
"Frans, apa kau sudah mendengar jika John akan mengadakan pesta pernikahan untuk anaknya?" tanya Arland.
Charles yang sedang melahap makanannya pun tiba-tiba terhenti. Dan tatapannya beralih kepada Arland.
"Tentu saja, dia mengundang banyak orang. Itu akan menjadi pernikahan yang hebat bukan?" jawab Frans.
"Benar sekali, tapi aku pastikan pernikahan anak kita tidak akan kalah hebat dan mewah seperti yang dilakukan oleh John," kekeh Arland.
"Benar sekali, kita harus membuat acara pernikahan yang lebih mewah dan hebat." Frans tersenyum dengan sesekali menatap Charles yang juga sedang menatapnya dengan tajam.
Sedangkan Anna Douglash dan Renatta ikut tertawa mendengarkan pembicaraan kedua pria itu. Berbeda dengan Marline yang terus saja menatap putranya.
"Charles, bagaimana? Kapan kau akan menikahi Renatta?" tanya Anna.
Charles diam sesaat. "Aku belum memikirkan hal itu, untuk saat ini aku hanya fokus kepada anak perusahaanku yang sedang memiliki masalah."
"Apakah itu RoD Magazine? Kau tidak perlu memikirkan hal itu Charles. Aku bisa membantumu. Setidaknya saat ini kau mempunyai perkiraan kapan kau akan menikah dengan Renatta, agar aku bisa mempersiapkan semuanya dari jauh-jauh hari," jelas Arland.
"Benar Charles, biar aku yang megurusi anak perusahaan itu. Saat ini kau fokus saja pada pernikahanmu," pinta Frans.
Lagi-lagi Charles menatap tajam ke arah Frans, yang disadari juga oleh Marline yang dari awal tidak lepas untuk memperhatikan anaknya itu. Oleh karenanya Marline mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.
"Frans, apa kau bisa mengantarku ke kamar? Aku merasa kepalaku sangat pusing," bohong Marline.
"Kau sakit?" tanya Frans khawatir. Beranjak dari duduknya.
Charles dan keluarga Renatta pun tidak kalah khawatir melihat Marline yang seperti sedang kesakitan.
"Mommy, kita ke dokter saja. Aku akan mengantarmu!" tawar Charles seraya beranjak dari tempat duduknya menghampiri Marline.
"Tidak perlu Charles, Mommy hanya butuh istirahat," balas Marline dengan suara yang dibuat lemah.
"Tidak Mom, aku akan tetap mengantarmu ke-“ ucapan Charles terpotong karena ponselnya yang berbunyi.
__ADS_1
"Angkat telponmu Nak, siapa tahu penting." Marline menatap wajah Charles dengan lembut.
Sedangkan Charles menatap Marline dengan khawatir, tetapi sang ibu terus berkata jika dirinya baik-baik saja. Sehingga Charles pun pergi dari ruang makan tersebut untuk menjawab telponnya yang ia tahu telpon tersebut berasal dari Direktur RoD Magazine.
"Bagaimana?" tanya Charles tanpa basa-basi.
"Hallo, maaf telah mengganggu waktu Anda, Sir. Namun saya memiliki kabar buruk," ucap Tobais di seberang sana.
"Ada apa? Katakan." Charles mengerutkan keningnya penasaran.
"Mr.Ericson membatalkan pertemuannya dengan kita. Bahkan sekretarisnya mengatakan jika Mr.Ericson tidak ingin kita meliput acara pernikahannya," ungkap Tobais.
Tatapan Charles menajam dengan rahang yang sudah mengeras.
"Kenapa bisa terjadi hal yang seperti itu, hah?!” bentak Charles.
"Maaf Sir. Namun menurut sekretarisnya, sebenarnya beberapa hari yang lalu Mr. Ericson sudah beberapa kali mencoba untuk menghubungi Anda. Namun tidak ada jawaban sama sekali dari Anda. Oleh karena itu Mr.Ericson merasa jika dirinya sedang dipermainkan. Itu yang saya ketahui saat saya menanyakan alasan mengapa Mr.Ericson membatalkan pertemuan itu," jelas Tobais.
Charles mengingat kejadian beberapa hari yang lalu, di saat dia sedang sulit dihubungi karena masalah yang menimpanya. Charles sama sekali tidak mengecek ponselnya. Dia baru menyadari kebodohannya saat ini.
"Baik Sir, tapi ada satu hal lagi yang harus Anda ketahui. Mr. Ericson memilih D'Magazine untuk meliput acara pernikahannya. Dan itu sudah dipastikan."
Tangan Charles mengepal dengan penuh amarah yang ia tahan. Charles mengakhiri panggilannya dan membanting ponselnya dengan sangat keras, hingga ponsel miliknya tidak berbentuk. Dia sangat marah saat ini.
