Suamiku Jenderal

Suamiku Jenderal
BAB 46


__ADS_3

Bukan pintu tertutup yang menyambut Chandra pada kedatangannya sore itu, melainkan pintu rumah yang sedikit terbuka tanpa pengaman sama sekali. Chandra juga menemukan kondisi rumah yang sangat rapi dan sepi. Pria itu melangkah semakin dalam memasuki ruang demi ruang rumah tersebut. "Nadia," panggil Chandra dengan lembut. Chandra juga langsung mengeluarkan handphone untuk mendial nomor Nadia, tidak ada suara deringan. Chandra berusaha untuk tetap tenang.


Pria itu kemudian mendapati Nadia di atas tempat tidur, dalam kondisi mata terpejam dan selimut menutupi hampir sekujur tubuhnya.


"Ya ampun, Nadia," gumam Chandra dengan lemah. Dia langsung menaruh tasnya di


lantai.


Kemudian, memeriksa kondisi Nadia dengan tangannya yang ditempelkan ke dahi gadis itu.


Suhu tubuh Nadia sangat panas, napasnya juga terasa demikian. Chandra langsung mengganti pakaiannya dengan celana training dan kaos hitam andalannya. Dia juga mematikan AC, membuka semua jendela kamar sehingga udara dari luar bisa masuk.


Nadia demam, dan beruntung Chandra sudah tiba meski di waktu yang cukup terlambat.


Nadia perlahan membuka kedua matanya, dan tersenyum saat melihat Chandra berada di hadapannya dengan tampang khawatir. "Mimpi ya," gumam Nadia tak jelas, lalu kedua matanya kembali tertutup.


Chandra menghela napasnya, rasa rindunya menjadi luntur karena panik lebih mendominasi. "Nad, saya baru saja sampai. Kenapa kamu tidak mengatakan pada saya, kalau kamu demam begini?" ucap Chandra dengan lembut campur khawatir. Pria itu juga mengusap-usap puncak kepala Nadia seperti menyalurkan keamanan yang mungkin saja dapat sedikit memulihkan kondisi istrinya.


Chandra beralih ke dapur, mengisi sebuah wadah stainlees dengan air kran. Kemudian, mencari handuk atau sapu tangan di dalam lemari untuk mengompres tubuh Nadia dengan sedikit ilmu pengetahuannya. Pria itu berhasil menemukan dua benda tersebut, dan duduk di samping Nadia, memeras handuk hingga sedikit basah. Kemudian, menempelkannya di kening Nadia dengan hati-hati.


Bak anak kecil, Chandra duduk di lantai dengan kaki panjangnya yang ditekuk, dagunya tersangga di atas lutut. Jika diperhatikan kembali, Chandra tidak terlihat seperti orang jenderal yang garang dan disiplin, dia tampak seperti laki-laki rumahan. Dia menatap terus wajah istrinya yang justru sangat cantik. Meski sakit, ternyata Nadia masih saja mengenakan make up. Tuntutan pekerjaan membuat Nadia seperti ini. Chandra menertawakan betapa lucunya Nadia sekarang. Kembali terbayang bagaimana sikap polos Nadia saat di Flores, jauh berbeda dengan saat ini.


"Cepat sembuh," ujar Chandra sembari mengganti kain kompres Nadia. Pria itu merapikan rambut di seputar wajah Nadia.


Demamnya masih belum turun, Chandra pun menyingkirkan selimut tebal yang membungkus tubuh istrinya. Pria itu juga mengganti pakaian Nadia dengan kain yang jauh lebih ringan dibandingkan jeans yang dikenakannya.


Nadia juga masih tidak membuka matanya, mungkin penyebab demam ini adalah kelelahan yang selama seminggu ini terus menyerang Nadia. Nadia sering mengatakan pada Chandra kalau jadwal pekerjaannya sangat padat. Selain berlatih di studio untuk rekaman lagu baru, Nadia juga disibukkan dengan jadwal tampil di beberapa acara televisi.


"Dengan tubuh sekecil ini, kamu harus ke sana kemari sendirian," keluh Chandra. Dia sebenarnya tidak begitu suka dengan profesi Nadia, tapi meskipun begitu Chandra akan selalu mendukung apa pun yang Nadia ingin lakukan.


"Kenapa nggak diangkat, sih!! Telepon gue?!" Ucapan Liza yang semula bentakan kini berubah menjadi sangat pelan saat gadis itu menyaksikan seorang pria tinggi membukakan pintu dari dalam.


Chandra mengerutkan dahinya dengan tampang mengeras ketika Liza yang ia kenal sebagai manajer Nadia ada di sana, datang tanpa memberi salam yang benar dan justru membentak marah.


