
"Flora, kau kenapa?" tanya Anin.
"Ah-ini kakiku tiba-tiba kram." Flora berkata dengan wajah tegang menahan erangan.
"Coba rileks jangan tegang, nanti semakin sakit jika kau tegang!" perintah Anin yang diangguki oleh Flora.
Sedangkan Charles hanya tersenyum geli melihat tingkah Flora, dia semakin bersemangat menggoda gadis itu. Di saat tangan Charles berada di pangkal paha Flora, wanita itu segera menahan tangan Charles dengan kuat.
"Aku ke toilet dulu ya," ucap Flora berdiri yang diangguki oleh kedua temannya.
Wanita itu pun bergegas pergi menuju toilet sebenarnya itu hanyalah alasan untuk pergi dari Charles.
Sesampainya di toilet Flora menatap dirinya di depan cermin wastafel.
"Dasar berengsek! Hampir saja dia membuatku lepas kendali." Flora merutuki sikap Charles kepadanya.
Flora mencuci tangannya dan setelah itu ia bersandar pada tembok, dia tidak ingin kembali ke mejanya. Karena dipastikan Charles akan melakukan hal gila lagi, tetapi tidak mungkin jika ia tetap tinggal di toilet.
Secara terpaksa ia memutuskan untuk kembali ke mejanya, dia sudah berpikir jika Charles berbuat yang aneh-aneh kepadanya lagi, ia akan berpamit untuk pulang meninggalkan mereka semua.
Baru saja melangkahkan kaki keluar dari toilet, tiba-tiba tangannya ditarik sangat kencang oleh seseorang yang membawanya ke suatu ruangan dengan pencahayaan yang redup. Gudang. Ya mereka berdua sedang berada di gudang saat ini.
"Charles! Lepas!" teriak Flora ketika Charles menghimpitnya ke tembok, setelah pria itu mengunci pintu gudang tersebut.
"Ssssst ... diamlah! Apa kau ingin mereka mengetahui kita?" Charles mengendus leher jenjang Flora sedangkan kedua tangannya merengkuh pinggang wanita itu.
"Ouh Char, kumohon lepaskan aku!“ erang Flora menahan gairahnya ketika Charles mengecup dan menggigit kecil lehernya.
Charles tidak mempedulikan perkataan Flora, Charles sedikit menarik kaus pada bagian pundak Flora, ia memberikan kecupan-kecupan kecil di pundak wanita itu sebelum ia menggigit dan menghisapnya secara kuat sehingga membuat Flora menggigit bibir bawahnya karena ia tidak mau orang lain mengetahui perbuatannya. Charles membuat tanda kepemilikannya pada tubuh Flora.
"Charles—" ucapan Flora terpotong ketika mulutnya dibekap oleh bibir seksi Charles.
Charles menciumnya dengan lembut, walaupun Flora terus menerus memukul punggung Charles, tetapi pria itu tidak goyah. Tangan kiri Charles menekan tengkuk Flora untuk memperdalam ciumannya sedangkan tangan kanannya ia lingkarkan kepada pinggang Flora secara erat.
Lidah Charles berusaha ingin membuka mulut Flora karena wanita itu menutup erat bibirnya, maka oleh karena itu Charles menggigit kencang bibir bawah Flora sehingga secara spontan Flora membuka mulutnya.
Charles pun tidak membuang waktu, lidahnya menerobos masuk ke dalam mulut Flora. Lidah Charles mencari pasangannya dan memainkan lidahnya dengan lidah Flora.
Flora tidak kuasa ia sudah lelah untuk melawan Charles, Flora akui jika pria itu sangat handal dalam berciuman. Karena ini bukan yang pertama bagi Flora, jadi ia bisa menyimpulkan jika ciuman Charles lah yang sangat hebat dibanding dengan ciuman-ciuman pria sebelumnya yang pernah dilakukan bersamanya.
Secara tidak sadar Flora pun mengikuti ciuman Charles, wanita itu meremas kuat jas Charles ketika pria itu semakin menuntut dalam ciumannya. Sehingga Flora pun membalas ciuman pria itu dan membuat Charles tersenyum di sela aktivitasnya.
Charles pun melepaskan ciumannya ketika ia merasa bahwa Flora sudah kehabisan pasokan oksigen, terbukti Flora terengah-engah dan sesekali menghirup napas begitu dalam untuk mendapatkan oksigen yang banyak.
__ADS_1
Charles tiba-tiba memeluk tubuh Flora dengan erat dan membisikkan sesuatu. "Tidak akan aku membiarkanmu pergi dariku, kau milikku Flora." Charles mengecup dan menjilat telinga Flora yang membuat gadis itu bergidik.
"Lepaskan aku," lirih Flora.
"Tidak!" seru Charles yang semakin mengeratkan pelukannya.
Drrill, drrit.
"Charles aku harus mengangkat telponku, lepaskan pelukanmu!"
Charles hanya melonggarkan pelukannya tanpa melepaskan wanita itu, Flora berdecak kesal. Raline pun mengeluarkan ponselnya dari saku celana jeansnya, ia segera menjawab telepon tersebut dalam posisi masih di pelukan Charles.
