Suamiku Jenderal

Suamiku Jenderal
Season 2 Affair : Episode 32


__ADS_3

Saat ini Flora berada di dalam taxi. Air matanya terus mengalir, membasahi wajahnya. Flora menatap ke arah jendela, ia melihat rintikan air hujan yang jatuh membasahi jalanan malam kota New York. Sesekali ia menghela napasnya, ia tidak sabar ingin bertemu dengan seseorang.


Flora melihat ponsel yang sedari tadi ia genggam. Waktu menunjukkan pukul 10 malam, tetapi hal itu tidak dihiraukan oleh Flora. Dia tidak bisa menunda lagi. Dia tidak mau.


Taxi pun berhenti di halaman sebuah apartemen termewah di New York. Flora segera keluar dari taxi tersebut setelah membayarnya. Ia menatap sejenak apartemen itu, lalu ia berlari masuk ke dalam apartemen.


Terdapat beberapa pasang mata yang melihatnya bingung dan takjub, karena saat ini Flora hanya menggunakan pakaian kaus longgar dan celana hotpants yang sebenarnya tertutup oleh kaus miliknya. Flora mencepol rambutnya, hingga terpampang dengan jelas leher jenjang miliknya yang putih dan mulus itu.


la segera menaiki lift untuk membawanya ke lantai paling atas. Selama di dalam lift Flora merasa gelisah, ia tidak henti-hentinya mengetukkan kakinya ke lantai.


Tringg!


Lift terbuka tepat di lantai 30. Ia langsung disambut oleh beberapa pria yang memakai setelan jas hitam, yang sedang menatapnya terkejut.


"Nona, ada apa Nona datang ke sini malam-malam?" tanya salah satu pria yang menghampirinya.


"A-aku ingin bertemu de-ngan Charles. Apa dia ada di dalam?" tanya Flora dengan gugup.


Ken tersenyum menatap Flora.


"Silakan masuk Nona, Tuan Muda sedang berada di kamarnya. Sejak tadi sore dia tidak keluar sama sekali dari kamarnya," jawab Ken. Ia mempersilahkan Flora untuk memasuki penthouse Charles.


Dengan ragu-ragu Flora melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam penthouse yang sudah lama tidak ia kunjungi itu. Tempat yang dulu ia benci.


"Nyonya Marline pun ada di dalam," kata Ken. Yang membuat langkah kaki Flora terhenti.


Ken yang menyadari itu, menengok ke arah Flora yang sedang terdiam mematung.


"Nyonya sudah tidur. Ayo!" ungkap Ken. Karena dia tahu apa yang sedang dipikirkan oleh gadis di sampingnya.


Flora pun melangkahkan kakinya memasuki penthouse mewah itu.


Ken mengantar Flora hanya sampai ruang tamu.


Rasa gugup yang dia rasakan saat ini, apa yang akan ia lakukan ketika bertemu dengan Charles. Flora mengembuskan napasnya secara kasar, dan berjalan ke arah kamar Charles.


Tepat di depan pintu kamar, ia mengetuk terlebih dahulu. Namun tidak ada tanggapan. Maka terpaksa Flora harus membuka pintu tersebut.


Kosong. Itu yang dilihat oleh Flora saat ini. Di kamar itu tidak ada siapa-siapa. Namun mata Flora terkunci pada pintu balkon yang terbuka. Ia melangkahkan kakinya ke arah balkon. Secara perlahan ia dapat melihat punggung seseorang yang sedang berdiri di balkon, Flora yakin jika itu adalah Charles.


Ketika Flora berniat membuka mulutnya untuk menyapa Charles, ia terkejut melihat Charles yang sedang meneguk minuman yang ada di tangannya. Charles sedang meneguk minuman beralkohol, langsung dari botolnya.


Untuk pertama kali ia melihat Charles seperti itu, karena selama ia kenal dengan Charles, Flora tidak pernah melihat Charles meminum minuman beralkohol, kecuali ia pernah melihat di story sosial media milik Renatta waktu itu. Mengingat hal itu, membuat Flora merasa sakit hati. Ia mencoba untuk menjauhkan pikiran tersebut dari otaknya.


Flora menghela napas terlebih dahulu, sebelum ia mengikis jaraknya dengan Charles. Air matanya tiba-tiba turun kembali. Mengingat perkataan kedua orang tuanya tadi.


"Charles, cukup!" teriak Flora. Menahan tangan Charles yang sedang memegang botol minuman yang berniat akan diteguk kembali oleh Charles.


Terlihat tubuh Charles menegang, sebelum pria itu membalikkan tubuhnya untuk berhadapan dengan Flora.

__ADS_1


Lagi-lagi Flora terkejut, ia melihat pria di hadapannya sangat berantakan. Rambut yang berantakan, mata yang memerah dan sembab, kemeja bajunya yang berantakan dengan 2 kancing atasnya yang terbuka. Flora membungkam mulutnya dengan kedua tangannya. Ia menangis kembali di hadapan Charles.


"Kenapa bayanganmu selalu hadir?" lirih Charles. Menatap sendu Flora.


