pagi. Nadia melihat kornet, daging ayam, telur dan beberapa sayuran hijau yang ia beli beberapa hari yang lalu. Ya, meskipun ini adalah rumah mertuanya, tetapi Nadia beberapa kali mengisi bahan-bahan makanan dan berbelanja setiap memiliki waktu luang.


Nadia pun segera mengeksekusi semua bahan itu, dan berencana membuat omelet dengan kornet dan sayur bayam bening. Ia memasak dengan sedikit bersenandung kecil untuk menghilangkan rasa sepi di dapur.


Sarapan telah tersaji di atas meja, pukul setengah tujuh pagi Joy pun sudah bersiap untuk pergi ke kantor, gadis itu menghampiri Nadia dan memeluk kakak iparnya itu dari belakang.


"Hehehe. Udah masak nih?"


Nadia sangat kaget saat seseorang tiba-tiba memeluk tubuhnya, Joy terkikik saat Nadia menoleh dengan raut terkejut.


"Joy ...!" omel Nadia sambil cemberut.


Joy melepas pelukannya dan merasa bersalah karena Nadia kini meneteskan air mata.


"Loh, Kak, kenapa? Maaf," sesal Joy dengan wajah bersalah.


Nadia menggeleng, dan memeluk tubuh Joy dengan erat, mengistirahatkan kepalanya pada bahu Joy. Joy mengelus bahu Nadia, dan sepertinya memahami perasaan Nadia sekarang


Semalam, Joy juga sempat menemani Nadia di kamarnya, tetapi Nadia sudah tidur sehingga ia tidak memiliki kesempatan untuk mengobrol untuk menanyakan keadaan Nadia.


"Kepikiran kakak, ya?"


Nadia tidak bisa bicara sama sekali meskipun ingin, mulutnya malah mengeluarkan isakan.


"Tenang, Kak. Sebentar lagi kakak pasti pulang, kok."


"Tapi Chandra sama sekali nggak ada kabar," ujar Nadia lirih, suaranya tersendat.


Joy tersenyum dipaksakan, ia segera mengambil tisu dan menyerahkannya pada Nadia.


"Aku nggak akan sedih kalau Chandra kasih kabar, Joy. Ini sudah dua bulan lebih. Gimana keadaannya di sana? Dia makan apa di sana, tidurnya gimana ... aku khawatir."


"Chandra bilang ... tugas skorsing ini cuma sebulan. Apa dulu, waktu dia tugas ke Palestina separah ini juga?"


Joy bingung dan kembali merangkul tubuh Nadia ke dalam pelukannya. Sewaktu Chandra dikirim ke Palestina, dia masih bisa menelepon satu bulan sekali. Hal itu pun membuat Joy bertambah khawatir.


"Kak, mungkin karena di Suriah adanya pembatasan telekomunikasi antar negara, Kakak tahu sendiri kan di sana zona darurat terorisme dan radikalisme. Makanya, kita nggak bisa hubungi kakak begitu pun sebaliknya."


Nadia mengusap wajahnya kasar, Nadia tahu betul hal tersebut, tetapi mengapa harus separah ini. Sebulan lalu juga Nadia kembali menemui psikiater nya untuk berkonsultasi dan kembali mendapatkan obat penenang.


Joy pergi ke kantor, dan Nadia sendirian di dalam kamarnya. Nadia menolak untuk ditemui siapa pun hari ini, ia sudah meminta izin pada ibu dan nenek untuk tidak keluar dari kamar, dan nenek memaklumi hal tersebut begitu pun ibu yang tadi pagi memergoki Nadia menangis di depan Joy.


Chandra menahan dokter agar tidak memberikan bius terlebih dahulu, sebab temannya belum tiba untuk menawarkan telepon darurat seperti permintaannya. Di atas meja operasi Chandra menahan kesadaran agar tidak hilang, wajahnya semakin pucat ketika aliran darah segar sudah keluar cukup banyak dari luka pada bagian kepala.


Lima menit menunggu akhirnya seorang tentara tergopoh-gopoh menuju ruang IGD, Chandra tersenyum dan langsung meraih telepon darurat itu. Dia dengan cepat menulis nomor Nadia yang sudah dia hafal di luar kepala, Chandra juga menambahkan kode negara, tangannya yang berlumuran darah langsung menempelkan telepon itu ke telinga.


"Doctor, can i talk in telephone while you do the surgey?"


Dokter terkejut dengan pertanyaan Chandra, pria itu tersenyum kecil ke arah dokter yang tampaknya tidak bisa membantah.


"But, you need to rest."


"Thats okay, i can't talk to my wife at base camp. Im really good to endure the pain. It is not the first time for me."

__ADS_1


"Okay, you have to relax," pinta dokter dengan lembut. Dokter bersiap dengan sebuah gunting operasi yang sudah disterilisasi oleh perawat serta peralatan medis lainnya yang sudah disiapkan di meja operasi.


