Suamiku Jenderal

Suamiku Jenderal
Extra BAB 12


__ADS_3

Setelah makan malam Nadia langsung naik ke kamar, Chandra sedang terlihat sedang tidak sehat sejak kepulangannya dari pemakaian tadi sore. Tubuh Chandra itu agak demam, mungkin karena kehujanan ditambah tidak mendapatkan istirahat yang cukup sejak tiba di Bandung. Selama jadi istrinya Chandra, Nadia tidak pernah merawat suaminya yang sakit. Chandra sejauh ini selalu sehat dan tidak pernah mengeluhkan keadaannya pada Nadia.


Malam itu Chandra tidur terlebih dahulu dibandingkan Nadia. Nadia rebahan di sisi Chandra yang tidur dengan posisi menghadap ke arahnya.


"Kok kamu panas sih, Chandra?" keluh Nadia ketika membelai lembut kening suaminya.


Chandra membuka sedikit matanya dan tersenyum pada Nadia.


"Sepertinya karena kehujanan tadi ... besok juga sembuh."


Nadia mengusap-usap kening Chandra. "Tidur aja, nggak usah ngomong."


"Apa perlu ke dokter?" tanya Nadia khawatir. Chandra sejak sore memang terus bersin, tetapi dia menolak untuk berobat ke dokter.


"Tidak perlu, ini hanya gejala flu biasa."


"Mau saya bikinin ramuan resep keluarga Ong lagi? Waktu itu kamu langsung kembali sehat minum obat itu."


Chandra tertawa kecil, matanya yang terpejam kembali terbuka untuk menatap Nadia yang menghadap ke arahnya sejak tadi.


"Tidak perlu, itu obat kuat. Bukan obat untuk meringankan masuk angin."


"Oh iya?" tanya Nadia kaget, Chandra mengangguk dan menarik tubuh Nadia untuk lebih dekat ke arahnya.


"Dingin, ya?" tanya Nadia dengan lembut. Tubuh Chandra terasa hangat saat mendekapnya. Berbeda dengan Nadia yang merasa gerah karena sedang hamil.


"Saya matikan AC kalau gitu ...."


"Jangan, kamu nanti kegerahan. Sudahlah, saya 'kan sudah peluk kamu."


Nadia tersenyum tipis, ia pun menepuk pelan lengan Chandra yang melingkari tubuhnya. Pria itu kembali terlelap sembari memeluk tubuh Nadia. Nadia sendiri tidak dapat tidur, pikirannya terasa gelisah karena masih berduka setelah kehilangan nenek Merry.


Selama mengandung, Nadia tidak pernah merasa sedih seperti ini. Nadia hanya melamun di atas ranjang, Chandra mendengkur halus di belakangnya karena efek obat-obatan malam itu.


Sampai waktu menunjukkan pukul satu Pagi, Nadia masih tak bisa tidur malah ia merasakan penggerakan dari bayi yang berada di dalam perutnya. Nadia meringis kecil, gerakan bayi yang sering terjadi membuat Nadia merasa mulas setiap sepuluh menit.


"Ini kenapa, ya?" tanya Nadia pada dirinya sendiri, pinggangnya juga terasa panas dan keringat mengalir deras menuruni pelipisnya. Nadia semakin panik, tetapi ia tidak berani membangunkan Chandra yang tidur pulas karena sedang tidak sehat.


"Huuh ... huh ...." Nadia mengatur napasnya. Ia menyalakan lampu di atas meja dan mengelus perut buncitnya dengan hati-hati. Bayi terus memberikan pergerakan yang sering dan terlampau cepat.


"Sayang ...." Nadia menepuk pelan lengan suaminya dengan lembut. Chandra membuka matanya perlahan karena hal itu.


"Ada apa?"


"Perutnya sakit banget, bayinya bergerak terus ...," ujar Nadia dengan wajah yang sembab. Chandra langsung bangkit dari tidurnya dan duduk di hadapan Nadia dengan siaga.

__ADS_1


"Sakit bagaimana? Mulas? Sudah berapa jam?"


Nadia masih mengatur napasnya susah payah, Chandra menyingkap selimut yang sebagian menutupi kaki Nadia di atas tempat tidur.


