
"Jenderal nunggu kamu di kantin, Nad. Oh iya, kamu bisa sendiri kan ke kantinnya? Saya harus pergi lagi ke desa buat ngurus data barang-barang yang rusak." Beritahu Johnny pada Nadia.
"Hmm ... terus, nanti saya pulang gimana?"
Johnny tersenyum kecil. "Gampang ... emang, kamu nggak mau mesra-mesraan dulu sama jenderal? Hehe ... oh iya, kalau mau ke kantin tinggal lurus aja terus belok kanan."
"Ya sudah deh, John. Saya nanti hubungi kamu, ya!" seru Nadia.
Nadia kemudian mengikuti arahan Johnny untuk menuju kantin, dengan langkah setengah berlari Nadia akhirnya tiba di wilayah yang cukup ramai di rumah sakit tersebut. Tidak sulit bagi Nadia untuk menemukan suaminya. Chandra duduk di antara kursi-kursi yang ada di sana, tangan panjang pria itu juga terangkat dan wajahnya menampilkan senyum cerah nan lebar. Nadia berhambur ke arah Chandra dan langsung duduk di kursi yang berhadapan dengan Chandra, posisi mereka terhalang oleh sebuah meja panjang.
Chandra memangku dagu dengan kedua tangannya, seperti anak kecil yang lama menunggu teman bermainnya saat ini. Sementara itu Nadia menatap nanar ke arah suaminya yang terlihat agak pucat. "Kamu pucet...." "Kamu pucat...."
Ujar mereka nyaris bersamaan, Nadia memaksakan senyumnya. Chandra meraih tangannya di atas meja, lalu menggenggamnya erat.
"Jadi ... bagaimana rasanya mendapatkan tugas pertama sebagai istri seorang perwira?" tanya Chandra santai. Nadia mendesah pelan mendengar pertanyaan seperti itu keluar dari mulut suaminya.
"Apa sih, saya hampir jantungan! Khawatir sama kamu!" omel Nadia sembari menepis tangan Chandra, bibirnya mengerucut dan tentu saja mengundang Chandra untuk mencubit pipi Nadia.
"Pokoknya jangan ada lagi kejadian kayak gini! Kalau ada lagi, saya mau ajak kabur kamu ke Bandung!" tekan Nadia lagi dengan nada memaksa.
"Kamu sudah makan, Nad?" tanya Chandra mengalihkan perhatian, pria itu terlihat membuka bekal makanan yang dibawa Nadia yang sejak tadi dibiarkan saja di hadapan mereka.
__ADS_1
Nadia mengerucutkan bibirnya sambil menggeleng. "Gimana bisa makan. Saya saja nggak tahu kalau kamu tidur atau enggak semalam," keluh Nadia dengan kedua matanya yang mulai tergenang air mata. Chandra mencelos, Nadia ternyata sangat rapuh dan mudah menangis. Chandra diam dan menatap Nadia tanpa berkedip, seperti biasa bahwa tatapan pria itu sangat teduh, bisa menyejukkan hati yang sedang panas dan gelisah seperti Nadia saat ini. Akan tetapi, Chandra juga sedang kacau, rasa bersalah itu masih menghantuinya yang kini harus dihadapkan pada Nadia yang amat mendominasi setiap detik dalam hidupnya.
"Kamu kenapa menyiksa diri sendiri. Saya kan sudah biasa seperti ini, saya sudah cerita sama kamu sebelumnya soal kejadian yang tidak terduga seperti semalam," ujar Chandra.
"Hiks ... tapi kan beda! Saya itu ... Saya itu ...." Nadia tidak sanggup melanjutkan kalimatnya yang terbata-bata. Melihat tangisan Nadia yang semakin parah disertai tangan yang gemetar, Chandra pun cukup kaget dan segera berpindah tempat duduk ke sisi Nadia.
Chandra merangkul bahu Nadia dengan erat.
"Maaf, Nad," bisik Chandra dengan nada lembut.
Nadia menghapus air matanya buru-buru. "Kamu pasti menganggap saya lebay."
Chandra tersenyum ketika wajah memerah Nadia mendongak ke arahnya, di saat menangis begini pun Nadia masih cantik.
Nadia mendengkus, ada tawa kecil di antara isakannya dan Chandra malah mengulum senyum manis dengan raut wajah bingung.
"Sudahlah, nanti saya jelasin kalau kamu udah di rumah," jawab Nadia sambil mengelus pipi Chandra dengan lembut.
"Hmm ... sekarang, kita sarapan dulu ya. Sepertinya, kamu membawa banyak makanan."
Chandra kembali membuka wadah makanan, dibantu oleh Nadia yang menyiapkan sendok dan juga garpu yang akan mereka pakai. Nadia menyendok bubur dan menyuapkannya pada Chandra, pria itu menerimanya dengan semangat dan menikmati masakan Nadia dengan raut wajah yang terlihat puas.
__ADS_1
"Enak?" tanya Nadia.
"Sangat! Kamu masak pukul berapa?"
"Hmm, pukul lima pagi, dibantu sama bu bidan," jawab Nadia sembari ikut menikmati makanan bersama Chandra.
"Oh, jadi kamu masak semua ini dari pukul lima pagi? Ck, kamu tidak tidur ya?"
Nadia terdiam, ia menggigit bibir bawahnya. "Iya. Semalam itu, pertama kalinya lagi saya insomnia. Kepala saya pusing banget, saya sebenarnya ada perasaan nggak enak juga waktu kamu temani Nellie ke rumah sakit. Firasat saya jelek terus." Nadia tersenyum pada
Chandra, "tapi sekarang sudah enggak lagi. Perasaan saya sudah tenang dan baikan. Mungkin, itu hanya sugesti karena saya baru melihat bencana di tempat ini," tambah Nadia dengan polos.
Nadia benar-benar polos, dan entah mengapa, Chandra sangat tega untuk membuat Nadia justru berteman dengan mantan kekasihnya.
"Saya, takut kamu kenapa-napa. Chandra, setelah kehilangan mama ... saya tidak mau kehilangan kamu juga," ujar Nadia dengan nada lembut, gadis itu meraih wajah Chandra dan menangkupnya dengan erat. Untuk beberapa detik, Chandra tenggelam pada dua manik mata Nadia yang hitam pekat, seakan dia kembali tersesat pada pesona istrinya itu yang semakin lama semakin menakjubkan. Nadia kadang terlihat lemah dengan sikapnya, tetapi suatu waktu Nadia akan terlihat sangat kuat dengan kelemah lembutannya.
Chandra menempelkan keningnya pada kening Nadia dan tersenyum menenangkan. "Mana mungkin kamu kehilangan saya. Karena kamu mungil, saya akan membawa kamu ke mana-mana, saya masukkan kamu ke tas ransel hehe ...," kekeh Chandra dengan sedikit candaan tua.
Nadia justru tertawa dengan candaan yang kadar lucunya itu amat sangat minim.
"Justru, saya yang takut kehilangan kamu," tambah Chandra lagi dengan serius. Nadia menghela napasnya, hubungan mereka sudah berada pada taraf sama-sama tidak mau kehilangan. Nadia sangat lega mendengarnya, itu artinya Chandra tidak akan membuat dirinya dalam bahaya lagi atau menerima tugas berisiko.
__ADS_1
Bersambung ....