Suamiku Jenderal

Suamiku Jenderal
BAB 94


__ADS_3

Karena hanya ada satu kamar tidur di apartemen tersebut, Chandra yang baru datang dari Suriah dengan terpaksa harus tidur berpisah dengan istrinya. Kamar satu-satunya digunakan sebagai, tempat tidur ibu dan kedua neneknya, Joy dan Nadia bahkan tidur di ruang wardrobe menggunakan kasur lantai.


Sementara di ruang menonton TV, diisi oleh ayah dan papa Nadia yang tidur di atas kasur lantai beludru. Chandra sendiri tidur di sofa, di mana kaki panjangnya harus ditekuk karena tubuhnya yang sangat tinggi. Pria itu sudah tidur nyenyak sejak Ong dengan kawankawan pamit pulang menuju rumah Alif tempat mereka tinggal selama di Jakarta.


Nadia melangkahkan kakinya dengan sangat pelan menuju ruang tengah yang bergabung dengan dapur, ia mengendap berjalan menuju dispenser dan mengambil air minum dengan hati-hati. Setelah minum, ia menghampiri sofa tempat Chandra tidur. Nadia mengintip suaminya di balik sofa besar itu dan tersenyum gemas melihat Chandra yang menikmati waktu istirahatnya dengan baik.


"Kasihan, tidurnya di sofa," gumam Nadia lembut. Nadia juga melirik ke arah ayah dan papa yang tampak tidur dengan lelap sekali.


Nadia memberikan usapan lembut di pipi Chandra ketika ia hendak ke kamar. Namun, Nadia sangat terkejut ketika Chandra tiba-tiba meraih tangannya ke dalam genggaman.


Chandra membuka kedua matanya perlahan dan tersenyum kecil.


Nadia mengatupkan bibirnya rapat-rapat saat Chandra terbangun dari tidurnya. "Ganggu, ya?" tanya Nadia penuh penyesalan.


Chandra menggeleng kecil, matanya sembab karena waktu tidurnya baru berlangsung beberapa jam.


"Kamu, belum tidur?"


"Nggak bisa," jawab Nadia. Chandra tertawa kecil, "Hm, mau jalan-jalan?" tanya Chandra lagi.


"Mau banget, tetapi udah malam," balas Nadia cemberut.


"Tidak apa-apa, kan sama saya. Mau?" ujar Chandra manis. Nadia mengangguk semangat mendengar ajakan suaminya yang begitu tepat dengan keinginannya selama ini.


Pukul tiga pagi dan pasangan suami-istri itu justru berjalan kaki dengan alas sendal rumahan, mengitari taman apartemen yang hanya disinari beberapa titik penerangan. Udara


Jakarta yang sedikit lembab di pagi buta ini terasa cukup dingin, meskipun tak sedingin Bandung atau Flores kala diguyur hujan. Chandra mengamit tangan kanan Nadia dan memasukkannya ke saku jaketnya yang dalam. Nadia tersenyum hangat, ia tidak berhenti memperhatikan Chandra sejak mereka berduaan di luar rumah seperti sekarang. "Kayak masih mimpi, kamu tiba-tiba datang ke Jakarta," ungkap Nadia takjub. Chandra mengajaknya duduk di sebuah kursi panjang yang tersedia di taman, tepat di hadapan mereka ada sebuah kolam kecil dan terdapat air mancur yang menghadirkan suara percikan.


Suasana yang senyap membuat Nadia merasa tenang sekaligus senang, berada di tempat itu bersama orang yang paling ia sayangi di dunia ini. Chandra menjatuhkan cubitan kecil di pipi Nadia membuat Nadia tertawa.

__ADS_1


"Tidak mimpi, 'kan?"


"Mm. Setelah ini, saya ada tugas lagi!" ujar Chandra dengan susah payah.


Tiba-tiba, saat Nadia menikmati rangkulan Chandra, pria itu mengucapkan kata-kata yang tidak pernah Nadia harapkan.


Chandra menghela napasnya, Nadia berusaha menghindari tatapan Chandra yang berusaha untuk meminta izin dan pengertian.


"Hanya satu bulan. Setelah itu ...."


"Sudahlah," tolak Nadia halus, ia melepaskan diri dari pelukan Chandra dan tampak tidak berselera melanjutkan obrolan pagi ini.