"K-kapan ke sini?" tanya Liza tanpa basa-basi. Dia melupakan kejadian di awal dan justru bertanya seperti sudah akrab dengan Chandra.


"Nadia ke mana? Mana Nadianya?" Selidik Liza sembari berjinjit untuk melihat ke bagian dalam rumah seperti mencari-cari Nadia yang mungkin saja disekap oleh Chandra.

__ADS_1


Chandra mendengkus, teman-teman Nadia ini memang tidak sopan, ya? Atau hanya beberapa saja.


"Saya sudah tiba di sini satu jam yang lalu. Nadia sedang demam, suhu tubuhnya 39 derajat celsius ketika baru saja sampai."


"Hah? Nadia sakit? Terus, kenapa kamu tidak menghubungi saya?" ujar Liza terkejut.


"Jadwal Nadia itu padat. Gimana sih, kok bisa sakit?! Ckck," tambah Liza tanpa simpati sedikit pun.


Chandra menahan emosinya sebentar. Kemudian, mencoba untuk menghadapi Liza dengan caranya sendiri.


"Seharusnya, saya yang bertanya demikian. Sebagai manajernya, apa yang kamu sudah lakukan terhadap istri saya, sampai dia sakit demam seperti itu? Setiap malam, Nadia sering mengatakan pada saya kalau dia kelelahan karena jadwal padat yang kamu berikan tidak sesuai dengan perjanjian di awal kepulangan dia ke Jakarta."


Liza terdiam, mencoba mengelak pertanyaan Chandra tapi sepertinya tidak bisa. Gadis itu sudah terpojok. Memang salah Liza sih, terlalu serakah dengan memforsir kegiatan Nadia di mana-mana.


"Justru, Nadia harus makasih sama saya. Karena saya sediakan dia banyak job, dia bisa balikin popularitasnya yang sudah hampir mati setelah tiga bulan menikah dengan seorang lakilaki non seleb seperti kamu? Apa kamu tahu, berapa kerugian agensi saya karena Nadia mendadak menikah?! Banyak sponsor dan partnership agensi kami yang mundur akibat keputusan gegabah itu. Lamaran keluarga kamu ke Nadia itu sudah hampir bikin Nadia bankrupt ...." Liza mendecih. Dia menarik napas dalam-dalam sebelum kembali menyerang Chandra secara mental.


Chandra menelan ludahnya susah payah. Meskipun penghasilannya tidak sebesar penghasilan seorang artis, tapi dia yakin masih bisa menghidupi Nadia tanpa popularitas.


"Nadia adalah ikon wanita masa kini yang punya banyak fans, tua muda, laki-laki perempuan, semuanya mengidolakan Nadia. Namun, publik mendadak kecewa karena dia menghilang bak ditelan bumi setelah dia memilih menikah seorang abdi negara!"


"Semua orang merindukan Nadia! Jadi, saya harap kamu nggak perlu mengatur Nadia lebih jauh lagi!"


"Kamu terus menyerang saya secara personal. Itu hanya menunjukkan betapa serakahnya kamu terhadap Nadia. Saya rasa, yang barusan kamu katakan bukan intervensi fans Nadia terhadap Nadia sendiri, melainkan sebuah opini keserakahan kamu yang membuatnya terdengar seperti dorongan fans yang merindukan Nadia. Saya sangat bangga dengan Nadia, bahkan saya pun merasa tidak pantas ketika Nadia menerima pinangan saya beberapa bulan yang lalu."


"Asal kamu tahu Liza. 30 menit lalu, saya sudah menghubungi stage direktur untuk acara award yang akan dihadiri oleh Nadia. Nadia dijadwalkan untuk melakukan rahersal hari ini pukul empat sore, dan direktur mengatakan, kalau Nadia bisa beristirahat tanpa perlu rahersal. Beliau percaya kalau Nadia, seorang profesional, bahkan dia juga meminta maaf kepada saya karena merasa tidak enak sudah memberikan jadwal rahersal penuh sebelum hari


H."


Liza terdiam, napasnya memburu dan tampangnya masih tidak mau kalah. Liza masih berada di ambang pintu dan Chandra seperti menghalanginya untuk masuk ke dalam.


Chandra tersenyum, dia berhasil meredam amarahnya hari ini. "Maaf, saya tidak terpikirkan untuk menghubungi kamu. Karena saya pikir kamu adalah orang yang cukup dekat dengan Nadia dan paling memahami Nadia selama ini. Maaf Liza, hari ini saya tidak bisa mengizinkan siapa pun menemui Nadia. Dia sangat butuh istirahat total. Saya janji, akan membuat Nadia sembuh dan mendatangi semua acara yang kamu jadwalkan."