"Enyahlah!" bentak Charles melempar botol minumannya ke lantai, hingga botol minuman itu pecah. Dan hal itu membuat Flora terkejut dan sedikit meringis, karena pecahan kaca botol tersebut mengenai kaki mulusnya. Hingga membuat kaki kiri Flora terluka dan mengeluarkan darah. Karena Charles membanting botol tersebut, tepat di samping Flora.


"Flora."


"ARGHHH... Flora!" teriak Charles membalikkan tubuhnya, memunggungi Flora. Charles menjambak rambutnya frustrasi.


Hati Flora seakan teriris oleh benda tajam. Rasanya sangat sakit melihat Charles seperti ini, ternyata ia belum mengenali Charles sepenuhnya. Dibalik sifat egois dan keras kepalanya, Charles ternyata bisa hancur juga seperti ini. Bahkan, saat ini Flora sangat terkejut karena mendengar isakan Charles. Charles menangis.


Dengan sekuat tenaga Flora menarik lengan Charles, hingga membuat pria itu berhadapan dengannya. Lalu Flora melingkarkan tangannya ke leher Charles sebelum dia menjatuhkan bibirnya pada bibir seksi milik Charles.


Flora mencium Charles untuk pertama kalinya. Bahkan ini pertama kalinya ia mencium pria terlebih dahulu. Flora mencium Charles dengan sangat dalam dan lembut, hal itu membuat Charles diam membisu.


Setelah itu, Flora mencium pipi Charles, lalu naik ke kedua kelopak mata Charles yang membuat pria itu menutup matanya, lalu terakhir ia mencium rahang Charles yang menegang.


Flora menempelkan keningnya dengan kening Charles. Tangannya membelai lembut rahang Charles yang tertutupi oleh jambang tipis.


"Maafkan aku," lirih Flora menahan isakannya. Hal itu membuat Charles sepenuhnya sadar jika sosok di hadapannya itu benar-benar gadis yang dicintainya.


Charles mendorong bahu Flora agar menjauh darinya. Ia menatap Flora dengan penuh tanda tanya.


"Ini benar kamu?" tanya Charles tidak percaya.


Flora tersenyum sebelum menganggukkan kepalanya. Charles membuka mulutnya karena terkejut. "Apa ini mimpi?"


"Apa kamu masih bilang ini mimpi?" tanya Flora kesal.


Charles benar-benar terkejut dengan kehadiran Flora yang secara tiba-tiba. Namun, dia tidak bisa menyembunyikan gairahnya, setelah apa yang dilakukan gadisnya itu.


Charles segera menarik tengkuk Flora dan mencium gadis itu secara kasar, hal itu membuat Flora tersontak kaget. Namun, ia berusaha untuk menyeimbangi Charles dengan cara membalas ciumannya.


Charles merengkuh tubuh Flora dengan sangat erat, seakan-akan ia takut jika Flora akan pergi meninggalkannya.


Charles semakin menekan tengkuk Flora untuk memperdalam ciumannya. Mereka saling membelitkan lidah dan saling bertukar saliva. Rasanya seperti terdapat banyak kupu-kupu dalam dirinya.


Flora mengeratkan pelukannya pada leher Charles. Lalu secara tidak sadar ia menjatuhkan air matanya lagi yang menggenang di ujung pelupuk matanya. Ini bukan air mata kesedihan, tetapi air mata kebahagiaan.


Charles menurunkan ciumannya ke leher Flora yang terekspos sempurna, ia menghujani leher itu dengan ciuman panasnya. Flora menjambak rambut Charles.


Charles memberikan banyak tanda pada leher gadis itu. "Aku tidak suka leher indahmu, kamu pertontonkan kepada orang lain. Karena ini hanyalah milikku," bisik Charles tepat dikulit leher Flora. Yang membuat tubuh Flora meremang. Menahan erangannya.


***


"Apakah Mama dan Papa tahu, jika C-charles ...." Flora menggigit bibir bawahnya.


"Jika apa?" tanya Chandra tidak sabaran.

__ADS_1


"C-charles... Charles sudah bertunangan dengan wanita lain?"


Hening.


Ya, hanya keheningan yang menyelimuti kamar tersebut. Flora merasa gelisah saat ini. Apa yang akan terjadi setelahnya? kenapa ia begitu sangat cemas.


Terdengar suara helaan napas dari Chandra yang semakin membuat Flora resah. Ia sangat mengetahui sifat sang papa yang sangat keras. Namun, dibalik sifatnya yang seperti itu, dia memiliki hati yang lembut.


"Pria berengsek itu," ucap Chandra rendah.


Flora menutup matanya. Dia tidak sanggup melihat Chandra murka.


"Dia terlalu keras kepala pada keinginannya untuk menikah denganmu, Flo!" kata Chandra yang membuat Flora membuka matanya. Dan menoleh kepada sang papa.