"Saya sudah siapkan tiket untuk penerbangan pertama. Kamu, jangan marah dulu." Chandra meraih bahu kecil Nadia agar istrinya itu mau melihat ke arahnya, tetapi Nadia benarbenar menolak sentuhan Chandra sehingga Nadia menepis tangan pria itu dari tubuhnya.


"Gimana saya nggak marah?!" Nadia berbalik dan nada bicaranya meninggi.


"Bisa-bisanya kamu tersenyum? Chan! Saya marah ...."


"Lalu. Saya harus bagaimana kalau kamu marah?" tanya Chandra polos dan bingung.


Nadia mendesah pelan. "Kenapa kamu pulang kalau kamu mau pergi lagi? Satu bulan dua bulan tiga bulan sampai enam bulan kamu di Suriah. Saya menunggu. Saya sudah muak! Kamu terus menerus pamit. Selama kita menikah, kamu selalu meninggalkan saya bertugas.


Padahal, sebentar lagi peringatan satu tahun pernikahan kita ㅡ"


"Saya mau kamu ikut," potong Chandra d4engan cepat, Nadia yang sedang menggerutu tentu menghentikan ucapannya.


Chandra tertawa dengan puas di hadapan Nadia yang kini menatapnya bingung.


"Tugas saya untuk sekarang... adalah, membahagiakan kamu," tambah Chandra, dia pun memberikan Nadia cubitan pelan di kedua pipi tembam istrinya. Pria itu terkikik karena ekspresi Nadia seketika berubah drastis.

__ADS_1


Nadia tersipu, kedua matanya berkaca-kaca.


"Kamu mau kan, pergi dengan saya selama satu bulan?"


"Saya tidak tahu kamu akan suka atau tidak. Tapi saya sudah membeli tiket penerbangan ke Prancis. Saya mau berbulan madu, saya tahu ini pasti sangat terlambat, tapi ...." Chandra menjelaskannya dengan pelan karena Nadia menangis di hadapannya. Chandra takut dia salah mengambil keputusan untuk berbulan madu, dia juga takut Nadia tidak setuju dengan rencananya untuk menghabiskan waktu satu bulan berdua saja ke Prancis. "Mau! Bodoh kalau saya nggak mau!"


***


Nadia melambaikan tangannya ke arah ke arah kamera para wartawan pagi itu, ia tersenyum cerah sambil merangkul lengan suaminya yang terasa kaku dalam dekapannya. Chandra hanya tersenyum tipis ketika jepretan kamera berhasil mengabadikan momennya bersama Nadia untuk melangsungkan bulan madu. Rambut Chandra yang sedikit lebih gondrong dibandingkan abdinegara pada umumnya tentu akan menjadi buah bibir di kalangan para netizen, sehingga pria itu memasang topi untuk menutupi bagian kepalanya tersebut. Tidak ada wawancara khusus di bandara karena Nadia maupun Chandra tidak bersedia untuk melakukannya, sehingga media hanya boleh mengambil gambar saja.


"Awas aja kalau sampai ada artikel yang aneh-aneh!" omel Nadia saat dirinya baru duduk di kursi kelas bisnis sebuah pesawat milik maskapai ternama Republik Indonesia.


Chandra tersenyum kecil mendengar omelan Nadia yang diperuntukkan bagi media.


"Harusnya, kamu omelin wartawannya. Karena udah fitnah kamu waktu itu," tambah Nadia pada Chandra yang justru lebih santai.


"Haha ... tidak apa-apa."


Nadia cemberut, mood-nya langsung membaik ketika ia baru menyadari jika dirinya mendapatkan kursi dekat dengan jendela dan Chandra ada di sampingnya.


"Dear Passengers, welcome to Garuda Indonesian Airlines flight from Jakarta to Paris france."


Pengumuman yang diberikan pramugari sebelum pesawat take off terdengar melalui pengantar suara di dalam suara. Nadia bertepuk tangan kecil dan melirik ke arah Chandra yang memandangnya dengan penuh cinta. Nadia tidak bisa mengungkapkan kebahagiaannya lagi saat ini. Chandra mengambil kamera pocket-nya dan mengabadikan momennya bersama Nadia setelah pesawat take off. Mungkin setelah bulan madu berakhir, Chandra akan membuat akun instagram untuk membagikan momen bahagianya kepada semua orang.


Bersambung ....


"Tugas saya untuk sekarang... adalah, membahagiakan kamu."


Ea ...

__ADS_1


__ADS_2