Suamiku Jenderal

Suamiku Jenderal
Jalan-jalan Part 1


__ADS_3

Cuaca dingin menyelimuti zona aman wilayah perbatasan, dengan akses minim untuk mengambil peralatan tidur seperti selimut dan penghangat tubuh membuat banyak orang melindungi diri dekat dengan perapian yang dibuat di sudut-sudut pos oleh para tentara relawan.


Chandra menghela napasnya saat udara dingin semakin membuat tubuh jangkungnya menggigil. Kawan-kawannya yang lain sibuk bergerak untuk membuat tubuh tetap dalam suhu normal. Risiko pneumonia memang cukup tinggi disuhu minus 5 derajat celsius, meskipun wilayah peperangan ini gersang saat siang hari namun amat berbanding terbalik jika malam menjelang, dan malam itu menjadi malam yang paling ekstrem yang akan dilewati oleh para pejuang keselamatan.


Nellie terbatuk-batuk saat dirinya baru saja memberikan suntikan obat-obatan pada pasiennya, sementara gadis itu sendiri susah payah bertahan dari hawa dingin. Tubuh mungilnya hanya terlindungi oleh sebuah jas dokter dan pakaian tebal yang melapisi tubuh bagian dalamnya. Chandra yang melihat itu segera menghampiri Nellie dan melepas jaket kulit yang dikenakannya.


"Pakai ini," ujar Chandra sambil menyerahkan jaketnya pada Nellie yang kini duduk di dekat perapian.


Nellie tersenyum kecil. "Tidak perlu, kamu 'kan penjaga keamanan untuk kami. Kesehatan kamu paling utama. Saya baik-baik saja kok," tolak Nellie halus.


Chandra tetap memaksa dan memasangkan jaket besarnya pada tubuh mungil Nellie sambil tersenyum hangat. Pria itu sangat mengagumi Nellie sejak mereka pertama kali bertemu, Nellie adalah seorang dokter yang layak untuk memiliki nama lain sebagai malaikat di tempat itu. Selain cantik, gadis itu juga dikaruniai keberanian yang luar biasa hebatnya.


Nellie tersenyum saat sepasang tangan panjang Chandra memeluk tubuhnya dari belakang, gadis itu terkekeh pelan, hawa dingin perlahan memudar karena pelukan itu.


"Meskipun saya menjamin keselamatan. Saya bukan apa-apa tanpa dokter seperti kamu. Kamu adalah tonggak utama bagi kami yang ada di tempat ini. Kamu harus tetap sehat." beritahu Chandra dengan lembut.


Gadis dalam pelukannya itu tanpa malu bersandar pada dada bidang Chandra dan berniat untuk menikmati sisa dingin malam di sana.


"Dari mana kamu mendapatkan cincin yang cantik ini. Sangat pas di tangan saya." beritahu Nellie saat tangan kirinya yang sudah mengenakan cincin pemberian dari Chandra.


Chandra tersenyum. "Hmm, itu cincin yang saya beli dari seorang penjual perhiasan yang kami selamatkan saat serangan rudal. Emas murni asli Mesir, begitu katanya. Ternyata sangat cocok di jari kamu."


Nellie semakin merasa bahagia, berada dalam pelukan Chandra dan mengenakan cincin penuh kisah itu ditangannya.


"Sudah lama kita tidak seperti ini. Saya sangat senang, malam ini kita semua terbebas dari serangan darat maupun udara. Meskipun dingin," ujar Chandra seraya mengecup puncak kepala Nellie dalam-dalam. Nellie membalas kecupan pria itu dengan memeluk sebelah lengan Chandra yang melingkari tubuhnya.


"Saat saya kembali ke Indonesia. Saya akan mengatakan pada keluarga saya, kalau saya sudah menemukan orang yang tepat sebagai pendamping hidup. Mereka terus berusaha menjodohkan saya dengan banyak perempuan."

__ADS_1


***


Semalam itu apa sih? Ungkapan cinta kah yang diucapkan Chandra saat menjelang tidur?


Atau hanya sebuah izin untuk membuat Nadia tidak bisa konsentrasi seperti sekarang ini? Entahlah, Nadia tidak tenang sejak semalam. Si Jenderal itu ternyata jago mempermainkan perasaan Nadia dengan sangat mudah. Nadia sampai dibuat tersipu, dan untungnya Chandra tidak melihat semerah apa wajahnya semalam karena minimnya penerangan. Nadia akan menghubungi Joy dan memastikan kalau suaminya itu benar-benar tidak pernah memiliki pengalaman berpacaran sama sekali ataupun sebaliknya. Apa Chandra punya banyak mantan karena pesonanya yang tersembunyi dibalik sikap kaku dan datarnya?


Saat Nadia melamun sambil mengetik sesuatu di handphone-nya, tiba-tiba Ong muncul dan duduk di sampingnya.


