Suamiku Jenderal

Suamiku Jenderal
Season 2 Affair Episode 40


__ADS_3

Walaupun saat ini Charles sedang memiliki masalah, tetapi ia tetap bersikap profesional dalam bekerja. Hanya, emosinya saja yang mudah terpancing jika terdapat sedikit saja kesalahan yang dilakukan oleh karyawannya, maka dia akan marah besar yang tidak bisa ia kontrol.


Saat ini, Charles sedang berada di ruang meeting dengan orang-orang RoD Magazine. Untuk membahas masalah perusahaannya, yang semakin hari semakin berada di ujung tombak. Oleh karena itu ia tidak bisa egois, dan membiarkan begitu saja masalah yang dialami anak perusahaannya itu.


"Jika kalian tidak bisa atau tidak sanggup untuk membangun kembali RoD, maka dengan terpaksa saya akan menutup perusahaan RoD Magazine di New York!" ucap Charles dingin.


Semua orang yang berada di ruang tersebut pun tidak bisa menutupi rasa keterkejutannya.


"Dan kalian akan saya pecah untuk menempati posisi lain di anak perusahaan lain. Mungkin itu akan sulit bagi kalian, karena harus menyesuaikan diri kembali. Tapi, itulah resiko yang harus kalian tanggung!" lanjutnya.


"Maaf, Sir. Tapi saya mohon, beri kami waktu untuk menyelesaikan masalah ini," mohon Tobais selaku Direktur RoD Magazine.


Charles mengetuk-ngetukan jarinya di meja. Dan menatap wajah pria paruh baya itu, yang membuat orang yang ditatapnya merasa takut.


"Maksudmu sampai uang perusahaan habis? Apa kau tidak sadar, berapa banyak kerugian yang ditimbulkan oleh RoD?" tanya Charles dingin.


Pria paruh baya itu terdiam, karena ia memang sadar dengan kerugian besar perusahaan akibat RoD Magazine.


Semua orang yang berada di ruangan itupun bergumam untuk berdiskusi mencari solusi untuk perbaikan perusahaannya itu. Karena Charles meminta mereka untuk segera menyelesaikan masalahnya. Ia tidak mau menunda-nundanya lagi.


"Sir, saya baru tahu jika Anda suka membaca novel," bisik Cathrina yang duduk di samping Charles. Sebenarnya ia hanya mencoba untuk mencairkan suasana agar tidak terlalu tegang. Karena ia tahu, jika belakangan ini, atasannya itu memang sedang dalam kondisi mood yang buruk.


Charles menatap buku yang ada di hadapannya. Itu adalah buku novel milik Flora. Dia memang sengaja membawa novel tersebut dari apartemen Flora, tetapi dia tidak membacanya. Dia hanya ingin membawanya ke mana pun dia pergi. Karena, novel tersebut adalah novel favorite Flora. Dia ingin gadis itu memarahinya, karena novel kesayangannya hilang. Dia merindukan Flora yang sedang memarahinya.


"Ini bukan milikku," sahut Charles singkat.


Cathrina hanya menganggukkan kepalanya, mengerti.


Tiba-tiba, Charles teringat akan sesuatu. "Apa kalian tahu Anthonio? Sang penulis novel yang sangat terkenal itu?"


Semua orang di ruangan itu mengalihkan perhatiannya kepada Charles, lalu mereka menganggukkan kepalanya.


"Bagus. Dengan itu, kalian cari informasi tentangnya. Dia adalah satu-satunya topik yang akan mengangkat citra perusahaan ini, dan akan menyelamatkan perusahaan dari ambang kebangkrutan. Kirim email kepadanya, dan yakini dia agar bisa menerima ajakan kita untuk bertemu. Jika hal itu berhasil, maka kedepannya itu akan menjadi urusan saya. Kalian hanya perlu mendengarkan apa yang saya suruh. Apa kalian sanggup?"


Mereka terlihat ragu, karena mereka sangat mengetahui jika sangat sulit untuk menemukan Anthonio. Namun, mereka tidak bisa melakukan apa-apa lagi, karena lebih sulit bagi mereka untuk menolak permintaan atasannya itu.


"Walaupun itu mustahil, tapi kita akan berusaha, Sir. Kami sanggup!" ucap Tobais, yang diangguki pula oleh orang-orang lainnya.