Chandra tertidur menyamping dan dia menyimpan telepon di atas bantalnya, terdengar suara berdering di telinganya. Chandra ternyata sangat bodoh ya, benar kata Ong kalau dia adalah seorang budak cinta setelah menikah. Tanpa sadar Chandra tersenyum mengingat-ingat ejekan para anggotanya ketika di Flores.


Nadia melirik handphone-nya yang berdering di atas bantal, dengan malas Nadia mengambil handphone-nya itu meskipun ia sedang malas berbincang lewat telepon. Nadia mengira jika panggilan itu berasal dari tim konser atau agensinya.


Tapi ....


Sebuah nomor asing dengan deretan kode negara yang berbeda dari biasanya membuat Nadia terkejut bukan main. Nadia langsung menghapus air matanya dan menerima panggilan tersebut.


"Halo ...."


Satu kata halo yang membuat Chandra meringis bahagia, proses penjahitan tengah berlangsung pada kepalanya. Chandra tersenyum haru, suara Nadia yang manis dan lembut terdengar agak sengau.


"Sayang ... kamu menangis?"


"Chan?" terka Nadia tepat sasaran.


Nadia melihat deretan angka penelepon itu, dan ia tersenyum bahagia, tetapi air matanya juga kembali mengalir deras.


"Kenapa baru hubungi saya sekarang ...," ujar Nadia.


"Shh ... jangan nangis, signalnya nanti terputus."


Nadia langsung menghentikan isakannya, ia tidak mau telepon ini tiba-tiba berhenti karena ia menangis. Nadia kali ini mempercayai ucapan suaminya itu.


"Kau sedang apa?" tanya Chandra lembut.


"Diam di kamar, nunggu kamu pulang."


"Mm, kita bicara biasa aja, ya."


"Emang ini nggak bisa?" tanya Nadia dengan nada menyentak, terdengar lucu sampai Chandra membayangkan seolah Nadia ada di hadapannya.


"Saya merasakan hal yang tidak biasa setiap bicara dengan kamu."


Nadia tersenyum kecut, ia sangat rindu Chandra dan gombalannya yang terdengar klasik.


"Chan, saya kangen."


"Hehe, pulang dong. Kalau kangennya seluas itu."


"Secepatnya."


"Kamu sudah makan?" tanya Chandra lagi.


"Sudah."


"Kamu?" tanya Nadia cemberut.


"Belum."


"Kenapa? Makan dulu, jangan lupa minum, nanti keselek."


Chandra tertawa kecil, membuat dokter dan suster terheran-heran dengan tentara yang satu ini. Chandra sama sekali tidak terlihat kesakitan, padahal luka yang dialaminya cukup parah sehingga kepalanya harus menerima jahitan cukup banyak, dan sekarang dia malah tertawa serta tampak bahagia di tengah-tengah operasi tanpa bius itu.


"Jangan ketawa. Saya marah sama kamu!" omel Nadia tegas. Chandra menjawabnya dengan khidmat dan penuh hormat. Jika Chandra adalah seorang komandan dengan pangkat jenderal yang tinggi untuk anak buahnya, tetapi ketika bersama Nadia dia hanya seorang pria penurut yang penuh dengan cinta.


Nadia terdiam, meskipun ia memiliki banyak hal untuk diceritakan pada suaminya, tetapi ia tidak mau merusak nostalgia rasa rindu ini dengan mengisinya oleh hal-hal yang menjengkelkan. Sebenarnya, Nadia ingin mengadu pada Chandra jika Vidi terlibat dalam kasus itu.


"Di sini saya tidak bisa menghubungi kamu dengan normal. Keadaan di sini sangat buruk dalam hal komunikasi. Bahkan beberapa situs global juga tidak dapat dipergunakan lagi selama terorisme gencar." "Nad, kamu bersabar, ya."


Nadia cemberut. "Nggak bisa video call?"


"Tidak bisa."


"Kamu rutin pakai krim yang saya kasih, 'kan?"


Chandra tersenyum. "Iya, masih. Saya pakai setiap malam dan krim sunblock saat siang hari."


"Bagus. Matahari di Arab jahat. Kamu harus pakai agak banyak."


"Hahaha ... oh iya?"


"Iya, di sana kan banyak gurun, saya tahu Suriah berkat Google dan baca banyak jurnal peneliti yang pernah tinggal di sana."

__ADS_1


Chandra terkekeh dan tentu sangat terkesan dengan pengetahuan Nadia tentang tempatnya bertugas.


"Kamu kalau tidak jadi penyanyi, bisa jadi profesor."


"Ngejek, nih?"


"Tidak. Ya, kamu bisa jadi profesor cinta."


"Ih, apaan sih, norak banget."


"Maaf."


Nadia tersipu dan tentu merasa geli dengan ucapan Chandra barusan.