"Baru setengah jam ... aaahh ...." Nadia meringis, ia tidak bisa mentolerir rasa sakit lagi. Chandra sangat terkejut ketika melihat seprai merah muda yang berada di bawah tubuh Nadia sudah dipenuhi dengan darah segar yang keluar dari rahim istrinya.


Kedua mata Chandra membulat sempurna, dia tidak mengatakannya langsung pada Nadia, tetapi segera membawa tubuh istrinya ke dalam gendongan.


"Mau ke mana?" tanya Nadia khawatir bercampur panik. Nadia tidak bisa melihat kakinya karena terhalang oleh perutnya yang membuncit, rasa sakit yang dirasakan olehnya membuat Nadia tak dapat berkonsentrasi dengan segala sesuatu yang ada di sekelilingnya.


"Sakit ...," rintih Nadia yang lagi sambil mencengkeram bahu Chandra.


"Tenang ya, kita akan ke rumah sakit terdekat dulu. Kamu harus segera diperiksa."


Chandra membuka kunci rumah oleh dirinya sendiri, dia seperti itu sudah sering melakukan hal tersebut dengan Nadia yang berada dalam gendongannya. Chandra juga menuju mobil dan bersandar menaruh Nadia hati-hati di samping kemudi.


"Tahan sebentar ya, Sayang," pinta Chandra sembari dengan lembut.


Nadia menggigit bibir bawahnya, rasa sakit semakin merajalela di menit berikutnya. Chandra langsung mengendarai mobil setelah pria itu membuka pintu gerbang rumah. Dia bahkan tidak sempat memberitahu orang-orang rumah perihal ini karena tidak mau membuat keributan di pagi buta.


Nadia dilarikan ke rumah sakit khusus bersalin yang tidak jauh dari komplek dan mereka tinggal. Nadia memegang erat-erat genggaman tangan Chandra yang terus bersamanya saat ia memasuki ruang UGD bersama dokter dan bidan.


"Usia kandungannya masih tujuh bulan, tapi kenapa bisa pendarahannya banyak sekali?!" tanya Chandra dengan napas terengah-engah, pria itu juga hampir menangis saat melihat Nadia yang sudah bersimbah darah di bagian kaki dan bawah perutnya.


Nadia menangis terisak, dia sangat takut tidak bisa menyelamatkan bayi yang berada dalam perutnya saat ini.


"Bayinya harus dilahirkan secara terpaksa sekarang juga, Pak. Pendarahannya sudah parah meskipun tidak ada pembukaan atau pecah ke tuban," jelas Bidan dengan tenang.


Chandra mencelos, dia menatap Nadia dengan haru dan khawatir.


Nadia memejamkan matanya, ia hampir tidak sadarkan diri bahkan genggaman tangannya pada tangan Chandra kini mulai melemah. Chandra mengecup kening Nadia dalam-dalam.


"Lakukan apa pun, tetapi tetap prioritaskan istri saya," pinta Chandra dengan suara gemetar. Samar-samar Nadia dapat mendengar suara Chandra yang serak itu, sebelum akhirnya Nadia tidak sadarkan diri.


Seumur hidupnya, Jenderal tidak pernah merasa setakut ini. Dia duduk menunggu di sebuah ruang bersalin dan Nadia sedang ditangani oleh para medis yang profesional di atas meja operasi.


"Pak, sepertinya harus dilakukan operasi sesar. Risiko terburuknya, bayi tidak dapat terselamatkan karena kondisi sang ibu sangat lemah dan tidak stabil."


"Iya, Dokter ... tidak apa-apa. Yang terpenting selamatkan istri saya."


Ayah dan ibu datang ke rumah sakit setelah mendapatkan telepon mendadak dari Chandra. Begitu pun nenek dan papa Nadia yang akhirnya menyusul tidak lama kemudian. Chandra duduk merenung di ruang tunggu, Nadia pada akhirnya ditangani dengan prosedur operasi sesar untuk mengeluarkan bayi yang terlahir prematur.


Dokter menjelaskan bahwa keadaan Nadia saat ini disebabkan karena stres dan kesedihan yang mendalam sehingga memicu pendarahan hebat. Beruntung usia kandungannya sudah menginjak tujuh bulan, yang artinya kondisi fisik bayi sudah lengkap tanpa kekurangan sesuatu apa pun.