"Papa memang menginginkanmu untuk segera menikah. Bukan karena apa-apa. Tapi ini demi kamu sendiri, kamu adalah Putri Papa satu-satunya. Papa tidak mau sesuatu hal yang buruk terjadi padamu. Oleh karena itu, papa selalu memperingatkanmu untuk selalu jaga diri. Ini alasan papa kenapa melarangmu untuk kuliah di luar negeri, hingga papa harus mengancammu dengan berkata jika papa tidak akan pernah membiayai kuliahmu. Itu semua karena papa ingin kamu menyerah dengan keinginanmu untuk berkuliah di sini. Tapi karena adanya beasiswa itu, kamu semakin keras kepala untuk kuliah di sini. Papa khawatir dengan pergaulanmu. Tidak ada yang mengawasimu, papa tidak mau putri papa dirusak oleh orang lain. Kamu adalah harta paling berharga bagi papa, papa akan merasa menjadi orang tua terburuk jika sesuatu terjadi padamu." Chandra menghela napasnya.


"Oleh karena itu papa menginginkanmu untuk segera menikah. Tapi bukan berarti kamu harus menikah dengan seseorang yang terikat dengan orang lain," lanjutnya.


Mata Flora berkaca-kaca mendengar perkataan tulus dari papanya. Ia tahu jika papanya sangat menyayanginya. Oleh karena itu Chandra selalu bersikap tegas kepada Flora, itu semua dia lakukan hanya untuk melindungi Flora.


"Papa," lirih Flora.


Nadia membelai kepala Flora dengan sangat lembut.


"Awalnya papamu sangat murka ketika mengetahui Charles masih terikat dengan orang lain, tapi pria itu berani melamarmu. Hingga papamu sempat membuat Charles harus dirawat di rumah sakit. Karena papamu memukul pria itu dengan membabi buta. Tapi Charles tidak sedikit pun menyerah, dia terus berusaha untuk meyakinkan papamu dan mama untuk percaya kepadanya, jika dia benar-benar mencintaimu," sahut Nadia.


Flora membulatkan kedua bola matanya. "C-charles masuk rumah sakit? Ja-jadi Papa dan Mama sudah mengetahui semuanya?" tanya Flora terbata.


Nadia mengangguk. Dan hal itu membuat hati Flora semakin terasa sakit.


"Papa tidak menyangka jika Charles akan berani menunjukkan wajahnya kembali di hadapan papa. Papa akui pria itu benar-benar berani dan sangat kuat. Dia tidak menyerah untuk mencuri hati papa agar bisa menerimanya. Bahkan dia menceritakan semuanya, tentang pertunangannya yang terpaksa itu. Papa sempat memberinya pilihan, jika dia menginginkanmu maka dia harus melepaskan tunangannya itu. Tapi Charles berkata dia tidak bisa, karena dia mengingat perkataanmu untuk tidak memutuskan hubungan pertunangannya dengan temanmu itu, dia harus meminta izin terlebih dahulu kepadamu untuk masalah itu," jelas Chandra.


"Charles mengatakan jika dirinya benar-benar serius padamu, Flo. Bahkan jauh dari sebelum dia mengenal Renatta dia sudah terlebih dahulu mengenalmu dan menyukaimu," sambungnya.


Flora mengernyit "Maksud Papa apa?"


"Apa kamu masih ingat, 16 tahun yang lalu saat kita sedang berkunjung ke Bali. Tepatnya di hotel, saat itu ada seorang anak lelaki kira-kira berusia 13 tahun yang sangat tampan. Dan kamu yang waktu itu berumur 6 tahun, selalu membuntuti lelaki itu, ke manapun, kamu mengatakan jika kamu ingin menjadi kekasih anak lelaki itu. Apa kamu ingat?" tanya Chandra.


Flora terdiam, memutar kembali memory yang sudah lama. Namun akhirnya dia bisa mengingat selintas kejadian waktu itu.


"Maksud Papa, laki-laki bule itu?" tanya Flora.


Chandra mengangguk. "Dia adalah Charles. Charles pun baru mengetahui itu ketika dia tahu kakekmu adalah pemilik hotel itu. Dia menanyakan nama hotel itu, ternyata dulu dia pernah menginap di sana selama 1 minggu di saat dirinya baru pertama kali datang ke Indonesia. Charles mengingat jika dulu dirinya pernah bertemu dengan gadis kecil cucu dari pemilik hotel. Lalu dia bertanya apakah gadis kecil itu adalah kamu, dan saat itu lah papa menyadari jika Charles adalah orang yang selalu kamu kejar-kejar dulu."


Deg.


Flora benar-benar tersentak. Dia tidak menyangka jika anak lelaki yang dulu dia sukai itu adalah Charles. Ya, dia mengingat semuanya. Karena ayah dan ibunya selalu bercerita tentang hal itu kepadanya. Jadi mustahil jika Flora lupa. Bahkan ia pernah berpikir betapa memalukannya dia waktu itu. Ini benar-benar takdir yang sudah ditulis oleh Tuhan untuknya.


Secara tidak sadar Flora mengeluarkan air matanya. Dia benar-benar tidak menyangka dengan jalan hidupnya yang selalu berhubungan dengan Charles. Pria menyebalkan itu. Tapi Flora benar-benar sangat mencintainya.

__ADS_1


Bersambung ....


Ep ini agak panjang, sekitar ada 1846 kata. Nanti kalau aku nggak sibuk, aku up lagi.


__ADS_2