"Chan, saya semalam tidur sama nenek. Nenek cerita banyak tentang masa kecil kamu."


"Oh, iya? Kenapa kamu tidak bicara dengan Joy. Kamu kan seumuran dengan Joy."


"Hm. Saya lebih senang sama nenek. Soalnya nenek tahu banyak tentang kamu. Nenek bilang kamu cucu kesayangannya."


"Kenapa begitu?" tanya Chandra.


"Bertukar cerita dengan seseorang yang menyayangi suatu hal yang sama itu lebih nyaman, dan saya bisa mengurangi rasa kangen saya ke kamu."


"Kamu tahu, nggak? Saya juga mimpi kamu semalam. Saya mimpi tidur di Flores lagi dan kamu ada di hadapan saya. Namun waktu kita pelukan, kamu menghilang. Saya bangun dari tidur dan mencoba menghubungi kamu, tetapi selalu gagal."


"Saya takut, kamu kenapa-napa di sana. Saya khawatir sekali hal buruk menimpa kamu."


"Sayang ... di sini saya baik-baik saja, saya sehat, kamu tidak perlu mengkhawatirkan saya. Kamu harus menjaga kesehatan," ucap Chandra Tenang, tanpa dia sadari dokter sudah selesai menangani pendarahan yang dialaminya.


"Iya. Kamu, masih ingat janji kamu?"


"Janji?"


Nadia menghela napasnya. "Konser itu, kamu sudah bilang akan datang."


Chandra bingung, kondisinya tidak memungkinkan untuk berada di Indonesia dalam waktu cepat, apalagi kejadian tadi pagi yang melibatkan dirinya melakukan kekerasan terhadap sesama anggota militer.


"Maaf," sesal Chandra.


Nadia mengusap air matanya, berusaha tidak mendengarkan pada Chandra suara isakannya yang tidak bisa ditahan, sehingga ia menjauhkan handphone dari bibirnya.


"Saya tidak bisa berjanji lagi. Tapi saya akan berusaha memenuhi janji sapa kepada kamu. Nadia, maaf karena selama kita menikah saya selalu membuat kamu menangis, entah itu karena menunggu atau rasa kesal kamu karena sikap saya. Mungkin saya terlalu obsesif terhadap profesi saya saat ini, sehingga kamu merasa terbebani tanpa kehadiran saya di sana. Kamu pasti kecewa karena saya terlalu mementingkan pekerjaan. Saya tidak mau kamu merasakan demikian, tetapi saya juga tidak bisa mengontrol perasaan kamu yang diluar jangkauan saya."


"Nad, saya sangat menyayangi kamu, dan sangat bahagia bisa menikah dengan kamu.


Ah, kata-kata saya terlalu norak, ya?" tambah Chandra dengan gugup.


"Nad?"


Chandra tidak mendengar lagi suara lembut istrinya, Nadia pasti marah atau mungkin mendengarkan dengan perasaan dongkol pernyataannya barusan. Padahal, Nadia tengah menangis sembari memeluk kedua lututnya ketika Chandra bicara demikian.


"Chandra, saya hanya mau kamu segera pulang. Itu saja, itu cukup buat saya saat ini. Banyak hal yang saya ingin lakukan dengan kamu. Saya tutup teleponnya...."


Panggilan tertutup begitu saja, Chandra menyerahkan ponsel itu kepada seorang perawat yang sejak tadi berada di hadapannya. Dokter juga tidak beranjak dari tempatnya sejak ia selesai melakukan penanganan lima menit yang lalu. Dokter itu tersenyum kepada Chandra seolah memahami obrolan Chandra lewat telepon barusan.


Chandra tersenyum kecil karena merasa malu dengan sikapnya, ia merasakan kantuk mulai menyerangnya dan pandangannya terasa berkunang-kunang.


"You need bed rest for some hours. I give you some medicines to control your blood metabolisme and the painkiller too."


"Thank you, Doc," balas Chandra dengan ramah.


"Hm, take care. I will informs Indonesian Commander about your conditions so you can meet your wife as soon as possible."


Chandra hanya mendengar samar ucapan terakhir dokter tersebut. Dia kehilangan kesadaran karena pengaruh obat-obatan yang diberikan dokter padanya, dan orang keras kepala seperti Chandra tidak akan beristirahat jika tidak diberi obat bius, pria itu pasti akan kembali bekerja seolah tidak terjadi apa-apa padanya.


Bersambung ....


Cie... yang udah lama nunggu ....


Maaf ya, aku lama nggak up itu karena nggak punya kuota. Sebenarnya, harusnya up besok karena jadwal beli kuotanya itu besok 😁 tapi karena tangan ini udah nggak sabar up, jadi ya, aku ngelanggar.


Oiya, terima kasih atas semua dukungan kalian!


Oiya, ini udah hampir tamat loh.

__ADS_1


__ADS_2