"Pagi!" sapa Ong sambil hormat, tapi tak lama lelaki itu terkikik.


Nadia menyapa Ong dengan halo yang lembut. Ah, ada Ong di sini, apa Nadia tanya saja dengan Ong, ya? Chandra juga bilang kalau Ong itu orang yang paling lama ia kenal. Ong pasti tahu kisah hidup Chandra selama di militer.


"Lagi ngapain, Bu?" tanya Ong santai, karena Ong adalah tipikal orang yang senang mengobrol dan mudah berbaur dengan orang baru maka Nadia pun tidak berpikir dua kali untuk berbincang dengan Ong.


"Ah, enggak lagi ngapa-ngapain, sih. Hehe. Kalau libur gini, kalian ngapain, sih?" tanya Nadia mulai awal percakapan mereka.


"Kalau libur. Hmm, biasanya kita tidur seharian, kadang kita juga keliling daerah atau main ke laut. Tapi kalau Jenderal sih baca buku atau ngadain les bahasa Indonesia buat anakanak pedesaan," jelas Ong pada Nadia dengan tingkahnya yang membuat Nadia dengan santai bisa mengobrol.


"Ah, pantesan. Dia segitu rajinnya ya, Ong?"


Ong mengangguk gereget. "Siapa ... jenderal? Iyalah, rajin banget. Saking rajinnya sampai ngebatin aku tuh nggak enak."


Nadia terkikik mendengar jawaban Ong tentang Chandra, apalagi ekspresi Ong yang sangat meyakinkan dan lucu.


"Ih, kok bisa sama sih, Ong. Saya juga sama, suka nggak enak sama Chandra karena dia terlalu rajin. Dia tuh kayak nggak bisa nikmatin hidup gitu loh. Masa hari libur masih kerja bakti. Bangun tidur juga tetap jam 3 pagi," jelas Nadia mengungkapkan keluh kesahnya, kini giliran Ong yang tertawa kecil. Ternyata bukan hanya Ong saja yang tidak enak dengan sikap Chandra. Mungkin 1 RT pernah merasakan hal yang sama.


"Ya, makanya Ibu ajarin dong gimana caranya menikmati hidup ala selebriti. Saya dari dulu pengeng banget jenderal menikah, biar dia punya kesibukan pribadi sendiri loh. Jangan mikirin orang terus."

__ADS_1


Nadia manggut-manggut.


"Terus, jenderalnya sekarang ke mana?" tanya Ong sambil mencari-cari sosok Chandra yang masih tidak ia lihat sejak tiba di sana.


Nadia mengedikkan bahunya sembari menghela napas. "Nggak tahu, tadi sih bilangnya mau ke kantor, katanya apel pagi sendiri ke sana. Pakai motor, tapi belum balik sampai sekarang."


"Uh, sabar ya, Bu. Pokoknya saya doain deh yang terbaik buat kalian. Oiya, saya kemari sebenarnya mau minta makanan buat sarapan, hehe."


Nadia tertawa kecil. "Ahahaha. Ada kok, kamu ambil saja di meja dapur. Saya sudah masak tadi pagi, sengaja buat banyak untuk kalian." "Yes! Terbaik memang! Makasih, ya."


Tin tin.


Nadia mengalihkan tatapannya ke halaman rumah di mana sebuah mobil jeep berwarna hitam terparkir di sana. Nadia bangkit dari duduknya dan memicingkan kedua matanya untuk mencari tahu siapa orang yang mengemudikan mobil jeep gagah tersebut.


"Pagi." ternyata Chandra keluar dari dalam mobil, tersenyum ceria sambil melambaikan tangannya ke arah Nadia.


Nadia terpukau dengan senyum ceria suaminya pagi itu. Berbeda dengan hati-hati biasanya, senyuman Chandra kali ini terlihat lepas dan bahagia. Pria itu juga mengenakan pakaian santai berupa celana tentara pendek sebatas lutut dan kaos hitam polos seperti biasanya. Nadia langsung menghampiri suaminya dengan berlari kecil.


"Wow, mobil siapa ini?!" jerit Nadia berlebihan sambil menyentuh kap mobil hitam tersebut.


Chandra terkekeh. "Ini mobil, saya. Namun selama ini disimpan di kantor. Karena di sini tak ada parkiran. Kamu, mau jalan-jalan?"


Nadia melongo bengong, masih tidak percaya ucapan suaminya barusan.


"Serius?!"


"Iya. Kamu mau tahu tentang Flores, 'kan?"

__ADS_1


Nadia segera menyadarkan dirinya dan mengangguk semangat. "Iya! Sebentar. Aku ganti baju dulu!" Nadia langsung lari ke rumah untuk mengganti pakaiannya, sementara itu Chandra menunggu di dekat mobil.


***


__ADS_2