"Hallo Jo, ada apa?"
Charles seketika menjauhkan wajahnya dari bahu Flora untuk menatap wajah wanita itu.
"Oya?" Terlihat Flora tersenyum bahagia yang membuat Charles geram.
Siapa orang yang bisa membuat Flora tersenyum manis seperti itu?
Charles benci, dia benci ketika ada orang lain yang bisa membuat Flora tersenyum manis seperti itu.
"Aku sedang berada di Fluffy's Cafe, aku tunggu ya!"
"Siapa?" tanya Charles sinis.
"Tidak ada urusannya denganmu!"
Flora mendorong tubuh Charles dan berbalik ke arah pintu untuk membuka kunci pintu tersebut. Namun, Charles menahannya. “Siapa dia, Flora?" tanya Sam sekali lagi dengan penuh tekanan.
"Dia Jonathan. Puas?" Flora menghempas tangan Charles secara kasar dan membuka kunci gudang, lalu pergi meninggalkan Charles yang masih diam menahan amarahnya.
Flora berjalan dengan cepat menghampiri mejanya.
"Flo, kenapa kau lama sekali?" tanya Renatta. "Tadi aku tiba-tiba sakit perut," bohongnya.
"OMG Flo, kenapa dengan bibirmu?" tanya Anin histeris.
"Memangnya kenapa?" tanya Flora menggigit pelan bibir bawahnya karena ia merasa perih di bagian dalam bibir bawahnya. Ini semua gara-gara Charles berengsek yang sudah membuat bibirnya terluka.
"Bibirmu sedikit bengkak Flo, apa bibirmu terpentok sesuatu?" sahut Renatta.
Flora gelagapan.
__ADS_1
"I-iya tadi aku terpentok pintu toilet, sialnya langsung seperti ini," ucap Flora berbohong kembali.
Kedua temannya hanya meringis mendengar perkataan Flora sebelum perhatian mereka teralih kepada Charles yang baru saja datang. Pria itu menatap tajam Flora, tetapi Flora mengabaikan tatapan Charles dan memfokuskan matanya kepada layar ponsel miliknya.
Karena Flora merasa suasana sekitarnya serasa mencekam, maka ia lebih memilih untuk segera pergi dari sana. Masa bodo dengan kedua temannya.
"Aku pergi dulu ya?" ucap Flora yang membuat semua orang mengalihkan tatapannya kepada wanita itu.
"Mau kemana?" tanya Anin.
"Jonathan sudah menjemputku, aku akan pergi dengannya."
"Jonathan?!" teriak kedua temannya, berbeda dengan Charles yang sedang menahan amarahnya karena miliknya akan pergi dengan pria lain.
Flora hanya menganggukkan kepala dan bangkit dari duduknya, lalu ia berpamitan kepada kedua temannya sebelum pergi meninggalkan mereka. Flora sengaja tidak berpamitan dengan Charles, karena dia sedang kesal dengan pria itu.
***
"Aku tidak menyangka jika kau mau menerima ajakanku, Flo," kata Jonathan senang tanpa mengalihkan fokusnya terhadap jalan
"Aku hanya sedang memiliki waktu luang Jo, oleh karena itu aku menerima ajakanmu. Apalagi saat kutahu kau akan mentraktirku,“ ucap Flora sambil terkekeh. Jonathan tertawa mendengar perkataan Flora.
Walaupun sebenarnya Flora hanya ingin menghindari Charles, oleh karena itu ia menerima ajakan Jonathan untuk pergi bersamanya.
Jonathan Alexander adalah pria yang telah lama mengagumi Flora, sehingga membuat sebagian orang kampus pun mengetahui tentang perasaan Jonathan terhadap Flora.
***
Flora dan Jonathan sudah sampai di bioskop, mereka sedang menunggu untuk masuk ke dalam studio. Flora merasa risih dengan ponselnya yang terus bergetar. Charles terus-menerus meneleponnya, tetapi Flora mengabaikan panggilan dari pria itu. Dengan terpaksa Flora mematikan ponselnya agar Charles tidak terus menerus meneleponnya.
"Ayo Flo, kita masuk." Jonathan menarik tangan Flora untuk berdiri dan membawanya masuk ke dalam studio.
Mereka berdua melangkahkan kakinya pada jejeran kursi paling atas. Memang kebetulan, isi studio ini sangat penuh.
Jonathan memberanikan diri untuk menggenggam tangan kanan Flora ketika mereka sudah duduk di kursinya, hal itu sontak membuat Flora kaget. "Jo." Flora menatap Jonathan dengan bingung.
"Aku hanya ingin menggenggam tanganmu."
Flora pun diam, tetapi tidak lama kemudian ia melepaskan tangannya secara paksa dari genggaman Jonathan.
Sedangkan Jonathan hanya menatap datar wajah Flora, ia tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan wanita itu.
Bersambung ....
__ADS_1
Makin jengkellah kalian terhadap sikap Flora ....