"Sialan kau, Arland!" geram Charles, seraya menjambak rambutnya.
***
Sudah 1 minggu Flora dan Charles tidak bertemu dan bertukar kabar. Sekarang Flora menyadari jika dirinya sangat membutuhkan sosok Charles dalam hidupnya. Belakangan ini Flora sangat sulit untuk makan, ia seperti tidak memiliki nafsu sama sekali.
Berbeda dengan Charles, belakangan ini dia selalu menghabiskan waktunya bersama Renatta. Bahkan Charles sempat mengajak Renatta berlibur ke Hongkong walaupun itu hanya liburan singkat. Tentu saja Flora mengetahui itu, karena Renatta sendiri yang menceritakan semuanya kepada Flora. Sungguh, hati Flora sangat terluka. Dia merasa bodoh karena hampir saja mempercayai omong kosong Charles.
"Flora, kau terlihat sangat pucat. Apa kau sedang sakit?" tanya Marchell teman kerja Flora.
__ADS_1
"Aku hanya sedikit kurang enak badan," jawab Flora lesu.
"Sebaiknya kau pulang saja Flo, biar aku saja yang mengurusi semuanya. Kau beristirahatlah."
"Tidak perlu, aku tidak apa-apa," tolak Flora.
"Kau ini selalu saja keras kepala. Sudah tahu kondisimu sedang tidak baik, tapi kau masih saja memaksakan untuk bekerja," oceh Marchell.
Flora hanya tersenyum sebelum memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya pada dinding.
Waktu menunjukkan pukul 10 malam, saat ini Flora sedang berada di pinggir jalan untuk menunggu taxi. Kilatan petir terus saja menggema, menandakan akan turunnya hujan. Seperti dugaannya, tidak lama kemudian hujan deras membasahi jalanan malam kota New York.
Flora berlari untuk mencari tempat untuknya berteduh, baju yang ia pakaipun sudah basah kuyup. Hingga beberapa meter dari tempatnya menunggu taxi tadi, ia menemukan sebuah ruko dan ia memutuskan untuk berteduh di sana.
Kepala Flora terasa sangat pening, hingga ia memilih untuk berjongkok di depan ruko itu. Karena di sana tidak ditemukan kursi atau pun tempat duduk lainnya. Flora menyandarkan tubuhnya pada dinding, ia mendongakkan kepalanya dan memejamkan matanya. Rasanya ia sedang menaiki wahana roller coaster saking pusingnya. Bahkan ia merasa jika dirinya tidak menapak ke tanah. Flora terus memejamkan matanya sebelum ada suara yang membuatnya sadar.
"Bangun!"
Perlahan Flora membuka matanya, ia mendapati sosok pria yang sedang berdiri menatapnya. Namun wajah pria itu terlihat sangat buram, oleh karena itu Flora memilih untuk memejamkan matanya kembali.
"Bangun, Flora! Sedang apa kau di sini?!" kata pria itu dengan nada yang tinggi, karena suaranya tertelan oleh suara hujan yang sangat deras.
Lagi-lagi Flora membuka matanya dan mendongakkan kepala hingga ia dengan sangat jelas bisa melihat pria yang ada di hadapannya itu.
"C-charles," lirih Flora.
Flora mencoba untuk berdiri dengan perlahan, karena kepalanya masih terasa sangat pusing. Dengan bersandar pada dinding, Flora menatap pria dengan wajah yang mirip seperti Charles.
Flora mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah pria itu, untuk memastikan apakah dia benar-benar Charles atau bukan. Namun, di saat tangannya hampir saja akan menyentuh wajah pria itu, penglihatan Flora semakin buram dan lama-lama menjadi gelap hingga ia tidak sadarkan diri.
"Flora!" teriak Charles yang secara spontan memeluk tubuh ramping Flora yang akan terjatuh.
"Flora! Bangun! Aku mohon bangunlah!" Charles menepuk-nepuk pipi Flora. Charles sangat panik melihat Flora tidak sadarkan diri seperti ini.
__ADS_1
Sebenarnya 1 minggu ini Charles selalu mengawasi Flora dari kejauhan, untuk memastikan jika gadisnya tidak apa-apa. Charles menyuruh beberapa anak buahnya untuk terus mengikuti Flora ke mana pun dia pergi, tetapi kebetulan malam ini Charles ingin secara langsung melihat gadisnya itu, karena ia mendapati kabar dari anak buahnya jika kondisi Flora sedang tidak terlalu baik. Dari awal Flora keluar dari restaurant, Charles sudah mengikutinya.
Charles segera menggendong Flora dan membawanya masuk ke dalam mobil miliknya. Charles memutuskan untuk membawa Flora ke penthousenya, dan dia akan menghubungi dokter kenalannya untuk memeriksa Flora.