Nenek Nadia menghampiri cucu menantunya yang menunggu dengan raut tak dapat ditebak, semestinya Chandra bahagia karena hendak menjadi ayah, tetapi pria itu tampak begitu terpuruk dengan pakaian kotor ternoda darah milik Nadia.

__ADS_1


"Nak, ganti dulu bajunya ... ini, nenek bawakan kemeja punya kamu."


Chandra menoleh dengan senyum dipaksakan pada nenek. "Terima kasih, Nek."


Nenek menepuk lembut bahu lebar Chandra. "Jangan sedih."


Kedua mata Chandra berlinang air mata. "Saya takut, Nek. Saya takut tidak bisa menjaga Nadia seperti janji saya. Saya juga sangat takut, bayi tidak bisa diselamatkan."


"Hush ... kamu berdoa saja."


Chandra benar-benar takut, dia tidak berani bicara sepatah kata pun dan yang dia lakukan hanya menatap pada pintu ruang operasi yang tertutup rapat. Ayah dan ibunya mendampingi berusaha untuk menenangkan. Operasi sudah berlangsung satu jam, terhitung cukup lama untuk operasi bersalin.


Hari ini membuat Chandra kembali teringat cerita Nadia yang harus kehilangan mamanya saat melahirkan. Chandra tidak mau jika kejadian itu terulang pada Nadia. Itu artinya, Chandra juga akan kehilangan Nadia saat melahirkan buah hati mereka yang pertama. Bayangan buruk itu membuat Chandra menitikkan air mata pilu.


Papa Nadia sejak tadi tidak banyak bicara, pria itu pernah berada di situasi yang sama persis seperti Chandra. Tidak bisa berbuat apa pun selain berdoa dan meyakinkan diri sendiri bahwa Nadia akan diberikan kekuatan dan keselamatan.


15 menit kemudian dokter keluar dari ruang operasi, wajahnya menampilkan raut tenang. Chandra segera menghampiri dokter yang menangani Nadia terburu-buru.


"Bagaimana Dokter?!"


"Alhamdulillah, Pak. Silakan masuk, untuk meng-azani bayinya." Beritahu dokter dengan senyum hangat.


"Alhamdulillah," ucap Chandra dengan penuh rasa syukur, pria itu menangis haru dan langsung memburu ruang operasi untuk menemui Nadia yang sudah berhasil melahirkan bayi mereka.


Tubuh jangkung Chandra berada di antara Nadia yang terbaring di atas ranjang operasi dan bidan yang memangku bayi.


Chandra menghampiri Nadia terlebih dahulu, Nadia tampak masih berada dalam pengaruh bius, tetapi wajah mungilnya tampak memancarkan kecantikan luar biasa yang membuat Chandra kembali menangis.


"Sayang... terima kasih," ucap Chandra lembut.


Nadia tidak membalas ucapan suaminya, ia hanya mendengar samar-samar apa yang ada di sekelilingnya saat itu. Namun, satu hal yang Nadia rasakan adalah kelegaan dan kehangatan yang menyelimuti hati dan raganya.


"Pak, silakan ... bayinya perempuan."


Chandra meraih tubuh mungil bayi perempuan yang berada dalam balutan kain lembut berwarna merah muda. Pria itu menangis lagi, menjatuhkan kecupan hangat tepat di pipi merah sang bayi yang sangat cantik.


Bayi perempuan yang sekilas terlihat mirip dengan Nadia, wajahnya sangat kecil, hidungnya mancung nan mungil, matanya terpejam rapat dengan bulu mata lentik, rambutnya tebal sedikit ikal, Chandra tersenyum dengan derai air mata membasahi wajah tampannya.


Bibir mungil bayi perempuannya agak cemberut hendak menangis.


"Selamat datang, Sayang ...," sapa Chandra dengan suaranya yang teramat serak.


Bidan menatapnya dengan haru dan mempersilakan Chandra untuk melantunkan azan di telinga bayinya.


Bersambung....

__ADS_1


Oh, bukan kembar😁


Udah berapa hari sih aku nggak up? lupa😖


__ADS_2