Suamiku Jenderal

Suamiku Jenderal
BAB 57


__ADS_3

Chandra menidurkan kepalanya di atas pangkuan Nadia.


Sementara istrinya itu masih menonton tayangan drama Korea lewat handphone-nya, karena aliran listrik yang mati setiap malam pada akhirnya Nadia meminta Chandra untuk menemaninya sampai rasa kantuk datang. Chandra juga ikut menonton drama Korea itu dan sesekali pria itu bertanya pada Nadia tentang alur cerita. Nadia adalah pendongeng yang baik, ekspresinya dan caranya menirukan setiap tokoh dalam drama membuat Chandra merasa terhibur menjelang tidur. Betul kata nenek, memiliki istri seperti Nadia dapat meluluhkan rasa lelahnya meskipun tidak beristirahat.


"Yah, udah mau episode akhir. Nontonnya lanjut besok, deh," gumam Nadia sambil mematikan ponselnya. Chandra masih menempatkan kepalanya di pangkuan Nadia.


"Kalau begitu, saya matikan lampu daruratnya ya," ujar Chandra dengan nada lembut.


Nadia mengangguk dan tersenyum kecil, sudah jam sepuluh malam pastinya Chandra sangat lelah karena belum tidur sejak kemarin. Tangan Chandra beralih pada lampu neon darurat di atas meja, karena tangannya panjang ia tidak perlu susah payah untuk beranjak bangun. Lalu pria itu memejamkan matanya dengan tersenyum.


"Hei, saya juga mau tidur. Kamu serius mau tidur begini, huh?" ucap Nadia sembari menangkup wajah suaminya. Chandra terkikik diperlakukan begitu. Daripada sepasang suami istri, mereka terlihat seperti pasangan yang dimabuk asmara. Sikap kaku Chandra perlahan menghilang, dan pria itu kini lebih santai dan tentunya memperlakukan Nadia jauh lebih baik dari sebelumnya, dan Nadia semakin menunjukkan diri yang sebenarnya pada Chandra.


"Nad ... tangan kamu ...." Chandra meraih tangan kanan Nadia yang membiru di bagian pergelangan. Nadia tersenyum lembut saat suaminya itu langsung bangun dan duduk di sampingnya.


"Saya baru lihat. Sakit?" tanya Chandra khawatir.


Nadia menggeleng. "Enggak, kok. Ini karena kulit sensitif. Malam itu ... Kamu pegangnya terlalu kuat, jadi kayak ada bekas memar gitu. Tapi nggak sakit sama sekali kok," jelas Nadia tak enak.


Ya, luka memar di pergelangan tangan kanan Nadia itu karena kejadian malam di mana dirinya dan Chandra kehilangan kontrol di atas tempat tidur. Chandra pasti memiliki tenaga yang sangat kuat sampai ia tidak sadar sudah mencengkeram tangan Nadia dengan cukup keras.


Chandra menggigit bibir bawahnya, dia juga memperhatikan lengan Nadia yang memiliki bekas lebam yang serupa. Nadia langsung menepis tangan suaminya itu dan tersenyum dengan hangat ke arah Chandra. Wajah Chandra diliputi rasa bersalah saat ini, terlihat dari raut wajahnya yang berubah menjadi semakin kaku dan sikapnya yang biasa.

__ADS_1


"Enggak apa-apa, kok. Kulit sensitif. Besok juga hilang, saya sudah sering lebam kayak gini. Dulu waktu ikut cheerleaders di sekolah juga begini. Ini tuh, nggak sakit sama sekali." Beritahu Nadia lagi.


Chandra menghela napasnya dan menjatuhkan elusan lembut di lengan Nadia yang ia pegang hati-hati.


"Saya kan sudah bilang kalau kita harus ke dokter," ucap Chandra dengan nada pelan, membuat Nadia merasa lucu dengan ekspresi wajah yang ditunjukkan suaminya.


"Apa sih, kamu. Udah deh, saya bahagia malam itu ...." Nadia menyandarkan kepalanya di dada bidang Chandra dan mengelus lembut otot menyembul yang tampak kokoh di tubuh suaminya.


"Syukurlah," balas Chandra lembut.


"Tapi ... benar tidak ada yang sakit?" tanya Chandra memastikan.


'Roger, roger, roger. Sersan satu Danil, kepada komandan. Terjadi kebakaran di puskesmas daerah!'


Walkie talkie yang tersimpan di atas meja menandakan sebuah informasi darurat. Nadia dan Chandra yang baru saja hendak tidur mengurungkan niat mereka saat info penting itu memberitahukan keadaan bencana yang terjadi.


Chandra langsung bangkit dari tidurnya dan mengambil walkie talkie tersebut. "Komandan kepada sersan satu. Saya akan segera ke sana ... upayakan keselamatan!"


Bip


Nadia tidak bisa bergerak dari tempatnya, gadis itu merasakan tubuhnya gemetar dan seluruh tulang di tubuhnya terasa lemas dan tidak bisa menopangnya untuk bangun. Sementara itu Chandra bersiap dengan mengenakan pakaian dinasnya buru-buru.

__ADS_1


"Nad, saya pergi dulu ke lokasi kebakaran ... kamu tunggu di sini."


"Enggak!" balas Nadia setengah teriak. Chandra yang sudah mengenakan pakaian dinasnya pun mengambil jaket hijau army miliknya lalu menyampirkannya di bahu Nadia.


Nadia justru menangis dengan wajah memerah, sesaat setelah ia mendengar informasi kebakaran di puskesmas.


"Kamu tunggu di sini ... saya tidak akan pergi lama-lama, ya?" tekan Chandra sembari mencengkeram erat bahu Nadia yang sudah dibalut jaket yang cukup tebal tersebut.


Nadia menggelengkan kepalanya dan air mata bercucuran begitu saja, membuat Chandra untuk pertama kalinya merasa sangat berarti bagi seseorang.


"Saya mau ikut! Saya mau memastikan kalau kamu tidak sembarangan di sana!" balas Nadia tak mau kalah. Dengan berani, Nadia pun ikut berdiri seperti Chandra dan mengambil ponselnya serta tas kecil yang berisi sejumlah uang.


"Sersan satu kepada komandan. Api semakin besar. Komandan ... masih ada beberapa orang yang terperangkap di dalam bangunan!"


Bip


Chandra mencengkeram tangannya dan langsung berjalan cepat ke arah mobil yang terparkir di halaman. Nadia pun tetap pada pendiriannya untuk ikut bersama Chandra. Pria itu pun pada akhirnya dan memutuskan untuk meraih tangan Nadia serta menuntunnya. Chandra merasakan tubuh Nadia sangat gemetar ketakutan, Chandra menenangkan istrinya itu dengan terus menggenggam tangannya dan tersenyum ke arah Nadia. Perasaan Nadia sedikit membaik, tetapi kondisi tubuhnya memang tidak bisa ditebak, ia merasakan lututnya masih begitu lemas saat mengetahui bahwa ada beberapa orang yang terperangkap di dalam bangunan.


"Nellie ...," gumam Nadia dengan takut, air mata kembali turun membasahi wajahnya yang kini memucat.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2