Charles menganggukkan kepalanya. "Ini yang terakhir kalinya, Saya akan memberikan bantuan kepada kalian. Jika kalian membutuhkan sesuatu, hubungi saja Cathrina. Dan saya harap, kalian serius menjalankan semua ini. karena nanti saya yang akan turun langsung, kalian hanya perlu mencari terlebih dahulu informasi tentangnya."


***


Charles tidak habis pikir dengan Renatta, gadis itu masih saja keras kepala untuk menemuinya. Seperti saat ini, wanita itu beserta kedua orang tuanya datang ke mansion Frans. Untuk merayakan hari lahir Charles, ini semua atas dukungan dari Frans juga.


Charles terpaksa harus datang ke mansion ini atas permintaan dari ayah dan ibunya. Marline terpaksa memaksa Charles untuk datang, karena Frans yang memintanya.

__ADS_1


"Charles, umurmu sudah menginjak kepala tiga. Apa lagi yang sedang kau tunggu? Kau sudah mapan juga, jadi kapan kau akan mengadakan pesta pernikahan itu?" tanya Arland.


Charles mengernyit. Setelah itu ia melirik Renatta, yang sedang menatapnya dengan seringaian di wajahnya. Ternyata Renatta belum menceritakan semuanya kepada kedua orang tuanya itu.


"Secepatnya, bersabarlah sebentar. Karena aku pasti akan mengadakan pesta pernikahaan itu!" jawab Charles.


Marline yang mendengar hal itupun segara menatap anaknya. Charles hanya tersenyum manis kepada sang ibu.


"Baiklah, aku sangat senang mendengar hal itu. Jika kau membutuhkan sesuatu, jangan sungkan untuk menghubungiku," tawar Arland yang diangguki oleh Charles.


"Ya sudah, kita beri mereka waktu untuk berdua. Kita mengobrol di taman belakang saja!" ajak Frans yang disetujui oleh Arland, Anna, dan Marline. Mereka pun beranjak dari duduknya. Meninggalkan Charles dan Renatta di ruang tamu.


Renatta beranjak dari tempat duduknya, ia memilih duduk di pangkuan Charles. Berhadapan dengan pria itu.


"Turun!" geram Charles.


Bukannya menurut, Renatta mengalungkan tangannya di leher Charles.


"Kamu tidak bisa pergi dariku Charles. Aku akan melakukan apa pun untuk mendapatkanmu. Karena kamu hanyalah milikku!" bisik Renatta tepat di depan wajah Charles.


Charles hanya tersenyum miring, mendengar yang diucapkan oleh wanita itu. Rendah sekali harga dirimu, Re!


"Aku yang akan lebih memuaskanmu Charles, tidak ada yang bisa kamu andalkan dari gadis kaku seperti Flora!" ucap Renatta, yang tiba-tiba menggenggam inti tubuh Charles, yang membuat pria itu mengumpat.


"*****!" umpat Charles. Terkejut.


Namun, Charles tidak tergoda, dia hanya merasa kasihan pada wanita ini. Yang harus berperilaku sej**ang ini untuk mendapatkan apa yang dia mau.


Charles segera berdiri dari duduknya. Sehingga membuat Renatta terkejut dan semakin mengeratkan pelukannya pada leher Charles, wanita itu pun melingkarkan kakinya di pinggang Charles.


"Aku kasihan padamu Re, kau terlihat sangat menyedihkan dan hina saat ini!" ucap Charles. Sebelum dengan secara kasar ia melepaskan pelukan Renatta dari lehernya dan menjatuhkan wanita itu di sofa.


Saat Charles membalikkan tubuhnya, untuk meninggalkan wanita itu, Renatta berteriak kepadanya.


"Aku harap, Flora tidak akan pernah kembali. Walaupun dia kembali, aku akan membuat dia menderita!"


"Jika kau berani menyentuh gadisku, sedikitpun. Kau lihat saja Re, apa yang akan aku lakukan terhadapmu, dan keluargamu!" ancam Charles, tanpa membalikkan tubuhnya. Setelah itu ia pergi menjauh dari wanita itu.


"KAU MEMANG BERENGSEK, CHARLES!" teriak Renatta mengeluarkan air matanya.


***


Flora sedang duduk termenung di atas tempat tidur. Dengan tangan yang masih terikat pada kepala ranjang, hanya kakinya saja yang sudah terbebas dari ikatan itu.