•••


Nadia merasakan kesejukan ketika gadis itu membuka kedua matanya setelah beberapa waktu terpejam. Tangannya juga agak kesemutan ketika ia berusaha untuk menggerakkan jemarinya.


Nadia meringis dengan napas masih agak berat, tapi sekarang sudah lebih baik setelah

__ADS_1


tertidur.


"Hah?! Jam berapa ini!" Nadia mendengkus ketika melihat pemandangan di luar jendela kamarnya adalah langit gelap. Langit yang benar-benar gelap dan tidak ada satu titik semburat matahari sedikit pun.


Nadia menjambak rambutnya. "Ah, bego! Ketidurannya lama banget!" keluh Nadia dengan sesal di wajahnya. Nadia mencari handphone-nya di atas tempat tidur, tapi tidak ada apa pun di sana selain wadah air yang sudah hampir habis.


Ah, dan Nadia juga merasakan dahinya ditempeli sapu tangan yang setengah kering. Seseorang datang dan mengompresnya? Tunggu-tunggu! Nadia sudah pikun, ya? Siapa yang ke sini? Nadia juga menatap pakaiannya yang sudah berganti dengan dress tipis untuk tidur.


"S-siapa yang gantiin?!" ucap Nadia takut, tapi sedetik kemudian gadis itu menghela napas tenang. "Apa Liza ya, ke sini?" tebak Nadia yang tentunya salah besar.


Kemudian Nadia mendiamkan dirinya lebih dulu dan berusaha berpikir positif bahwa Liza adalah orang yang ada di balik semua ini. Nadia kemudian duduk dan menyandarkan punggungnya pada kepala ranjang. Tubuhnya tidak selemas tadi, tapi masih belum bisa dikatakan pulih.


Tiba-tiba saja, Nadia mencoba aroma harum makanan menusuk hidungnya, aromanya sangat familier dan terasa lezat meskipun belum Nadia lihat dengan kedua matanya yang agak sembab.


Chandra muncul dengan celemek membalut tubuhnya. Di tangannya ada nampan berisi dua mangkuk dan dua gelas dengan warna berbeda. Chandra tersenyum ketika melihat Nadia sudah bangun tepat di waktu makan malam.


"Sudah bangun, ya?"


Nadia bengong, dia terus mengikuti gerak gerik Chandra tanpa bisa menjawab pertanyaan suaminya itu. Chandra terkekeh kecil, dia duduk di hadapan Nadia setelah menaruh nampan di atas meja.


Nadia merasa ini adalah mimpinya? Atau halusinasi karena dia merasa tidak enak badan. Namun, lamunan itu buyar karena Chandra menjatuhkan kecupan di keningnya dalam-dalam.


"Hm, sudah tidak demam lagi. Syukurlah." Chandra tersenyum sangat lebar, lesung pria itu tertanam indah, senyumnya menular pada Nadia.


Nadia tersenyum tipis, dan kedua mata sembabnya mulai berkaca-kaca, seperti ada efek soda di rongga pernapasan gadis itu sehingga kedua mata beningnya berair.


"Kamu itu demam. Sepertinya karena kelelahan, harus cukup istirahat dan tidur. Oh, iya. Saya sudah buatkan bubur dan sayur bayam. Untuk vitamin C yang bisa segera memulihkan kondisi fisik kamu."


"Tapi saya tidak tahu kalau sayurnya enak atau tidak, hehe," tambah Chandra dengan polos.


Nadia terus memandanginya, seolah-olah Chandra adalah benda asing yang indah dan tidak pernah Nadia temui seumur hidup.


Nadia mengangkat tangan kanannya, dan menyentuh pipi Chandra hanya untuk memastikan bahwa halusinasi itu tidak benar. Juga Nadia sadar bahwa suaminya benar-benar ada di hadapannya sekarang, Chandra membalas sentuhan itu dengan genggaman tangan yang terasa erat dan menenangkan.


"Kamu tidak mimpi, kok." beritahu Chandra seraya mendekat.


Nadia tersenyum dengan pipi yang bersemburat. Gadis itu menarik wajah Chandra agar semakin dekat ke arahnya. Lalu, tanpa ragu sedikit pun Nadia menjatuhkan ciuman dengan bibir agak terbuka di atas permukaan bibir Chandra yang lembab dan hangat.

__ADS_1


Nadia memejamkan matanya, agak ******* bibir tebal itu dengan lidahnya yang menjulur malu-malu. Chandra yang masih terkejut, dengan tanggap mengimbangi ajakan itu dengan ikut memejamkan matanya, membalas ******* Nadia dengan meremas tengkuk kepala Nadia dengan lembut, dan tidak melupakan bahwa ciuman mereka saat ini terasa lebih santai dan tidak terburu-buru seperti saat pertama mereka melakukannya.


BERSAMBUNG ....


__ADS_2