Tidak pernah terpikir olehnya, jika dirinya akan diculik seperti ini. Banyak hal yang ia pikirkan saat ini, bagaimana pernikahannya? Bagaimana keadaan orang tuanya? Dan bagaimana keadaan Charles? Apakah pria itu merindukannya juga? Ada sedikit rasa takut yang menghampirinya, ia takut Charles benar-benar akan menikah dengan Renatta. Flora tidak mau jika hal itu terjadi.

__ADS_1


Lamunannya buyar ketika terdengar suara pintu kamar yang terbuka. Di sana terdapat Rogan yang baru saja memasuki kamar.


"Hay, Good morning Sayang! Kamu sedang apa?" sapa Rogan yang sudah duduk di tepi ranjang.


Rogan membelai pipi mulus Flora, ia menyingkirkan rambut yang menghalangi wajah cantik gadis itu. Flora menggeleng-gelengkan kepalanya, untuk menghindari sentuhan pria itu.


Rogan mengikis jarak dengan Flora, wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. "K-kamu mau apa, hah? Menjauh dariku!" teriak Flora. Dengan tubuh yang bergetar.


la takut kepada Rogan, karena pria itu selalu menyentuhnya, dan Flora tidak bisa menghindarinya.


"Jangan takut Sayang, kamu akan menjadi Istriku. Jadi biarkan aku menyentuhmu!" ucap Rogan, memeluk tubuh Flora. Dan membenamkan wajahnya pada ceruk leher gadis itu.


"Aku mohon, lepaskan aku! Aku ingin pulang!"


"Kamu ingin pulang?" tanya Rogan. Yang diangguki oleh Flora dengan semangat.


"Baik, aku akan melepaskanmu. Tapi kamu harus berjanji padaku, jika setelah itu kamu akan menikah denganku! Kita pulang ke Indonesia. Bagaimana?" tawar Rogan menangkup wajah mungil Flora.


Flora menggelengkan kepalanya, ia tidak sudi menikah dengan Rogan.


"Kamu tidak mau menikah denganku?" geram Rogan menatap Flora.


Namun, Flora tidak menjawab pertanyaan Rogan. "Baiklah, satu-satunya cara agar kamu mau menikah denganku-" ucapan Rogan tergantung.


la beranjak dari tempat tidur. Dan segera membuka kancing baju yang menutupi tubuhnya.


Flora membulatkan matanya dengan perasaan yang sangat takut. Ia menggelengkan kepalanya berkali-kali.


"A-apa yang akan kamu lakuk-arghhhh!" jerit Flora. Karena Rogan secara kasar menarik kedua kaki Flora hingga gadis itu kini dalam posisi terlentang. Rogan segera menindih tubuh mungil gadis itu.


"Akan kujadikan kamu menjadi milikku seutuhnya, Flo. Karena sudah aku pastikan, calon suamimu itu tidak akan sudi menikah dengan gadis yang sudah dicicipi oleh pria lain!" Rogan menyeringai.


Flora memberontak dengan cara menggerakan kakinya, tetapi hal itu tidak membuat Rogan berhenti.


"Kamu tenang saja Flo, walaupun calon suamimu meninggalkanmu. Ada aku yang siap untuk menerimamu!" bisik Rogan tepat di telinga Flora. Hal itu membuat Flora semakin takut. Namun, bukan takut dengan apa yang akan pria itu lakukan, melainkan ia takut jika kenyataannya Charles akan meninggalkannya. Dia tidak mau!


"Aku mohon lepaskan aku! Aku mohon...“ isak Flora. Namun, Rogan menulikan pendengarannya.


Sesaat Rogan menghentikan aktifitasnya. Ia mengambil sesuatu yang ada di dalam saku celananya. Obat? Benar, Rogan mengeluarkan satu buah obat dari benda kecil.


"Buka mulutmu!" pinta Rogan. Namun, Flora semakin merapatkan bibirnya, ia takut. Sangat takut.


Karena sudah tidak sabar, Rogan mencengkram kedua pipi Flora memaksa agar gadis itu membuka mulutnya. Flora terus saja menggelengkan kepalanya dengan bibir yang masih mengatup.


Rogan menggeram kesal. Dan saat itulah obat tersebut masuk kedalam mulut Flora. Beberapa detik kemudian, Rogan segera mencumbu gadis itu.

__ADS_1


Flora menangis, dia kotor! Tubuhnya penuh dengan kecupan pria itu, tangan Rogan bergerilya pada tubuh Flora. Ia bisa merasakan betapa mulusnya kulit gadis itu.


__ADS_2